Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
53.Penyesalan Nyonya Karina


__ADS_3

Hingga malam hari,pak Robert belum juga pulang dan mengunjungi istrinya.Dia memang sedang sibuk sekali menangani kasus kedua anak dan ayah serta membereskan perusahaan yang sudah mulai stabil.


Dengan Nicko sebagai saksi juga korban serta Edward yang jadi saksi juga.Sedangkan Emil masih merampungkan pembangunan telekomunikasi di desa Aya.Edward mau di desa itu harus segera mendapatkan sinyal komunikasi dan internet Agar dia bisa menghubungi Aya kapanpun dia mau.


Sedangkan nyonya Karina di temani Sania di kamarnya,bercerita bagaimana kehidupan di negara Inggris.Sedikit melupakan kekecewaannya pada suaminya,nyonya Karina lebih banyak bercerita dengan Sania.


"Ma,waktu aku dengar dari Emil bahwa mama mau ke Inggris,kak Edrick senang banget.Dia pengen mengenal mama lebih dekat.Tapi sayangnya mama ngga jadi kesana."ucap Sania.


"Iya,mama ngga jadi kesana karena tante Septa selalu menemani mama di sini,jadi ya udahlah lebih baik di sini aja."ucap nyonya Karina memegang tangan anaknya dan mengusapnya pelan.


"Mama nurut banget ya sama tante Septa,hampir setiap hari jalan-jalan di mall dan bertemu dengan geng arisan tante Septa.Mereka itu kan golongan sosialita yang terlalu glamor hidupnya.Padahal mama kan tidak suka dengan kehidupan seperti itu."ucap Sania,dia memandang mamanya dengan lembut.


"Iya,mama juga ngga tahu kalau mama jadi ikut terbawa dengan mereka."


"Tapi syukurlah,sekarang mama kembali lagi.Orang-orang seperti itu hanya kekayaan saja yang di banggakan,Sania juga ngga suka."


"Maafkan mama yang pernah berniat menjodohkan kamu dengan Reynald."ucap nyonya Karina menunduk.


"Iya ma,ngga apa-apa.Lagi pula mungkin itu permintaan tante Septa kan?Beruntung sekali kalau kak Edward menyuruhku tinggal di Inggris,kalau tidak mungkin sudah dari kemarin-kemarin aku menikah terpaksa dengan Reynald."


"Sekali lagi mama minta maaf sayang."


Mereka berpelukan,saling memaafkan dan menyalurkan kasih sayang antara ibu dan anak.Hingga mereka tidak tahu di depan pintu berdiri sosok laki-laki tua yang selalu memenuhi relung hati sang mama.


Sedetik kemudian keduanya melepas pelukannya,Sania menengok ke arah pintu orang yang telah berdiri sejak tadi.Ya,pak Robert sedang memperhatikan istri dan anak bungsunya berpelukan.


"Ma,Sania keluar dulu ya.Papa sudah menunggu mama dari tadi."ucap Sania mencium pipi perempuan yang masih terlihat cantik itu walau sudah berumur.


Nyonya Karina mengangguk dan tersenyum,kemudian dia menatap suaminya yang masih diam terpaku di tempat semula,belum memutuskan mendekati istrinya itu.


Lama keduanya saling menatap tanpa ada yang berinisiatif mendekat.Namun pak Robert mengalah,dia mendekati istrinya.Namun tanpa di duga nyonya Karina bangkit dari duduk dan berlari mendekati suaminya dan memeluknya erat.Dia terisak,menangis tersedu.Pak Robert diam,belum menyambut pelukan istrinya.


"Maafkan mama,pa.Mama salah mengabaikan perasaan dan perhatian papa sama mama.Mama sadar,papa dan anak-anak adalah harta yang paling berharga buat mama.Mama salah,sekali lagi maafkan mama pa.Hik hik hik.."ucap nyonya Karina panjang lebar,dia semakin mengeratkan pelukannya pada suaminya itu.


Baru setelah nyonya Karina berucap seperti itu,pak Robert membalas pelukan istrinya.Dia mendekap erat lalu mengecup kening istrinya lama.


"Terima kasih mama telah sadar,papa khawatir akan mama juga.Papa hanya kesal mama lebih mengkhawatirkan Hendro di banding papa dan anak-anak.Papa ngga rela anak-anak papa di celakai adik mama itu,makanya sebelum papa Hendro giring ke polisi mama tahu dulu sejauh apa tindakan kejahatan adik mama itu.Biar mama sadar,karena papa lihat mama tidak teralu syok dengan menghilangnya Nicko dua kali dan juga papa yang pura-pura sudah meninggal.Mama seperti biasa saja,tidak merasa kehilangan anak dan suami mama.


Akhirnya papa harus bertindak,walau mama taruhannya.Dan akhirnya terbukti,mama juga jadi korban kejahatan mereka berdua.Papa tidak terima,sampai kapanpun Hendro harus mendekam di penjara.Walau banyak pengacara yang akan membantunya,papa akan tetap memenjarakan Hendro.Lagi pula saksi dan bukti sudah cukup untuk menjeratnya.


Yang salah biarkan mendapatkan imbalannya yang setimpal,jangan lagi menutup mata atas kesalahan mereka.Sudah banyak kerugian yang kita dapatkan atas perbuatannya,jadi sudah cukup sampai di sini saja.Jangan ada korban lagi dari keluarga papa.Mama paham maksud papa?"ucap pak Robert panjang lebar menjelaskan pada istrinya yang selama ini hanya mengkhawatirkan adiknya saja


Nyonya Karina mengangguk,dia kini mengerti dan merasa bersalah pada anak dan suaminya.Mungkin jika Sania ada di rumah,bisa jadi semua anak-anaknya jadi korban keserakahan adiknya dan anaknya.Entah mengapa nyonya Karina merasa ngeri jika seandainya semua anak-anaknya jadi di celakai dan di perdaya oleh adiknya,maka penyesalannya tidak akan selesai hingga maut menjemput.


Dia mengeratkan pelukannya pada suaminya,pak Robert menggiring istrinya ke tepi ranjang.Mereka duduk berhadapan kemudian senyumnya mengembang.


Dan di balik pintu,ketiga anaknya sedang menguping.Ketiganya bahagia memdengar mama mereka kini sudah sadar.Mungkin dengan cara seperti itu mamanya sadar,karena dengan hanya di jelaskan tanpa ada bukti kongkrit tidak akan mampu mengubah cara pandang nyonya Karina pada adik semata wayangnya.


Mereka ikhlas telah berkorban nyawa demi kesadaran dan sebuah penyesalan ibunya.


Lalu ketiganya kini membubarkan diri masing-masing masuk ke dalam kamar mereka.


Edward mengambil ponselnya setelah dia masuk dan menutup pintunya.Dia rebahkan tubuhnya di ranjangnya yang empuk.Dia memencet tombol memanggil,Edrick yang dia hubungi.Sudah lama dia tidak menghubungi sahabatnya itu.


(terjemah bahasa Inggris ya,hee...)


"Halo brother,how are you?"


"I am fine.You?"

__ADS_1


"Me to.how are your family?"


"Baik semua.Kamu masih di hotel?"


"Yes,apa kamu sekarang mau menemuiku di hotel?"


"Tidak,besok aku bisa menemuimu.Di rumahku baru saja stabil keadaannya."


"Apa yang terjadi pada keluargamu?"


"Ceritanya panjang,nanti aku ceritakan jika sudah menemuimu."


"Oke,tidak masalah."


"Ya sudah,aku tutup dulu teleponnya."


"Oya,tentu.See you tomorow."


Sambungan telepon di putus,kemudian Edward menelepon asistennya,Emil.


"Halo tuan muda?Apa semua baik-baik saja?"


"Ya,alhamdulillah mama sudah sadar.Mereka sedang bernostalgia di kamar."


"Ya syukurlah,tuan besar kelihatannya marah sekali dengan nyonya."


"Ya,karena semua keluarganya di pertaruhkan termasuk istrinya.Aku benar-benar salut dengan tindakan papa dengan cara menyelamatkan keluarganya,di umpan dulu baru bisa kembali normal."


"Ya,itulah kehebatan papa anda,tuan muda."


"Apa kamu sudah merampungkan proyek di saja,Emil?"


"Kamu menyindirku,Emil?"


"Tidak tuan muda.Saya menyampaikan apa yang ada saja."


"Ck,sama saja.Bagaimana kabar gadis itu?"


"Nona Aya sudah beraktivitas seperti biasanya."


"Peresmian kapan di laksanakan?"


"Dua hari setelah merampungan selesai.Anda bisa datang lebih cepat sebelum peresmian."


"Di sini ada Edrick,jadi kemungkinan aku akan kesana setelah menyelesaikan pertemuan dengan Edrick dan membicarakan perusahaanku di Inggris."


"Apa tuan muda tahu,teman anda Bayu sudah menikah dengan kakak nona Aya."


"Oya?Kenapa kamu tidak beri tahu aku sebelumnya."


"Saya tidak enak tuan muda,kemarin-kemarin nyonya Karina sedang terpuruk.Saya pikir anda harus menemani mama anda."


"Ah ya,mama sangat terpuruk dengan kejadian ini.Ya sudah,aku tutup dulu teleponnya."


Lalu Edward menutup sambungan teleponnya.Dia meletakkan ponselnya di meja.Pikirannya menerawang jauh di kampung sana.Dia senang mendengar Bayu sudah menikah dengan kakaknya Aya,itu artinya Bayu akan jadi kakak iparnya.


Edward tersenyum sendiri.Dia membayangkan jika seandainya memberi kejutan pada Aya dengan kedatangannya dan langsung melamarnya.


"Ay,tunggu aku di sana.Kupastikan kedatanganku kali ini untuk melamarmu."gumam Edward,senyumnya mengembang.

__ADS_1


Rona kebahagiaan yang dia rasakan sekarang.Setelah mama papanya berbaikan,dia akan membicarakannya langsung pada kedua orang tuanya.


Ada segudang rindu buat Aya,Edward benar-benar merindukan gadis itu.Jika seandainya saja sambungan komunikasi aktif,maka dia tidak segan langsung menghubunginya dan berbicara panjang lebar dengan gadis itu.


"Kenapa aku dulu tidak mengambil gambarnya ya?"gumam Edward menyesal sendiri.


Tok tok tok


Suara pintu di ketuk dari luar.Edward bangun dari tidurnya dan membuka pintu,karena pintunya dia kunci dari dalam.


Terlihat wajah cantik dan manis milik adiknya yang sedang tersenyum manis,membuat Edward heran dan aneh.


"Apa apa?"tanya Edward malas.


Dia kemudian menuju ranjangnya kembali dan berbaring,di ikuti adiknya yang langsung duduk di sampingnya mambuat Edward tambah curiga .


"Ada apa? Pasti ini ada maunya?"


"Ish,curiga aja bawaannya kak Edward."ucap Sania dengan mimik yang lucu,membuat Edward tersenyum miring.


"Kamu ngga biasanya seperti ini,pasti ada sesuatu yang penting."ucap Edward penuh selidik.


"Mm,kapan kak Edward menemui Edrick?"tanya Sania ragu.


Edward makin curiga dengan pertanyaan Sania,dia bangkit dari tidurannya dan duduk tegak.Memandang adiknya penuh curiga.


"Kenapa kamu tanya itu?"


"Ngga apa-apa,hanya tanya saja."


"Jangan bilang kamu ada apa-apa sama dia?!"bentak Edward.


"Ngga ada kak,lagi pula kalaupun ada juga kenapa?"


"Kamu jangan macam-macam ya sama dia,biar kakak pukul kalau dia macam-macam sama kamu!"


"Ya ngga mungkin kak.Ih kak Edward kok curiga begitu sih!"


"Habisnya kamu aneh,menanyakan dia.Lagi pula kamu pulang ke Indo juga sama dia,kenapa tanya kakak.Pasti kamu sama dia ada apa-apa.Ngaku?!"


"Sumpah kak,kami tidak ada apa-apa.Hanya saja,aku suka dia secara diam-diam."ucap Sania pelan,wajahnya tertunduk takut kakaknya marah lagi.


Edward menarik nafas lega,syukurlah.Dia sangat khawatir jika adiknya sudah berhubungan dengan Edrick,walaupun dia juga tidak masalah adiknya berhubungan dengan sahabatnya itu,namun di Inggris kadang orang akan melakukan yang tidak seharusnya di lakukan bagi sepasang kekasih yang belum sah jadi suami istri.Dia takut adiknya terbawa arus kehidupan bebas di Inggris.


"Besok kakak menemui Edrick."


"Aku ik.."ucap Sania terputus.


"Tidak!"cegah Edward tegas.


Sania cemberut,kemudian dia bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar Edward.Sedangkan Edward tersenyum senang melihat wajah lucu adiknya yang cemberut itu.


_


_


_


☆☆☆☆☆

__ADS_1


\=> tetap dukung othor ya..😉😊✌🙏🙏


__ADS_2