Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
30.Aya Di Culik


__ADS_3

Pagi ini Edward kembali ke pondok,rencananya ingin menemui kyai Sobri.Dia ingin menceritakan semua yang dia lakukan selama ini,tujuannya di pondok,juga dia sangat berterima kasih pada beliau.


Bayu sudah lebih dulu pergi ke pondok sedangkan adiknya pulang ke rumahnya,Bayu kembali untuk melaksanakan kegiatannya sehari-hari bersama Edward dulu.Ke pasar berbelanja keperluan pondok.Tapi pagi ini Edward tidak ikut Bayu pergi ke pasar.


Dia menuju rumah kyai Sobri.Pintu tampak terbuka,mungkin sedang ada tamu pikir Edward.Tapi Edward tetap melangkah maju,berhenti di depan pintu dan mengetuknya pelan.


"Assalamu alaikum.."


Edward mengucapkan salam.


Yang di dalam menjawab salam Edward,


"Wa alaikum salam."jawab kyai Sobri dan seorang perempuan.Tampak kyai Sobri sedang bingung dan cemas juga perempuan di sampingnya.


"Boleh saya masuk pak kyai?"tanya Edward dengan sopan.


"Ya,masuklah."jawab kyai Sobri.


Edward masuk,dia melihat ada Salma kakaknya Aya yang raut mukanya terlihat sedih dan cemas,sama seperti kyai Sobri,namun wajah kyai Sobri lebih tenang.


Edward duduk sambil bersimpuh karena ruang tamu itu hanya beralaskan karpet,bukan kursi.Dia melihat dengan jelas wajah uwa dan keponakan itu sedang khawatir.


"Maaf kyai,saya kesini ada perlu dengan pak kyai."kata Edward masih dengan nada sopannya,karena sejak tadi kyai Sobri masih diam.


"Ah ya,maafkan saya.Ada apa nak Edward datang kemari?"tanya kyai Sobri akhirnya kecemasannya beralih pada Edward.


"Begini pak kyai,saya..."belum sempat Edward meneruskan kalimatnya,Salma menatapnya dan berucap padanya.


"Apa kamu Edward teman Aya?"tanya Salma.


Edward yang mendapat pertanyaan itu dari kakaknya Aya jadi bingung.Kemudian dia hanya mengangguk,memandang Salma bingung.


"Ah kebetulan,saya minta tolong.Dari tadi malam Aya tidak ada di rumah,apa kamu tahu dia pergi kemana?Atau dia ada yang menculik seperti halnya adiknya mas Bayu?"ucap Salma.


Deg!


Hati Edward berguncang mendengar Salma mengatakan Aya sejak semalam tidak ada.Apa benar dia di culik?


"Sejak kapan dia tidak ada?"tanya Edward sudah mulai panik,dia khawatir Aya kenapa-kenapa.


"Sejak tadi malam.Tadi malam ada yang mengetuk pintu,dia membukanya karena dia pikir ada orang yang minta bantuannya seperti waktu subuh dulu pernah ada yang minta tolong padanya."ucap Salma dengan raut kekhawatirannya.


"Saya akan cari,tenanglah saya akan cari Aya sampai ketemu."


"Iya nak Edward tolonglah Aya di ketemukan,saya takut dia kenapa-kenapa."ujar kyai Sobri.


"Insya Allah saya akan menemukannya pak kyai."ucap Edward dengan penuh keyakinan.


"Iya nak Edward,tolong temukan keponakan saya."


"Baik pak kyai.Kalau begitu saya permisi.Assalamu alaikum."


"Wa alaikum salam."

__ADS_1


Edward keluar dari rumah kyai Sobri,dia tampak marah dan gelisah.Siapa yang menculik Aya.Apa orang-orang yang sama yang menculik kakaknya?


Kenapa Aya yang di incar,bukankah mereka bisa menyerang tempat Edward sekarang,dan apa maksudnya?


Sampai di gerbang pondok,Edward di sambut oleh pengawalnya.Memberikan sepucuk kertas yang di tujukan padanya.


Edward membaca isi kertas itu.


'*Bila kau ingin selamat gadis bernama Aya,maka kau boleh datang dengan membawa uang tebusan sebesar satu miliar.Tenang saja,kami tidak akan melukai gadismu itu,kecuali kau datang dengan membawa uang juga tidak membawa anak buahmu.


Camkan itu*!'


Begitu isi kertas itu yang di baca Edward,diamenoleh pada pengawalnya.


"Kamu dapat dari mana?"tanya Edward sambil berjalan menuju rumah kontrakan pengawalnya itu.


"Tadi setelah saya hendak mengantar surat tuan Nicko untuk nona Mentari tuan muda."kata pengawalnya itu.


Dia meremas kertasnya,rahangnya menegang hingga otot-ototnya keluar.Setelah membaca isi kertas tersebut,Edward langsung memerintahkan anak buahnya untuk menemui Emil yang sedang meninjau tempat proyek pembangunan sakuran telekomunikasi.


Edward lalu menuju ke rumah kontrakan,dia harus menemukan Aya.Sampai di sana dia masuk ke dalam kamarnya,menyiapkan senjata yang dia gunakan dulu untuk menyelamatkan kakaknya di hutan jati itu.


Nicko masuk ke dalam kamar,memperhatikan adiknya yang tampak marah itu.Nicko mendekati adiknya yang sedang menyiapkan senjata api.


"Buat apa kamu memakai itu?"tanya Nicko heran.


Edward diam,dia masih menyiapkan butir peluru yang di masukkan ke dalam senjatanya.Tidak menjawab pertanyaan kakaknya yang penasaran.


"Ed,buat apa kamu membawa senjata itu?Di sini lingkungan pesantren.Jangan membuat keributan pada warga di sini."kata Nicko.


Nicko yang mendengar Edward berkata seperti itu bingung,siapa Aya?Kenapa Edward begitu marah?pikir Nicko.


"Siapa Aya?"tanya Nicko lagi semakin penasaran.


Edward masih tidak menjawab,dia membereskan lagi benda-benda yang tadi dia keluarkan.


Tak berapa lama,Emil masuk mendekati kakak beradik itu.Dia melihat Edward sangat marah,matanya yang tajam semakin tajam seperti hendak menghujam ke semua sudut.Dia benar-benar sedang di ambang batas kemarahan.


"Tuan muda Nicko,sebaiknya anda keluar sebentar.Mungkin adik anda butuh sendiri di kamar menenangkan pikirannya."kata Emil yang tiba-tiba masuk dan memberi peringatan oada Nicko.


"Emil,ada apa dengan Edward?Dia menyebut nama seorang gadis tadi."masih dengan rasa penasarannya,Nicko bertanya.


Namun Emil menyeretnya keluar dari kamar itu.


"Emil! Katakan padaku,siapa Aya?"


Habis sudah kesabaran Nicko yang masih menyimpan rasa penasaran dan kebingungan dalam hatinya.


"Dia gadis yang selalu tuan muda Edward lindungi,dia gadis yang di cintai tuan muda Edward."jawab Emil pelan.


Nicko hanya diam,dia tidak percaya dengan ucapan Emil tadi.Edward yang selalu tenang dalam menghadapi masalah,walau marah namun dia bisa berpikir jernih.


Dia berubah hanya karena seorang gadis?'pikir Nicko.Masih menatap kamar yang ada Edward entah sedang apa,yang jelas dia benar-bebar merasa adiknya berbeda kali ini.

__ADS_1


"Gadis itu yang selalu bersama tuan muda Edward,yang membuat tuan muda Edward berubah jadi lebih baik."ucap Emil lagi.


Nicko juga selalu berpikir akan seperti itu,ya dia juga akan marah jika gadis yang dia cintai dalam bahaya.


"Emil!"


Emil langsung masuk ke kamar setelah mendengar namanya di panggil oleh Edward.


"Tuan muda,apa yang akan anda lakukan?"tanya Emil pada Edward.


"Sipakan uang,aku harus menyelamatkan Aya."


"Ya,tapi untuk apa uang itu?"


"Mereka meminta uang untuk menebus Aya.Aku tidak tahu siapa mereka,kalau mereka minta uang apa mungkin mereka adalah orang-orang yang dulu menangkap kak Nicko.?"


"Mungkin saja tuan muda.Tapi mereka sepertimya bertindak sendiri.Ada dua kelompok di kumpulan mereka,dan mungkin kelompok ini yang sengaja menyandera nona Aya untuk meminta tebusan pada anda tuan muda."


Edward berpikir,sejak tadi pikirannya hanya kekhawatiran pada Aya,hingga pikirannya tumpul.Yang ada di otaknya dia harus menyelamatkan Aya apapun caranya.


Senjata yang sejak tadi dia siapkan,kembali di letakkan.Namun tetap saja nanti jika waktunya mendesak dia gunakan untuk membunuh orang-orang yang telah merusak Aya atau membuat gadis itu jadi trauma.


Pikiran Edward menjalar kemana-mana,dia benar-benar khawatir pada Aya.


Emil yang melihat tuannya itu diam,dia tahu kekhawatiran Edward pada Aya.Berbeda dengan ketika kakaknya yang di sekap berbulan-bulan akan sabar menghadapi dan mencari tahu keberadaan kakaknya.


Tapi demi seorang gadis biasa,ah tidak mungkin tuan muda benar-benar sudah jatuh cinta pada gadis itu.


Pikiran Emil terus saja menjelajah masuk ke ruang pikiran Edward.Karena tidak seperti itu yang dia tahu tuannya menghadapi masalah.


"Tuan muda,kita tunggu intruksi dari mereka,mereka pasti memberikan petunjuk baru dari surat yang di kirim tadi."ucap Emil.


"Tapi bagaimana dengan Aya?Apa dia akan baik-baik saja?"masih dengan kecemasannya.


"Saya rasa nona Aya tidak akan di apa-apakan dan baik-baik saja,tuan muda.Mereka hanya menginginkan uang,mereka tahu anda dekat dengan nona Aya,meraka tahu anda mampu memberikan uang tersebut.Jadi mereka memanfaatkannya."


Edward mendesah berat,jika hanya uang yang mereka inginkan.Dia rela memberikannya asal Aya selamat dan baik-baik saja,pikirnya.


"Kamu tetap siapkan uang yang mereka minta.Aku yakin dua hari lagi mereka akan memberitahu tempat transaksi itu."ucap Edward.


Kini pikirannya kembali seperti semula,dia harus berpikir jernih agar semua tindakan itu tidak membahayakan Aya nantinya.


"Baik tuan muda.Tapi saya mohon anda bersabar untuk tidak melakukan tindakan apapun."kata Emil mengingatkan.


"Aku tahu,tadi aku hanya marah ketika tahu Aya di culik dan mereka minta tebusan."kata Edward lirih.


Lalu Emil keluar dari kamar Edward,dia membiarkan majikannya itu beristirahat sejenak walaupun memang itu sulit.


_


_


_

__ADS_1


☆☆☆☆☆


__ADS_2