Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
96.Kehilangan


__ADS_3

Dua hari lagi Emil akan pulang ke Indonesia,Melky sudah bisa di lepas karena dia cepat tanggap dengan tugas-tugas yang di berikan. Hanya saja dia belum bisa menangani klien sendirian karena Edward belum berani mengambil resiko itu.


Mungkin dia hanya membereskan di kantor saja,sedangkan di luar hanya dia yang melakukannya meskipun memang Melky harus turut serta untuk kepercayaan klien selanjutnya.


Jika tidak ada klien yang bertemu dengan Edward,maka Melky yang menangani di kantor sekalian mengurusnya. Para pegawai Edward di kantor juga sangat senang karena Melky lebih bisa di ajak santai di banding Emil.


Emil kaku menghadapi pegawai sedangkan Melky bisa lebih santai. Namun begitu,Melky tetap tegas menjalankan tugas yang di berikan.


Emil kini sudah mempersiapkan diri untuk pulang,dia sudah mengajukan surat pengunduran diri pada Edward. Dan hari ini adalah hari terakhir Emil bekerja dengan Edward. Kemarin dia sudah berpamitan pada seluruh pegawai kantor,walau merasa berat namun mereka juga senang dengan pengganti Emil.


"Emil,aku pengen tahu perasaanmu pada adikku."kata Edward ketika mereka sedang santai di kantor.


"Apa yang ingin anda tahu tuan muda?"tanya Emil.


"Sejak kejadian itu,apakah ada perasaan lain pada Sania?"tanya Edward menatap tajam pada Emil.


Emil diam,dia masih belum jawab. Emil pandai sekali menyembunyikan masalah hatinya pada orang lain,sekali pun di depan Edward yang sudah sepuluh tahun bersama,namun Edward belum pernah melihat Emil menunjukkan pada orang,terutama pada Edward kalau dia menyukai seorang perempuan.


"Apa perlu tuan saya jawab?."Emil balik tanya membuat Edward bingung.


"Aku hanya ingin tahu apa kamu mencintai Sania?"tanya Edward lagi.


"Anda akan tahu nanti tuan kalau saya sudah menikah."jawab Emil membuat Edward kesal.


"Sania itu masih kekanak-kanakan,jadi jika dia membuat ulah karena sifat kekanak-kanakannya keluar,kamu harus memakluminya. Dia satu-satunya anak gadis mama,jadi mungkin dia merasa banyak yang sayang padanya.


Kasih sayang aku dan kak Nicko serta papa dan mama membuatnya jadi sering seperti anak kecil. Aku dan dia sering bertengkar karena aku pengen dia lebih dewasa lagi.


Kamu tahu kami semua menyayanginya,jadi aku hanya ingin tahu apakah kamu mencintai Sania. Aku minta jangan buat dia menangis,tapi bimbinglah dia agar bisa menjadi lebih dewasa lagi."


"Iya tuan muda,saya akan ingat kata-kata anda sebagai kakak ipar."jawab Emil.


Membuat Edward berdecak kesal,namun dia yakin Emil akan menyayangi adiknya dengan sepenuh jiwa. Dia tahu Emil seperti apa,makanya ketika Edrick mengatakan menjodohkan Sania sengan Emil memang rasanya cukup pantas.


Dan Edward merasa yakin kalau Emil memang sebenarnya mencintai Sania,hanya saja dia tidak pernah menunjukkan secara langsung pada siapapun.


"Satu lagi Emil."


"Apa tuan muda?"tanya Emil.


"Tunggulah nanti menikahnya setelah Aya melahirkan. Dua bulan lagi Aya melahirkan,kamu bisa membantu papa di kantor,sambil menunggu persiapan pernikahan kalian."


"Iya tuan muda,saya akan menunggu nona Aya melahirkan. Saya juga ingin semua hadir di pernikahanku nanti."jawab Emil.


"Emil.."


"Ya,tuan muda. Ada lagi yang anda katakan?"


"Belajarlah mulai dari sekarang untuk memanggilku kakak."ucap Edward dengan senyum mengembang.


Dia sungguh ingin melihat Emil mengatakan seperti itu,tapi memang dia ingin Emil tidak lagi jadi bawahannya.

__ADS_1


"Saya belum terbiasa dengan kata itu."


"Ya makanya kamu biasakan,aku pengen mendengarkan keluar dari mulutmu."


"Saya akan menghafal terlebih dahulu tuan,nanti saya panggil anda kakak."


Emil tersenyum,sejujurnya dia memang masih canggung akan panggilan itu.


_


Sebelum pulang ke Indoneaia,Emil menyempatkan diri untuk membeli sesuatu di sana untuk Sania. Ya dia membeli seperangkat perhiasan mahal yang di buat oleh desainer terkenal di Inggris. Dia akan memberikan itu sebagai hadiah pernikahannya pada Sania.


Emil siap-siap untuk pergi ke bandara,namun teleponnya berbunyi ketika dia siap keluar dari apartemennya.


Dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon. Sania.


"Halo,nona."


"Apa kak Emil jadi pulang sekarang?"


"Iya,aku mau berangkat ke bandara sekarang."


"Oh,sudah mau ke bandara?


"Iya,apa ada yang mau nona titip padaku?"


"Tidak kak,emm kalau aku yang menjemput kakak bagaimana?"


"Kak Emil?"


"Ya nona,boleh saja."


"Baiklah,nanti aku bilang sama paman Dori biar aku saja yang menjemput kak Emil."


"Baik nona."


Lalu sambungan telepon terputus. Emil masukkan lagi ponselnya ke dalam saku. Dia ambil lagi tas yang dia bawa lalu membuka pintunya. Di sana sudah menunggu Melky untuk mengantarnya ke bandara.


"Sudah siap tuan Emil?"tanya Melky mengambil koper Emil.


"Ya,ayo kita ke bandara."kata Emil.


"Baik tuan."


Emil berjalan di depan dan Melky berjalan di belakang sambil menarik koper Emil. Mobil sudah terparkir di depan gedung. Melky memasukkan koper Emil ke dalam bagasi,sedangkan Emil langsung masuk ke mobil.


Melky menyusul masuk ke mobil,dia duduk di balik kemudinya dan melajukan mobilnya dengan kencang.


"Santai saja jalannya,karena saya mengambil waktu agak malam penerbangannya. Biar sampai di sana sore sampai di Indonseia."kata Emil.


"Baik tuan."

__ADS_1


Dan sesuai perintah Emil,Melky menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Emil diam menatapi jalanan yang di laluinya,ada perasaan kehilangan ketika pulang ke Indonesia kali ini. Dia tidak akan kembali lagi bekerja dengan Edward.


Emil menarik nafas pelan,seakan tercekat di tenggorokan,namun dia keluarkan lagi. Sedih.


"Melky,kamu harus jaga tuan muda Edward dengan baik. Patuhi segala perintahnya,jangan membantah jika itu tidak perlu. Temani dia kemanapun selain bersama nona Aya. Saya yakin saat ini tuan muda sedang tidak baik-baik saja."pesan Emil pada Melky.


"Baik tuan Emil,pesan anda akan saya ingat selalu."jawab Emil.


Walaupun ada kelegaan di hati Emil,namun tetap saja dia merasa berat meninggalkan Edward. Meskipun dia akan selalu bertemu dengan Edward,dalam status yang berbeda.


Satu jam perjalanan menuju bandara,Emil langsung turun di susul Melky mengambil koper Emil di bagasi.


_


Edward pulang dalam keadaan lemas,dia seperti ada yang kurang. Aya yang melihat suaminya akhir-akhir ini pulang dengan keadaan lesu dan seperti kurang semangat membuatnya heran.


Dia menghampiri suaminya dan mencium tangannya. Duduk di sampingnya dan mengusap pelipisnya pelan. Dia tahu suaminya sedang sedih karena Emil sudah pulang ke Indonesia dan tidak akan kembali lagi bekerja padanya.


"Bie."panggil Aya pada suaminya.


"Ya."jawab Edward singkat.


Matanya masih terpejam,menarik nafas panjang. Hatinya sedih. Kemudian Edward menegakkan tubuhnya dan memeluk iatrinya,membenamkan kepalanya di leher Aya. Bersembunyi dari kesedihan hatinya.


Aya diam,membiarkan suaminya merasakan kesedihan karena di tinggal oleh asisten sekaligus sahabatnya dalam berjuang dan bekerja. Tidak mudah memang melepaskan sesuatu yang sudah lama melekat dan bersama lalu tiba-tiba harus berpisah begitu saja.


"Bie,setiap orang pasti akan berpisah. Biarkan Emil maju selangkah lebih baik. Dia orang baik,makanya banyak yang menginginkan kebaikannya bie,termasuk papa."kata Aya menenangkan Edward.


Karena dia tahu,akhir-akhir ini Edward pulang dari kantor seperti hilang gairahnya. Tidak bersemangat. Aya tahu tugasnya harus bagaimana untuk mengembalikan suaminya ceria dan bersemangat lagi. Tapi mungkin saat ini belum bisa dia mengingatkan Edward pada kenyataan hidupnya itu.


"Aku hanya sedih saja sayang,Emil sudah terlalu lama denganku. Jadi ketika dia harus pergi dari sisiku rasanya berat sekali."kata Edward,dia semakin mengeratkan pelukannya pada Aya.


"Ya aku tahu bie,kamu boleh bersedih tapi jangan terlalu lama. Ada aku dan anakmu yang butuh kamu bie."ucap Aya lagi,dia juga ikut sedih.


Edward melepas pelukannya pada Aya,dia masih menunduk lalu menatap istrinya itu. Mengusap wajahnya lalu mencium keningnya lama.


"Terima kasih sayang,aku hanya sedih saja. Sungguh,aku tidak akan melupakanmu karena kehilangan Emil. Kamu tahu aku sudah bekerja dengan dia sepuluh tahun,jadi tidak mudah untuk melepaskan dia. Hanya itu saja sayang."ucap Edward menatap mata istrinya penuh keyakinan.


"Aku tahu bie,aku tidak melarangmu untuk bersedih. Makanya aku hanya mengingatkan saja."kata Aya,dia tersenyum lalu mengecup bibir suaminya sekilas.


Ingin Edward membawa masuk istrinya ke kamar,namun dia masih ingin seperti itu,hanya ingin memeluk istrinya. Bahwa dia tidak sendiri,bahwa ada Aya yang selalu memberinya kekuatan padanya.


Keduanya pun saling berpelukan,menyalurkan rasa hangat dan kekuatan pada masing-masing hati yang sedang rapuh karena kehilangan orang terdekatnya.


_


_


_


☆☆☆☆☆☆

__ADS_1


__ADS_2