
Edward masih berdiri mendengarkan Reynald berbicara pada Nicko.
"Kamu mau tanda tangan apa tidak?!"bentak Reynald pada Nicko yang sedang terikat tangannya.
"Kamu pikir dengan menyekapku dua kali seperti ini bisa memgambil alih perusahaanku?"kata Nicko meremehkan.
"Cuih! Kamu keras kepala.Bisa-bisanya kamu meremehkan gertakanku.Baiklah,aku tidak akan segan menyiksamu,seperti dulu.Atau lebih dari yang dulu,hahaha..!"ucap Reynald dengan tertawa senang.
"Silakan saja,papaku dan adikku pasti mencariku."ucap Nicko menciutkan nyali Reunald.
"Oya,dia akan menemukan anaknya cacat seumur hidup.Jangan kau pikir aku sepupumu punya belas kasihan hah!"ucap Reynald dengan suara lantang.
Edward yang mendengar perkataan Reynald mengepalkan tangannya kuat.Dia kemudian mengambil senjatanya dari balik jaketnya dan dia menerobos masuk ke dalam.
Dia acungkan senjatanya ke arah Reynald yang kaget akan kedatangan Edward.Tangannya meraba meja di sampingnya,mengambil senjatanya yang tergeletak di sana.
"Kamu mau mencelakai kakakku?"tanya Edward menatap Reynald tajam.
Dia maju selangkah demi selangkah mendekati Reynald yang sama juga mengacungkan senjata ke arah Nicko.
Nicko yang terikat tangannya hanya diam terpaku,menatap senjata Reynald yang tepat di acungkan ke pelipisnya.Mata Nicko terpejam,membayangkan jika memang umurnya sampai disini.
"Hahaha..,kamu mau menyelamatkan kakak lemahmu ini?"tanya Reynald yang semakin mendekatkan senjatanya hingga kepala Nicko miring ke kiri.
Selangkah lebih dekat,Edward perlahan menurunkan senjatanya.Dia menatap Reynald dengan tajam.Dia tidak habis pikir,hanya karena keserakahan antara ayah dan anak untuk mendapatkan kekayaan mereka harus mengorbankan keluarga.Sampai berani mencelakai saudaranya berkali-kali.
"Lepaskan kak Nicko,Reynald!"ucap Edward tegas.
"Hah! Mudah sekali kamu memintaku untuk melepaskan kakakmu.Suruh kakakmu tanda tangani surat pengalihan itu,maka aku akan melaepaskan kakak bodohmu itu."ucap Reynald lantang.
"Apa maumu?Hanya karena ingin menguasai perusahaan kamu tega berbuat seperti penjahat?!"teriak Edward lagi.
"Aku tidak peduli,atau kamu suruh adikmu menikah denganku."ucap Reynald senyum mengejek.
Edward diam,dia semakin geram dengan tingkah sepupunya itu.Bisa-bisanya dia ingin menikahi adiknya.Jangan harap itu terjadi,dia juga tidak akan rela mempunyai adik ipar jahat dan serakah.
"Kamu pikir aku akan dengan suka rela menyerahkan adikku pada laki-laki jahat dan serakah sepertimu?"ucap Nicko ikut menimpali ucapan Reynald.
"Diam! Orang yang dalam ketakutan ajalnya akan di jemput jangan banyak bacot.Sekali ku tarik pelatuknya,maka otakmu hancur berantakan,bodoh!"kembali Reynald menggertak Nicko dan terus mendorong senjatanya sampai kepala Nicko miring.
Mau tidak mau Nicko diam,dia melirik Edward yang sudah geram dengan kelakuan sepupunya itu.Tangannya terkepal keduanya dan giginya bergemerutuk.Ponsel Edward bergetar di saku jasnya,namun dia mengabaikan telepon masuk di ponselnya.
Di saat adegan seperti itu,pak Hendro masuk dengan santainya dan mengahampiri anaknya.Menempelkan tangan kanannya di senjata Reynald yang di todongkan ke arah kepala Nicko.
"Kamu kenapa mainan senjata Rey? Bukankah dia saudaramu?"tanya pak Hendro masih dengan santainya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aku sedang mengancam Nicko,dia harus tanda tangan surat pengalihan perusahaan."ujar Reynald heran dengan ucapan papanya
"Kamu telat,papa sudah mendapatkannya kemarin."ucap pak Hendro.
Dia duduk di kursi dengan tenang.Edward memandang pamannya dengan amarah yang memuncak.Ingin sekali dia memukul wajah keriput itu.
Sedangkan Nicko kaget bukan main.Kemarin dia memang agak berat kepalanya,dan ada seseorang yang memegang tangannya untuk menuliskan sesuatu.Semakin dia melihat siapa yang menuntunnya waktu itu,dia semakin berat kepalanya.
__ADS_1
Dan tanpa sadar dia menanda tangani sebuah surat kuasa.Nicko berdecak kesal,kenapa dia jadi tidak sadar akan hal itu.
Dia menatap pamannya dengan kesal,tentu saja dia di bodohi karena di beri sesuatu pada makanan yang dia makan.
"Orang licik tidak akan bertahan lama dengan apa yang dia dapat."ucap Nicko.
"Hahaha...,tahu apa kamu dengan sesuatu yang di raih dengan mudah.Kamu anak kecil yang sok sokan memimpin perusahaan besar.Perusahaan itu aku yang membesarkannya,dengan mudahnya papamu memberikannya pada kamu."ucap pak Hendro dengan sengit menatap Nicko.
"Jadi om menginginkan perusahaan itu lagi? Kenapa dulu om membuat bangkrut perusahaan yang di bangun oleh om sendiri?"ucap Edward.
"Diam kamu! Itu perusahaanku,aku bebas berbuat apa saja."
"Jangan ngaco om,perusahaan itu papa yang membesarkannya.Papa mempercayakannya pada om,tapi om malah menghilangkan kepercayaan om sendiri sama papa.Hingga hampir bangkrut,dan papa sendiri yang membangkitkan kembali perusahaan itu jadi besar kembali.Jadi wajar om di depak dari perusahaan karena om tidak berguna!"ucap Edward lantang,dia sama sekali tidak takut akan kebenaran itu terungkap.
Dor!
Satu tembakan melesat tepat di betis Edward,darah segar mengalir deras.Edward pun jatuh bersimpuh,dia memegangi betisnya yang tertembak itu.
"Edward!"teriak Nicko.
Dia geram dengan ulah pamannya itu.Benar saja,apapun akan di lakukan oleh manusia serakah seperti pamannya itu.Hingga tega mencelakai dan menembak keponakannya sendiri.
"Hendro!"
Suara lengkingan dari arah pintu,masuk seorang perempuan paruh baya.Yang tak lain adalah kakaknya,nyonya Karina.
Dia menatap garang pada adiknya itu,lalu mendekati Edward yang terduduk memegangi betisnya yang terasa panas perih karena timah panas bersarang di sana.
"Mama tenang saja,urus adik brengsek mama itu."ucap Edward pada mamanya.
Nyonya Karina bangkit dari jongkoknya,dia menghampiri adiknya yang masih diam dan memegang senjatanya.
"Jadi kamu semua biang keladi dari kerusuhan dan penculikan anakku,Hendro?"tanya nyonya Karina dengan mata nyalang.
"Heh,mbak Karina tahu apa?Mbak Karina yang selalu di sayang oleh ayah,mbak Karina yang selalu di turuti kemauan ayah.Sedangkan aku?Aku selalu di telantarkan oleh ayah.Jadi aku harus balas dendam pada keluargamu karena perbuatan ayah padaku.Lagi pula suamimu yang membuatku jadi tidak berguna,suamimu yang membuat kehidupan ekonomi keluargaku kacau.Apa aku salah dengan membalas semua itu hah?!"teriak pak Hendro.
"Cukup Hendro! Selama ini mas Robert memberitahuku kalau kamu adalah dalang semua kekacauan di perusahaan dan penculikan anakku.Tapi aku selalu tidak percaya dan bertengkar dengannya.Namun sekarang kamu membuktikannya di depanku.Kamu seperti penjahat dunia,Hendro!"teriak nyonya Karina dengan penuh amarah.
Dan tanpa di duga,Reynald mengarahkan senjatanya pada nyonya Karina.Satu letusan peluru melesat ke arah nyonya Karina,beruntung Edward menarik mamanya untuk menunduk.
"Reynald!"teriak Hendro pada anaknya itu.
Walau bagaimanapun nyonya Karina adalah kakaknya,dia hanya ingin mencelakai suaminya dan anak-anaknya saja,tidak dengan kakaknya itu.
Dia menarik senjata tadi yang di acungkan pada nyonya Karina.
"Kenapa kamu menembakkan senjatamu hah?!"bentak pak Hendro pada Reynald.
"Tante Karina yang membuat papa seperti ini,aku tidak terima,pa."ucap Reynald tak kalah kerasnya.
Matanya melotot,lalu dia mengacungkan senjatanya lagi pada tantenya itu,namun di halangi oleh papanya.
Dan terjadilah perebutan senjata antara Reynald dan pak Hendro.
__ADS_1
Sedangkan nyonya Karina berlari ke arah mereka,berusaha melerai antara anak dan ayah itu berebut senjata.Edward pun mengejar mamanya,karena dia takut mamanya yang jadi sasaran.
Dor!
Satu tembakan mengenai pinggang nyonya Karina,dia menatap Hendro dan Reynald bergantian.Baik pak Hendro dan Reynald terpaku,Edward menempah mamanya yang secara perlahan tumbang.
"Mama!"
Teriak Edward dan Nicko berbarengan.Edward memeluk mamanya yang sudah mulai lemas dan tak sadarkan diri.
Dari arah pintu masuk tampak jelas wajah merah padam.Ya,pak Robert masuk dan menghampiri Edward yang sedang memeluk mamanya.Dua orang di belakang pak Robert dengan baju putih dan satu lagi pak Dori.
Di susul Emil yang membawa kain untuk mengikat betis Edward yang masih mengalirkan darah.
"Bawa segra istriku juga cepat tangani dia."titah pak Robert pada orang yang berbaju dokter itu.Dia langsung menangani nyonya Karina,sedangkan pak Robert menghampiri Reynald dan memukulnya keras serta menampar pipi Hendro.
"Kalian benar-benar tidak tahu diri.Demi kekayaan kalian sampai mencelakai semua keluargaku!"teriak pak Robert.
Dia menarik kerah baju adik iparnya itu.Pak Hendro menepis tangan kakak iparnya itu.
"Siapa yang salah?Kamu mengumpankan kakakku untuk jadi korban hah?!"teriak pak Hendro menatap balik tajam kakak iparnya itu.
"Agar dia tahu sebejat apa adiknya itu,agar dia paham seserakah apa saudara kandungnya itu.Aku tidak akan melepaskanmu,ku pastikan kamu membusuk di penjara."ucap pak Robert dengan tegas dan garang.
Selang beberapa detik,serombongan polisi memasuki ruangan itu untuk mengamankan kedua ayah dan anak itu.
Pak Hendro dan Reynald di giring polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.Pak Robert sengaja bersabar menunggu agar semua buktu mengarah pada pak Hendro dan Reynald.Walau sekarang kedua anaknya dan istrinya jadi korban.
Emil membantu Edward yang sedang membelit betisnya dengan kain yang di berikan olehnya,sedangkan pak Robert membuka ikatan tali Nicko.
"Terima kasih pa."ucap Nicko yang memeluk papanya.
"Lalu mama bagaimana pa? Apa mama akan baik-baik saja?"ucap Nicko lagi.
"Tenang saja,papa sudah menyiapkan dokter sebelum mama dan papa kesini."ucap pak Robert.
Pak Robert dan Nicko mendekati Edward yang sedang membelitkan betisnya setelah tadi mengelaurkan peluru dari betisnya.
"Emil,bawa segera Edward ke rumah sakit."titah pak Robert.
"Baik tuan besar."ucap Emil.
Lalu Emil memapah Edward untuk pergi dari tempat itu.Walau Edward dan Emil penasaran dengan perubahan rencana semula,namun mereka nanti akan menanyakannya pada papanya.
_
_
_
☆☆☆☆☆
\=> tetap dukung othor ya,like and komennya di tunggu..😉😊✌
__ADS_1