Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
94.Mencari Asisten Baru


__ADS_3

Hari sudah subuh,Sania bangun dan dia langsung menjalankan kewajiban seperti biasa. Selesai sholat,dia langsung keluar kamar dan langsung turun ke bawah.


Dia menuju kamar tamu yang biasa di pakai oleh Emil. Entah kenapa sejak semalam Emil tidak bisa di hubungi. Akhirnya Sania mengetuk pintu kamar itu pelan,berharap tidak ada yang tahu dia mengetuk pintu kamar tamu itu.


Tapi sialnya dia di tatap aneh oleh pembantunya,mbok Darmi. Mbok Darmi mendekat pada Sania yang sedang mengetuk pintu.


"Nona Sania sedang apa?"tanya mbok Darmi membuat kaget Sania.


Dia terlonjak hingga ke belakang sambil memegang dadanya.


"Ih,mbok Darmi bikin kaget aja."kata Sania kesal karena mbok Darmi sudah berdiri di hadapannya.


"Nona Sania mencari tuan Emil?"tanya mbok Darmi lagi.


"Iya mbok,apa kak Emil sudah bangun?"tanya Sania.


"Sudah."


"Tapi kok di ketuk pintunya tidak di buka ya."


"Tuan Emil sudah pulang ke apartemennya nona,tadi pagi sebelum pulang dia minta kopi sama saya."


"Lho,kok pulang sih."


"Memang kenapa nona?"


"Eh,tidak apa-apa. Ya sudah,aku ke kamar lagi."


Lalu Sania pergi ke kamarnya lagi dengan wajah di tekuk. Dia kesal sekali pada Emil,semalam dia tidak sempat bicara pada Emil karena ketahuan oleh pak Robert.


Sekarang pagi-pagi niatnya mau menemui malah sudah pulang. Sania mengambil ponselnya untuk menghubungi Emil,tapi tetap tidak tersambung.


Sania menepuk dahinya karena lupa,nomor ponsel Emilkan sudah ganti. Kalau di Indonesia nomornya ganti lagi.


Lalu dia mencari kontak Emil yang kedua,tapi sayangnya di daftar kontak tidak ada nomor Emil.


"Aduh kenapa aku lupa minta nomor yan di sini sih."ucap Sania.


Dia menarik nafas panjang,entah apa yang akan dia lakukan sepagi ini. Tidur lagi kah?


"Kalau minta sama kak Edward pasti di ceramahi panjang lebar,males banget."


Tanpa terasa Sania kembali tertidur setelah dia berguling-guling di kasurnya. Dia lupa hari ini akan pergi ke butiknya.


Sania memang pintar mendesain pakaian,tapi sifat kekanak-kanakan ketika bertemu orang yang dekat dengannya tidak bisa hilang. Sama kedua kakaknya akan terlihat seperti anak usia SD,namun jika bertemu dengan Edward akan seperti tom and jerry.


Begitu bertemu Emil,sifat kekanak-kanakannya mu ncul jika sedang merajuk. Tapi dia bisa menurut pada Emil.


_


Satu minggu ini Emil sudah mulai aktif membantu pak Robert di kantor,dan minggu berikutnya dia akan terbang lagi ke Inggris menyelesaikan pekerjaannya di sana sekaligus memberikan surat pengunduran dirinya pada Edward.


Dia juga menyeleksi karyawan di kantor pak Robert untuk di jadikan asisten Edward penggantinya.

__ADS_1


Dia sudah menyaring tiga dari sepuluh orang yang dia tunjuk. Tapi satu orang mengundurkan diri karena istrinya sedang hamil sedangkan satu orang lagi tidak bisa meninggalkan ibunya yang sedang sakit.


Kini Emil sedang menunggu karyawan yang tinggal satu,dia menunggu orang yang akan jadi kandidat asisten Edward.


Dia akan menanyakan segala kesiapan untuk membantu Edward di sana,serta kesetiaannya pada Edward. Tapi Emil sudah tahu tentang kesetiaan setiap pengawal pak Robert.


Seorang laki-laki tinggi dengan perawakan sedang dan memakai baju jas lengkap dengan dasi. Dia mendekat pada Emil yang duduk sambil menyeruput kopinya. Ya,mereka bertemu di kafe. Dan sebelumnya dia sudah izin pada pak Robert untuk memberi pertanyaan dan kepastian untuk asisten Edward.


Laki-laki itu menunduk pada Emli dan duduk setelah Emil memberinya kode untuk duduk.


"Langsung saja,karena ini sangat cepat di butuhkan. Tapi saya percaya kamu bisa di percaya. Melky,apakah kamu siap untuk jadi asisten tuan muda Edward?"tanya Emil pada laki-laki yang bernama Melky.


"Siap tuan Emil,saya siap dengan apapun untuk mendampingi tuan muda."jawab Melky.


"Tuntutannya di sini sementara tidak bisa mempunyai tanggungan yang harus di urus setiap waktu. Kamu akan selalu siap kapanpun di butuhkan tuan muda. Memang pekerjaannya tidak mudah,tapi dengan kesetiaan dan pengabdian akan terbiasa. Saya memberi kamu waktu untuk berpikir lagi satu hari,karena lusa saya harus kembali ke Inggris."kata Emil lagi.


"Baik tuan Emil,besok saya memberi jawaban pastinya."kata Melky.


Setelah lama berbincang,akhirnya Melky pamit untuk kembali ke kantor pak Robert.


Selepas Melky pergi,datang Sania yang sudah beberapa hari sering sekali meminta pada Emil untuk makan siang bersama. Meneruskan rasa penasaran bertanya semuanya pada Emil.


Sania duduk di depan Emil,sedangkan Emil sedang menerima telepon dari Edward yang sudah berangkat ke Inggris seminggu yang lalu dengan Aya.


Emil memberitahu kalau dia sudah mendapatkan kandidat asisten penggantinya nanti.


Dari pembicaraan ini Sania fokus tentang pengganti asisten Emil. Dia menatap Emil dengan lekat karena ingin fokus mendengar pembicaraan dengan kakaknya.


Setelah Emil selesai dari toilet,pelayan menghampiri Sania dan Emil. Mereka memesan makan siang.


"Kak Edward cari asisten baru?"tanya Sania ketika Emil sudah duduk kembali di kursinya.


"Iya."


"Lalu kak Emil bagainama?"


"Aku akan pindah ke kantor tuan besar."jawab Emil.


"Hah,apa?"


"Iya nona."


"Jadi kak Emil akan di Indonesia terus?"


"Iya. Apa nona senang?"


"Eh? Ah tidak,bukan begitu."


Sania salah tingkah,wajahnya memerah membuat Emil tersenyum. Sania pun tersenyum tipis,dia merasa senang dengan kabar Emil akan menetap kembali di Indonesia.


Pesanan mereka sudah tiba,kini mereka makan dengan tenang. Sesekali Sania mengambilkan lauk untuk Emil,berasa jadi istri pikir Sania. Tapi dia merasa senang.


Entah sejak kapan Sania merasa lebih dekat dengan Emil,dia merasa membutuhkan Emil sejak kejadian itu. Di mulai dari sering menelepon Emil hingga sering meminta pendapat yang tidak penting pada Emil.

__ADS_1


Mungkin Sania sudah jatuh cinta,namun dia tidak sadar dengan perasaannya. Yang dia rasakan ketika belum menelepon Emil,dulu saat Emil masih di Inggris rasanya ada yang aneh. Dan sejak itu dia setiap hari menelepon Emil.


Emil sendiri meladeni Sania karena dia adalah anak majikan sarta adik dari tuan muda. Namun semenjak itu pula,Emil merasa dia tidak canggung lagi meskipun bahasa formal untuk menghormati Sania tidak pernah dia tinggalkan.


"Kak Emil,waktu di ruang kerja papa,apa yang di bicarakan?"tanya Sania ketika mereka selesai makan.


"Mengenai pekerjaan yang akan saya kerjakan di kantor tuan besar."


"Jadi benar kak Emil akan pindah ke kantor papa?"


"Iya,nona."


"Tadi laki-laki yang menemui kak Emil itu siapa?"


"Dia penggantiku nanti sama kakak anda nona."


Ternyata Sania belum di beritahu kalau dia dan Emil akan menikah dua bulan lagi setelah Emil berangkat ke Inggris.


"Lusa saya akan berangkat ke Inggris. Apa nona ingin ikut?"


"Eh,kak Emil mau ke Inggris lagi?"


"Ya."


"Tapi katanya kak Emil harus bekerja di kantor papa."


"Setelah mengajukan pengunduran diri di perusahaan tuan muda baru saya ke kantor tuan besar nona."


"Oh."kata Sania lesu.


Emil menatap Sania yang kecewa kalau Emil akan pergi ke Inggris lagi. Dia diam lalu meminum kembali jus alpukatnya yang mulai encer karena esnya sudah cair.


"Apa nona mau ikut?"tanya Emil yang tahu kalau Sania kecewa dia harus berangkat lagi ke Inggris.


"Bolehkah?"tanya Sania berbinar.


"Aku tidak tahu,apakah tuan besar mengijinkan nona ikut ke Inggris denganku."kata Emil membuat Sania kembali kecewa.


Ada kejanggalan di pendengaran Sania,tapi dia tidak sadar apa yang berubah di kalimat Emil.


Memang, dia mana mungkin di ijinkan papanya untuk pergi ke Inggris lagi.


"Nanti aku coba minta ijin pada tuan besar kalau nona ikut denganku."ucap Emil yang membuat senyum Sania merekah.


Emil pun tersenyum,lalu dia membayar makan siangnya dengan Sania. Setelah mereka makan siang,kini Emil mengantarkan Sania ke butiknya lagi.


_


_


_


☆☆☆☆☆☆

__ADS_1


__ADS_2