Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
72.Hamil?


__ADS_3

Emil melajukan mobilnya dengan kencang setelah Edward membentaknya karena jalannya terlalu lambat.Mereka menuju rumah sakit.


Edward masih mendekap istrinya yang masih tertutup matanya.Dia sangat cemas dengan kondisi istrinya itu.


"Apa masih jauh rumah sakitnya?"tanya Edward tidak sabar.


"Sebentar lagi sampai tuan muda.Anda bersabarlah."ucap Emil menenangkan majikannya itu.


Dia risih jika Edward terus saja berbicara dan mengumpat tidak jelas ketika lampu merah menyala.


Setelah setengah jam di perjalanan,akhirnya mobil sampai juga di rumah sakit kecil di daerah itu.Memang tidak terlalu besar,namun fasilitasnya lengkap dan pasien yang datang selalu ramai.


Mungkin karena peralatannya lengkap jadi rumah sakit itu jadi rujukan bagi pasien sakit yang agak berat.


Edward menggendong Aya dan meletakannya di bangsal yang tersedia.Sedangkan Emil mengurus administrasi di tempat pendaftaran.


Nampak Edward cemas sekali dengan keadaan istrinya yang lemah dan masih setia dengan pingsannya.


Dokter jaga menghampiri dan membawanya ke ruang UGD lalu di periksa keadannya denyut nadi serta jantungnya.Lalu di suntikkan jarum untuk memasukkan selang infus pada pergelangan tangan kiri Aya.


Edward memperhatikan apa yang di lakukan oleh dokter jaga itu terhadap istrinya yang masih terbaring tidak sadarkan diri.


"Bagaimana dengan istri saya dokter?"tanya Edward tidak sabar apa yang di alami istrinya.


"Tenang pak,dokter spesial kandungan akan memeriksanya nanti Bapak tunggu saja sebentar ya."jawab dokter jaga itu.


Lalu dokter jaga itu membawa Aya untuk di bawa ke ruang rawat inap,untuk di periksa selanjutnya oleh dokter kandungan.


Dokter yang tadi memeriksa keluar dari ruangan Aya di rawat,dia membawa catatan untuk di serahkan pada dokter kandungan agar di periksa lebih lanjut pada ahlinya.Karena dia tidak punya wewenang untuk memutuskan penyakit apa yang di derita pasien.Dia hanya menduga saja dengan hasil pemeriksaannya tadi lalu menyerahkan hasilnya pada dokter ahlinya.


Sembari Edward menunggu,dia berbicara dengan Emil setelah asistennya itu menyelesaikan administrasi di bagian pendaftaran.


"Bagaimana dengan penyerangan tadi,apa ada titik terang siapa yang menyerang istriku?"tanya Edward pada Emil.


Emil diam,dia menatap majikannya sekilas lalu menunduk dan menatap tembok di depannya.


"Anda tidak akan percaya jika saya mengatakannya tuan muda."kata Emil.


"Katakan,siapa yang ingin mencelakai istriku.Setahuku Aya tidak pernah punya teman di sini apalagi musuh.Bagaimana bisa dia di jebak dan di serang oleh preman-preman brengsek itu."ucap Edward lagi.


"Mungkin nona Aya tidak merasa punya musuh tuan muda,tapi orang yang menolaknya itu yang menjadi musuh nona Aya."kata Emil.


Edward mengerutkan dahinya,dia ingat jika dialah yang menolak perempuan itu.Lalu kenapa yang jadi sasaran adalah istrinya?


"Kenapa istriku yang dia incar?"tanya Edward.


"Karena jika nona Aya tidak ada,atau terjadi sesuatu mungkin dia akan mendekati anda lagi tuan muda.Perempuan ambisius memang kadang menakutkan,bisa mencelakai siapa saja.Terutama penyebab dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau."kata Emil menjelaskan secara panjang lebar.


"Padahal aku sudah bilang berkaki-kali,kamu sendiri sudah membuat dia menjauh.Tapi dia rupanya masih penasaran saja.Aku jadi malas bertemu dia lagi.Kamu urus semuanya,jangan sampai dia bertemu lagi dengan istriku.Aku akan buat dia babak belur jika masih mengganggunya."kata Edward


"Saya tidak mengerti kenapa nona Aya bisa ada di tempat itu?"tanya Emil.


Edward mengambil ponselnya,dia mengecek beberapa pesan singkat yang tadi siang masuk ke ponselnya.Ada dua pesan singkat dari Aya,dia buka dan di baca.


Edward mendesah,rupanya ini awal dari kejadian itu.Dia merasa bersalah tidak menjawab teleponnya dan juga tidak membuka pesan singkat dari istrinya.


"Dia datang ke apartemenku,Aya menerimanya mungkin karena tidak enak.Dan kemungkinan Aya di ajak keluar,entahlah bagaimana kejadiannya."ucap Edward,dia menghela nafas panjang.

__ADS_1


Tidak lama,dokter masuk ke dalam ruang perawatan itu untuk memeriksa Aya yang masih belum sadarkan diri.


Edward menghampiri dokter,dia memperhatikan apa yang di lakukan dokter pada istrinya itu.


"Bagaimana dokter,apa istriku baik-baik saja?"tanya Edward cemas.


"Sabar ya pak,saya sedang memeriksa keadaan istri anda."jawab dokter masih memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Aya.


Memasangkan stetoskop di dadanya lalu kembali menempelkan tangannya di saluran syaraf nadi pergelangan tangan Aya.


Setelah itu dokter menyuruh Edward untuk menemuinya di ruangannya,agar bisa di jelaskan dengan tenang.


"Mari pak,ikut saya ke ruangan.Saya akan jelaskan apa yang di alami istri bapak di sana."kata dokter.


"Apa tidak bisa di sini saja dokter,istri saya sendirian."


"Tuan muda,sebaiknya anda mengikuti saran dokter.Biar saya yang menjaga nona Aya di sini."kata Emil menimpali.


Dia tahu,majikannya itu sangat khawatir terjadi apa-apa setelah dia tinggal.


"Baiklah,saya ikut dokter.Kamu harus jaga istriku dengan baik Emil.Saya ke ruangan dokter dulu."kata Edward.


Emil mengangguk cepat agar Edward segera menyusul dokter yang sudah lebih dulu ke ruangannya.


_


Edward memperhatikan layar monitor yang di perlihatkan oleh dokter padanya.Di sana terdapat gambaran sebuah rahim kosong yang ada setitik bentuk kecil.


Nah dokter menjelaskan titik kecil itu adalah sebuah janin yang berkembang dengan sehat.


"Dokter,coba jelaskan mengenai istrinya bagaimana keadaannya.Kenapa anda malah membahas gambar itu?"tanya Edward sudah tidak sabar.


"Justru gambar ini pak,istri anda sedang mengandung dan ini adalah gambar bayi yang ada di dalam perut istri anda."jawab dokter sambil tersenyum.


Edward membeku,dia diam tanpa berkata.Mulutnya terkatup dan matanya melebar,tidak percaya apa yang di ucapkan.


"Apa dokter?"tanya Edward meyakinkan dirinya


"Iya,istri anda sedang hamil baru empat minggu.Memang baru terlihat kantongnya saja,tapi bakal embrionya sudah ada.Di jaga baik-baik ya pak istrinya.Karena masih rawan sekali."kata dokter.


Edward sudah sudah tidak fokus mendengarkan penjelasan dokter,dia terlalu senang mendengar bahwa Aya hamil.


"Pak Edward?"tanya dokter.


"Ah ya dokter,saya terlalu senang dengan kabar ini.Lalu bagaimana istri saya,apa dia baik-baik saja?Kenapa dia pingsan?"


"Karena istri anda kelelahan dan dehidrasi,makanya pingsan.Dan jangan lupa makan makanan bergizi dan jangan kerja yang berat-berat."kata dokter lagi.


"Baik dokter."


Senyum Edward mengembang,dia benar-benar bahagia istrinya hamil benih dari anaknya.


Setelah menerima penjelasan dari dokter,Edward akhirnya berpamitan untuk menemui istrinya.Dia benar-benar bahagia.


_


Edward menggenggam tangan istrinya,dia mencium berkali-kali.Hingga mata Aya terbuka sedikit demi sedikit.Dia lalu menengok ke arah suaminya yang sedang menciumi tangannya.

__ADS_1


"Bie,aku di mana?"tanya Aya lirih.


Edward menatap istrinya,dia kembali mencium tangannya dan mencium kening istrinya.


"Bie?"


"Kamu di rumah sakit sayang."ucap Edward dengan senyum bahagianya.


"Aku kenapa bie,bisa ada di rumah sakit?"


"Kamu kelelahan sayang dan juga karena ada benih aku di sini."kata Edward menempelkan tangannya di perut istrinya.


"Maksudnya apa bie?"


"Kamu hamil sayang,hamil anak kita."


"Apa?"


"Iya,kita akan punya anak.Terima kasih sayang,terima kasih.Cup."


"Alhamduliiah ya Allah."ucap Aya,dia memegang perutnya.


Kemudian dia bergerak hendak duduk,Edward menahannya agar jangan banyak bergerak.


"Kamu mau apa?"tanya Edward.


"Aku mau duduk bie."


Lalu Edward membantu menegakkan tubuh istrinya.Dia kemudian menatap Aya dengan lembut.Di usapnya pipinya.


"Kamu kenapa bisa ada di jalan xxx itu?"tanya Edward pelan.


"Aku tidak tahu Nathalie tahu nomorku dari siapa,dia meneleponku meminta bantuan.Ya aku kasihan,katanya di rampok di jalan itu.Jadi aku kesana membantunya,aku pikir setelah membantunya langsung pulang.Aku merasa bersalah padamu bie,tidak izin dulu sama kamu.Maafkan aku bie."ucap Aya menunduk sambil mencium tangan suaminya itu.


"Tidak sayang,kamu tidak salah.Aku tadi tidak memeriksa ponsel jadi tidak tahu ada pesan dari kamu.Maafkan aku."kata Edward lagi menarik istrinya ke dalam pelukannya.


"Sebelum pergi,Nathalie sempat menghibungimu.Katanya kamu mengizinkan aku pergi dengannya."kata Aya menatap suaminya itu.


Edward mengerutkan dahi,dia merasa ada yang aneh.Nathalie tidak pernah menghubunginya,karena dia tidak memberikan nomor ponselnya.Sekalipun dia meminta sama Edrick,tidak akan memberikan nomornya.


"Dia tidak menghubungiku sayang,dia tidak punya nomorku."


"Tapi waktu dia menelepon tersambung kok.Dan di telepon kamu mengizinkannya pergi,apa dia menipuku?"


"Bisa jadi,sayang.Dia memang licik,ya sudah jangan di pikirkan.Nanti Emil yang mengurusnya."


"Pantas saja,waktu di restoran meksiko dia memesan makanan yang sudah pasti aku tidak bisa makan.Dia sengaja menjebakku bie."


Edward dan Aya saling memeluk,mereka bersyukur janin yang ada dalam kandungan Aya baik-baik saja.Mereka sepakat tidak akan memperpanjang urusan dengan Nathalie,biar nanti Emil yang akan memberinya peringatan.Edrick juga tidak akan tinggal diam,dia pasti memarahi Nathalie.


_


_


_


☆☆☆☆☆

__ADS_1


__ADS_2