
Sejak pembicaraannya dengan Edward di butik itu,Sania jadi sering melamun. Dia memikirkan apa yang di katakan kakaknya dan kaka iparnya.
Memang dia masih perawan,tapi dia tidak seperti gadis perawan murni. Kesalahannya sendiri dia terlalu ceroboh,namun juga dia tidak tahu kalau dulu Nathalie punya masalah dengan kakaknya. Bisa di katakan dampak dari Edward selalu menolak Nathalie dan imbasnya dia yang kena.
Tapi jika pun Nathalie bersama kakaknya,dia juga tidak sudi mempunyai kakak ipar yang begitu obsesif dan agresif.
Selain sama Emil,Sania tidak pernah membagikan semua ceritanya. Dengan Aya juga kadang dia merasa malu,tapi kakak iparnya itu memaklumi ketakutan dan dilemanya.
Dia lalu menghubungi Emil,karena dengan Emil dia bisa bercerita dan berkeluh kesah.
"Halo nona,ada apa?"tanya Emil yang langsung menjawab panggilan telepon Sania.
"Kak Emil,aku sedang dilema."kata Sania.
"Kenapa nona,apa tuan muda memarahi anda lagi?"tanya Emil,merasa khawatir akan Sania.
"Tidak kak. Kak Edward menyuruhku menikah dengan kak Emil."ucap Sania tanpa rasa bersalah.
"Uhuk uhuk!"
"Kak Emil kenapa?"
"Tidak nona,ada nyamuk masuk ke dalam mulut saya.Maaf "
"Aku kira kak Emil kaget dengan ucapanku."
Saya memang kaget dengan ucapan anda nona,pikir Emil di seberang sana.
Pembicaraan di telepon terus bergulir,hingga Sania lupa kalau Emil sekarang waktunya tidur. Sania tidak sadar kalau dia sudah mengganggu istirahat Emil,karena Sania menelepon Emil di waktu pagi menjelang siang.
"Kak Emil mengantuk?"tanya Sania sadar kalau Emil diam saja tidak menanggapi ocehan Sania
"Maaf nona,saya mengantuk sekali."kata Emil.
"Ah ya,di sini perbedaan waktu sangat jauh ya. Maaf kak,kalau begitu aku tutup teleponnya."
"Iya nona."
Sambungan terputus,Sania menghela nafas panjang. Dia tetap saja masih bingung walaupun sudah bercerita dengan Emil.
_
"Sania,kenapa kamu sekarang sering melamun?"tanya nyonya Karina pada anak gadisnya.
"Tidak apa-apa ma,lagi bosan aja."jawab Sania.
"Bosan kenapa? Kamu sudah punya butik sendiri,apa yang membuat kamu bosan?"
"Emm,ma kalau aku nikah tidak apa-apa kan?"
"Lho,kamu mau nikah? Sama siapa?"
"Itu sih kalau ma."
"Kamu punya pacar saja mama tidak tahu,masa mau nikah."
"Ya kan bisa saja jodohnya sudah ada walaupun tidak pernah pacaran."
"Kamu naksir sama siapa?"
"Kak Emil."jawab Sania tanpa sadar.
__ADS_1
"Apa?!"nyonya Karina kaget.
"Eh tidak ma,maksudnya laki-laki yang seperti kak Emil itu kan lebih baik. Bisa melindungi dan juga bisa di percaya."ucap Sania yang ikut kaget juga karena ucapannnya tadi yang membuat mamanya kaget.
"Kamu itu ada-ada saja,tapi masa kamu memcontohkannya Emil sih?"tanya nyonya Karina.
"Ya itu cuma misalkan ma. Kalau mama tidak suka ya tidak apa-apa."ucap Sania agak kecewa.
"Ya bukan tidak suka,mama hanya kaget saja. Lagi pula dia itu asisten kakak kamu."
"Ya memang kalau asisten tidak boleh baik ma?"
"Mama kok jadi mikir kamu suka sama Emil?"
"Eh?"
Percakapan terputus karena ada pengunjung di butik Sania. Sania meladeni pengunjung tersebut,dia ingin membuat sebuah gaun pengantin dan juga pengiring pengantinnya juga.
Dan pembicaraan pengunjung berlanjut di ruangan Sania,sedangkan nyonya Karina pergi dari butik anaknya itu.
Dia memikirkan setiap ucapan Sania tentang Emil. Sebaiknya dia ke kantor suaminya,pikirnya.
Lalu dia menelepon pak Dori untuk menjemputnya di butik Sania.
Tak berapa lama mobil pak Dori datang,nyonya Karina langsung masuk ke dalam mobil.
"Mau kemana nyonya?"tanya pak Dori.
"Ke kantor suamiku."jawab nyonya Karina.
"Baik nyonya."
Lalu mobil melaju dengan kecepatan sedang,pak Dori melihat jalanan sangat sepi karena ini di waktu jam kerja. Biasanya jalanan akan lebih padat di jam masuk kerja antara jam setengah tujuh sampai jam sembilan.
"Pak Dori,apa Emil sering menghubungimu?"tanya nyonya Karina.
"Hanya kalau penting saja nyonya."
"Oh,tapi menurutmu apa Emil itu sudah punya kekasih?"
"Yang saya tahu Emil tidak punya kekasih."
"Emm,kamu pamannya berarti kamu sangat dekat dengannya."
"Karena saya satu-satunya keluarganya nyonya."
"Oh iya ya."
Buntu,nyonya Karina tidak bisa mencari tahu tentang Emil lebih jelas. Tapi dia ingat,Emil kan asisten Esward. Nanti dia akan bertanya lebih banyak pada anaknya itu.
_
Di kantor suaminya,nyonya Karina seperti biasa merapikan apa saja yang berantakan di meja ataupun di sekitarnya. Kalaupun perlu dia akan menyapu,padahal bisa memanggil office boy. Namun dia lebih suka membersihkan sendiri kantor suaminya.
Pak Robert sih selalu senang jika istrinya mampir ke kantornya. Kantor serasa rumah sendiri,dan semua karyawan mengerti akan hal itu,apa lagi office boy bagian membersihkan ruangan pimpinan. Senang pekerjaannya jadi tidak berat karena nyonya Karina yang membereskan sendiri kantor suaminya.
Paling jika di suruh menggeser barang atau meja dan kursi,cari bantuan office boy
"Mama datang ada apa?"tanya pak Robert yang langsung mencium kening istrinya itu.
Dia lalu duduk di sofa,di susul istrinya duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Mama tuh lagi kepikiran Sania pa,dia kok ngomong pengen nikah ya. Apakah ada yang dia taksir atau punya pacar begitu,tapi mama tanya dia tidak punya pacar."
"Ya bagus dong,biar dia ada yang jaga."kata pak Robert.
"Tapi anehnya dia contoh laki-laki yang seperti Emil,menurut papa bagaimana?"
"Emil? Dia bicara seperti itu?"
"Iya pa,dia bilang Emil itu sangat melindungi dan juga bisa di percaya. Maksudnya apa coba?"tanya nyonya Karina.
Pak Robert tersenyum,dia mengerti kini maksud dari ucapan anak gadisnya.
"Sudah,mama tenang saja. Kalau papa sih setuju saja Emil sama Sania."
"Lho,kok papa malah setuju sama Emil,mama kan lagi bingung kenapa Sania lebih mencontohkan Emil dari pada yang lain."
"Emil itu kan sudah dekat dengan kita,dia juga bisa konsisten dan setia. Dalam pekerjaan saja dia bisa setia dan bisa menjaga kepercayaan. Papa yakin itu juga ada dorongan dari Edward."
"Ya tapi kan Emil itu..."
"Ma,kita tidak tahu di luar sana siapa yang bisa menjaga anak kita. Kalau seandainya Sania bersanding dengan artis nasional,belum tentu dia bahagia. Atau sama rekan bisnis papa,yang ada malah dia akan menguasai perusahaan papa. Karena banyak sekali rekan bisnis papa yang meminta Sania dan ingin berbesan dengan papa. Papa tidak menggubrisnya,biarkan anak-anak yang memilih sendiri."
"Tapi bagaimana dengan statusnya sebagai asisten Edward?"
"Tidak masalah,dia bisa mengundurkan diri dan membuat perusahaan sendiri. Bila perlu perusahaan papa dia yang pegang. Papa juga pengen pensiun,tapi papa masih bingung dengan penggantinya. Nicko sudah memegang perusahaan lain yang sudah mulai banyak klien ingin bekerja sama dengannya,Edward sudah punya perusahaan sendiri. Jadi satu-satunya ya nanti suami Sania."kata pak Robert.
Nyonya Karina diam,dia menatap suaminya lalu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Papa tidak percaya orang lain ma,jadi lebih baik Emil yang pegang nantinya karena kita semua sudah tahu siapa Emil."ucap pak Robert.
"Sepertinya Sania suka sama Emil deh pa."kata nyonya Karina.
"Ya itu bagus,dia bisa melindungi Sania. Dan papa yakin dia tidak bakal membuat Sania terluka."
"Papa seyakin itu?"
"Karena Sania anak papa,jadi Emil tidak akan berani membuat Sania sakit hati."
Benar juga,belum tentu laki-laki lain seperti Emil,dia setia semua tahu sifat dan karakternya. Walau dia bukan anak pimpinan,tapi dia lebih pintar dari yang lain.
Apa yang membuat ragu nyonya Karina?
"Mama jangan ragu,papa percaya sama Emil ma."
"Ya kalau papa percaya,ya sudah mama ikut papa saja. Lagi pula kelihatannya Sania suka sama Emil,hanya saja dia tidak menyadarinya. Dia sering menelepon Emil,mama lihat tuh."
"Mungkin Sania tidak pulang waktu Edward mengadakan pesta pernikahan mereka mulai dekat di Inggris. Edward bilang Emil itu niatnya pulang,tapi mungkin menjaga Sania di saja jadinya tidak pulang."
"Tapi kenapa Sania waktu itu tidak pulang ya pa."
"Tanya Edward,dia pasti tahu apa alasan adiknya itu tidak pulang."kata pak Robert lagi.
"Mama sudah makan?"
"Belum pa,dari butik Sania mama langsung kesini."jawab nyonya Karina.
Lalu pak Robert memanggil pak Dori untuk di pesankan makanan untuk makan siang mereka.
_
_
__ADS_1
_
☆☆☆☆☆☆