
"Jangan lupa kabari mama ya kalau sampai di sana."ucap nyonya Karina memeluk Edward.
"Iya ma,pasti."kata Edward membalas pelukan mamanya.
"Jangan lupa jaga menantu mama,bukan depan harus pulang dan membawa kabar baik."
"Insya Allah ma.Kalau belum berarti aku harus bekerja lebih keras lagi."
"Haruslah itu,mama sudah pengen gendong cucu."
"Pasti ma,Edward pastikan pulang dari Inggris Aya sudah mengandung."
"Iya sayang,mama doakan semoga cepat punya anak.Oya,nanti mama sama papa ke pondok pesantren di antar siapa?"
"Nanti ada yang aku tugaskan mengantar mama sama papa kesana.Dia sudah tahu tempatnya,dan yang selama menemani aku di sana ma."
"Oh ya sudah kalau begitu.Pulang dari sini mama akan membeli sesuatu buat calon besan."
"Ibunya Aya belum di temukan ma,jadi mama ke pondok pesantren saja.Nanti mama ketemu dengan kyai Sobri,beliau uwaknya Aya yang punya pondok pesantren."
"Oh ya.Ya sudah sana berangkat.Petugas sudah memanggil untuk cepat masuk ke boarding pass."
Lalu Nyonya Karina memeluk menantunya,dan memberikan wejangan padanya.
Sania masih memeluk kakak iparnya itu,dia masih enggan melepasnya.
"Kak Aya,nanti aku ke Inggris setelah resepsi pernikahan kak Edward dan kak Aya,tunggu aku ya."ucap Sania.
"Iya,kakak juga kalau di rumah sendiri di negeri orang rasanya seperti orang hilang."ucap Aya.
"Tenang saja kak,nanti kita akan jalan-jalan berdua.Kak Edward pasti memberi izin kok."
"Sudah sayang,nanti lagi ngobrolnya.Keburu ketinggalan pesawat."
Lalu Aya menyalami mertuanya dan berpelukan.Edward dan Aya meninggalkan Sania dan nyonya Karina,lambaian tangan terhenti saat keduanya sudah naik eskavator menuju kabin kapal.
_
Setelah sembilan jam menempuh perjalanan dari Indonesia ke Inggris,akhirnya mereka sampai di apartemen milik Edward.
Mereka sampai di bandara dan di jemput oleh asisten Edward,Emil yang lebih dulu sudah di Inggris.
Mereka langsung di antarkan ke apartemen milik Edward yang biasa di tempatinya selama di Inggris.
Aya yang baru menginjakkan kaki di negeri orang itu merasa aneh dan seperti terlempar dari lorong waktu.Namun begitu,dia mencoba beradaptasi dengan suasana di sana.
Aya mengelilingi apartemen suaminya yang tidak besar namun tidak kecil juga.Hanya ada satu kamar di apartemen itu,dia berkeliling di setiap ruangannya.Setiap ruangan berdekatan,karena memang bentuk apartemen yang sedang.
Edward memasukkan semua koper dan tas punya istrinya ke dalam kamarnya dan di masukkan ke lemari.
Beberapa bekal makanan mentah yang di bawakan oleh nyonya Karina dia bawa ke dapur.Mungkin Aya belum bisa beradaptasi dengan makanan di sini,makanya mamanya membawakan beras untuk makan menantunya.
Sekalipun nanti jika makan di luar akan mencari restoran masakan Indonesia,agar istrinya tidak susah makan.
"Sayang,kamu capek tidak?tanya Edward pada istrinya yang sedang menatap keluar jendela.
Aya berbalik dan memeluk pinggang suaminya,lalu dia menggeleng pelan.
"Ngga bie.Tapi di sini kok tidak dingin ya,katanya kalau musim dingin akan terasa sekali dinginnya."kata Aya,dia yang memakai baju biasa saja tidak merasa kedinginan.
__ADS_1
"Ini masih musim panas sayang,bulan depan sudah memasuki musim gugur kemudian baru musim dingin.Kenapa memangnya,ehm?"tanya Edward yang membalikkan istrinya menghadap padanya.
Dia melepas kerudung istrinya dan membuangnya ke sofa.Lalu melepas ikat rambut dan di lempar sembarangan.
"Ih,kenapa di buang?"
"Aku suka rambut kamu tergerai begitu.Biar begini saja ya kalau di rumah,jangan di ikat lagi."kata Edward membelai rambut istrinya itu.
"Tapi kan gerah bie,masa begini terus.Seperti gadis India yang di film bollywod itu."kata Aya menyibakkan rambut yang menimpa pundaknya.
"Iya,ngga apa-apa.Aku suka malahan,rambut kamu itu indah banget."
"Padahal aku pengen potong rambut lho bie,sudah terlalu panjang.Baru kali ini rambut aku sampai ke pinggang."menggoyangkan kepalanya.
"Gemes banget sih sama rambutnya,jangan di potong.Sayang,rambut bagus begini.Nanti biar aku ikut keramasin deh."
"Ih,ngga ah.Nanti kamu ikut mandi lagi."
"Ya biar saja,kan biar lebih romantis sayang.Atau sekarang saja yuk,mandi bareng?"mencium bibir Aya.
"Tidak mau."ujar Aya mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha,kenapa?Kan biar cepat selesai,hemat waktu lagi."lagi mencium bibir Aya.
"Aku malu bie."
"Setiap hari juga aku lihat semua tubuh kamu,kenapa jadi malu?"
"Aku masih dapat tamu bulanan bie,tidak enak nantik di lihatnya."
"Huff,kapan selesainya sayang?"
"Sabar bie,mungkin lusa selesai."
"Sudah ah,kamu ngomongnya begitu terus.Besok kita mau kemana?"
"Emm,kemana dulu ya enaknya sayang?"
"Ya aku tidak tahu bie,yang tahu negara ini tuh kamu.Masa tanya aku sih."
"Hehehe,sejujurnya aku itu jarang jalan-jalan di kota ini.Hidupku selalu untuk bekerja dan bekerja.Kadang-kadang ya,keluar malam dengan teman-teman dan sahabat."kata Edward.
"Kemana?"
Edward menatap istrinya,membelai pipinya lalu mencium bibirnya sekilas.
"Ke klab malam."
"Minum-minum?"
"Tidak,hanya nongkrong saja dengan Edrick."
"Yakin tidak minum-minuman?"
"Pernah sih sekali minum,tapi waktu itu dengan Emil juga.Karena aku di paksa sama teman-taman untuk minum sampai mabuk."
"Ya Allah,kamu minum sampai mabuk?"
"Ya,tapi untung ada Emil.Dia tidak ikut minum,karena aku larang."
__ADS_1
"Kamu melarang asistenmu minum tapi kamu sendiri minum sampai mabuk,bagaimana seperti itu?"
"Karena dia yang akan membawaku pulang sayang.Aku sudah tahu lebih dulu teman-temanku akan memaksaku untuk minum,jadi mereka mengancam akan terus-terusan menggangguku dan menyuruh Nathalie ikut bergabung.Jadi ya terpaksa aku ikuti mereka.Maaf sayang,saat itu masih tipis iman.Tapi sungguh,aku mabuk hanya sekali itu saja."
"Ya sudah,lain kali jangan di ulangi lagi.Karena mudharatnya itu banyak sekali,jika sering minum dan mabuk-mabukan akan membawa kita pada kejahatan."
"Iya sayang,aku tidak akan mengulanginya lagi."janji Edward mengeratkan pelukannya pada istrinya.
"Sekarang kita tidur,besok kita jalan-jalan ke tempat wisata yang terkenal di sini."ucap Edward lagi.
_
Udara pagi ini sangat dingin,walau musim panas tapi tetap saja terasa dingin karena hembusan angin laut.
"Kita mau kemana bie?tanya Aya merapikan kerudungnya dan menempelkan bedak tipis-tipis di wajahnya.
"Kita akan jalan-jalan sekitar kota London dulu,baru ke istana buckingham.Di sana tempat istana raja dan ratu Inggris."ucap Edward menghampiri istrinya yang sedang bersolek.
"Nanti kita makan di mana?Apa ada makanan seperti di Indonesia?"
"Ada sayang,nanti kita cari dan makan di sana."
"Sudah,yuk kita berangkat."ucap Aya menggandeng lengan suaminya.
"Sebentar sayang,aku mau lihat dulu."menatap istrinya,dia pegang kedua pipinya dan dahinya berkerut.
"Ini kenapa tebal sekali dandannya,nanti banyak yang lirik lagi."ucap Edward mengelus pipinya.
"Ih apa sih bie,nanti rusak bedaknya."kata Aya menyingkirkan tangan suaminya.
"Tapi ini terlalu tebal sayang,aku tidak suka.Ciba tipisin lagi bedaknya."
"Ya Allah bie,ini cuma bedak aja tidak ada tambahan lain."
"Tapi ini kenapa putih banget wajahnya.Sudah pokoknya hapus dulu dan ganti yang tipis,baru nanti kita berangkat."ucap Edward bersedekap.
"Di hapus bagaimana,sudah tipis ini."
"Ya sudah,sini aku yang hapus."
Tanpa di duga Edward menarik kepala Aya lalu menciumnya keseluruh wajah istrinya.Dari pipi,hidung,kening dan berakhir di bibirnya.Dengan rakus Edward terus mencium bibir istrinya.Hingga Aya gelagapan dengan tingkah suaminya.
Dia kemudian mendorong dada suaminya itu,tentu saja dandanan Aya jadi berantakan karena ulah suaminya.
Aya kesal bukan main,dia kemudian menghapus semua bedak yang tadi berantakan.Sedangkan Edward hanya tersenyum senang,dia senang membuat istrinya kesal.
"Nanti lama lagi ini,kapan jalan-jalannya."Aya merajuk sambil memoleskan kembali bedak di wajahnya.
"Kalau dandannya tipis aja,baru bisa jalan-jalan.Sudah cukup seperti itu saja,jangan di tambah lagi bedaknya sayang."Edward menyetop Aya kembali memoleskan bedak di wajahnya.
"Tapi kaya pucat bie wajahku,tipis banget."
"Tidak pucat,malah lebih cerah kelihatannya.Sudah yuk kita pergi sekarang,keburu siang.Nanti tempat yang akan kita kunjungi sedikit."
Edward menarik tangan Aya yang sedang memoles bibirnya dengan lipstik.Setelah selesai,mereka akhirnya pergi jalan-jalan.
_
_
__ADS_1
_
☆☆☆☆☆