
Sesuai rencana semula,Edward akan mendekati Aya untuk mencari tahu tentang pak Imron.
Sore ini Edward menunggu Aya pulang dari mengajarnya.Dia menunggu di luar pondok,tapi tidak jauh dari pondok.
Setengah jam sudah Edward menunggu Aya,akhirnya dia keluar juga.
Seperti biasa Aya menggunakan sepedanya,lalu setelah di pintu masuk area pondok pesantren Edward mendekat dan mencegah Aya.
Tentu saja Aya kaget dan turun dari sepedanya.Dia kesal karena tiba-tiba saja Edward menghadangnya dengan tersenyum tanpa bersalah.
Aya mendengus,lalu dia akhirnya berjalan menuntun sepedanya.Edward mengikuti dari belakang.
"Ada apa sih bikin kaget orang?"tanya Aya kesal.
"Mau ngantar kamu pulang aja."kata Edward santai.
"Saya bisa pulang sendiri,ngga usah di antar."ucap Aya ketus.
"Takut kamu di ganggu lagi sama preman-preman itu,mereka itu pendendam."kata Edward sedikit menakuti Aya,agar dia mau di temani.
"Alasan kamu saja itu sih."kata Aya masih dengan ketusnya.
"Memang betul,kenapa masih tanya."ucap Edward dengan senyumannya itu.
"Apa sebenarnya maumu?"
"Tidak ada terima kasihnya sama sekali."
Aya diam,dia menatap Edward dengan sebal.Yang di tatap malah senyum-senyum sendiri.Aya melanjutkan jalannya,tidak mempedulikan Edward yang mengikutinya.
Dalam perjalanan mereka lebih banyak diam,namun Aya sudah tidak sejutek tadi.Dia menuntun sepedannya,tapi kini Edward yang mengambil alihnya.
"Sini sepedanya saya yang bawa."kata Edward.
"Ngga usah."tolak Aya.
"Kamu tahu siapa aku?"tanya Edward asal
"Ya aku tahu,kamu laki-laki menyebalkan."
"Hahaha...tapi kamu suka di antar pulang bersamaku."
"Itu karena kamu memaksa."
"Kalau tidak ku paksa,aku tidak akan dekat denganmu."
Aya menoleh menatap Edward,dia tersenyum miring mendengar perkataan laki-laki di sampingnya ini.
"Kenapa tersenyum?"tanya Edward
Aya hanya diam,dia terus melangkah menatap di depan yang sinar matahari sudah jauh di ufuk barat.
"Ay,boleh kan aku panggil nama kamu Ay."tanya Edward dengan santai.
Aya hanya menaikkan alisnya,lalu tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Biar lebih akrab."ucap Edward lagi.
"Terserah saja."
"Apa kamu kenal pak Imron?"tanya Edward masih dengan sikap santai.
"Ya,dia tetanggaku dua rumah jaraknya.Kenapa tanya Pak Imron?"tanya Aya heran.
"Ngga,aku baru lihat aja empat hari ini di masjid kalau sholat jamaah.Kata Bayu dia tetangga kamu."
"Iya,pak Imron itu tetanggaku.Dua bulan lebih menghilang entah kemana,tapi sekarang datang lagi."
"Kata Bayu pergi ke kota untuk kerja,begitu sih ketika ku tanya."
"Kamu sepertinya sangat penasaran dengan pak Imron."tanya Aya heran.
__ADS_1
"Iya,karena kemarin sore dia bertanya tentang aku sama kyai Sobri.Makanya aku penasaran,kenapa dia bertanya tentang aku."
"Mungkin karena kamu baru terlihat,dan juga kamu baru lihat pak Imron."
"Bisa jadi.Tapi aku masih penasaran saja."
"Sudah jangan penasaran,lagi pula buat apa penasaran."ucap Aya,dia menoleh ke arah Edward.
Edward hanya tersenyum,kemudian membalas tatapan Aya.Lalu keduanya tertawa.
"Sudah sampai,terima kasih ya telah di antar sampai rumah."kata Aya.
"Aku akan setiap hari mengantar kamu pulang."
"Hahaha,aku tidak setiap hari mengajar di pondok."
"Ngga apa-apa,kapan kamu mengajar di pondok pulangnya aku antar.Oya,rumah pak Imron yang mana."tanya Edward mengedarkan pandangannya.
"Itu,yang berpagar besi.Setiap hari sih rumahnya tutup aja."
"Oh,apa istrinya tidak pernah keluar?"
"Istri pak Imron sudah lama meninggal,anaknya masuk rumah sakit jiwa."kata Aya.
Edward hanya mengangguk-angguk saja sambil memperhatikan rumah pak Imron.
Rumahnya cukup besar di banding rumah Aya,tapi keliahatan sekali rumah itu jarang di tempati.Selalu sepi dan halaman rumahnya sangat rimbun dengan semak belukar.
"Kapan-kapan boleh aku mampir ke rumahmu?"
"Kamu sedang mampir ke rumahku."
"Oh iya benar,aku sedang mengunjungi rumahmu.Lain waktu aku akan ke rumahmu,karena ini sudah sangat gelap."
"Iya,terserah saja."
"Kalau begitu,aku pulang dulu.Mungkin Bayu mencariku."
Edward tersenyum pada Aya,lalu dia mengangguk.Setelah dia pergi Aya masuk ke dalam rumahnya.
_
"Dari mana?"tanya Bayu ketika Edward baru datang dan langsung mengambil air wudhu.
"Mengantar Aya pulang."jawab Edward.
"Mengantar pulang?"tanya Bayu heran.
"Iya,kenapa?"
"Ngga apa-apa."jawab Bayu.
Lalu dia pergi ke masjid untuk sholat magrib berjamaah.Edward pun menyusul Bayu ke masjid.
Azan magrib berkumandang,mereka menunggu kyai Sobri untuk mengimami sholat magrib.
Sambil menunggu,Edward membuka mushaf qur'annya lalu membacanya dengan pelan.
Sewaktu kecil Edward pernah belajar mengaji sampai dia sekolah SMP,setelah SMA dia langsung pergi kuliah di Inggris,karena di sana ada kerabat papanya.Sambil kuliah dia menjalankan bisnis kecil-kecilan,hingga saat ini bisnis itu lebih maju dan sukses.
Dia jarang pulang ke negara ibunya,sampai papanya di serang dan masuk rumah sakit.Baru kali ini dia pulang sampai lama.Dan dia belajar kembali ilmu agama yang sempat dia lupa.
Beruntung sebenarnya dia menyamar untuk jadi santri,mengasah kembali mengajinya dan mendapat ilmu agama lebih dalam.Bukan santri sebenarnya,hanya menyamar jadi santri abdi.Walaupun dia seorang yang di besarkan pada keluarga kaya,namun dia tidak menyombongkan akan kekayaan yang dia punya.
Baginya,kejam dalam bisnis itu sangat lumrah.Persaingan di kalangan pebisnis sudah biasa terjadi,banyak yang menggunakan cara-cara yang salah,tapi bagi Edward tidak seperti itu.
Dia lebih bangga punya bisnis kecil dengan usaha dan keringat sendiri dari pada besar di bantu dan menjalankannya dengan cara-cara kotor.
_
Setiap Aya pulang dari mengajar,Edward selalu mengantarnya pulang.Walau Aya menolaknya,namun Edward terus memaksanya.Sampai mereka akrab dan mengenal satu sama lain.
__ADS_1
"Kamu tahu kenapa istrinya pak Imron meninggal?"tanya Edward tiba-tiba pada Aya.
Aya menatap Edward heran,setiap mengantar Aya Edward selalu menanyakan tentang pak Imron.Ada hubungan apa sebenarnya dengan pak Imron.
"Ay?"
"Aku tidak tahu pasti,kata ayahku sih kecelakaan.Kenapa kamu tanya-tanya terus tentang pak Imron?"tanya Aya dengan mata menyelidik.
"Ngga apa-apa.Akhir-akhir ini aku lihat pak Imron selalu menanyakan keberadaanku di pondok pada Bayu.Jadi aku sedikit ingin tahu saja."kata Edward berbohong.
Tidak mungkin kan dia harus jujur kalau nanti bisa rumit urusannya.Belum lagi dia belum menemukan bukti yang mencurigakan tentang hilangnya kemungkinan adik Bayu atau kakaknya.
"Oh,pak Imron itu tertutup orangnya.Dia jarang bergaul dengan tetangga.Apa lagi semenjak hilang tiga bulan itu,semakin tertutup.Hanya di pesantren dia sangat akrab dengan santri dan ustad di sana,sama kyai Sobri juga akrab.Tapi tidak pernah bercerita kemana dia pergi atau cerita tentang anaknya yang di rumah sakit jiwa."
"Jadi setelah dia menghilang itu jadi jarang keluar rumah?Tapi kenapa sering ke peaantren dan sering ikut sholat berjamaah?"
"Karena memang dia sudah biasa sholat berjamaah di pesantren."
"Oh."
"Sudah sampai,kamu mau mampir dulu?"kata Aya menawarkan.
Edward berpikir,ada baiknya dia mampir ke rumah Aya.
"Baiklah."
"Kenapa lama jawabnya,kalau ragu ya ngga usah juga ngga apa-apa."kata Aya melihat keraguan di mata Edward.
"Besok kamu ngajar lagi?"
"Tidak,besok saya mau panen sayuran di sawah."
"Kalau begitu besok saja,saya penasaran belum pernah panen sayuran di sawah."ucap Edward.
Aya tersenyum,dia merasa lucu dengan ucapan Edward.Memang ya anak orang kota itu tidak mengenal kehidupan di desa.Mereka tidak peduli semua makanan yang mereka makan dari mana asalnya.
"Kamu sepertinya tidak pernah ke persawahan."
"Memang,saya ini jarang keluar rumah yang tidak penting.Lebih baik mengerjakan sesuatu yang menghasilkan uang."ucap Edward dengan tidak sadar.
"Oh,iya.Kamu orang kaya yang tidak tahu akan penderitaan orang kecil,seperti petani."kata Aya acuh,dia kemudian masuk lebih dalam di halaman rumahnya.
Menyimpan sepedanya.Edward menghampiri Aya,dia melihat Aya tampak kesal.
"Kamu...marah?"
"Kenapa aku harus marah?"
"Maaf,bukan aku tidak menghargai orang kecil seperti petani.Tapi aku terlalu sibuk mengurusi urusanku dalam dunia pekerjaanku."ucap Edward yang samakin membuat Aya bingung.
Siapa sebenarnya Edward?
"Besok sepulang dari pasar aku kesini."kata Edward yang mengetahui Aya curiga padanya.
Namun Edward membiarkan Aya penasaran tentangnya.Tak mungkin juga dia mencari tahu lebih dalam.Tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya.
"Aku pulang ya,Assalamu alaikum.."
"Wa alaikum salam.."jawab Aya.
Lalu Edward berlalu dari hadapan Aya,dia sekali lagi menatap rumah pak Imron.Dia melihat sekilas dari jendela yang terbuka sedikit,ada orang mengintainya dan menatapnya tajam.
Kali ini Edward akan memancing orang tersebut keluar,karena penasaran padanya.Dia akan terus mengunjungi Aya.Dia yakin yang di balik jendela itu pak Imron.
_
_
_
☆☆☆☆☆
__ADS_1