Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
83.Paket Misterius


__ADS_3

Sebulan lebih Edward di Indonesia,dia kini kembali lagi pada pekerjaannya di Inggris.Namun Aya tidak dia bawa karena menurut dokter terlalu rentan untuk perjalanan jauh dari Indonesia ke Inggris.


Waktu pesta tersebut,Aya terlalu kelelahan hingga dia sedikit penderahan.Jadi dokter menyarankan istirahat total.


Mau tidak mau Edward berangkat ke Inggris tidak dengan istrinya.Berat baginya meninggalkan istrinya di rumah mamanya dan berat juga dia harus berjauhan dengan Aya.


Jadilah kini mereka long disten relationship antara Indonesia dan Inggris.Setiap hari Edward selalu menghubungi Aya,istrinya.Karena dia tidak bisa jauh dari istrinya,namun dengan saran nyonya Karina Aya di tinggal di rumahnya.


Awalnya Edward tidak setuju,dia ingin mundur untuk keberangkatan ke Inggris,namun Emil selalu menghubunginya karena ada banyak pekerjaan yang menunggunya,terlebih dia harus mengurus perizinan untuk membuka cabang baru di salah satu desa di sana.


Karena tidak mudah untuk mendirikan sebuah mall,maka Edward harus pandai-pandai dalam hal ini.Dan Emil yang akan mengurus selanjutnya.


Malam ini Edward sedang menelepon istrinya,betapa dia sangat merindukan istrinya itu hingga tiap hari dalam tiga waktu dia selalu menelepon Aya.


"Sayang,kamu makan dengan baik kan?"tanya Edward pada Aya di telepon.


"Aku makan dengan baik,bie.Mama selalu mengingatkan dan membawakannya ke kamar.Aku ngga enak sama mama."jawab Aya.


"Ngga apa-apa sayang,mama juga senang melakukannya.Kan beliau akan dapat cucu dari kamu."kata Edward lagi menenangkan istrinya.


"Tetap saja bie,masa aku yang di ladeni sama mama.Harusnya aku yang bantu mama di dapur."kata Aya lagi.


"Tapi keadaannya kan kamu sedang sakit sayang,kalau di paksa bekerja nanti pendarahan lagi."ucap Edward menghibur istrinya.


"Iya bie,hikhikhik."tiba-tiba Aya memangis.


"Lho,kok nangis?Kenapa,ada yang sakit di perutnya?"tanya Edward panik.


"Tidak bie,aku kangen sama kamu."ucap Aya yang terisak di sana.


Edward diam,dia juga berat sesungguhnya harus jauh dari Aya dan meninggalkannya.


"Aku juga kangen sayang,sabar ya.Bulan depan aku pulang lagi kok.Nanti konsultasi lagi sama dokter,kamu boleh aku bawa lagi tidak ke Inggris."


"Lama ya bie,bulan depan."


"Kok jadi cengeng sih?"


"Tidak tahu bie,tiba-tiba saja aku pengen nangis."


Edward tersenyum,mungkin itu hormon kehamilan,seperti dulu dirinya sangat sensitif dan selalu ingin marah-marah.


"Sabar ya sayang,bulan depan aku usahakan kamu bisa ikut lagi sama aku.Makanya kamu harus nurut,istirahat total."


"Iya bie,tidak enak rasanya jauh sama kamu."


Cukup sudah penderitaan Edward,istrinya begitu merindukannya namun tidak bisa bertemu.Apa lagi dia,Edward hanya memendamnya saja dalam hati.Setiap waktu dia memikirkan istrinya.


Salah dia waktu di sana,selalu bercinta ketika baru datang dan setelah itu istirahat sebentar lalu acara pesta berlangsung.Bagaimanapun gejolak di hatinya untuk menyentuh istrinya harus dia tahan sebisa mungkin,karena bukan Aya saja yang jadi ancaman tapi janin yang ada dalam kandungan istrinya itu.


Kandungan Aya sudah memasuki usia tiga bulan,seharusnya sudah memasuki trisemester kedua,namun karena harus istirahat total jadi,tidak bisa di bawa keluar negara.


Rencana dulu mau ke kampung Aya dan menginap di sana juga harus gagal karena Aya tidak boleh kemana-mana,harus istirahat.

__ADS_1


"Bie,kamu jangan tinggal sholat ya."


"Tidak sayang,aku selalu menjalankan kewajibanku tepat waktu.Kan setiap habis sholat aku selalu mendoakanmu dan calon anak kita,biar sehat sampai lahiran nanti."


"Alhamdulillah kalau begitu."


"Kenapa memangnya sayang?"


"Aku takut kamu melupakan aku,sholat aja lupa apa lagi aku.Kalau selesai sholat biasanya berdoa,kalau tidak sholat jadi kamu lupa sama aku."


"Hahaha,ngga lah sayang.Mana mungkin aku lupa,dalam diam dan bekerja pikiran aku selalu ke istriku,jadi mana mungkin aku lupa.Apa lagi tidak sholat,aduh sayang kamu ada-ada saja deh."


"Aku takut saja bie."


Aya mulai melantur,Edward tahu itu efek dari rasa rindu yang menyerang,jadi pikiran kemana-mana.


"Kamu ngantuk ngga sayang?"tanya Edward yang sudah beberapa kali menguap.


"*Kan di sini siang,bie.Jadi aku tidak ngantuk dan tidak mau tidur."


"Sayang,kamu minum obat ya dan makan buahnya.Biar kuat dan sehat*."ucapan nyonya Karina terdengar di telepon Edward.


"Ayo sayang,minum obatnya dan makan buahnya."kata Edward menyanbungi ucapan mamanya.


"Lagi menelepon suamimu?"tanya nyonya Karina.


"*Iya ma,mama mau ngomong sama Edward?"


"Bie,aku minum obat dulu ya."


"Iya sayang,aku tutup teleponnya ya.Mataku sudah minta istirahat."


"Oh ya bie,maaf ya di sana kan malam. Ya udah,selamat tidur suamiku.Assalamu alaikum."


"Selamat minum obat sayang,wa alaikum salam."


Lalu telepon pun terputus,Edward langsung tertidur setelah tutup teleponnya.Dia benar-benar mengantuk sekali.


_


Pagi ini Edward datang terlambat,dia bangun kesiangan karena harus begadang menemani istrinya menelepon.


Emil sudah dia beritahu kalau dia datang terlambat.Sekarang semua dia kerjakan sendiri sama seperti dulu dia masih sendiri.Tidak enak memang hidup sendiri,apa-apa harus mengerjakan sendiri.Jika ada istrinya pasti dia tinggal duduk,sarapan selalu di sediakan istrinya,memakai dasi pun istrinya yang melakukan.


Hal-hal seperti itu yang dia rindukan selain ingin menyentuh istrinya.Terasa hampa jika semua serba di lakukan sendiri.


Tiiiit.


Suara bel berbunyi,Edward heran siapa yang datang sepagi ini?Dia sudah menyuruh Emil berangkat duluan.


Tapi dia akhirnya membuka juga pintu itu,terlihat seperti seorang kurir yang mengantarkan paket.


"Permisi,tuan Edward?"tanya laki-laki itu.

__ADS_1


"Ya,saya sendiri."jawab Edward.


"Ada paket untuk anda."kata laki-laki itu menyampaikan sebuah kotak kecil.


Edward heran,kenapa ada paket datang untuknya.Siapa yang mengirim?


"Dari siapa ini?"tanya Edward heran dengan paket itu.


"Di situ ada pengirimnya."


Edward membolak balik kotak tersebut,namun tidak menemukan nama dan alamat si pengirim paket.


"Saya permisi dulu tuan."ucap kurir tersebut.


Edward masih penasaran apa isi kotak tersebut,namun telepon Emil membuyarkannya.


"Halo."


"Tuan muda,anda sedang di tunggu sama direktur Ekspra still di kantor."


"Ya aku segera berangkat.Tunggu lima belas menit lagi."ucap Edward.


Dia melempar kotak tersebut sembarangan di sofa.Lalu dia bergegas merapikan dasinya dan mengambil jasnya yang masih tergantung di lemari.


Setelah selesai,dia langsung keluar apartemen usai mengunci pintunya.Tak lupa dia berpesan pada penjaga kalau ada yang datang entah itu kurir jangan langsung datang ke apartemennya.Tapi harus melalui penjaga terlebih dahulu.


Saat itu penjaga sedang keluar mencari sarapan pagi,jadi ada kurir masuk tidak tahu.


Apartemen itu sendiri punya Edward dan pertama kali di bangun dari perusahaannya yang baru berkembang.


Dan ternyata banyak pemintanya,dia mengambil satu unit untuk di tempati yang sebelumnya dia ngekos selama kuliahnya dulu.


Edward masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.Dia tidak mau terlambat bertemu klien dari Ekspra still karena mereka adalah yang akan menyokong proyek dari pembangunan mall di desa,tepatnya di pinggiran kota.


Dan lima belam menit tepat Edward sampai di kantornya,dia langsung naik lift khusus untuk pegawai penting di perusahaan itu,tanpa membuang waktu,dia memencet nomor tiga tempat kantornya berada.


Edward memberitahu Emil kalau dia sudah sampai di kantor sedang menuju ruangannya.Dia gelisah,entah apa yang membuatnya gelisah Tapi dia ingat kalau bangun tidur tadi terlambat dan tidak sempat menghubungi istrinya.


Dia pikir nanti setelah rapat dengan klien dari Elspra still langsung menghubungi Aya,benar-benar dia kehilangan semangat jika belum menghubungi Aya,tapi karena sedang di buru-buru makan mau tidak mau dia menunggu nanti setelah rapat selesai.


Edward membuang kasar nafasnya,berharap rasa di dada ikut keluar dengan hembusan nafasnya tadi.Namun sia-sia saja,pikirannya terus pada istrinya.


"Sial!"gumam Edward.


Lalu pintu lift terbuka,dia bergegas keluar dan langsung menuju ruangannya yang ternyata tuan Gerald dari Ekspra still sudah menunggunya sejak tadi.


_


_


_


☆☆☆☆☆

__ADS_1


__ADS_2