Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
17.Makan Di Sawah


__ADS_3

Hari ini sebelum Edward ke rumah Aya,dia akan kedatangan asistennya Emil berkunjung ke pondok pesantren.


Sebelumnya dia di beri tahu oleh pengawalnya bahwa Emil mengunjungi tuannya.


Edward bersiap-siap akan menyambut Emil di depan pondok pesantren sesuai keterangan dua pengawalnya.


"Kamu mau kemana?"tanya Bayu melihat Edward sudah siap-siap akan pergi.


"Ada teman berkunjung di depan,dia tidak mau masuk area pondok."kata Edward yang sedang mengganti baju usai dari dapur bantu-bantu Bayu.


"Oh,apa dia sahabatmu?"


"Ya,dia sahabatku dari SMP.Kami sering bersama,tapi karena aku ke pondok jadi kami jarang ketemu."


"Hebat ya,kamu sudah sedewasa ini masih punya sahabat setia."kata Bayu merapikan buku-bukunya.


"Iya,dia sangat setia.Ya sudah,aku keluar dulu yah.Sekalian nanti aku ke rumah Aya."kata Edward.


Bayu memicingkan matanya,dia ngga salah dengar?


"Ke rumah Aya? Mau apa?"tanya Bayu heran.


"Mau pendekatan,siapa tahu dia mau ku jadikan istri.Hahaha....!"ucap Edward tertawa senang.


Dia melirik Bayu yang hanya diam kaku,lalu akhirnya Bayu tersenyum.


Edward keluar dari kamar,langsung menuju gerbang pondok.


Dan benar saja,di sana sudah menunggu Emil dengan kedua pengawalnya.Orang yang lalu lalang di gerbang tampak heran dengan penampilan Emil yang tidak biasa di desa itu.


Berpakaian jas rapi dan membawa mobil.Edward yang melihat itu jadi kesal pada Emil.Kenapa dia berpenampilan yang sangat mencolok.


Edward memdekat,lalu dia langsung menarik tangan Emil ke tempat yang tersembunyi dari tatapan aneh orang yang lewat.


"Kenapa kamu berpenampilan seperti ini?"tanya Edward sambil melotot dan menggertakkan giginya.


"Maaf tuan muda,saya tidak tahu kalau anda tidak suka saya bepenampilan seperti ini."


Edward berdecih,dia kesal dengan asistennya itu.


"Kamu mengundang perhatian orang lain.Apa lagi kamu bawa mobil segala."kata Edward,dia melirik ke arah dua pengawalnya yang menunduk.


Mereka merasa bersalah tidak memberitahu Emil.Edward mendengus,lalu dia kembali santai.


"Ayo kita ke rumah dua orang itu.Aku takut kalau di sini tambah banyak yang curiga.Ini mumpung sepi."


Lalu Emil masuk ke dalam mobil di susul oleh Edward dan dua orang pengawalnya.


"Aku baru menemukan kejanggalan dari seseorang di sini.Hari ini aku mau menyelidikinya."kata Edward setelah di dalam mobil.


"Ya tuan muda,saya sudah tahu dari pengawal.Tapi saya kesini untuk melaksanakan perintah dari paman Dori,kalau tuan muda ingin segera menyalurkan sambungan telekomunikasi ke daerah ini."kata Emil.


"Ah,ya benar.Aku ingin secepatnya sambungan telekomunikasi tersedia disini."


"Saya akan ke kelurahan dan kecamatan untuk meminta surat ijin pembangunan."kata Emil.


"Baiklah,kamu siapkan semua proposalnya untuk proyek ini."


"Baik tuan muda."


Mobil melaju dengan pelan di jalanan desa.Edward melihat pak Imron berjalan tergesa menuju rumahnya.


"Emil,tunggu.Itu pak Imron dia jalan tergesa,mau kemana dia?"tanya Edward memperhatikan pak Imron jalan di depan mobil yang di bawa Emil.


Tanpa pikir panjang,Emil mendekati pak Imron lalu menghentikan mobilnya di samping pak Imron yang melihat mobil dengan curiga.


"Hei,kanapa kamu berhenti?"tanya Edward heran,dia takut pak Imron tahu ada di mobil Emil.


Tapi Emil tidak menghiraukan omongan majikannya itu.Dia keluar dari dalam mobil dan mendekati pak Imron yang kebingungan.


Emil berjalan menghampiri pak Imron dan berbicara sesuatu.Entah apa yang di bicarakan Emil sama pak Imron.


"Dia sedang bicara apa?"tanya Edward masih memperhatikan Emil.


"Sepertinya tuan Emil sedang bertanya,tuan muda."jawab pengawal di belakang.


Otak Edward berputar,kemudian dia tersenyum setelah dia bisa menebak apa yang di rencanakan Emil.

__ADS_1


"Kamu memang benar-benar bisa di andalkan,Emil."kata Edward sambil tersenyum senang.


Dia bersedekap,senyumnya masih mengembang menatap Emil yang begitu lihai mengelabui orang yang di curigai Edward.


Sedangkan kedua pengawalnya masih belum mengerti dengan tindakan Emil yang mendekati pak Imron.Dia khawatir akan ketahuan.


Terlihat Emil sedang menunjuk jalan dan matanya berkeliling sekitar seolah mencari sesuatu.


Setelah lama berbicara,Emil pun kembali masuk ke dalam mobil.


Edward yang sejak tadi memperhatikan asistennya tadi,sudah tidak sabar Emil bercerita.


"Katakan."kata Edward masih bersedekap.


"Anda pasti tahu jawabannya,tuan muda."kata Emil masih acuh dengan Edward yang sebenarnya sudah bisa menebak.


"Aku hanya ingin tahu jawaban dari pak Imron,bukan tipuanmu itu!"kata Edward kesal.


Emil tersenyum,lalu dia melanjutkan perjalanannya.


"Dia sepertinya antusias dengan pertanyaanku dan rencanaku membangun sambungan telekomunikasi."


"Yah,memang di sini itu yang sangat di butuhkan.Kasihan sekali kalau mau menelepon seseorang harus pergi ke bukit terlebih dahulu agar dapat sinyal yang bagus."kata Edward menerawang jauh ke depan.


Dia ingat ketika akan menghubungi mamanya harus pergi ke bukit di desa Aya.


"Astaghfirullah,aku lupa punya janji."ucap Edward,dia menepuk kepalanya.


"Ada apa tuan muda?"tanya Emil heran dengan kelakuan tuan mudanya.


"Pasti Aya sedang menungguku."


"Aya? Siapa Aya?"sambil melirik ke arah belakang,minta jawaban dari kedua pengawal itu.


"Dia gadis desa sebelah tuan,rumahnya dekat dengan orang yang tadi anda ajak bicara di jalan."kata pengawal itu.


Emil mengrenyitkan dahinya,


"Emil,cepat putar balik,aku harus ke rumah Aya."kata Edward.


Tanpa pikir panjang,Emil putar balik mobilnya menuju desa yang di maksud Edward.


_


Sampai di rumah Aya,Edward langsung turun dan menyuruh Emil segera pergi.


"Kamu langsung pulang saja,tidak usah menungguku di sini."kata Edward pada Emil.


Emil melirik ke arah rumah yang terlihat sepi,lalu dia mengangguk.


Lalu Edward masuk ke halaman rumah yang di maksud.Sebelum menjalankan mobilnya,Emil memperhatikan tuan mudanya mengetuk pintu.


"Dia siapa?"tanya Emil pada kedua pengawal Edward itu.


"Dia Aya,tuan."jawab pengawal itu.


"Iya,Aya itu siapa?Kenapa tuan muda terlihat akrab sekali."masih memperhatikan Edward yang sedang bicara pada Aya.


Edward menoleh ketika Aya menunjuk mobil Emil masih ada di tempatnya.Matanya tajam mengarah pada Emil,dia kesal kenapa Emil masih belum juga pergi.


Lalu Emil melajukan mobilnya,walaupun masih penasaran pada majikannya itu.


"Ceritakan padaku,siapa Aya dan kenapa tuan muda dekat dengannya."perintah Emil pada pengawal.


"Baik tuan."


_


Setelah mobil Emil pergi,Edward akhirnya lega.Dia kemudian duduk di kursi depan rumah Aya.


"Kamu menungguku?"tanya Edward pada Aya yang sedang bersiap untuk pergi ke sawah.


Aya menoleh,dia tersenyum miring kemudian ucapnya.


"Aku tidak menunggumu.Kebetulan aku mencuci baju dulu sebelum pergi ke sawah."


"Oh,aku kira kamu menungguku."kata Edward.

__ADS_1


Ada rasa kecewa,tapi dia kembali tersenyum simpul.


"Kenapa tersenyum?"tanya Aya menyerahkan wadah bakul pada Edward.


"Ngga apa-apa."


Ia menerima bakul yang di berikan Aya.Kemudian Aya dan Edward menuju sawah yang di maksud.


Sepanjang jalanan,Edward banyak bercerita tentang mamanya.Hanya mamanya,tidak dengan hilangnya kakaknya.


Aya juga sepertinya sudah mulai akrab dengan Edward.Dia mulai bercerita tentang kakaknya dan Bayu serta persahabatannya dengan Mentari adik Bayu.Juga tentang meninggalnya ayahnya yang menurutnya aneh.


"Kenapa aneh?"tanya Edward,dia masukkan wadah bakul itu di kepalanya sehingga mau tidak mau Aya tertawa keras karena melihat Edward yang lucu.


Edward pun tersenyum,dia juga tidak sadar dengan tingkahnya.Tapi dia senang melihat Aya yang tertawa,sangat manis dan terlihat cantik.


"Kamu cantik kalau tertawa."puji Edward.


Kontan saja Aya jadi diam,dia tidak sadar tertawa lepas di depan laki-laki.Dia pun menunduk,malu.Tapi dia kembali dengan wajah datarnya.


Mau tidak mau Edward yang bergantian tertawa.Kini Aya yang merasa aneh dengan tawa Edward,apa yang membuat dia tertawa.Tapi tunggu,Aya melihat Edward tertawa renyah dan terlihat kokoh rahangnya,menandakan ketegasan dari Edward.


"Kamu kenapa tertawa?"


"Hanya lucu aja melihatmu tiba-tiba diam."melirik Aya.Dia yakin Aya tersipu malu dengan pujiannya.


"Kita sudah sampai,ayo kita turun."kata Aya mengalihkan pembicaraan.


Edward mengikuti kemana Aya berjalan.Dia berjalan di pematang sawah,setiap pematang sawah dia hampir terjatuh.Tapi dia langsung bisa menguasai lagi.


"Di mana sawahmu?"tanya Edward mengedarkan pandangan.


"Di sini,ayo kemari.Kita petik sayur mentimun dan kacang panjang."kata Aya.


Kemudian Edward menuju Aya yang sedang memetik mentimun.


"Ini sayur mentimun?"tanya Edward.


"Iya,kamu tidak tahu?"


"Bukan tidak tahu,baru tahu."


Aya memutar bola matanya melihat Edward tersenyum jahil.


Mereka memetik mentimun dan kacang panjang,sampai zuhur menjelang.Suara azan berkumandang sayup-sayup terdengar dari masjid.


Tak lama mereka akhirnya menghentikan kegitannya,lalu menuju gubuk di sawah untuk beristirahat.


Aya membuka bekal yang tadi di bawanya,lalu menatanya di bale-bale gubuk itu.Edward memperhatikan apa yang Aya lakukan.


Pikirannya melayang jika seandainya dia menikah dengan Aya,pasti inilah yang di lakukannya setiap kali mau makan.Menyiapkannya dan makan bersama.


"Ayo makan,tapi maaf lauknya hanya sederhana.Pasti di kota kamu makan makanan yang lebih enak dari pada ini."kata Aya.


"Iya benar,aku makan makanan serba di masak oleh koki,kecuali oleh mamaku."kata Edward dengan sombongnya.


Aya mendecih,dia kemudian mengambilkan nasi serta lauk pauknya untuk Edward.


"Coba kamu makan makanan kampung,rasanya berbeda.Lebih enak makanan kampung dan lebih sehat tentunya.Karena langsung di petik oleh petaninya.


"Kamu benar,apa lagi makan bersama kamu seperti ini.Terasa sekali nikmatnya."


"Kamu sedang menggodaku?"


"Tidak,tapi memang kenyataannya aku senang makan denganmu.Ini pertama kalinya."kata Edward lagi.


Aya tersenyum,lalu dia menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya sendiri.


_


_


_


☆☆☆☆☆


\=> maaf ya telat,ada gangguan sedikit..😉😊😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2