
Rapat selesai,direktur Gerald pun berpamitan untuk kembali ke kantornya.
"Terima kasih tuan Edward,saya sangat puas dengan presentasi anda tadi.Ide yang sangat bagus."kata direktur Gerald tersenyum puas.
"Iya tuan Gerald,mudah-mudahan kerjasama kita tidak ada kendala apapun kedepannya."ucap Edward menimpali.
"Kalau begitu,saya pamit langsung ke kantor untuk membuat agenda baru dengan kerjasama ini."kata direktur Gerald menyalami Edward.
"Maafkan saya tidak bisa mengantar anda sampai ke bawah,ada yang harus saya kerjakan.Nanti asisten Emil yang akan mengantar anda tuan Gerald."ucap Edward lagi.
"Tidak apa-apa tuan Edward.Saya permisi dulu,tuan Edward."kembali menyalami Edward.
Lalu Emil mengantar direktur Gerald sampai di bawah.Sedangkan Edward setelah direktur Gerald dan Emil pergi dia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi istrinya.Dia benar-benar sangat kangen Aya.
"Assalamu alaikum,bie?"
"Wa alaikum salam sayang.Sudah tidur?"
"Belum bie,nunggu kamu telepon."
"Maaf ya sayang,tadi ada klien penting jadi tidak bisa hubungi kamu."
"Lho,kan biasanya bangun tidur kamu hubungi aku?"
"Iya,tadi aku kesiangan bangunnya keburu siang jadi langsung berangkat ke kantor di tunggu klien."
"Maaf ya bie,aku jadi buat kamu kesiangan bangun."
"Tidak apa-apa sayang,memang kemarin sedikit lelah jadinya cepat ngantuk.Kamu sudah minum obat sayang?"
"Sudah bie,aku minum obat dulu baru nunggu kamu telepon."
"Duh,kok jadi pengen pulang ya aku sayang."
"Iya,aku juga kangen sama kamu.Oya,Sania sudah pulang tapi aku belum ketemu sama dia,bie."
"Benarkah?Kemana saja dia?"
"Kata mama dia sedang sibuk membuka butik baru."
"Jadi juga dia mau buka butik."
"Tapi minggu ini aku di ajak ke pembukaan butiknya bie."
"Jangan dulu sayang,kan masih di suruh istirahat dulu."kata Edward mengingatkan istrinya.
"Tapi aku bosan bie di kamar terus.Mama bilang katanya boleh kok,asal duduk aja nantinya."
Edward menghela nafas panjang,dia khawatir tapi dia juga merasa kasihan sama istrinya,selana satu bulan lebih harus di kamar terus.Siapa yang tahan di kamar terus,apalagi tidak di perbolehkam turum dari tempat tidur.
"Ya sudah,boleh ikut.Tapi ingat harus nurut sama mama,tidak boleh jalan-jalan kemana-mana."Edward memberi peringatan pada Aya.
"Iya bie.Kamu lagi apa?"
__ADS_1
"Aku kerja sayang.Sudah dulu ya,aku mau kerja lagi."
"Iya bie,aku juga sudah mengantuk."
Telepon pun terputus,Edward meletakkan ponselnya di meja.Lalu dia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertinda karena menelepon istrinya.
_
Pulang dari kantor,Edward mampir ke restoran dengan Emil untuk makan malam sambil membicarakan pekerjaan yang belum tuntas si bahas tadi di kantor.
"Bagaimana dengan yang di Irlandia,apa sudah ada perkembangan?"tanya Edward.
"Sudah tuan,di sana sudah ada yang bertanggung jawab mengenai pengembangan dan promosi di beberapa daerah."jawab Emil.
Mereka makan dengan santai,tanpa harus terburu-buru karena tidak ada yang di tunggu di apartemen.Tapi dia baru ingat jika setiap pulang harus menelepon istrinya.
Lalu dia buru-buru menyelesaikan makannya dan mengajak Emil menyelesaikan makannya.Mau tidak mau dia harus menyudahi makannya yang baru setengah dia makan.
"Kita langsung pulang ke apartemen saja,lalu kamu boleh pulang."kata Edward setelah mereka sudah masuk ke dalam mobil.
Mobil pun melaju dengan cepat,mereka ingin segera cepat sampai di apartemennya untuk beriatirahat setalah seharian bekerja.
Edward langsung masuk ke apartemennya dan langsung bergegas masuk ke dalam kamar,mengganti baju dan berbaring di ranjangnya.Seperti biasa,dia mengambil ponselnya dan menghubungi istrinya.
"Halo sayang."ucap Edward setelah sambubgan telepon masuk.
"Assalamu alaikum bie."ucap Aya meralat sapaan suaminya.
"Hahaha,wa alaikum salam.Maaf sayang,aku sudah tidak sabar meneleponmu.Kamu sedang apa?"
"Hanya itu?"
"Lagi menahan rindu pada suamiku."
"Ya Allah,aku jadi kangen banget sama kamu sayang."
Pembicaraan demi pembicaraan mengalir begitu saja,hingga waktu beranjak malam.Rasa kantuk Edward sudah tak terbendung.Hampir dua jam lebih mereka mengobrol di telepon sampai pons3l jadi panas dan akhirnya berhenti di jam menunjukkan pukul sebelas malam waktu Inggris
Setelah telepon di tutup,Edward langsung tertidur.Menelepon istrinya seperti dongeng sebelum tidur.Begitu juga Aya,ketika Edward menelepon pagi hari atau di kantor.
_
Hari ini Edward lebih santai di apartemennya,karena minggu ini dia tidak punya rencana apa-apa.Hanya menelepon istrinya dan membereskan apartemen yang sejak kedatangannya dari Indonesia belum dia rapihkan.
Setelah menelepon istrinya,dia mulai beres-beres.Mulai dari kamarnya yang sedikut berantakan,lalu tempat menonton televisi,dapur dan yang terakhir ruang tamu.
Ruang tamu juga dia rapikan karena memang banyak debu di sofa Dia menemukan sebungkus kotak,dia ingat tiga hari yang lalu mendaoatkan paket pagi-pagi hingga dia melupakan menelepon istrinya karena bangun terlambat.
Edward lalu membolak-balik mencari nama pengirim,tapi dia tidak menemukannya.Walaupun dulu dia lakukan,tapi karena terburu-buru jadi tidak menemukan.Namun memang sama,tidak menemukan nama pengirimnya.
Akhirnya dengan penasaran,dia buka kotak tersebut.Satu persatu selotip yang menemoel dia buang dan kertas pembungkus terlepas.Ada kitak yang masih tertutup,dia kemudian membukanya.
Di sana terdapat poto-poto seorang gadis yang sedang berjoget bebas.Lembaran poto itu ada tujuh buah,Edward membukanya satu persatu.
__ADS_1
Dia tahu itu poto adiknya,dan di dua poto terakhir melihat Sania sedang di peluk oleh orang yang dia kenal.Ya itu adalah Emil,dia kenal betul.
Dan kini hatinya kesal,apa yang mereka lakukan ketika dia pulang ke Indonesia.Apakah Sania mabuk?Tapi kenapa di sana ada Emil?
Edward mengambil ponselnya,rasa marah daj kesal ketika sudah beberapa minggu kejadian itu baru dia tahu.Kenapa Emil tidak membaritahunya?
Pantas saja Sania tidak mau pulang ketika pesta pernikahannya berlangsung,itu di luar kebiasaannya yang menyukai pesta pernikahan.Pasti Emil tahu banyak tentang itu,pikir Edward.
Sambungan telepon pada Emil langsung terjawab.
"Ada apa tuan muda?Apa anda butuh sesuatu?"tanya Emil yang belum menyadari akan kemarahan Edward.
"Kamu datangbke apartemenku sekarang,jangan telat."kata Edward dengan nada tegas.
"Baik tuan muda."jawab Emil.
Sambungan telepon terputus,Edward melempar ponselnya di sofa.Dia lalu mondar mandir tak tentu arah,menunggu Emil datang untuk menjelaskan apa yang terjadi di poto itu.
Edward masih memegang lembaran poto itu,sekali lagi dia pandangi dan rasa marahnha kembali memuncak.
Suara bel berbunyi,Emil sudah datang.Edward membuang nafas kasar,menahan amarahnya meluap sebelum Emil menjelaskan apa yang terjadi dengan poto itu.
Dia lalu membuka pintu,dan terlihat Emil yang membungkukkan badannya lalu masuk ke dalam.Edward sudah tidak tahan lagi ingin mendengar penjelasan dari Emil.
Dia lalu melempar lembaran poto itu tepat di dada Emil.Emil pun terkejut,dia melihat beberapa poto berserakan di lantai.Ada gambar Sania di sana yang sedang berjoget asyik.
Dan tentu saja,Emil kaget.Dari mana Edward mendapatkan poto-poto itu?
"Jelaskan padaku apa yang terjadi pada Sania?"tanya Edward,matanya menatap Emil tajam.
Ingin dia memukul asistennya itu yang sudah sepuluh tahun bersamanya.Namun dia tahan,ingin mendengar penjelasan Emil.
"Tuan muda dapat poto itu dari mana?"tanya Emil,dia tidak menyangka Edward mendapatkan poto-poto tentang Sania waktu itu,sialnya di situ ada poto dirinya yang sedang memeluk Sania.
"Tidak perlu tahu aku dapat poto itu dari mana.Kamu mengetahui sesuatu Emil,kenapa diam saja!"teriak Edward yang sudah tidak bisa membendung rasa kesalnya.
Emil masih diam,dia tidak tahu harus bicara dari mana.Wajah tuan mudanya sangat tampak jelas kalau dia marah besar.
"Tuan muda,saya bisa jelaskan semuanya.Tapi tuan muda harus tenang dengan penjelasan saya nanti."kata Emil masih dengan keterkejutannya.
"Bagaimana aku harus tenang! kamu menyembunyikannya sudah cukup lama Emil,sudah tiga minggu semenjak aku pulang ke Indonesia.Dan lebih anehnya lagi Sania tidak pulang ketika pesta pernikahanku."
"Sebelumnya saya minta maaf tuan muda,saya..."
Belum selesai ucapan Emil,suara laki-laki di ambang pintu membuyarkan keduanya.Mereka menoleh siapa yang datang di saat ketegangan itu tercipta.
"Halo semua?"
_
_
_
__ADS_1
☆☆☆☆☆