
Setelah mobil berjalan di depan agak jauh dari jarak mobil yang mengikuti.Emil melajukan mobil dengan pelan,memberi jarak yang cukup terlihat dari jauh.
Asal tidak terlalu mencolok,yang terpenting terlihat.
Ternyata mobil itu keluar dari desa di mana mereka menetap selama ini.
"Tuan muda,di sini sinyal masuk.Kita bisa menggunakan ponsel."kata pengawal yang duduk di jok belakang.
"Baguslah,setidaknya kita akan tahu kemana mereka akan pergi.Tapi kita tidak boleh kehilangan jejak."jawab Edward.
Sedang membuntuti mobil yang membawa anak buah pak Imron,ponsel Edward berbunyi.Dia mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Tertulis di situ nama mamanya yang menelepon.
"Ya ma,ada apa?"tanya Edward,matanya masih mengawasi kemana mobil di depannya melaju.
"Alhamdulillah sayang,akhirnya kamu bisa di hubungi juga.Kamu sehatkan sayang?"tanya mamanya di seberang sana.
"Alhamdulillah ma,aku sehat.Mama jangan khawatir."jawab Edward.
"Mama sempat pengen ke pondok pesantren kamu,kalau kamu ngga bisa di hubungi."kata nyonya Karina.
Edward heran,dia menatap Emil di sampingnya yang fokus menatap jalan dan mobil di depannya.
"Bukannya mama ke Inggris?"
"Ngga sayang,mama ngga di Inggris.Ngga betah di sana."kata nyonya Karina.
Edward masih menatap Emil yang masih fokus.
"Di sana kan ada Sania ma.Mama bisa jalan-jalan sama Sania,mau belanja atau liburan kemana."kata Edward masih membujuk lagi mamanya.
"Hei,apa kamu ngga sayang sama mamamu?"kini nyonya Karina mulai marah pada anaknya.
"Kenapa mama bilang begitu,aku cuma khawatir mama sendirian di rumah ngga ada teman.Kalau di Inggris kan ada Sania yang bisa temani mama kemanapun mama inginkan."sedikit halus Edward berucap karena dia takut mamanya marah lagi.
"Ada tante Septa yang temani mama,kemana pun mama pergi tante Septa mau di ajak pergi."kata nyonya Karina.
Edward mendengus pelan,kenapa mamanya malah lebih dekat dengan istri dari omnya,Hendro.
"Ya sudah,aku tutup teleponnya ya ma.Ini ada pak kyai lagi ngomong."kata Edward menutup pembicaraan dengan berbohong.
Kalau tidak begitu,bisa sampai lama.Ada saja obrolannya jika sudah berbicara sama Edward.
"Iya,kamu jaga kesehatan ya sayang di sana.Kamu kapan pulang?"
"Nanti kalau aku sudah lulus ma.Udah ya ma,asssalamu alaikum.."
"Wa alaikum salaam."
Edwars menutup sambungan teleponnya,lalu dia menatap Emil penuh tanya.
"Saya tidak bisa membujuk mama anda,tuan muda.Beliau mengancam akan memyusul tuan muda jika memaksa pergi ke Inggris."ucap Emil yang tahu akan arti tatapan Edward padanya.
"Tapi kenapa mama jadi dekat dengan tante Septa?"
"Kalau itu saya kurang tahu."jawab Emil.
Edward menghela nafas,bukan karena apa-apa.Tante Septa selalu mendekati mamanya kalau ada maunya.Belum lagi si Reynaldi yang selalu meminta adiknya untuk di jadikan istri.
Kemungkinan tante Septa mendekati mamanya untuk membunjuk Sania sama Reynaldi.
__ADS_1
"Kenapa berhenti mobilnya?"tanya Edward heran.
"Mobil di depan juga berhenti tuan muda,mungkin dia tahu kalau kita mengikutinya."jawab Emil.
Matanya masih fokus memperhatikan mobil di depannya.
"Kamu kurang hati-hati,ah sial.Bisa gagal kita mengetahui ada apa dengan mereka."
"Sebaiknya kita putar balik tuan muda.Saya ada janji bertemu pemborong di sana untuk proyek kita."kata Emil.
"Tapi bagaimana dengan mobil itu?Aku curiga mobil itu akan membawa kita pada kak Nicko."kata Edward.
"Lain kali tuan muda,kita jangan gegabah dalam hal ini.Saya yakin orang tersebut sangat pintar.Saya perhatikan sejak tadi mobil itu muter-muter saja jalannya,kalaupun ke tempat tujuan pasti sudah sampai sejak satu jam yang lalu.Ini sudah hampir subuh,kita tidak bisa mengikutinya."
"Ah,dasar licik!"
"Tuan muda tenang saja.Saya dan pengawal akan menyelidiki lebih jauh.Tuan muda fokus di pesantren saja,saya takut banyak yang curiga nantinya."kata Emil.
"Baiklah,kita kembali ke pesantren.Pagi ini juga aku harus ke pasar."kata Edward.
Dia ternyata sudah sangat lelah dan mengantuk.Suasana tegang sejak tadi mengikuti mobil anak buah pak Imron membuat susah tidur.Sekarang dia mengantuk dan ingin tidur.
"Tuan muda tidur saja di mobil,nanti setelah sampai saya bangunkan."
"Mm.."hanya gumaman yang di jawab Edward katena matanya sudah tidak bisa di kompromi.
_
Sampai di pondok pesantren Edward langsung di bangunkan dari tidurnya.Dia mengucek matanya kemudian menguap.
"Sekarang jam berapa?"tanya Edward masih mengedipkan matanya yang masih terasa mengantuk untuk di paksa bangun.
"Jam setengah lima,tuan muda.Apa anda akan langsung turun?"tanya Emil.
Emil hanya tersenyum segaris,hanya segaris.
"Oya,nanti kalau urusanmu selesai kamu bisa laporan melalui mereka.Jangan menemuiku untuk sementara ini."kata Edward sambil berlalu meninggalkan mobil Emil.
"Apa tuan muda menyukai seseorang?"tanya Emil pada kedua pengawal tersebut.
"Sepertinya begitu tuan Emil,karena setiap hari selalu mengunjungi gadis di desa sebelah.Sering mengantarnya pulang selesai mengajar."jawab pengawal itu.
"Menurutmu,apa gadis itu baik?maksudku,apa gadis itu tidak seperti gadis kota yang selalu menginginkan kekayaan?"tanya Emil lagi.
Dia harus memastikan gadis yang dekat dengan tuan muda harus lebih baik dan tidak tergoda akan harta dan kedudukan.
"Tidak tuan Emil.Karena gadis itu sangat sederhana,ku kira tuan muda tidak memberitahu identitasnya yang sebenarnya."
"Ah,ya.Dia sedang menyamar.Mana mungkin dia memberitahunya."kata Emil.
Jika menurut pengakuan gadis yang dekat dengan tuan muda adalah gadis yang baik dan tidak gila harta dan tahta,apa lagi tuan muda sangat tampan.Aku harus memastikan sendiri tentang gadis itu,pikir Emil.
"Kamu terus pantau orang yang semalam di curigai,kemungkinan dia akan datang lagi ke pesantren mencari tahu tentang tuan muda."perintah Emil pada kedua pengawal itu.
"Baik tuan Emil."jawab mereka.
Lalu mobil Emil pergi dari area pondok menuju rimah kontrakan pengawal tersebut.
_
"Ay,apa kamu setiap hari ke pasar?"tanya Edward yang pagi ini dia ketemu lagi dengan Aya.
__ADS_1
"Aku sudah bilang,kalau kak Salma sedang sakit aku yang menggantikan.Memang kenapa kamu tanya seperti itu?"tanya Aya sembari melayani pembeli yang mulai ramai.
"Kalau begitu aku bantu."kata Edward duduk di sebelah Aya yang melayani pembeli.
Para pembeli Aya semua keheranan,melihat ada laki-laki tampan duduk di sebelah Aya ikut membantu melayani pembeli.
Terang saja,pembeli ibu-ibu yang tadi tidak tertarik dengan dagangan Aya kini ikut antri minta di layani oleh Edward.
Edward jadi kewalahan dengan ibu-ibu yang berjubel dan berteriak minta di layani.
Aya yang bingung dengan sikap ibu-ibu itu.Dia menatap Edward lama,lalu tersenyum melihat Edward sangat lihai membungkus sayuran-sayurannya.
Dalam satu jam dagangan Aya laris dan habis semua.Senyum Aya mengembang,dia membereskan sisa-sisa yang patah lalu di kumpulkan jadi satu kemudian di buang ke tong sampah.
Bayu melihat dari jauh Edward membantu Aya ikut tersenyum,dia senang Edward dekat dengan Aya.
"Terima kasih ya,sudah bantu jualan daganganku."kata Aya membereskan lapaknya.
"Aku senang membantumu,jika kamu butuh pertolongan bilang sama aku.Aku akan menolongmu."
"Tidak perlu,aku bisa mengerjakan sendiri."
"Tapi pembeli tidak seramai tadi kalau kamu sendiri yang jualan."
"Itu karena aku ngga pandai berdagang,dan kamu yang pandai berdagang walaupun tampangmu yang jadi daya tarik pembeli itu."kata Aya sambil tersenyum,entah mengapa rona wajahnya berubah memerah.
"Benarkah?Kamu mengakui kalau aku tampan?"
"Iya kamu tampan,tapi kamu narsis."ucap Aya sambil menunduk malu.
"Hahaha,aku tidak narsis tapi sedang percaya diri kalau aku di akui olehmu."ujar Edward dengan tawa senangnya.
Bayu menghampiri mereka berdua sambil bersedekap.
"Aya,Ed memang seperti itu.Terlalu percaya diri dan narsis."ucap Bayu menimpali omongan Edward.
"Ya kau benar,tapi tidak benar dengan kata narsis."
"Sudah selesai,Bay?"tanya Edward.
"Satu barang lagi untuk aku beli,tapi barangnya tidak ada.Orangnya tidak jualan."
"Mungkin besok saja,karena itu barang yang ku belu punyaku,bukan pesanan dapur pondok kok."
"Kalau begitu,ayo kita pulang.Ini sudah siang."
"Kalau siang ini tidak sibuk,mampirlah di rumahku,akan ku buat makan siang."kata Aya pada Edward.
Edward yang dapat tawaran itu tidak membuang kesempatan.Dia langsung menyetujuinya.
"Aku pasti datang,jika perlu Bayu juga akan ku bawa."kata Edward melirik Bayu.
Bayu hanya menggeleng saja,lalu dia meninggalkna Aya dan menepuk pundak Edward agar segera pulang.
_
_
_
☆☆☆☆
__ADS_1
\=> edisi boring..