Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
91.Ketakutan Emil


__ADS_3

Setelah di telepon Edward,Emil kini berpikir keras apa yang akan di bicarakan oleh tuan besarnya?


Dia takut kejadian dengan Sania di ketahui oleh papanya itu. Dia tahu mata-mata pak Robert ada di mana-mana sejak kejadian penculikan Nicko kedua kali.


Semua anak-anaknya di awasi oleh pengawal bayangan yang tetsembunyi,tak terkecuali menantunya Aya. Dia juga dengar dari pamannya kalau semua keluarga Alexander di awasi oleh pengawal bayangan yang tersembunyi,dia muncul jika keadaannya benar-benar darurat.


Dan mungkin juga Sania,pengawal bayangan itu tidak langsung menolong ketika ada seseorang yang di percaya bisa menolongnya.


Seperti kejadian Sania dan dirinya,dia takut pengawal itu tahu akan kejadian itu. Dan kini dia di panggil oleh majikan pamannya dan juga dirinya,ada apa sebenarnya?


Tanpa pikir panjang,dia akan cari tahu dari pamannya. Kemungkinan jika dia tanya sama Sania pun tidak bakal dapat jawaban,sama dengan Edward.


Mungkin Edward tahu,tapi dia tidak mau mengatakannya. Tapi ya,dia akan bertanya pada pamannya.


Emil mengambil ponselnya dan menghubungi pak Dori.


"Ada apa Emil?"tanya pak Dori.


"Paman,apa paman tahu kalau tuan besar memyuruhku pulang?"tanya Emil.


"Aku tidak tahu,mungkinkah kamu membuat kesalahan?"


"Aku tidak tahu paman,tuan muda tidak memberitahuku. Dia bilang hanya tuan besar menyuruhku untuk pulang. Barangkali paman tahu maksud dari tuan besar menyuruhku pulang?"


"Aku tidak tahu,tapi memang sebaiknya kamu pulang. Tuan besar pasti akan ada yang serius denganmu."


"Iya paman,empat hari lagi aku pulang. Karena pekerjaan tuan muda masih harus aku selesaikan dulu. Aku sudah mengatakan pada tuan muda,empat hari lagi aku pulang."


Setelah pembicaraan itu,Emil menutup sambungan teleponnya dengan pak Dori. Buntu,belum ada keterangan apa maksud pak Robert menyuruhnya pulang.


Sedang memikirkan tentang maksud pak Robert,Edrick masuk tanpa permisi dan membuyarkan lamunan Emil.


"Hei,kamu kenapa melamun?"tanya Edrick yang langsung duduk di sofa melirik Emil.


"Saya sedang bingung tuan Edrick."jawab Emil.


"Apa yang kamu bingungkan,seperti bukan dirimu saja."cibir Edrick.


Emil menatap Edrick dengan sinis,lalu dia merapikan berkas yang akan dia bawa untuk ke Irlandia.


"Hei,katakan apa yang terjadi denganmu?"tanya Edrick lagi merasa belum di jawab oleh Emil pertanyaannya tadi.


"Sudahlah tuan Edrick,kalaupun saya katakan anda tidak akan membantu kebingungan saya."ucap Emil.


"Kamu jangan meremehkanku,Memang apa yang membuatmu bingung?"


Emil menghela nafas panjang,dia melirik Edrick sebentar dan menengadahkan wajahnya ke langit-langit atap.


"Tuan besar menyuruhku pulang,beliau mau bicara denganku. Aku tidak tahu apa yang akan di bicarakan beliau denganku."kata Emil.

__ADS_1


"Apa? Tuan Robert ingin bicara denganmu?"


"Ya,aku bingung apa yang akan beliau bicarakan."


"Apa jangan-jangan kejadian waktu itu dengan Sania?"


"Kata tuan muda bukan masalah itu,beliau belum tahu. Tapi pikiranku entah kenapa beliau itu sudah tahu kejadian itu."


"Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Aku tahu tuan besar,telisandinya ada di mana-mana yang tidak terlihat. Bisa jadi ketika nona Sania selama di sini pengawalnya ada tapi kita tidak menyadarinya. Karena memang mereka keluar jika keadaannya darurat saja."ucap Emil panjang lebar.


Berbagai asumsi yang ada di otak Emil,dia takut jika memang kejadian itu di ketahui oleh pak Robert dan dia akan di kirim entah di mana.


"Sudahlah Emil,jangan di pikirkan. Edward berkata pak Robert tidak tahu ya berarti jangan di pikirkan. Biarkan itu menjadi rahasia kita berempat. Aku juga buat apa menceritakan hal yang menurutku itu tidak penting."kata Edrick lagi.


"Anda memang mudah berbicara seperti itu tuan Edrick,tapi saya yang mengalaminya."


"Yah,terserah kamu Emil. Tapi lebih baik kamu konsentrasi ke pekerjaanmu dan pulang sana untuk menuntaskan segala rasa penasaranmu."


Setelah berkata seperti itu,Edrick keluar dari kantor Edward. Sedangkan Emil masih diam,memang benar dia harus konsentrasi dengan pekerjaannya dan segera pulang menuntaskan rasa penasarannya.


Baiklah,benar juga apa yang di katakan tuan Edrick,pikir Emil. Dia kemudian merapikan berkas tadi yang akan dia bawa le Irlandia. Tidak perlu risau,jika pak Robert marah padanya dan memecatnya dia juga akan terima dengan lapang dada.


_


Emil pulang ke Indonesia dengan banyak pertanyaan di benaknya. Dia merasa takut,tapi dia ingat akan omongan Edward bahwa pak Robert tidak tahu tentang itu.


Mobil sedan hitam melaju dengan pelan ketika penumpangnya sudah duduk dengan tenang. Emil menyandarkan kepalanya di jok sembari menutup matanya.


"Emil,apa kamu sudah menghubungi tuan muda?"tanya pak Dori.


"Sudah paman,tuan muda bilang tidak bisa menjemputku,katanya nona Aya sedang ada acara empat bulanan."jawab Emil,dia membuka matanya dan menatap ke depan.


"Bukan itu,paman dengar kamu akan di pindahkan ke kantor tuan besar."kata pak Dori.


"Oh,jadi tuan besar menyuruhku pulang untuk itu?"tanya Emil.


"Sepertinya begitu,apakah tuan muda sudah bicara mengenai ini denganmu?"tanya pak Dori lagi.


"Belum,paman. Karena tuan muda hanya menyuruhku pulang saja karena di suruh oleh tuan besar."


"Bersiaplah,sepertinya tuan besar serius akan rencana ini."kata pak Dori lagi.


Akhirnya Emil jadi sedikit lega karena pamannya memberitahu hal penting. Tapi dia tetap saja masih penasaran sebelum bertemu pak Robert.


Mobil pak Dori akhirnya sampai di halaman luas rumah pak Robert,keduanya turun setelah mobil terparkir tepat di belakang mobil Nicko.


Terlihat banyak mobil terparkir di halaman karena memang ada acara di dalam rumah itu.

__ADS_1


Pak Dori dan Emil masuk,mereka lewat dari pintu samping. Karena di depan banyak sekali ibu-ibu teman-teman nyonya Karina dan perkumpulan pengajian ibu-ibu di kompleks sedang mengadakan pengajian.


Pak Dori masuk ke dalam ruang kerja pak Robert di ikuti Emil,di sana pak Robert sedang memeriksa laptopnya dengan serius.


Pak Dori dan Emil memberi hormat menundukkan kepalanya pada pak Robert lalu diam menunggu perintah apa yang akan di sampaikan oleh majikannya itu.


"Emil kamu periksa laporan-laporan ini di laptopku. Kamu bawa pulang,dan malam nanti bawa kesini lagi untuk menjelaskan apa yang salah dari laporan itu."kata pak Robert memerintahkan asisten Edward itu.


Emil pun mengangguk,dia mengambil laptop yang di sododrkan pak Robert padanya.


"Pak Dori tetap di sini dan kau Emil temuilah Edward. Banyak yang akan di bicarakan olehnya pada kamu."ucap pak Robert lagi.


"Baik tuan besar. Kalau begitu,saya permisi keluar."


Pak Robert hanya mengangguk saja,lalu Emil keluar dari ruang kerja paj Robert. Dia hendak menemui Edward namun di ruang makan dia di tarik tangannya oleh Sania untuk keluar di tempat kolam renang.


"Nona,kenapa anda menarik saya?"tanya Emil heran.


"Kaka Emil pulang tidak bilang padaku."jawab Sania mengerucutkan bibirnya.


Wajah cantik dengan di balut baju muslim kaftan putih tulang serta kerudung pashmina yang hanya menempel di kepala,memnuat Emil tertegun menatapnya.


Sedetik kemudian Emil sadar akan perbuatannya,dia membuang mukanya ke samping.


"Kak Emil belum jawab,kenapa pulang tidak bilang padaku?"tanya Sania lagi.


"Maaf nona,saya tadinya sibuk jadi tidak sempat menghubungi nona."jawab Emil.


"Emm apa tadi ke ruangan papa?"tanya Sania ragu.


"Iya nona."jawab Emil lagi.


"Apa yang di katakan papa?"


"Hanya di beri tugas untuk memeriksa laporan dari tuan besar."


"Emm papa tidak tahu kan masalah itu?"tanya Sania lagi,dia takut papanya tahu.


"Nona jangan mengungkit itu lagi,tuan besar tidak membicarakan itu. Tapi saya nanti malam di suruh menghadap kembali sama tuan besar."


"Oh benarkah? Mau apa ya,kak?"


"Mungkin mengambil laporan yang ada di laptop ini."kata Emil.


Dan pembicaraan itu terhenti karena Edward memanggil Emil untuk naik ke atas.


_


_

__ADS_1


_


☆☆☆☆☆☆☆


__ADS_2