
Edward kini sudah lebih baik,dia sudah mulai mendapat informasi dari pengawalnya yang mengejar pak Imron di kota lain.
Kini dia akan bersiap menyusul di mana pengawalnya menemukan pak Imron berada.Satu senjata api dia masukkan ke dalam tasnya juga beberapa kaos juga celana panjang,karena kemungkinan di sana dia akan tinggal beberapa hari.
Nyonya Karina masuk ke dalam kamarnya,memperhatikan kesibukan anaknya yang sedang memasukkan baju ke dalam tas.Dia menghampiri Edward dan bertanya padanya.
"Kamu mau kemana lagi,sayang?"tanya nyonya Karina pada Edward.
"Aku mau keluar kota beberapa hari ma.Mama ngga apa-apa kan aku tinggal?"tanya Edward masih merapikan tasnya.
"Kamu keluar kota?Apa ada tugas dari kantor papa?"tanya Edward.
Sejenak dia menghentikan beres-beres bajunya dan beralih menatap mamanya.
"Iya ma.Ada yang harus aku selesaikan."
"Tapi kan sudah ada Emil yang mengurus perusahaan papa sama pak Dori."
"Tetap saja harus ada campur tangan Edward,ma.Biar urusannya cepat selesai."ucap Edward lagi.
Dia tidak mau mamanya curiga kalau keberangkatannya kali ini adalah mencari bukti tunggal dan akurat.
Dulu ketika dia tinggal di pondok pesantren karena mencari kakaknya,mamanya malah memberi tahu pada tante Septa.Dari mamanya pula tersangka utama tidak masuk dalam bukti persekongkolan anaknya dan suaminya ingin menghancurkan keluarganya.
Entah apa motifnya sehingga pamannya juga sepupunya ingin mencelakakan keluarganya dan mau menghabisinya satu persatu.
"Tapi kamu masih belum sembuh sayang,mama khawatir dengan kesehatanmu.Apa tidak bisa di tunda?Atau di serahkan sepenuhnya pada Emil?"kata mamanya yang meminta mengurungkan niat Edward untuk pergi.
"Mama jangan khawatir,anakmu ini tangguh.Doakan saja untuk Edward ma,semoga semuanya cepat selesai."kata Edward sambil memegang kedua pundak mamanya.
Nyonya Karina hanya diam,wajah sedih juga khawatir tampak jelas terlihat.Edward tahu itu,namun dia berusaha untuk menenangkan mamanya itu.
"Mama hanya ngga mau kamu seperti di pesantren,pulang-pulang dengan membawa luka tembakan dan harus di operasi serius."kata mamanya sedih.
"Insya Allah ngga ma,Edward akan jaga diri.Kemarin itu karena..."ucapan Edward terhenti.
"Apa?Karena apa?"tanya nyonya Karina penasaran.
"Karena aku lengah ma,mau keluar tapi ternyata musuh sudah mengacungkan senjatanya."ucap Edward.
Dia tidak memberitahu secara jujur dengan luka tembakannya karena memyelamatkan Aya.Dia tidak mau mamanya akan berpikir jelek tentang Aya.
Nyonya Karina menghela nafas panjang,sekuat tenaga untuk mencegah anaknya jangan pergi,dia tidak akan bisa.
"Kamu jaga diri ya sayang,mama ingin pulang kamu dalam keadaan sehat dan tidak ada yang terluka di tubuhmu."
"Iya ma,Insya Allah aku akan jaga diri.Ya sudah,aku berangkat dulu ya.Mama jaga diri."
"Pasti sayang."
Setelah menyalami ibunya,Edward kini bersiap untuk berangkat keluar kota di mana tempat persembunyian pak Imron.
Dia keluar kamar dan langsung menuju halaman di mana mobilnya sudah terparkir dan pengawal yang menyetir mobilnya sudah siap sejak tadi.
Edward masuk ke mobil,dan lewatlah nyonya Septa menghampiri kakak iparnya yang mengantar sampai halaman saja dengan memandang kepergian anaknya.
Edward menatap mamanya kemudian beralih ke tantenya dengan tatapan sukar di mengerti.
__ADS_1
"Edward mau kemana mba?"tanya nyonya Septa pada kakak iparnya itu.
"Dia bilang mau keluar kota."
"Mau apa?Bukankah dia baru saja keluar dari rumah sakit.Apa dia sudah sembuh?"
"Aku sudah kasih tahu dia untuk mengurungkan niatnya pergi ke keluar kota.Tapi dia kekeh ingin pergi."
"Memang dia mau kemana?"
"Sudah aku bilang mau keluar kota.Kamu pertanyaannya itu terus sih."nyonya Karina kesal pada adik iparnya itu.
"Maskud aku,Edward pergi dalam rangka apa mba?"masih mendesak ingin tahu kemana Edward pergi.
"Ck,tentu saja urusan perusahaan.Dia punya proyek membangun sambungan telepon dan internet di desa terpencil.Padahal sudah ada Emil yang mengurus,seharusnya dia tinggal menyuruh Emil untuk menyelesaikan urusan itu."ucap nyonya Karina.
Nyonya Septa diam,benarkah seperti itu?pikirnya,apa bukan mencari orang yang tahu semua perbuatan anakku.Aku tidak tahu harus bagaimana,tapi syukurlah Edward tidak mencari orang-orang yang terlibat dengan anakku.Pikirnya lagi.
"Kamu mau apa kesini?"tanya nyonya Karina pada adik iparnya itu.
"Oh itu kak,temanku mau jual berlian.Kalau mba Karina mau nanti saya antarkan,berliannya bagus lho mba.Dia beli di Paris,katanya sih limited edtion."ucap nyonya Septa membujuk kakak iparnya.
Dengan malas nyonya Karina menolak ajakan istri dari adiknya itu,dia malas keluar rumah.
"Aku malas keluar,hari ini aku pengen di rumah saja.Kalau kamu mau keluar,keluar saja sendiri."
"Ngga apa-apa mba ngga keluar,kalau mau nanti bisa temanku suruh datang kesini.Bagaimana?"
"Terserah kamu saja.Aku mau tidur."kata nyonya Karina,dia meninggalkan adik iparnya dengan wajah sumringah.
"Ah,kakak ipar.Kamu sangat mudah sekali di rayu.Baiklah,saatnya bersenang-senang."ucap nyonya Septa sambil berjalan menuju mobilnya dengan wajah penuh senyuman.
_
Edward masuk ke dalam,di sambut dengan bungkukan hormat padanya dari pengawalnya.
"Silakan masuk tuan muda.Saya sengaja memilih tempat ini untuk bersembunyi."kata pemgawal itu dengan sopan.
"Iya tidak apa-apa.Malah lebih baik seperti ini untuk mengurangi kecurigaan orang-orang."kata Edward.
Dia duduk di kursi kayu panjang,memperhatikan seluruh isi rumah.Rumah ini rupanya tidak pernah di tempati,sehingga semua perabot seperti lemari dan semuanya berdebu.
Edward melangkah masuk di sebuah kamar,di sana terlihat hanya ada kasur kecil dan satu bantal yang sudah di rapikan.Mungkin itu untuk tidur dirinya selama pengintaian dan pengejaran pak Imron.
Kemudian dia keluar lagi setelah meletakkan tas yang sejak tadi dia bawa dari rumah.
"Apa tempat ini tadinya kosong?"tanya Edward pada pengawal yang lebih dulu datang sebelumnya.
"Iya tuan muda,sekali lagi maaf kalau tempatnya tidak berkenan untuk anda."
"Kamu jangan sungkan,aku tidak mempermasalahkan tempatnya,hanya saja ya terlalu sempit untuk beberapa orang yang akan menginap di sini."kata Edward matanya masih mengelilingi ruangan itu.
"Tidak apa-apa bagi kami tuan muda.Yang terpenting kami bisa menjaga anda dari musuh.Kami bisa tidur di lantai bawah."
"Bagaimana pengejaran kalian pada pak Imron itu?"tanya Edward.
"Memurut informasi,dia sekarang sering pergi ke bar jika malam hari,tuan muda."
__ADS_1
"Ke bar?minum-minuman?"
"Salah satunya,tapi dia lebih sering bermain judi di bar itu."
"Di mana barnya?"
"Agak jauh dari tempat ini,butuh satu jam perjalanan."
"Kenapa kamu cari tempat sangat jauh dari bar?"
"Maaf tuan muda,tapi tempat tinggal pak Imron tidak jauh dari tempat ini.Makanya kami mencari tempat yang lebih dekat dengan tempat tinggal pak Imron."ucap pemgawal itu sambil menunduk merasa bersalah,namun dia yakin tuan muda tidak akan marah.
"Baiklah,itu juga bagus.Sekarang sambungan komunikasi di sini bagaimana?"
"Di sini sinyal bagus tuan muda."
"Bagus.Malam ini aku ingin istirahat sejenak,setelah itu kita langsung bergerak ke bar itu.Tapi sebelumnya,salah satu dari kalian selidiki tempat pak Imron terlebih dahulu.Baru kita bergerak ke bar."
"Baik tuan muda."
Lalu para pengawal yang sejak tadi diam kini bersiap berjaga.Mereka sangat siaga untuk menjaga tuan muda,karena mereka di pesan oleh Emil untuk lebih ketat menjaga tuan mudanya.Tidak mau ada kesalahan serta penembakan lagi.
Lima orang pengawal yang menemani Edward kalu ini untuk pencarian pak Imron.Dan besok di tambah tiga orang lagi,karena perintah Emil.
Edward tidak masalah banyaknya pengawal yang menjaganya,namun dia meminta agar tiga orang itu hanya berjaga dari jauh.Bisa di katakan pengawal bayangan.
Dan tinggalnya pun tidak sama dengan Edward,hanya beda tiga ratus meter dari tempat Edward menginap sekarang.
_
Setelah memastikan rumah yang di tempati pak Imron sepi,di pastikan pak Imron pergi malam ini ke bar.Edward dan dua pengawalnya sudah siap untuk pergi ke bar,menangkap basah pak Imron serta membawanya untuk di interogasi.
Karena pak Imron sangat cerdik,maka Edward harus hati-hati dengan penangkapan pak Imron.Dia akan memangkap pak Imron dalam keadaan mabuk.
Edward sudah menyuruh pengawal untuk menyewa perempuan bayaran untuk menemani pak Imron di bar hingga mabuk.Dan saat itu nanti dia akan membawanya ke markas.
Edward sudah tiba di bar itu,namun dia tidak masuk ke dalam hanya pengawalnya saja yang mengecek ke dalam.Jika dia yang masuk,pak Imron akan mengenalinya.
Satu jam belum keluar,Edward masih sabar menunggu.Dia duduk-duduk di warung kopi di depan bar,sesekali dia melihat bar di depannya.
Satu deringan telepon masuk,dia melihat siapa yang menelepon.Ternyata pengawalnya yang menelepon.
"Halo."
"...."
"Iya,aku segera kesana.Kamu pastikan dia sudah tidak sadar."
"...."
Lalu Edward memasukkan lagi ponselnya,dia membayar kopi yang tadi dia minum.Setelah itu pergi menuju bar untuk menjemput pak Imron.
_
_
_
__ADS_1
☆☆☆☆☆
\=> 😉😊✌🙏🙏