Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
82. Permintaan Emil


__ADS_3

Setelah kejadian itu di minimarket,Sania semakin menyendiri di apartemen Edward.Dia juga ingin pulang ke Indonesia,tapi dia takut akan di tanyakan macam-macam oleh keluarganya.


Sania bingung,akhirnya dia menghubungi Emil untuk minta pendapatnya.


Dia ambil ponselnya dan mencari nomor ponsel Emil,lalu dia hubungkan.Lama Emil menjawabnya,tapi kemudian di angkat juga.


"Halo nona Sania,ada apa anda menghubungiku malam begini?"tanya Emil di seberang sana.


"Kak Emil,bagaimana jika aku pulang saja ke Indonesia?"tanya Sania meminta pendapat Emil.


"Pulang saja nona,biar nanti di sini saya yang akan mengurus masalah Nathalie."kata Emil.


"Begitukah?Apa harus di urus Nathalie kak?"tanya Sania,dia juga sebenarnya kesal dan marah pada Nathalie.


Tapi menurutnya,jika dia sudah tidak kenapa-kenapa apa harus memberinya pelajaran.


"Tentu saja nona,dia akan semakin lebih liar lagi nanti untuk berbuat sesuatu di luar nalar."kata Emil.


Sania diam,dia hanya mengikuti semua apa yang Emil katakan.


"Terserah kak Emil saja.Tapi apakah akan ada masalah di rumah nanti jika aku pulang?"tanya Sania lagi meyakinkan.


"Anda tenang saja,tidak akan ada apa-apa jika anda tidak berpikiran buruk.Sudahlah nona,nona Sania sebaiknya pulang saja."kata Emil membujuk Sania.


"Iya baiklah,aku hanya takut jika nanti kak Edward tahu kak Emil akan di marahi sama kak Edward."


"Itu urusan saya nona,anda jangan khawatirkan saya.Saya bisa mengatasi tuan muda."kata Emil lagi meyakinkan Sania.


"Baiklah kak Emil,lusa bisa aku pulang?"


"Kapanpun anda bisa pulang nona,tiket pesawat nanti saya pesankan besok."


"Baiklah,maaf mengganggu kak Emil istirahat.Selamat malam kak."


"Selamat malam nona."


Lalu sambungan telepon terputus,Sania bersiap tidur.Besok dia akan membereskan semua barang bawaannya untuk di bawa pulang ke Indonesia.


Rencana dari rumah ingin bersenang-senang di Inggris malah dapat tragedi yang sangat memalukan.Dia jadi tidak berani keluar lagi dari apartemen.


Dan kini dia harus siap menghadapi berbagai pertanyaan dari mama dan papanya di rumah.Kalaupun tidak beruntung ketemu Edward,akan ada perdebatan panjang dan desakan untuk membuka mulut untuk cerita.


Huft,

__ADS_1


Sania menghela nafas panjang,rencana mau tidur jadi kepikiran bagaimana nanti menghadapi orang rumah.Apa dia akan bertanya lagi ya sama Emil?


Ah,tadi dia sudah minta pendapat padanya.Dia mengatakan jangan terlalu di pikirkan.Bagaimana tidak di pikirkan,dia yang salah sendiri.


"Kak Emiiiil,apa yang harus aku lakukan?"teriak Sania dalam kamarnya sendiri.


_


Edrick datang lebih dulu di kantor Edward sebelum Emil datang.Dia penasaran dengan cerita Emil di telepon untuk memintanya mendeportasi Nathalie.


Jam menunjukkan pukul tujuh lima belas,Edrick di beritahu Emil kalau dia datang terlambat karena harus mengurus tiket kepulangan Sania ke Indonesia.


Tak jadi masalah,dia juga ingin berkeliling perusahaan Edward yang sekarag semakin berkembang.Kemudian dia kembali lagi ke ruang CEO setelah setengah jam dia berkeliling di temani oleh sekretaris Edward,Emilia.


"Jadi apa yang di kembangkan Edward di Irlandia?"tanya Edrick pada Emilia.


"Tuan Edward mengembangkan produk dari hasil kerajinan masyarakat di sana tuan Edrick.Masyarakat yang bekerja,dan nanti di serahkan oleh pihak perusahaan kita dan kita di sini mempromosikan hasil kerajinan mereka."kata Emilia lagi.


"Emm,bagus juga idenya.Oh ya,Emil memberitahumu kalau dia datang terlambat?"tanya Edrick mengusir gelisahnya karena menunggu Emil datang.


"Iya tuan Edrick,mungkin beliau datang jam delapan lewat.Nah itu tuan Emil sudah datang."kata Emilia menunjuk ke arah Emil yang sedang berjalan menuju ruang CEO.


"Baiklah Emilia,terima kasih atas informasinya.Emm,ngomong-ngomong namamu dengan Emil sama persis.Bisa juga kalian berjodoh."kata Edrick menggoda Emilia.


"Saya sudah bersuami tuan Edrick."kata Emilia masih tersenyum.


"Oh,maafkan saya kalau begitu."ucap Edrick merasa kurang enak pada Emilia.


Berbarengan dengan sampainya Emil masuk ke dalam ruangan dan di susul oleh Edrick.


Mereka duduk di sofa setelah Emil meletakkan berkas yang ada di tangannya.


"Bagaimana dengan Sania,Emil.Apa dia baik-baik saja?"tanya Edrick yang tidak sabar menunggu cerita Emil.


"Dia baik tuan Edrick.Apa anda mengkhawatirkannya?"tanya Emil.


"Ya jelas aku mengkhawatirkannya.Kamu bilang dia di jebak oleh Nathalie,apa yang Nathalie lakukan pada Sania?"tanya Edrick penasaran sekaligus kesal kenapa Emil tidak juga memberitahunya.


"Anda akan terkejut mendengarnya tuan.Tapi saya mohon,rahasiakan ini dari tuan muda.Saya takut nona Sania akan lebih di marahi lagi sama tuan muda."kata Emil.


"Iya,ceritakan saja apa yang sebenarnya terjadi.Sampai aku harus cepat pulang kesini karena penasaran."kata Edrick lagi tidak sabar.


Lalu Emil bercerita dari dia menemukan Sania yang sedang mabuk karena obat perangsang.Niat dia ingin cepat pulang dan memandikannya dengan air dingin.Namun ternyata obat bekerja dengan cepat sehingga Emil tidak bisa menolak apa yang Sania rasakan.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?Kamu menodainya?"tanya Edrick geram dengan Emil.


"Saya tidak sebejat itu tuan,dia masih suci walau memang tidak seperti gadis perawan.Saya juga masih menjaga batasan saya dengan nona Sania,saya juga memikirkan nasib saya ke depannya.Dan saya sadar diri tuan Edrick,saya punya paman yang bekerja juga dengan ayah dari nona Sania,mana mungkin saya menghilangkan kepercayaan mereka pada saya dan paman saya."kata Emil menyangkal,dia juga tidak terima dengan tuduhan Edrick padanya.


Dia memanggil Edrick hanya untuk meminta bantuan agar Nathalie di deportasi,karena keluarga Edrick bekerja di bagian imigrasi.


Edrick mendengus kasar,dia melirik tajam.Lalu mececar Emil lagi.


"Lalu apa yang kamu lakukan?Bukankah laki-laki normal tidak akan tahan melihat perempuan yang menggoda?"


"Dan saya juga sangat tersiksa dengan itu tuan Edrick.Tapi akal saya juga masih normal,masih memikirkan nasib saya ke depan.Setidaknya saya memberitahu anda sebelumnya jika anda memyukai nona Sania.Dia sangat menyukai anda tuan Edrick."kata Emil lagi.


Edrick kembali menarik nafas panjang,dia sudah mencoba melirik Sania,tapi rasanya hatinya belum tersentuh untuk menyukai balik Sania.


"Emil,aku tahu maksud kamu.Tapi sejujurnya aku tidak menyukai Sania sebagai perempuan,aku menyayangi Sania seperti Edward menyayanginya.Dan aku sepertinya sudah menemukan apa yang aku cari selama ini.Tapi rasanya sangat sulit untuk saat ini."kata Edrick.


Emil menatap Edrick,rupanya dia melihat Edrick sungguh-sungguh dengan ucapannya.Kemudian dia kembali ke topik di mana dia meminta bantuan Edrick untuk mendeportasi Nathalie.


"Tuan Edrick,bagaimana dengan permintaan saya mengenai deportasi Nathalie?"tanya Emil.


"Kamu tahu Nathalie itu saudara jauhku.Namun aku pernah mengancamnya untuk mendeportasinya untuk pulang ke negaranya dan tidak akan kembali lagi ke sini."


"Cobalah lakukan sekarang tuan Edrick.Jika tidak sekarang,dia akan terus meneror nona Sania dan tuan muda ataupun nona Aya."


Edrick tampak berpikir,dia lalu menatap Emil dan berucap.


"Apakah Edward perlu tahu tentang ini?"


"Nona Sania meminta padaku kalau kakaknya tidak perlu tahu.Dan anda juga tahu jika tuan muda tahu apa yang saya lakukan pada adiknya itu."


"Tapi itu hanya untuk menolong adiknya,kamu bahkan masih berpikir normal ketika siksaan sebagai seorang laki-laki di uji.Aku salut padamu Emil.Ck ck ck."ucap Edrick seperti mengejek Emil.


"Ya,walaupun menolongnya tetap saja itu tidak bisa di benarkan bagi tuan muda."


"Tapi kamu terdesak saat itu,tidak ada yang bisa kamu lakukan selain melakukan itu.Lagi pula aku sudah membayangkan bagaimana agresifnya perempuan jika di beri obat itu."


" Anda yang lebih berpengalaman tuan Edrick."


"Baiklah,akan aku usahakan.Aku juga akan mengancam dia agar jangan berbuat macam-macam lagi.Dan aku juga akan membantumu menjelaskan pada Edward jika suatu saat dia tahu.Karena nanti juga pasti tahu.Aku harap kamu satu-satunya pemilik kehormatan Sania."kata Edrick.


Emil yang mendengar itu jadi diam,dia tidak tahu apakah akan mudah jika doa Edrick terkabul.Ups,Emil ternyata berharap itu terjadi.


Huft,Emil membuang nafas kasar.Wajahnya panas akan pikirannya itu.

__ADS_1


__ADS_2