
Setelah ijab kabul dan semua bubar.Edward menghampiri kyai Sobri,dia juga sebenarnya penasaran walau kemarin malam sudah di beritahu.
"Pak kyai,saya sebenarnya heran dengan pernikahan tadi.Soalnya terlalu mendadak,apa Aya akan menerimaku?"tanya Edward ragu.
"Aya itu pintar,dia tahu hukumnya seorang istri bagaimana harus bersikap pada suaminya.Jika memang Aya tidak bisa menerimamu,nanti saya akan bilang padanya.Lagi pula saya memang harus menikahkan Aya sama kamu nak Edward.Bayu bilang dia suka menanyakanmu padanya,dan itu sudah cukup bagi saya meyakinkan kalau sebenarnya dia suka sama nak Edward."ucap kyai Sobri.
Edward yang mendengar ucapan kyai Sobri tersenyum senang.Kini dia lega sudah bisa mengikat Aya sepenuhnya.
"Sebenarnya kenapa saya mendadak menikahkan nak Edward dengan Aya karena tadi siang saudara saya dari jauh meminta di carikan jodoh.Ya saya bilang tidak bisa,mungkin santri yang disini,tapi dia tidak mau.Dia minta Aya,tapi saya bilang sudah ada yang minta lebih dulu sebelum dia,jadi ya saya tidak bisa menyerahkan Aya pada saudara saya itu.Dia memang tidak memaksa,tapi sepertinya akan datang lagi jika tahu Aya belum menikah.Makanya saya secepatnya menikahkan nak Edward dengan Aya.Tinggal ya tunggu saja dalam dua hari mungkin dia akan pulang.Karena semenjak Salma tidak jadi menikah dengan Bayu dulu,ibunya pergi untuk bekerja di kota.Dia memberi alamatnya,namun entah sampai sekarang kok belum pulang.Seharusnya sudah pulang,di tunggu saja ya nak Edward."ucap kyai Sobri panjang lebar.
Akhirnya Edward paham dengan penjelasan kyai Sobri,dia lega juga.Lalu Edward dan Emil berpamitan untuk pulang ke rumah kontrkannya.
"Tuan muda,bagaimana rasanya menikah secara mendadak?"tanya Emil.
"Ya agak syok.Tapi juga bahagia.Sayangnya papa dan mama tidak bisa menyaksikan pernikahanku."
"Ya yang penting tuan besar dan nyonya menerimanya.Lalu bagaimana selanjutnya tuan muda?'
"Selanjutnya apa?"
"Selanjutnya malam pertama tanpa istri?"
"Kamu meledekku?"
"Ya,pernikahan yang aneh."
"Jangan meledekku,kamu kapan selesai proyek itu?Sudah lama sekali meninggalkan perusahaan di Inggris."
"Kan tuan Edrick sudah pulang dan mengurusi sementara ini."
"Aku tidak enak mengandalkan Edrick terus.Lagi pula mungkin banyak pekerjaanku yang terbengkalai.Rencananya aku berangkat minggu depan,tapi tidak tahu juga karena Aya belum pulang."
"Memangnya nona Aya kemana?"
"Katanya dia mencari ibunya yang bekerja di kota."
Deg!
Emil diam,dia ingat dulu ketika mengawasi istri dari pak Imron.Ya,perempuan paruh baya itu sangat mirip dengan wajah Aya.Tapi apa memang kebetulan saja.Emil akan menyelidikinya nanti.
Karena dulu dia dapat informasi bahwa perempuan itu ingatan masa lalunya di hilangkan oleh pak Imron.Mungkinkah ada rahasia besar dari pak Imron yang belum terungkap?
"Tuan muda,apa anda masih ingat pak Imron?"
"Ya,kenapa?"
"Dia kemana sekarang?"
"Entahlah,semenjak dia di tangkap oleh om Hendro dan laki-laki itu tidak kelihatan lagi.Aku berpikir ya,lebih mengutamakan keselamatan kak Nicko dengan mama waktu itu jadi tidak memikirkan laki-laki tua itu.Memangnya ada apa kamu menanyakan dia?"
"Aku sepertinya mencurigai sesuatu padanya.Tapi nanti saya akan cari tahu dulu.Tuan muda fokus mencari nona Aya saja."
__ADS_1
"Kemana?
"Kata kyai Sobri ibunya memberi alamatnya,apa bisa minta pada beliau?"
"Ah ya benar,besok aku akan minta alamatnya."
"Baiklah tuan muda,selamat atas pernikahan anda."ucap Emil.
"Terima kasih,Emil."
Lalu Edward masuk ke dalam kamarnya.Dia berbaring di ranjangnya,lelah sekali hari ini.Matanya dia pejamkan dan tak lama suara nafas teratur terdengar dengan tenang.
_
Setelah Edward meminta alamat ibu Aya bekerja,dia kemudian mengerahkan pengawalnya yang di kota untuk mencarinya.Dengan sigap dan cepat anak buahnya mencari alamat itu.Berharap ada Bayu dan Salma serta yang terpenting adalah Aya benar ada di alamat itu bersama Bayu.
Tapi setelah beberapa jam,pengawal yang di tugaskan mencari alamat itu ternyata tidak di temukan.Memang tiga hari yang lalu ada tiga orang mengunjunginya,namun mereka pergi lagi ke alamat yang di berikan oleh orang yang punya rumah.
Akan tetapi tetap tidak bertemu dengan ketiga orang itu.Edward jadi gelisah,dia kemudian memerintahkan pengawal untuk terus mencarinya.Dan kabar terakhir sampai malam hari ketiganya pulang ke kampungnya.
Jadi kini Edward merasa lega,dia akan menunggu Aya di kampung saja.Setelah dia bertemu istri yang baru di nikahinya kemarin malam harus dia bawa ke rumahnya.
Di kenalkan oleh keluarganya dan persiapan mengadakan resepsi pernikahan setelah dia pergi ke Inggris.Tentu saja pergi ke Inggris dengan Istrinya dengan tujuan pergi bulan madu di sana.
Malam hari Edward tidak bisa tidur,dia hanya berbaring di ranjangnya sambil menatap langit-langit kamar.Berharap besok Aya sudah pulang ke rumahnya.
Tapi apakah yang akan dia katakan nanti jika bertemu istrinya itu?
Satu deringan telepon berbunyi,dia mengambil ponselnya dan tertera nama Sania di sana.
"Halo,ada apa?"tanya Edward.
"Kak Edward sebaiknya cepat pulang.Mama di rumah sakit."
"Apa yang terjadi dengan mama?"
"Mama pulang dari Makaysia tiba-tiba jatuh di bandara setelah turun dari pesawat."
"Baiklah,kakak pulang sekarang juga."ucap Edward.
Kemudian Edward menutup sambungan teleponnya,dia kemudian keluar dari kamarnya dan mendapati Emil sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kita pulang sekarang tuan muda."ucap Emil dengan wajah tegang.
"Ya,kita pulang sekarang.Tapi aku harus mampir ke pesantren memberitahu kyai Sobri kalau aku pulang dulu.Nanti tiga hari lagi aku datang kembali kesini."ucap Edward.
Lalu dia bergegas pergi ke pondok pesantren.Malam semakin larut,suasana di pondok sudah terasa sepi walau masih ada beberapa santri yang berlalu lalang untuk mengaji tambahan di malam hari.Biasanya bagi santri yang sudah tingkat tinggi yang mengikuti pengajian malam,karena untuk mempersiapkan diri jika sudah keluar dari pondok.
Edward menuju rumah kyai Sobri,dia tahu kyai Sobri biasanya memberi pengajian pada santri.Tapi kali ini dia memang harus mengatakan pada kyai Sobri kalau dia pulang ke kota.
Setelah bertemu kyai Sobri dan berbicara singkat,Edward kini berpamitan pada kyai Sobri.Dan menitipkan istrinya sementara waktu sebelum dia kembali ke kampung ini.
__ADS_1
Edward pun bergegas keluar dari pondok pesantren.Di depan gerbang pondok,mobil Emil sudah siap untuk pergi setelah Edward masuk ke dalam mobil.
Pikiran Edward kacau,belum juga ketemu dengan Aya.Kini ibunya harus masuk ke rumah sakit karena tiba-tiba pingsan setelah tiba di bandara.
_
Edward dan Emil sampai di rumah sakit di mana nyonya Karina di rawat.Di sana sudah ada Nicko dan Sania serta pak Robert menunggu dengan gelisah.
Dia menghampiri papanya yang sejak tadi diam tanpa ekspresi.
"Pa,apa yang terjadi dengan mama?"tanya Edward penasaran.
"Papa juga tidak tahu,tiba-tiba saja mama kamu pingsan.Dokter belum memberitahu diagnosanya."ucap pak Robert.
Edward mendesah panjang,dia ingin mengatakan kalau dia sudah menikah dengan gadis pilihannya.Tapi keadaannya tidak memungkinkan.
"Oya,bagaimana pernikahanmu dengan gadis itu?"tanya pak Robert yang akhirnya menanyakan.
"Sudah di laksanakan kemarin malam pa."ucap Edward.
"Kenapa kamu tidak bawa sekalian dia kemari?"
"Masalahnya dia belum pulang menjemput ibunya di kota.Tapi katanya besok dia sudah pulang."
"Kenapa bisa menikah jika perempuannya tidak ada?"
"Aku tak tahu pa,uwanya seorang kyai jadi aku menurut saja sama uwanya.Lagi pula,kyai bilang ada yang meminta istriku pa,saudaranya pak kyai."
"Mm,takut benar di ambil sama orang lain.Kamu yang terburu-buru atau kyainya yang menyuruh?"
"Pak kyainya pa,aku pengennya papa sama mama juga hadir di ijab kabulku.Tapi pak kyai bilang orang yang meminta istriku akan datang lagi.Kalau tidak segera menikahkan nanti pak kyai ngga enak sama orangnya.Jadi ya nikah secara agama dulu,baru nanti ke kantor urusan agama mendaftarkan pernikahannya."
"Baiklah,nanti bawa dia pulang ke rumah.Papa dan mama juga ingin mengenal istrimu itu."
"Iya pa,rencananya juga begitu.Nanti setelah aku bawa ke rumah,akan Edward bawa ke Inggris.Baru satu bulan kemudian di adakan resepsinya."
"Ya,begitu lebih baik."
Setelah Edward dan pak Robert berbicara,dokter keluar dari dalam ruang ICU mengahampiri pak Robert.
"Sebaiknya pak Robert ke ruanganku saja.Kita bicara disana."ucap dokter.
Pak Robert pun mengikuti dokter yang menangani istrinya itu menuju ruangannya.
Edward,Nicko dan Sania hanya bisa menunggu di ruang tunggu.Menunggu kabar dari papanya yang berbicara dengan dokter mengenai keadaan mamanya.
_
_
_
__ADS_1
☆☆☆☆☆