
Edward dan Aya setelah pergi ke dokter untuk menanyakan apakah istrinya bisa di bawa keluar negeri atau tidak, dan mereka bernafas lega.
Ternyata dokter membolehkan Aya naik pesawat asal nanti setelah sampai di sana harus istrirahat total selama tiga hari.
Juga Edward bertanya lagi tentang keinginannya menyentuh istrinya,dan dokter pun membolehkannya asal janga terlalu sering. Bisa satu minggu itu dua kali saja,tidak boleh setiap hari.
Edward pun harus terima dengan pesan dokter.Lalu setelah pulang dari dokter,mereka menuju butik Sania yang tidak jauh dari rumah sakit di mana Aya memeriksakan kehamilannya.
"Sayang,siang ini kita mau makan siang di mana?"tanya Edward.
Dia menjalankan sendiri mobilnya,menelusuri jalanan kota yang padat akan kendaraan serta sengatan matahari di siang ini yang terasa sangat membakar pori-pori di kulit setial orang yang lalu lalang dengan hanya memakai penutup kepala saja atau helm.
Bagi yang berkendara mobil sangat di untungkan karena tubuh mereka di tutup oleh penutup tebal dari bahan aluminium dan besi. Serta dinginnya Ac yang di nyalakan.
"Apa aja bie,aku lagi enak makan kok. Semua masuk ke dalam perut. Mungkin sepertinya bayi kita nanti tidak rewel,karena tidak pernah ngidam selama hamil empat bulan ini."kata Aya.
"Ya udah,nanti kita cari restoran yang nyaman buatmu.Karena biasanya walaupun makanansemua masuk,kadang mood tidak mendukung jadinya tidak berselera lagi."kata Edward seperti memberikan teori saja.
"Terserah kamu aja bie. Oh ya,kita jadi kan ke butiknya Sania?"tanya Aya.
"Iya sayang,kita sekarang mau ke butiknya Sania. Memang ada yang harus aku bicarakan dengan Sania,aku pikir mending datang ke butiknya saja,kalau di rumah takutnya mama dan papa mendengarnya."kata Edward tanpa sadar,membuat Aya mengernyitkan dahi,heran apa yang di ucapkan suaminya.
"Kamu mau bicara apa sama Sania bie?"tanya Aya.
"Adalah pokoknya,nanti aku ceritakan di rumah sambil tiduran."jawab Edward sambil tersenyum misteri.
"Kok aku jadi takut ya kalau lihat senyum kamu seperti itu."kata Aya melirik suaminya.
"Hahaha,kamu seharusnya tahu sayang maksud dari perkataanku tadi."ucap Edward lagi dengan tawanya yang masih mengembang.
_
Sampai di butik Sania,mereka langsung masuk ke ruangan Sania. Di dalam Sania sedang menelepon seseorang,dia melirik Edward dan Aya yang sudah masuk dan duduk di sofa. Edward melihat Sania sangat tegang walaupun dia sedang menelepon,dia pun tersenyum miring.
Dia seakan sedang mengintimidasi adiknya dengan sikapnya.
Setelah selesai,Sania menghamipiri keduanya dan duduk dekat Aya. Aya tersenyum padanya,merapikan anak rambut Sania yang sedikit berantakan.
"Kakak maua apa datang kesini?"tanya Sania tanpa basa basi lagi.
"Cepat pesan makanan dulu,kakakmu sudah lapar keponakanmu juga."kata Edward yang tidak mengindahkan pertanyaan Sania.
Sania menghela nafas,lalu dia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi pesan antar makanan.
"Mau makan apa?"tanya Sania.
"Kita pesan makanan aja bie?"
"Iya sayang,kita pesan makanan aja.Tidak apa-apa kan tidak makan di restoran?"
"Tidak apa-apa,aku justru malas keluar lagi. Enak di sini,dulu kesini masih belum rapi."
"Ya udah pesankan makanan semua tiga porsi dan juga jajanannya."kata Edward lagi.
"Iya mau makan apa?"tanya Sania lagi.
__ADS_1
"Aku soto lamongan saja dan cemilannya boleh otak-otak atau pempek Palembang."
"Ah ya,aku pempek Palembang aja,minumnya jus jambu aja ya."
"Sama itu lho,es cokelat aku mau"kata Aya antusias.
Dia melihat semua itu di sosial media sangat menggiurkan. Sejak menikah dengan Edward,dia sering bermain ponsel dan melihat-lihat beberapa sajian makanan di sana. Jadi terkadang dia ingin memesannya,namun karena dulu tinggal di Inggris jadi hanya melihat saja.
Setelah selesai memesan makanan,Sania kembali duduk dengan santai walau hatinya juga ikut berdebar. Entah apa yang akan di bicarakan kakaknya itu,dia melirik Edward yang sedang menatap Aya dengan penuh cinta. Membelai pipinya dan mendengarkan dengan telaten apa yang di ucapkan Aya padanya.
Senyumnya selalu mengembang jika Aya memperhatikannya dan bicara yang agak lucu. Sangat romantis sekali kakaknya itu,lalu Sania membuang mukanya ke arah lain. Serasa di cueki oleh kedua suami istri itu yang sedang bercengkrama manja.
"Kak Edward kesini mau pamer kemesraan aja atau mau numpang makan dan pergi,atau mau apa?"tanya Sania yang kesal sejak tadi kedua suami istri itu masih saja bersenda gurau tanpa mempedulikannya.
"Kenapa kamu marah,kakak iparmu sedang bercerita lucu. Kok kamu kesal begitu?"tanya Edward.
Aya yang mengetahui adik iparnya marah jadi tidak enak. Dia lalu diam dan menatap suaminya,tapi Edward malah santai saja.
"Kamu sebaiknya menikah sana,biar terjaga dari hal negatif."ucap Edward santai,dia masih menatap adiknya itu.
Sania yang mendengar ucapan Edward jadi kaget,biar terjaga dari hal negatif. Apa maksudnya?
"Maksud kak Edward apa?"tanya Sania tidak mengerti.
"Kamu tadi menelepon siapa?"
"Teman. Kenapa?"
"Teman atau menelepon Emil?"tebak Edward.
"Teman kak."elak Sania.
Tersambung.
"Ya tuan muda,ada yang bisa saya bantu?"tanya Emil,seperti kata otomatis keluar dari mulut Emil ketika dia di hubungi Edward.
"Sania tadi di telepon bilang apa?"tanya Edward yang langsung pada intinya saja.
"Nona Sania tidak bilang apa-apa tuan. Hanya nona Sania memberitahu bahwa anda berkunjung di butiknya."
"Benar hanya itu saja?"
"Iya tuan,memangnya ada apa?"tanya Emil.
"Tidak ada apa-apa."kata Edward menatap adiknya yang tertunduk malu.
Dia salah mengira akan kakaknya yang pasti menghubungi Emil.
Sambungan terputus,dia masukan lagi ponselnya dalam saku celananya.
"Sania,bagaimana perasaanmu pada Emil?"tanya Edward membuat Sania berpikir.
Dia sering menghubungi Emil,sering meminta pendapat padanya. Dan sekarang perasaannya pada Emil di pertanyakan? Itu di luar dugaannya.
"Aku tidak tahu kak."jawab Sania.
__ADS_1
"Pikirkan baik-baik,mungkin sekarang belum menyadarinya."ucap Edward lagi.
Sania masih diam,dia mencerna ucapan kakaknya. Kalaupun dia menyukai Emil,apakah nanti kedua orang tuanya menerimanya?
Dia mungkin sudah nyaman dengan Emil,entah dari mana dia merasakan kenyamanan itu. Yang jelas setelah kejadian itu,dia merasa nyaman dengan Emil. Dia bisa bersikap manja pada Emil yang jarang dia lakukan pada Edward.
Dia merasa Emil sangat melindunginya dan menganggap sebagai adik,layaknya Edward padanya.
Kalaupun dulu dia sangat mengejar Edrick,tapi entah kenapa dia lebih nyaman bersama Emil.
Baik Edward dan Sania saling diam,Edward yang memeluk erat istrinya yang sejak tadi diam saja.
Pesanan mereka pun datang,Edward membayar semua pesanan itu dan makanan itu langsung di santap oleh Aya dan Sania yang sejak tadi diam.
"Bie,kamu ngga mau makan?"tanya Aya pada suaminya.
"Nanti dulu sayang,aku mau menghubungi Emil dulu. Ini masalah pekerjaan."kata Edward.
Dia lalu meninggalkan Aya dan Sania yang sedang lahap makan itu.
"Emm,Sania apa kamu ada hubungan dengan Emil?"tanya Aya ragu-ragu.
"Hubungan seperti kakak adik kak,tidak lebih."jawab Sania.
"Tapi kenapa kakakmu mau kamu menikah dengan Emil?"tanya Aya lagi.
Sania menarik nafas panjang,dia berpikir apa sebaiknya dia cerita pada kakak iparnya?
"Kak Aya,aku pengen tanya sesuatu. Emm agak rumit sih,tapi aku pengen tahu menurut agama. Karena kan kak Aya paham akan agama."kata Sania.
"Memang ada apa,sepertinya sangat penting?"tanya Aya penasaran.
"Tapi,kak Aya janji ya jangan bilang sama siapapun. Dan jangan merasa jijik denganku."kata Sania lagi.
Aya jadi heran,kenapa Sania berkata seperti itu. Apa dia sudah...
Ah,lebih baik dengarkan cerita Sania lebih dulu,tidak boleh berprasangka buruk.Pikir Aya.
"Iya,Insya Allah aku janji.Karena nanti kan kakakmu juga harus tahu."kata Aya.
"Kak Edward sudah tahu kak,makanya dia menyuruhku untuk menikah."ucap Sania lagi.
"Memang apa yang akan kamu tanyakan?"
Sania mengheka nafas kembali,lalu dia menceritakan kejadian di Inggris bersama Emil. Dari awal dia di beri obat perangsang sampai dia Emil harus menolongnya untuk lepas dari obat itu. Panjang lebar Sania menceritakannya,hingga Aya sangat terkejut dengan cerita Sania.
Dia menilai ada baiknya memang Sania harus menikah dengan Emil.Karena Emil sudah mengetahui sesuatu yang sangat intim bagi Sania.
"Ya,kalau kata aku sih memang harus menikah dengan Emil, Karena dia tahu apa yang jadi kepribadianmu."kata Aya.
Sania diam,dia kini memikirkan apa yang di katakan kakaknya dan kakak iparnya itu.
_
_
__ADS_1
_
☆☆☆☆☆☆