
Sejak peristiwa di apartemen Edward itu,semuanya seolah sudah melupakan.Namun entah Edward bagaimana nanti pada Sania jika bertemu.
Dia memang belum ketemu dengan Sania,karena dia belum pulang ke Indonesia menemui istrinya.Minggu depan rencananya pulang ke Indonesia jika bertemu klien tepat waktu sehari sebelum dia naik pesawat.
"Bagaimana dengan klien dari Alexastd corp,apa dia bisa tepat waktu bertemu sebelum aku naik pesawat?"tanya Edward pada Emil.
"Katanya nanti di konfirmasi lagi,tuan.Mereka masih mempelajari proposal yang kita ajukan."jawab Emil.
"Butuh berapa lama dia mempelajari proposal kita? Bukankah Emilia sudah mengirimkan lewat kurir dengan cepat pengajuan proposal itu?"ucap Edward.
Dia kesal pada perusahaan itu,sejak dulu selalu lambat merespon pengajuan proposal darinya.Walaupun memang kerja sama dengan Alexastd corp keuntungannya juga tidak sedikit,namun jika harus mengulur waktu rasanya dia ingin menyudahi kerja samanya.
"Coba kamu hubungi sekretarisnya,bisa tidak mempercepat mempelajari proposal kita."kata Edward memerintah Emil.
Dia benar-benar kesal,padahal pengajuan proposal itu sudah satu minggu yang lalu.Dia sengaja mengajukan lebih awal agar pertemuan dengan pimpinannya cepat di laksanakan,tapi rupanya sama saja.
"Baik tuan muda."kata Emil.
Dia pun menghubungi sekretaris perusahaan Alexastd corp.Tersambung,Emil berbicara dengan sopan menanyakan bagaimana kelanjutan proposal yang di ajukan pada Alexastd corp itu.Emil diam mendengar jawaban dari sekretaris itu,lalu berbicara lagi sebentar dan menutup teleponnya.
"Katanya besok pagi akan di pelajari tuan muda,jadi dia menunggu keputusan dari atasannya itu."kata Emil melaporkan hasil dari konfirmasi pada sekretaris Alexastd corp.
Edward berdecak kesal,dia kemudian kembali membuka berkas laporan keuangan dan berkas pengajuan penerimaan gaji pegawai.
Karena ini adalah akhir bulan,maka laporan keuangan dan juga pengajuan penerima gaji harus masuk sebelum akhir bulan berakhir,minimal lima hari sebelum tanggal tiga puluh setiap bulannya.
Sehingga penyaluran gaji pegawai tidak terlambat.Edward melihat ada berkas tambahan untuk pegawai penerima bonus bagi pegawai yang kinejanya bagus serta rajin berangkat kerja.Edward meneliti sengan teliti,karena dia tidak mau ada oknum yang masuk daftar di daftar penerima bonus.
"Lumayan banyak yang mendapat bonus,apa mereka benar semuanya rajin bekerja dan sangat bagus semua kinerjanya?"tanya Edward melihat Emil yang sedang mengetik di laptopnya.
Emil maju mengambil lembar laporan yang di sodorkan Edward padanya.Dia lalu melihat apa yang tertera di sana.Dia selalu memantau setiap pekerjaan para pegawai,jadi dia bisa tahu siapa saja yanv rajin bekerja dan jarang masuk kerja.
Dan ternyata,ada dua oknum di masukkan ke dalam daftar tersebut,membuat Emil mengernyitkan dahi.
Lalu dia mengambil gagang telepon di meja Edward dan menghubungi bagian keuangan.
"Halo,bisa kamu ke ruangan tuan Edward sekarang?tanya Emil pada kepala keuangan itu.
"Baik tuan Emil."
Sambungan di tutup,Emil meletakkan kembali gagang telepon tadi.Dia lalu duduk kembali,meneruskan mengetik yang tadi tertunda.Tak lupa berkas yang tadi Edward sodorkan dia letakkan di meja.
Dan tak lama pintu di ketuk dari luar.
"Masuk."
Lalu pintu terbuka,muncul laki-laki berperawakan tinggi dan berambut cokelat cepak masuk ke dalam ruangan Edward.
Emil mempersilakan duduk laki-laki itu,dan dia menurut duduk di sebelah Emil.Emil menyodorkan berkas tadi dan menunjuk dua nama yang masuk dalam daftar.
"Peter,apa benar dua orang ini masuk dalam daftar jajaran penerima bonus?"tanya Emil pada Peter.
__ADS_1
"Iya tuan Emil,mereka berdua sebenarnya dari bulan lalu masuk daftar.Tapi saya baru bisa masukkan bulan ini.Apakah ada yang aneh tuan?"tanya balik Peter pada Emil.
"Mereka terlihat rajin?Atau kinerjanya naik lebih baik?Bagaimana menurutmu?"tanya Emil.pada Peter.
"Iya tuan,mereka layak mendapatkan bonus itu karena dalam dua bulan ini mereka rajin berangkat kerja dan tepat waktu."jawab Peter lagi.
"Ya sudah,kamu boleh pergi."kata Emil.
Peter pun bangun dari duduknya dan berpamitan pada Emil dan Edward.
"Bagaimana tuan? Apa daftar itu di loloskan?tanya Emil.
"Ya sudah,tidak apa-apa.Mungkin mereka tertarik dengan bonus yang di berikan jadi bekerja lebih giat lagi."kata Edward.
Emil menyerahkan daftar laporan pegawai yang mendapatkan bonus bulan ini untuk di tanda tangani.
_
Dan benar saja,Edward sudah berangkat naik pesawat setelah dia mengadakan pertenuan dengan direktur Alexastd corp.Dia juga sydah sepakat untuk kerja sama untuk yang ketiga kalinya dengan perusahaan itu.
Setelah naik penerbangan sore hari,Edward sampai di bandara pukul delapan pagi.Dia di jemput oleh pak Dori supir dan asisten papanya.
"Apa kabar paman Dori?"tanya Edward setelah dia masuk ke dalam mobil.
"Baik tuan muda,anda sendiri bagaimana?"kata pak Dori balik bertanya.
"Alhamdulillah baik."jawab Edward.
"Anda sedang bahagia rupanya tuan muda?"tanya pak Dori memecah kesunyian.
"Iya paman,aku sedang bahagia.Sebentar lagi bertemu istriku.Aku sudah tidak sabar bertemu dengannya."kata Edward.
Wajahnya penuh kebahagiaan tampak jelas terlihat,membuat pak Dori ikut tersenyum.Ternyata kebahagiaan itu sedrhana bagi tuan muda,pikir pak Dori.
Gadis sederhana yang santun dan berilmu agama sempurna membuat anak pak Robert itu sangat senang.
"Ada kabar apa di kantor papa,paman?"tanya Edward yang tahu sejak tadi pak Dori memperhatikannya.
"Seperti biasa,tidak ada masalah yang berarti.Tuan besar selalu bisa menyelesaikannya dengan mudah."jawab pak Dori.
"Papa memang luar biasa."kata Edward memuji papanya.
Satu jam perjalanan,akhirnya mereka sampai di depan rumah.Tanpa menunggu di bukakan pintu,Edward langsung keluar dan berlari masuk rumah dan terus menuju kamarnya.Hingga di tengah jalan dia hampir bertabrakan dengan mbok Darmi yang sedang membawa susu untuk Aya.
"Eh,tuan muda sudah datang?"tanya mbok Darmi berhenti karena gelas yang di nampan hampir tumpah.
"Maaf mbok,aku tadi buru-buru."kata Edward.
"Tidak apa-apa tuan muda,saya juga mau mengantarkan susu hamil untuk nona Aya."ucap mbok Darmi.
"Eh,itu susu untuk istriku?"tanya Edward.
__ADS_1
"Iya tuan muda."jawab mbok Darmi.
"Sini aku yang bawa,mbok Darmi lanjutkan pekerjaan yang lain."kata Edward yang merebut nampan berisi susu dari mbok Darmi.
Lalu Edward melangkah naik tangga,dia membawa susu dengan hati-hati takut karena tumpah.Sedangkan mbok Darmi hanya menggelengkan kepala saja.
"Ada apa yuk mbok Darmi,kok geleng-geleng kepala?"tanya pak Dori yang membawakan koper Edward ke atas.
"Itu,tuan muda Edward rupanya sudah tidak sabar bertemu dengan istrinya,jadi tadi dia hampir menumpahkan susu untuk nona Aya."jawab mbok Darmi.
"Wajarlah,dia tidak bertemu istrinya sudah satu bulan.Jadi mungkin kangen pengen cepat ketemu."ucap pak Dori.
Lalu pak Dori naik tangga dan menuju kamar Edward,serta langsung mengetuknya.
Tok tok tok
Pintu terbuka,muncul Edward yang masih berpakaian sama.
"Saya membawa koper anda masuk tuan muda."kata pak Dori mendorong koper yang tadi dia bawa masuk kedalam kamar Edward.
"Sini biar aku yang bawa ke dalam,paman boleh pergi."kata Edward.
Pak Dori membungkuk dan langsung pergi,Edward menutup pintu kamarnya.Dia menuju ranjang yang di mana istrinya tertidur.Masih pagi,jam sembilan lebih tapi Aya sudah tertidur.Mungkin dia karena tidak boleh kemana-mana oleh mertuanya mau tidak mau akhirnya harus di kamar dan di tempat tidur saja.
Edward semakin dekat,dia naik ke atas ranjangnya,menatap istrinya yang tertidur dengan nyenyak.Edward tersenyum,lalu kepalanya maju di wajah istrinya dan mencium lembut bibir Aya.
Aya terbangun,matanya berkedip ketika sesuatu yang menimpa wajahnya.Dia melihat Edward sedang mencium bibirnya pelan.
"Bie."ucap Aya pelan.
Edward mendongak,lalu tersenyum.Dia meneruskan ciumannya di bibir Aya.Sekarang lebih cepat dan penuh keinginan.Aya yang mendapat serangan seperti itu pun cepat membalas ciuman suaminya.
Lama mereka bersentuhan bibir,dan akhirnya terhenti ketika Aya mendorong dada suaminya itu.
"Sudah bie."
Edward menudahi ciumannya lalu duduk,Aya ikut bangkit dari tidurnya dan memeluk Edward denga erat.
"Aku kangen sama kamu bie."ucap Aya yang masih mengeratkan pelukannya.
"Aku juga sayang."membalas pelukan istrinya.
Keduanya saling berpelukan dan bercerita tentang apa saja yang mereka lakukan tanpa ada keduanya si samping mereka.
_
_
_
☆☆☆☆☆
__ADS_1