Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
40.Rencana pak Hendro


__ADS_3

Reynald melajukan mobilnya dari kantor ke rumah untuk memberitahukan bahwa rencananya selama ini sudah di ketahui oleh Edward dan asistennya,Emil.


Sesampainya di rumah,dia bertemu mamanya yang sedang menimang kalung berlian di tangannya sambil tersenyum senang.


"Mah,papa mana?"tanya Reynald dengan nafas memburu.


"Ada di ruang kerja.Ada apa.memangnya?"tanya nyonya Septa heran melihat anaknya terlihat panik.


Reynald langsung masuk ke ruang kerja pak Hendro dengan tergesa.Dia langsung duduk di depan papanya.


Pak Hendro menutup buku yang dia baca,menatap anaknya yang terlihat panik.


"Kamu kenapa Rey?"tanya pak Hendro.


"Gawat pah,rencana kita sudah di ketahui oleh Edward."ucap Reynald.


Pak Hendro mengernyitkan dahi,dia menatap anaknya lekat.


"Ada apa? Coba kamu ceritakan yang benar!"ucap pak Hendro dengan keras.


"Orang yang jadi suruhan kita tertangkap oleh Edward dengan mudah."


"Kenapa bisa begitu? Bukankah dia sudah bersembunyi dengan baik,kenapa bisa tertangkap?"wajah marah dia tampilkan.


"Dia ceroboh,dia sedang mabuk di bar sehingga Edward bisa menangkapnya dengan mudah."kata Reynald.


"Bodoh sekali laki-laki tua itu.Sudah jangan pikirkan laki-laki tua itu,kita harus bergerak cepat sebelum Nicko mengetahui surat yang kamu kirim.Apa kamu sudah mengambilnya?"tanya pak Hendro.


"Aku belum sempat mengambilnya pah,waktu itu aku fokus dengan penculikan Nicko jadi aku abaikan surat itu."ucap Reynald takut-takut.


"Bodoh! Seharusnya kamu ambil dulu suratnya.Ck,kalau begini kita bisa gagal untuk mengambil alih saham yang sudah di ambil si Robert itu."ucap pak Hendro kesal.


Dia marah anaknya ceroboh sekali.Dia sudah bekerja keras untuk mempengaruhi para pemegang saham menarik sahamnya di perusahaan Nicko.


Pak Hendro menatap anaknya dengan kesal,lalu dia tampak berpikir untuk langkah selanjutnya.


"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya pah?"tanya Reynald.


Pak Hendro masih berpikir,bagaimana dia memanipulasi laporan keuangan di perusahaan Nicko.


"Kita harus bergerak cepat,kamu cari tahu siapa yang manajer keuangan yang memegang di sana.Dekati dia,kita ajak kerja sama untuk memanipulasi laporan keuangan."ucap pak Hendro.


"Baik pah."sahut Reynald.


Tak berapa lama,nyonya Septa masuk menghampiri mereka dengan wajah senang.Dia melihat anak dan suaminya tampak tegang.


"Kalian kenapa?"tanya nyonya Septa pada keduanya.


Baik pak Hendro dan Reynald tidak ada yang mrnjawab pertanyaannya.


"Hei,mama sedang bertanya pada kalian.Ada apa sebenarnya?"tanya nyonya Septa kesal merasa di abaikan oleh suami dan anaknya.


"Mama jangan ikut campur."ucap Reynald yang masih tegang dan takut.


"Ck,kamu itu.Yang bantu kamu mau mendekatkanmu dengan Sania siapa?Mama,Rey.Jadi mama yang banyak membantu kamu untuk mendekatkanmu pada Sania."ucap nyonya Septa pada anaknya.


"Tapi mama gagal menyuruh tante Karina membawa pulang Sania dari Inggris."elak Reynald.


"Itu karena Edward ada di sini,jadi dia harus di Inggris mengurus perusahaan Edward."ucap nyonya Septa yang bangga akan informasi itu.


"Percuma mah,aku ngga bakal dapatkan Sania."

__ADS_1


"Kamu tenang saja sayang,mama akan bujuk mba Karina untuk memulangkan Sania dan di jodohkan buatmu."ucap nyonya Septa.


Tak ada raut wajah senang yang terlihat di wajah Reynald.Yang dia khawatirkan adalah rencana licik dan penculikan Nicko terbongkar.Karena dia dan papanya dalangnya.


"Kamu kenapa jadi panik begitu?"tanya pak Hendro pada Reynald.


"Aku takut mereka akan menyeretku ke polisi pah."


"Hahaha...,kamu takut?Apa kamu lupa,kita banyak relasi yang bekprofesi sebagai advokat.Kita bisa minta perlindungan dari mereka.Kamu tenang saja,biar papa yang mengurus kali ini.Kamu cukup cari tahu manajer keuangan di perusahaan Nicko."ucap pak Hendro dengan senyum miring.


Baik Reynald dan nyonya Septa ikut tersenyum,walau entah apa rencana suaminya itu.


_


Pagi ini Reynald mengunjungi kantor Nicko,dia ingin menyerahkan surat perjanjian kerjasama untuk pengelolaan proyek perumahan di daerah pinggiran kota.


Dia memang bekerkasama dengan Nicko,saudara sepupunya.Tapi di balik itu,dia mempunyai maksud terselubung.


Perusahaan Reynald di bidang kontraktor dan distrobusi bahan bangunan memang di butuhkan Nicko.Kerjasama itu sudah cukup lama selum Nicko dia culik.


Nicko memang masih baru di bidang perusahaan properti,tapi sepak terjangnya sudah dia dapatkan ketika dia menjadi asisten papanya di perusahaan itu.


Setelah pak Edward beralih memimpin perusahaan telekomunikasi,kini perusahaan properti sepenuhnya di pimpin oleh Nicko.


Namun demikian,Nicko terlalu lambat menangani proyek sehingga dia selalu di kelabui oleh Reynald.


Maksud Nicko yang di tunjuk adalah perusahaan Reynald karena dia masih mengaggap saudara juga supaya mudah berkordinasi.


Tapi Reynald menyalah gunakan wewenang,dia kini kembali ke kantor Nicko untuk tanda tangan kontrak yang sudah di setujui.


Reynald mengubah isi kontrak tersebut tanpa sepengetahuan pihak kesatu,yaitu Nicko.


Sengaja Reynald ke kantor Nicko dalam keadaan sibuk agar dia bisa tanda tangan dengan cepat tanpa di baca terlebih dahulu.


Tok tok tok


Reynald mengetuk pintu,karena di depan tidak ada sekretatis.


"Masuk"


Satu jawaban dari dalam ruangan Nicko.Reynald masuk membawa tas di tangan kirinya.Dia menghampiri Nicko yang sedang memeriksa file lama dan yang sudah masuk di mejanya.


Di sampingnya Nina sedang memberikan petunjuk apa yang harus di periksa.Nicko tidak melihat ada Reynald yang berdiri di depan mejanya.


"Kamu sibuk?"tanya Reynald.


"Iya,aku sedang memeriksa laporan dua bulan lalu."jawab Nicko melirik Reynald lalu melanjutkan lagi pemeriksaannya.


Reynald duduk,memyusun kata apa yang akan dia sampaikan agar Nicko tidak curiga.


Reynald tidak tahu kalau Nicko lebih hati-hati sekarang menghadapinya,tidak seperti dulu lagi.Dia di beritahu oleh Edward agar berhati-hati terhadap Reynald.Bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.


"Nina,tolong kamu pilih laporan minggu lalu dengan bulan kemarin ya."kata Nicko pada sekretarisnya itu.


"Ada apa pak Rey datang ke kantorku?"tanya Nicko lebih formal karena dia merasa di dalam kantor dan masih jam kerja.


"Jangan terlalu formal begitu,kita seperti baru mengenal."ucap Reynald berbasa basi.


"Ini masih jam kantor,jadi lebih formal lebih baik."ucap Nicko acuh.


"Baiklah terserah kamu saja,tapi maaf aku tidak mengikuti aturan jam kantor.Kamu sepupuku jadi ku anggap seperti biasanya."ujar Reynald.

__ADS_1


"Santai saja,aku tidak apa-apa pak Rey."ucap Nicko lagi.


"Oya,ini kontrak yang aku ajukan,tinggal tanda tangan saja olehmu."kata Reynald agak tegang melihat Nicko membuka isi kontrak tersebut.


Nicko membolak balik lembar kontrak tersebut,dan Reynald menatapnya dengan tegang.Nicko melirik sekilas pada Reynald kemudian dia mengambil gagang telepon menghubungi sekretarisnya.


"Halo Nina,kamu masuk sebentar ke ruanganku."kata Nicko.


"Baik pak Nicko."


Nicko menutup sambungan teleponnya,masih membuka-buka lembaran kertas di tangannya.


Tak berapa lama,Nina masuk menghadap Nicko.


"Tolong kamu salin ini ya,biar saya punya copyannya."perintah Nicko.


Nina menerima lembaran kertas itu,dan langsung pergi dari ruangan Nicko.Sedangkan Reynald semakin gelisah,dia takut ada beberapa yang dia ubah.


"Kenapa kamu menyuruh sekretarismu mengcopynya?"


"Buat arsip saja,siapa tahu aku butuh nanti suatu saat."ucap Nicko santai.


"Tapi kan belum di tanda tangan,bisa saja nanti sekretarismu mengubah isinya."ucap Reynald khawatir.


"Nina tidak seperti itu,dia sekretaris yang bisa di percaya."kata Nicko lagi.


Reynald agak kesal,kemudian dia pasrah saja.Semoga tidak teliti memeriksa kontrak kerja itu,pikir Reynald.


Bip bip


Bunyi pesan singkat pada ponsel Reynald.Dia mengambil ponselnya dari balik jas yang dia pakai,melirik Nicko sekilas lalu membuka pesan singkat itu.


Papa


Reynald membaca pesan singkat dari pak Hendro papanya,dia kemudian tersenyum miring.Lagi melirik Nicko yang masih sibuk dengan pengecekan file-filenya.


Dia membuang nafas panjang,menetralkan suasana hatinya yang tadi gelisah sekarang jadi tenang kembali karena pesan singkat tadi dari papanya.


Sepuluh menit kemudian,Nina masuk lagi ke dalam ruangan Nicko.Menyerahkan berkas tadi yang di bawa Reynald.Satu di serahkan pada Nicko yang copyan dan satu berkas lagi di serahkan pada Reynald.


Reynald menatap Nicko,dia berusaha setenang mungkin agar tidak di curigai oleh Nicko.Bagaimana pun,dia pernah mencelakainya walau belum ketahuan.Tapi Nicko akan lebih hati-hati.


Nicko kini selesai memeriksa,kemudian membaca isi kontrak yang tadi di ajukan oleh Reynald.Meliriknya sebentar kemudian dia mengambil bolpoin untuk menanda tangani berkas yang tadi di bawa oleh Reynald.


"Di mana saya harus tanda tangan?"tanya Nicko.


Reynald memberikan berkas yang tadi dia bawa,dan Nicko menyambutnya dan membuka lembar demi lembar membacanya dan dia berhenti di sebuah lembar terakhir yang terdapat namanya untuk tanda tangan.


Pernah dia membaca sebuah berkas yang di bawa Reynald,tapi entah keman berkas itu.Dia berpikir pernah ada sebelum terjadi insiden penculikannya dan penyerangan itu.Tapi ada yang beda.


Tanpa membuang waktu,Nicko menanda tanganinya.Dia ingin tahu,rencana apa padanya sepupunya itu


Kemudian dia menyerahkan berkas tadi pada Reynald.


"Terima kasih ya,saya pulang dulu ke kantor.Masih ada urusan lagi."kata Reynaldi bangkit dari duduknya,lalu keluar dengan tergesa.


_


_


_

__ADS_1


☆☆☆☆☆


__ADS_2