Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
43.Liciknya Pak Hendro


__ADS_3

Menjelang subuh Edward sampai di rumahnya,dia langsung keluar dari mobilnya untuk tidur sebentar lalu pergi ke perusahaan Nicko.


Setelah memencet bel,pintu terbuka Edward langsung masuk tanpa menyapa mbok Darmi yang heran akan kedatangan anak kedua majikannya itu.


Mungkin dia lelah dan mengantuk,pikir mbok Darmi.Kemudian dia menutup kembali pintunya,waktunya dia beres-beres rumah dan menyiapkan sarapan untuk tuan mudanya.


Sedangkan Edward langsung masuk kamar,dia meletakkan tasnya di meja.Kemudian masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu bersiap untuk sholat subuh.


Setelah menjalankan kewajiban,Edward merebahkan tubuhnya di ranjangnya yang sudah beberapa hari dia tinggal pergi ke luar kota.


Dan rasa lelah itu menambah cepat rasa kantuknya datang,sehingga beberapa detik kemudian dia langsung tertidur.


_


Pukul tujuh Edward sudah bersiap untuk berangkat ke kantor kakaknya,hari ini dia di beri tahu oleh pak Dori akan ada beberapa pemegang saham menemuinya secara langsung untuk membicarakan kelanjutan perusahaan dan proyek yang sedang berjalan.


Edward tidak tahu,sebagian saham yang beberapa persen terjual.Dan yang menampung dan membeli saham itu adalah pamannya.


Dugaan Edward pamannya atau Reynald pasti datang ke kantornya,atau bisa jadi keduanya.Dan saat ini dia akan fokus menghadapi para pemegang saham itu.Dia harus bersikap tenang dan berkepala dingin.


Kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi Edward sudah siapkan tanggapan dan solusinya,namun begitu dia harus berhati-hati dengan kedua ular jantan itu.Yang harus benar-benar di waspadai adalah pamannya,pak Hendro.


Mobil melaju dengan santai di jalanan padat orang-orang yang berkendara dengan tujuan yang sama.Ke tempat kerja dan melaksanakan kewajiban mencari nafkah untuk keluarganya.


Kini mobil Edward telah sampai di area parkiran khusus pejabat tinggi perusahaan.Mobil Edward terparkir dengan tepat,dia kemudian kelaur dari mobilnya dan berkata pada pengawalnya yang jadi supir pribadinya.


"Kamu bisa siagakan teman-temanmu di sekitar kantor.Bukan tidak mungkin om Hendro menculikku juga,walau itu sangat tipis kemungkinannya."kata Edward.


"Baik tuan muda."


Lalu Edward masuk ke lobi menuju lift khusus pejabat tinggi perusahaan juga.Memang semua fasilitas khusus pejabat kantor Nicko di buat khusus hal-hal yang menyangkut kenyamanan agar jika terburu-buru tidak mendapat kesulitan.


Setelah sampai,dia di sambut sekretaris Nina yang membungkuk padanya.


"Selamat pagi Tuan Edward,anda sudah di tunggu oleh beberapa pemegang saham di aula kantor."sapa Nina sang sekretaris.


"Berapa orang yang menungguku di sana?"tanya Edward.


"Ada lima orang,dan ada tuan Reynald juga di sana."ucao Nina ragu.


Edward menaikkan satu alisnya,lalu tersenyum tipis.Dia melihat jam yang melingkar di tangannya,masih pukul tujuh empat puluh sembilan.Mereka sangat tergesa-gesa sekali,pikir Edward.


"Beri tahu mereka aku akan datang jam delapan lima belas menit.Jangan ada yang memaksa masuk ke ruangan kantorku."titah Edward.


"Baik tuan."


Lalu Edward masuk ke dalam ruangan,dia meletakkan tasnya dan langsung memeriksa berkas yang ada di meja.Ada beberapa berkas pengajuan penjualan saham dan menariknya.


Kemudian Edward menuju brankas,dia memncet tombol angka yang pernah di buatnya untuk merubah pin.Tapi ternyata pin yang dia masukkan sudah di rubah lagi oleh kakaknya.


Edward kesulitan,dia diam.Berpikir apakah di dalam brankas itu ada berkas penting harus di selamatkan.


Dia lalu mengambil ponselnya,menghubungi pak Dori.


"Ya tuan muda,ada yang bisa saya bantu?"tanya Pak Dori.


"Saya mau tanya paman,waktu kak Nicko di culik apa ada berkas yang hilang juga?"tanya Edward.


"Sepertinya tidak ada tuan muda.Mungkin kakak anda sudah memyimpannya di brankas."

__ADS_1


"Sandinya aku tidak tahu,kak Nicko mengubahnya lagi.Jadi aku tidak bisa membukanya."


"Coba anda tanyakan pada sekretaris,mungkin dia tahu berkas penting apa."


"Baiklah paman,terima kasih."


Klik


Edward memencet tombol memanggil sekretaris.Tak lama sekretaris Nina masuk ke ruangan Edward.


"Ada yang bisa saya bantu tuan Edward?"tanya Nina sopan.


"Apa kamu tahu nomor sandi brankas ini?"


"Saya tidak tahu tuan,pak Nicko tidak memberitahu saya."


"Kamu tahu berkas penting apa yang di simpan pak Nicko?"


"Berkas kerja sama dengan perusahaan pak Reynald juga ada beberapa berkas yang hilang.Makanya pak Reynald membuat surat perjanjian baru."


"Ah,ya.Yang berkas itu ada pada saya.Jadi Reynald membuat surat perjanjian lagi?"


"Iya tuan,dan pak Nicko menyuruh mengcopynya.Mungkin di simpan di brankas."


"Apa kamu melihat isinya?"


"Seingat saya ada beberapa yang berubah,dan ada berkas kosong yang di tanda tangani pak Nicko."


"Ya sudah,kamu boleh keluar."


Lalu Nina keluar dari ruangan itu,Edward kemudian diam.Duduk bersandar di kursi putar itu,memutar otak bagaimana menghadapi para pemegang saham itu nanti.Dia melirik jam di tangannya.


Nina masuk dengan langkah cepat.Edward menegakkan tubuhnya.


"Ada apa,Nina?"tanya Edward heran.


"Itu,semua menunggu anda tuan."


"Ya,saya segera kesana."


Lalu Nina keluar dari ruangan itu,sedangkan Edward mempersiapkan berkas yang perlu dia bawa.Setelah semua dia persiapkan,dia melangkah pergi meninggalkan ruangannya dengan keyakinan dan percaya diri penuh.


Nina mengikuti Edward di belakangnya,mendampingi adik bosnya agar nanti tidak terjadi kesulitan untuk menanyakan apapun.


Langkah tegap dan pasti Edward menuju aula rapat menimbulkan sedikit kegaduhan ketika berpapasan dengan staf di sana.


Sampai di depan pintu,Edward berhenti sebentar menarik nafas kasar dan memegang handel pintu.Dia membuka pintunya pelan,menatap ke dalam mengelilingi setiap mata orang-orang yang hadir di sana.


Satu orang yang duduk santai dan percaya diri dia akan menang menghadapi Edward.Senyum tipisnya mengembang melihat dari jauh Edward tampak tegang walaupun tenang.


Edward berjalan pasti menuju kursi yang sudah di siapkan sejak tadi.Dia membungkuk ke arah orang-orang yang siap dengan segala keluhannya.Lalu Edward duduk,bertopang kaki menghadap ke depan dengan santai.


"Selamat pagi semuanya,di sini anda semua tahu kalau saya menggantikan kakak saya yang sekarang tidak bisa hadir dalam rapat penting ini."ucap Edward setenang mungkin.


"Baiklah,kita langsung saja pada pokok permasalahan yang ada di perusahaan kita.Kita bisa bertukar pikiran untuk menghadapi masalah ini sekarang.Silakan anda menyampaikan keluhan dan solusi dari masalah kita,mungkin bisa kita bahas selanjutnya."ucap Edward seolah dia tidak tahu kedatangan mereka ke rapat dadakan itu.


Pak Sanjaya laki-laki paruh baya yang pemegang saham terbesar kedua mengangkat tangannya,dia merapikan jas yang di pakainya menetralkan suasana.


"Begini nak,saya bicara santai saja karena nanti terlihat tegang itu kurang enak suasananya.Kita mau mendengar kepastian perusahaan ini.Saya mau tanya,kenapa CEO perusahaan tiba-tiba menghilang?Ada apa sebenarnya? Dulu menghilang tiga bulan dan kembali lagi itu membuat kami khawatir.Dulu kami bisa menjaga perusahaan ini karena pak Dori menjamin semua akan baik-baik saja dan memang perusahaan stabil.Tapi kali ini,hilang lagi entah kemana?Apa dia main-main menangani perusahaan besar ini?Sedangkan nak Edward tahu isu sekarang lebih cepat dan santer kalau Nicko sengaja melarikan diri dari tanggung jawab.Bagaimana nak Edward menangani masalah ini?"tanya pak Sanjaya dengan penuh cemas.

__ADS_1


Edward melirik ke arah Reynald yang tengah menuduk.Dia tersenyum miring.


"Begini pak Sanjaya,maaf sebelumnya kalau kakak saya membuat pak Sanjaya dan yang lainnya khawatir akan perusahaan ini.Kita tahu CEO kita tidak mungkin menghilang begitu saja tanpa ada sebab.Dan saya rasa tuan Reynald tahu di mana CEO kita berada."ucap Edward mengalihkan pertanyaam pada Reynald.


Semua menatap Reynald dengan heran.Yang di tatap gelagapan karena semua menatapnya aneh.


"Maksud anda apa pak Edward?"tanya pak Soni yang semula berharap Edward tersudutkan dengan pertanyaan pak Sanjaya.


"Saya tahu,saham anda akan anda jual pada Reynald kan pak Soni.Jadi saya maklum anda begitu terkejut dengan pertanyaan barusan."


Selesai mengucapkan seperti itu,pintu aula terbuka.Masuk laki-laki paruh masuk dengan menatap Edward tajam.Tatapan itu penuh ambisi dan kekuasaan.Edward menoleh,ternyata dugaannya benar.Anak dan ayah sama-sama datang siap untuk menyerangnya,pikir Edward.


Pak Hendro yang tiba-tiba datang langsung duduk sambil meletakkan berkas di tangannya.Dia menatap sekeliling orang yang dia anggap sudah menjadi sekutunya menjatuhkan Edward dan perusahaan kakaknya agar jatuh padanya.


"Maaf saya terlambat,saya mendapat mandat dari CEO ini untuk mengambil keputusan."ucap pak Hendro.


"Sebentar pak Hendro,apa maksud anda ini?"tanya pak Sanjaya heran.


"Begini,CEO perusahaan ini memberi mandat pada saya karena sebelumnya adiknya Edward masih ada di luar kota,jadi dengan terpaksa harus saya yang mengambil alih."ucap pak Hendro cepat.


"Sebentar,apa maksudnya om Hendro?"kali ini Edward benar-benar sudah geram dengan pamannya itu.


"Kamu tidak tahu sebelum Nicko hilang,dia bersama Reynald membicarakan perusahaan.Dia bilang akan pergi dan menyerahkan pada saya,karena kamu sibuk di luar kota."


Gigi geraham Edward menggeretak,dia tidak menyangka pamannya itu memutar balikan keadaan.Benar-benar licik.


Sedangkan Reynald tersenyum miring,tanda kemenangan akan datang padanya seusai ayahnya datang.


"Saya kurang yakin dengan ucapan anda pak Hendro."kali ini pak Sanjaya berucap penuh curiga.


"Kalau anda tidak percaya,silakan cek berkas yang saya bawa."kata pak Hendro menyerahkan berkas yang dia bawa tadi.


Pak Sanjaya mengambil berkas itu,dia membuka file satu persatu.Tertulis di sana lengkap dengan laporan keuangan yang terlihat devisit dan banyak sekali kerugian di laporan tersebut.


"Bagaimana bisa keuangan perusahaan devisit sebesar ini?Bukankah proyek kita berjalan lancar?"tanya pak Sanjaya heran dan tidak percaya dengan laporan keuangan itu.


"Itu tidak benar,perusahaan ini tidak dalam kerugian sebesar itu.Laporan itu bohong pak Sanjaya."ucap Edward dengan nada keras.


"Anda tidak tahu keadaan perusahaan ini pak Edward,karena anda baru datang hari ini.Jadi masalah yang terjadi kemarin anda tidak tahu menahu."timpal pak Soni dengan sinis.


Kali ini Edward diam,dia tidak bisa berkutik.Menghubungi pak Dori atau Emil rasanya tidak mungkin.


Ponsel Edward bergetar di saku jasnya.Dia mengambil ponsel tersebut dan melihat siapa yang menelepon.Nomor tidak di kenal.


"Halo?"


"Kamu menyerah saja saat ini,biarkan mereka meinkmati kemenangan sementara.Pak Dori sedang menyelidiki siapa musuh dalam selimut itu."


Edward mendengarkan dengan seksama.Dia seperti kenal suara itu,ya.Dia adalah papanya.Namun Edward diam saja,tidak menunjukkan reaksi apapun.


Sambungan telepon itu terputus.Edward menyimpan kembali ponselnya di saku jasnya.


_


_


_


☆☆☆☆☆

__ADS_1


\=> maaf telat,ada gangguan beberapa hari ini di dunia nyat..😊😉✌🙏🙏


__ADS_2