
Setelah kegiatan panas mereka selesai,kini Aya segera mandi.Sedangkan Edward masih berbaring di ranjangnya.Selesai mandi,Aya segera memakai baju dan mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Dia kesulitan mengeringkannya karena rambutnya yang panjang.Edward melihat itu jadi tersenyum melihat istrinya kesulitan mengeringkan rambutnya.
Dia kemudian bangkit dari tidurnya dan mendekat pada istrinya membantu mengeringkan rambut Aya.
"Sini aku bantu mengeringkan rambutmu."kata Edward.
Dia mengambil handuk yang di pegang Aya lalu mengelapkannya di rambutnya.
"Aku suka rambut kamu yang panjang begini."ucap Edward lagi.
Aya hanya tersenyum saja.Lama Edward membantu mengeringkan rambut istrinya.
"Sudah bie,sana mandi dulu.Aku ngga enak kalau masih di kamar terus.Pengen bantu-bantu apa di sana."ucap Aya merebut handuknya.
"Mereka pasti mengerti kita terlambat turun.Kan baru datang,lelah juga."ucap Edward masih membelai rambut Aya yang masih basah.
"Tetap saja aku ngga enak."
"Rambut kamu juga belum kering banget,nanti aku pinjam pengering rambut Sania."ujar Edward yang hendak keluar.
"Jangan bie,udah kamu sana mandi dulu.Tidak boleh menunda mandi besar lho."ucap Aya lagi.
"Ya udah,aku mandi dulu.Cup."satu kecupan mendarat di bibir Aya.
Kemudian Edward pergi ke kamar mandi,Aya hanya menatap suaminya.Lalu dia meneruskan mengelap ujung rambutnya yang masih basah.
_
Di ruang makan sudah berkumpul pak Robert dan nyonya Karina.Mereka menunggu Edward keluar dari kamarnya dan bergabung dengan mereka untuk sarapan pagi.
"Edward datang jam berapa mbok?"tanya nyonya Karina.
"Jam dua pagi,nyonya."jawab mbok Darmi.
"Masih capek mungkin mereka ma,kan Edward memyetir sendiri."ucap suaminya.
"Mama ngga sabar pengen ketemu menantu mama pa."ucap nyonya Karina melihat ke atas tangga.
Baru beberapa menit di bicarakan,Edward tampak terlihat memggandeng Aya menuruni tangga.Nyonya Karina menatap keduanya,lebih tepatnya dia menatap menantunya yang mengenakan baju panjang dan berkerudung.
Tampak manis di lihat dari jauh,mereka semakin mendekat dan nyonya Karina tidak melepas tatapannya dari Aya,kemudian mendekat pada keduanya.
Aya melepas pegangan tangan suaminya dan menyongsong mertuanya yang sejak tadi melihat ke arahnya dan sekarang menghampirinya.Dia tidak mau ibu mertuanya yang naik ke atas menyambutnya.
"Sayang hati-hati."ucap Edward ketika Aya turun dengan cepat.
Aya tidak menghiraukan ucapan suaminya,dia langsung menyambut ibu mertuanya dan mencium tangan nyonya Karina.
Nyonya Karina menyambutnya dan dia memeluk menantunya dengan erat.Dia senang Aya yang lebih sopan dan takzim pada orang tua.
"Selamat datang sayang di rumah kami,ayo kita sarapan dulu."ucap nyonya Karina mengajak Aya untuk sarapan bersama.
"Iya ma."kata Aya sedikit canggung.
"Aku kok tidak di ajak ma?"protes Edward.
"Kamu bisa duduk sendirikan?"ucap nyonya Karina santai.
Edward menghela nafas panjang,lalu dia tersenyum tipis dengan perlakuan mamanya.Dia kemudian duduk di kursi sebelah istrinya.
Pak Robert melihat menantunya hanya tersenyum,dia juga senang dengan sikap Aya yang sopan ketika tadi menyalaminya.
Tak lama,turun dari tangga Sania dan Nicko berjalan berbarengan.Sania terlonjak ketika ada anggota baru di meja makan,dia pun berlari dan menghampiri Edward dan Aya.
"Hai,selamat pagi kakak ipar."kata Sania sambil memeluk Aya dari samping dengan wajah cerianya.
Aya pun tersenyum dan membalas pelukan adik iparnya itu.Edward menatap keduanya,lalu dia menarik tangan adiknya yang sejak tadi memeluk lama sekali.
"Udah pelukannya,sana duduk di kursimu."menyingkirkan tangan adiknya.
"Apa sih kak Edward,ngga asik banget deh."ucap Sania dengan mulut mengerucut.
__ADS_1
"Hai,adik ipar.Apa kabar?Selamat datang di rumah kami."ucap Nicko pada Aya.
"Iya kak,terima kasih."ucap Aya menunduk sopan sambil menangkup kedua tangannya.
"Duuh,mama seneng banget lihatnya.Ya udah ayo sarapan dulu,nanti kita ngobrol-ngobrol ya."ucap nyonya Karina.
"Iya,kak.Nanti kita ngerumpi bareng ya."ucap Sania.
"Istriku ngga suka gosip.Jangan ajari gosip yang tidak jelas."ucap Edward pada adiknya dengan ketus.
"Siapa yang mau gosip,kita cuma mau ngobrol-ngobrol aja kok.Pelit bener sih?!"
"Kamu itu,posesif banget sih.Biar kita saling akrab,antara menantu dan mertua."ucap nyonya Karina pada anaknya.
"Jangan di ambil hati,ya.Mereka memang seperti itu kalau sudah ketemu."ucap pak Robert sama menantunya.
"Iya pa,ngga apa-apa."ucap Aya tersenyum.
Dia menatap suaminya yang diam tanpa ekspresi,membuat Aya semakin lucu melihatnya.
Setelah sarapan pagi selesai,pak Robert pergi ke kantor,Nicko juga pergi ke kantor.Sedangkan Edward masuk ke kamarnya bersama istrinya.
Rasa lelah masih dia rasakan,rencananya Edward akan meneruskan tidurnya bersama istrinya,saling berpelukan dan tidak mau lepas.
Namun baru juga duduk di ranjang,kamarnya di ketuk dari luar.
Tok tok tok
"Siapa sih,ganggu aja."ucap Edward yang mendekap Aya dengan posesif.
"Kak Aya,ayo kita keluar."teriak Sania dengan kencang memanggil Aya.
"Aku keluar dulu ya,itu Sania memanggil."ucap Aya berusaha melepas dekapan suaminya.
"Sudah biarkan saja,kita kan mau istirahat sayang."ucap Edward mengeratkan dekapannya.
"Kak Aya di panggil mama nih."teriak Sania lagi,dia tahu pasti Edward akan melarangnya keluar bersama adiknya.
Aya langsung bangkit,dia mengenakan kedurung instannya lalu berjalan cepat membuka kunci pintu.
Dia tidak mau di cap menantu tidak tahu diri hanya di kamar saja.
Pintu terbuka,tampak Sania yang sedang tersenyum senang.
"Ayo kak,kita keluar.Kata mama kita akan belanja bareng di mall."ucap Sania menarik tangan Aya.
Tapi tangan Aya yang satunya di cegah oleh Edward.
"Ngga usah,kita masih lelah mau istirahat.Lain kali saja jalan-jalannya."
"Ish,kak Edward pelit banget sih.Mama menyuruh kak Aya turun ke bawah."
"Itu alasan kamu saja."
"Bie,ngga apa-apa kok.Sudah sana kalau mau istirahat,tidur aja."
"Kamu ngga lelah?"
"Ngga bie,lagi pula aku ngga enak di kamar terus.Masa tiduran saja di kamar.Sudah sana kalau mau tidur,nanti waktu sholat duhur aku bangunin."
"Ya udah,jangan bergosip yang tidak ada gunanya."
"Siapa yang mau bergosip."
Edward melotot pada adiknya,tapi Aya mendorong suaminya untuk segera masuk lagi dan istirahat.Sedangkan dia keluar bersama Sania menuruni tangga dan menuju ruang tengah.
_
Tiga hari sudah Aya tinggal di rumah mertuanya.Dia sangat senang karena keluarga suaminya menerimanya dengan hangat,apa lagi adiknya.
Nyonya Karina juga mulai dekat dengan menantunya,walau tadinya Aya pendiam dan mungkin segan dengan mertua perempuannya itu,namun setelah sering bercengkrama lebih lama,akhirnya akrab juga.
"Sayang,dua hari lagi kalian kan berangkat ke Inggris.Hari ini mama ajak Aya jalan-jalan ya?"tanya nyonya Karina pada Edward.
__ADS_1
"Lama ngga ma?"tanya Edward.
"Duh,pengantin baru pengennya nempel terus.Tidak mau pisah,kaya perangko."cibir Sania.
"Anak kecil tidak akan mengerti,kalau suami istri itu tidak bisa pisah jauh."ucap Edward ketus.
"Tidak lama kok,paling lima jam saja kita jalan-jalan."
"Lima jam? Ngapain aja di mall sampe lima jam?Tidak boleh,enak aja aku di tinggal selama itu."
"Ya elah,seperti anak kecil aja sih.Kak Aya aja tidak masalah kok."
"Ya kalau lima jam itu keterlaluan namanya,menelantarkan suami.Tidak boleh."
"Ya masa kamu percaya sih,kita jalan lima jam.Mama saja kalau jalan lebih dari dua jam sudah kelelahan.Sudah kamu tenang saja,mama cuma mau mengajak jalan istri kamu."ucap nyonya Karina yang sejak tadi pusing mendengarkan perdebatan adik kakak itu.
Aya yang jadi objek perdebatan itu hanya tersenyum,dia hanya menatap suaminya lucu.Di balik wajah kokohnya ternyata ada sisi kekanak-kanakannya.
"Sudahlah bie,lagi pula aku pengen jalan-jalan juga.Bolehkan?"
Edward menatap istrinya,dia tidak rela jika harus berjauhan lama dengan Aya.Rasanya ada yang kurang.
"Tapi tidak boleh lama-lama,nanti aku bagaimana di rumah sendirian."
"Ada mbok Darmi yang menemani,kalau mau susu tinggal bilang saja sama mbok Darmi."
"Haish,kamu tuh."
"Sudah bie,mengalah kenapa sih?"
"Tuh kan,kak Aya aja mau jalan-jalan."
"Ya udah,aku siap-siap dulu ya."ucap Aya.
"Iya sayang,jangan lama-lama ya."
"Iya ma."
Lalu Aya dan Edward naik tangga,mereka masuk ke kamarnya.Tapi rupanya Edward tidak rela istrinya harus pergi dengan adik dan mamanya.
Dan sampai di kamar,Edward masih dengan wajah kesal karena perdebatan tadi dengan adiknya.Dia duduk di tepi ranjang sambil melipat kedua tangannya.
Aya melihat suaminya seperti itu jadi gemas,lalu dia menghampiri Edward yang masih belum terima.
"Sudah dong bie,kan cuma sebentar.Lagi pula cuma kali ini jalan sama mama dan Sania."
"Nanti aku sama siapa?"
"Kok sekarang kamu jadi aneh begitu sih.Aku baru tahu lho,sifat kekanak-kanakanmu.Seorang tuan muda merajuk,ish lucu banget sih."ucap Aya sambil memegang pipi suaminya itu.
Dan tanpa di duga,Edward malah menarik istrinya terbaring dan dia langsung menindihnya.Tanpa membuang kesempatan,dia menyambar bibir Aya dengan rakus,kali ini dia harus dapat vitamin sebelum di tinggal pergi jalan-jalan pikir Edward.
"Sebelum pergi jalan-jalan kamu harus kasih aku vitamin dulu."ucap Edward membungkam mulut istrinya dengan bibirnya.
Dengan cepat dan tanpa pemanasan lagi,Edward menancapkan pusakanya ke milik istrinya.Aya yang sudah mengira akan seperti itu hanya bisa pasrah,namun dia berpesan agar jangan terlalu lama bermain.
"Jangan lama-lama bie,mereka pasti menungguku.Euuh.."ucap Aya di sela-sela percintaannya.
"Hemm."
Edward terus memacu gerakannya agar lebih cepat,walaupun terburu-buru namun mereka menikmatinya.******* demi ******* keluar dari mulut keduanya,hingga sampai mencapai puncak kenikmatan Edward menghentikan dengan erangan panjangnya.
Keduanya pun terkulai,sesaat Edward menatap istrinya dan mengecup bibirnya.
"Terima kasih sayang,aku akan tenang bekerja dari rumah.Cup."
Lalu Edward bangkit dari posisinya dan Aya pun langsung bangun dan segera menuju kamar mandi untuk mandi besar.
_
_
_
__ADS_1
☆☆☆☆☆
\=> duh,othor lagi hareudang terus nih tulisannya..🤭😆😆✌✌🙏