Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
48.Kembalinya Tuan Besar


__ADS_3

Di kota lain di mana seseorang yang selalu memantau apapun yang terjadi di keluarga dan perusahaannya,dia sedang menikmati kebersamaan dengan istrinya.


Menikmati masa pengantin lama yang selalu bersikap mesra di manapun berada.Mereka berdua kemanapun bersama,menggantikan waktu empat bulan berpisah.


Rasa bahagia di rasakan keduanya,walaupun sudah tua mereka tetap selalu mesra.


"Mama seneng papa ngga jadi meninggal,pa."ucap istrinya masih memeluk erat suaminya,seolah tidak mau lagi di tinggalkan.


"Yang bener ma?Bukannya mama senang papa ngga ada,kan bisa jalan-jalan terus sama adik iparmu itu?"ucap suaminya mengelus punggung istrinya dengan lembut.


"Itu hanya pelampiasan saja pa.Karena papa ngga ada jadi mama jalan-jalan terus sama Septa."kilah nyonya Karina.


"Tapi kan Emil sudah menawarkan mama untuk pergi ke Inggris Di sana ada Sania,kenapa ngga mau?"masih mencecar istrinya.


"Ngga tahu pa,Septa mencegahku untuk pergi ke Inggris.Dia bilang mau menemaniku dan menghiburku."masih membela diri.


"Mama lebih memilih sama orang lain di banding sama anak sendiri."pertanyaan yang sebenarnya membuat orang tua tak berkutik,namun apa kata istrinya?


"Ngga begitu pa,mama pikir ya dari pada repot mending senang-senang aja sendiri,pergi ke mall atau pergi arisan dengan teman-teman Septa.Ya nambah-nambah teman juga.Kan mama lagi sedih di tinggal papa."masih berkilah.


"Terus sekarang?"


"Mau sama papa aja.Lagi pula kenapa papa pura-pura meninggal sih pa?"tanya balik istrinya.


"Papa punya tujuan ma,kalau papa ngga pura-pura meninggal papa ngga tahu kebusukan seseorang."


"Seseorang siapa pa?"


"Adik mama,dia yang bikin rusuh di keluarga kita"


"Papa mencurigai Hendro?"


"Menurut mama?Mama tersinggung,kalau papa bilang dia biang kerusuhan di keluarga papa juga di perusahaan?"


"Papa masih menuduh Hebdro?Pa,mana tega dia mau menghancurkan perusahaan papa."


"Ck,mama itu terlalu naif sama adik mama sendiri.Mama pikir,papa pura-pura meninggal hanya untuk sensasi?"


"Pokoknya mama tidak percaya."kini nyonya Karina melepas pelukannya dan berbalik,persis seperti anak kecil ngambek.


"Coba tebak siapa yang menculik Nicko sampai dua kali? Mama tahu siapa yang menculik Nicko?"


"Ya mungkin orang yang tidak suka sama Nicko,rekan bisnisnya barangkali."


"Rekan bisnisnya itu Reynald ma,keponakanmu."


"Pa,jangan nuduh sembarangan,jatuhnya fitnah lho pa.Ada hukumnya."kali ini nyonya Karina benar-benar tidak percaya suaminya menuduh adiknya.


Dia kasihan sama adiknya,sejak kecil di perlakukan tidak adil oleh ayah sekarang di tuduh menculik anaknya dan berusaha menghancurkan perusahaannya juga.Nyonya Karina kesal pada suaminya,dia melepas pelukannya yang sejak tadi tidak mau lepas.


"Mama mau bukti?"kali ini pak Robert ingin meyakinkan istrinya itu jika adiknya itu benar-benar brengsek dan serakah.


"Buktikan pada mama,jika terbukti Hendro yang menculik Nicko selamanya mama tidak akan mengakuinya sebagai adik."tantang istrinya.


"Oke,padahal sudah banyak bukti.Tapi mama masih tutup mata."ucap suaminya.


Dia bangkit dari duduknya,rasa jengkel pada istrinya tentu saja.Dia akan membuktikan jika adiknya memang benar-benar brengsek.


_

__ADS_1


Pagi ini pak Robert bersiap untuk kembali ke kota di mana dia akan muncul di hadapan para karyawannya di perusahaan Nicko.Dia sudah mengatur waktu dan memberitahu pada Edward untuk memberi sambutan padanya.


Namun begitu,sambutan itu sengaja akan di rahasiakan.Untuk mengejutkan para pemegang saham serta musuh dalam selimut.


Sudah sejak lama pak Robert mengamati perusahaan Nicko.Dan dengan sengaja pula Nicko dia tumbalkan untuk mengetahui siapa dalang di balik penyerangannya dulu juga penculikan anaknya.


Dan sekarang terbukti bahwa adik ipar serta anaknya yang mau menghancurkan dan merebut perusahaannya.


Rupanya dendam lama kini bangkit lagi setelah dia punya kekuatan dan sokongan.Orang licik tetaplah licik.


"Ma,sudah siap belum?"tanya pak Robert pada istrinya.


"Iya pa,sebentar lagi."ucap nyonya Karina.


"Cepat ma,kapalnya sudah menunggu dari setengaj jam yang lalu.Apa mama mau papa tinggal?"


"Sabar dong pa,segitu saja kok marah sih.Dulu mama mengira papa meninggal,apa papa ngga kasihan sama mama?"


"Apa hubungannya dengan itu?"


"Ya ada hibungannyalah.Mama sabar dengan kebohongan papa yang pura-pura meninggal."


"Tapi mama senang sepertinya papa tidak ada.Lebih sering belanja di mall juga kumpul-kumpul dengan teman-teman Septa."cibir pak Robert.


"Ish,ya mama cuma cari pelampiasan pa.Coba papa ngga pura-pura."


"Terus mama maunya papa meinggal beneran?"


"Papa sensitif banget sih,mana ada istri senang suaminya meninggal."


"Ya sudah jangan di bahas,ayo cepat.Kasihan itu menunggu lama."


"Iya pa,nih sudah siap.Ayo."


Tiga jam perjalanan menggunakan pesawat jet pribadi yang di sewa dari teman pak Robert akhirnya sampai di kota tujuan.Mereka langsung di sambut oleh Edward yang sengaja menjemput kedua orang tuanya.


"Selakat datang kembali pa,ma."ucap Edward yang menyalami keduanya lalu berpelukan.


"Terima kasih sayang."ucap nyonya Karina.


"Kenapa kamu yang menjemput kami?"tanya pak Robert.


"Kangen sama papa dan mama,jadi sengaja aku menjemput papa dan mama."jawab Edward.


"Kantor bagaimana?"tanya pak Robert lagi setelah mereka sudah ada di dalam mobil Edward.


"Sekarang ada Emil."


"Nanti malam berkumpullah di tempat biasa,adabyang harus papa bicarakan pada semuanya."ucap pak Robert.


"Baik pa."


"Memang mau kumpul di mana pa?"tanya nyonya Karina penasaran.


"Mama tidak perlu tahu.Cukup mama di rumah saja,tunggu papa pulang."potong suaminya.


"Ck,papa main rahasia segala sih sama istri sendiri."


"Mama kan cape,jadi istirahat aja.Ngga usah ingin tahu urusan laki-laki."ucap pak Robert.

__ADS_1


Edward hanya melihat perdebatan kedua orang tuanya dari kaca spion.Dia tersenyum melihatnya,sangat lucu.


Mamanya yang sudah tidak muda lagi,sangat manja jika sudah bertemu papanya.Sepasang suami istri yang aneh,namun dia sangat suka jika melihat keduanya berdebat kecil tapi tidak pernah sampai benar-benar marah.


Lalu bagaimana nanti dirinya dengan Aya yah?gumam Edward.


Ups!


Dia menrutuki hayalannya itu,dia hanya ingin fokus menyelesaikan masalah keluarganya lebih dahulu.Baru dia akan meminta pada kyai Sobri.


Bersabarlah..,gumam Edward dalam hati.


_


Malam hari,pukul sembilan semua sudah berkumpul di tempat biasa.Bisa di bilang tempat itu adalah markas yang tersembunyi walaupun rumah kecil namun tempatnya tersembunyi.


Edward yang datang dengan papanya kini memasuki rumah itu setelah mobilnya dia parkir di depan halaman.


Semua sudah berkumpul,baik pak Dori,Emil juga para pengawal yang memang di suruh hadir di sana untuk menjalankan sebuah rencana.


"Selamat datang tuan besar."ucap semua yang hadir di sana sambil membungkuk.


"Selamat malam semuanya.Silakan duduk kembali."ucap pak Robert


Edward duduk di samping papanya agar mundur ke belakang,sedangkan pak Dori duduk di hadapan tuan besarnya dan Emil,tentu saja duduk sejajar dengan Edward.


"Baiklah,saya tidak mau membuang waktu.Sekarang saya mau tanya pada kamu Emil,bagaimana dengan laki-laki tua yang kamu lepaskan untuk mememui Hendro?"tanya pak Robert pada Emil.


Semua menatap Emil yang siap menyampaikan laporannya pada majikannya itu.


"Saya sudah menyuruhnya kesana tuan besar,dia benar-benar bertemu dengan pak Hendro.Dan sepertinya dia juga jadi korban pemyekapan juga."


"Kenapa dia di sekap? Apa dia ketahuan membawa senjata atau perekam di tubuhnya?"


"Tidak tuan besar,dia di sekap karena menagih uang sisa pekerjaannya ketika menyekap tuan muda Nicko.Karena penjagaannya di ketahui olehku dan tuan muda Edward,jadi Reynald tidak memberikan sisa uang yang sudah di janjikan padanya."


"Lalu bagaimana dia kamu lepas?Apa tidak ada niat dia berbohong atau bagaimana."


"Dia tidak akan berani melakukannya,karena saya punya sesuatu yang membuatnya mau melakukan sesuai perintah saya."


"Mm,cerdik juga.Tidak seperti orag di belakangku ini."sindir pak Robert pada anaknya,Edward.


"Maaf pa."ucap Edward yang merasa bersalah karena dia kurang sigap menghadapi masalah sebesar ini.


"Ya,papa maklum.Tapi papa senang kamu sekarang lebih fokus dengan masalah yang kita hadapi.Sekarang kita buat rencana untuk menyelamatkan Nicko."ucap pak Robert.


Kemudian mereka mendiskusikan rencana apa yang akan di jalankan.


Memang pertama yang harus di lakukan adalah kemunculan pak Robert di perusahaan Nicko dengan mengumpulkan semua karyawan dan staf di sana untuk penyambutan,juga untuk memberi tahukan bahwa dia sudah siap untuk membekuk adik iparnya dan anaknya itu.


Dengan kemunculannya,akan membuat gentar dan ketar ketir kedua anak dan bapak itu.Walaupun pak Hendro sudah menguasai para pemegang saham untuk menjualnya,namun dengan kehadirannya di perusahaan tetap saja membuat mereka gentar.


Dan rencana selanjutnya adalah penyelamatan Nicko.Dan penyelamatan Nicko itu di rahasiakan dan belum di tentukan waktunya,karena penyelamatan itu akan di buat bukti pada nyonya Karina bahwa adiknya pak Hendrolah yang menculik anaknya.


Semua sudah di beri tugas masing-masing.Pak Dori dan pak Robert menemui temannya yang jadi jaksa untuk membantunya jika suatu hari nanti mereka di tuntut.Dan juga pak Robert akan memanggil rekan pengacara yang handal untuk mengantisipasi jika pengacara Hnedro turut membantunya.


_


_

__ADS_1


_


☆☆☆☆☆


__ADS_2