
Sore ini, seperti biasa Edward mengantar Aya pulang lagi.Dia membawa sepeda yang biasa Aya gunakan untuk pergi mengajar.
Sedangkan Aya dan dirinya jalan kaki.Mereka banyak bercerita tentang apa saja.Dari cerita masa kecil hingga semasa sekolah dulu.
"Waktu kecil aku tidak bisa naik sepeda,hingga kakakku menyuruhku untuk belajar.Dia sangat telaten mengajariku naik sepeda.Katanya,seorang laki-laki harus pandai mengendarai alat transportasi walaupun itu cuma sepeda."kenang Edward pada Aya tentang kakaknya Nicko.
Aya mendengarkan dengan seksama sambil mengangguk-anggukkan kepala.Edward melihat Aya hanya mengangguk saja.
Dia kembali bercerita tentang adiknya,yang selalu ketakutan jika melihat orang berjenggot.Karena dulu punya kenangan buruk dengan orang yang berjenggot.
"Lalu,setelah penculikan adikmu apa dia menjadi trauma?"tanya Aya menanggapi cerita Edward.
"Ya,dia trauma dengan orang yang berjenggot dulu sampai dia SMA.Tapi sekarang dia tidak lagi."jawab Edward.
Dia tersenyum ketika mengingat Sania adiknya yang ketakutan di malam hari sewaktu menunggu di parkiran ada orang yang berjenggot dengan membawa sapu.
"Dulu dia ketakutan ketika di mall,melihat orang berjenggot.Waktu itu sedang menungguku di parkiran karena mobil di parkir di sana.Dia melihat orang berjenggot itu menatapnya tajam.Tapi ketika dia mendekat ternyata hanya ingin mengingatkan agar tidak berdiri di tengah jalan.Hahaha..,dia saat itu lucu sekali."kata Edward mengenang adiknya itu.
Aya ikut tertawa kecil,dia senang dengan suara tawa Edward.Lalu dia menatap sekilas wajah Edward,kemudian dia alihkan kembali ke depan karena Edward juga malah menatapnya lama.
Tiba-tiba saja,wajahnya terasa hangat.Entah apakah itu,mungkin dia sedang menahan malu telah mencuri pandangan pada laki-laki di sebelahnya.
"Aku senang."kata Edward sambil tersenyum.
"Senang kenapa?"tanya Aya heran.
"Melihat muka kamu yang memerah itu."kata Edward masih dengan senyumnya.
Lagi-lagi Aya di buat malu.Mau tidak mau dia ikut tersenyum walau dia merasa malu dengan kejujuran Edward.
"Kamu seneng banget ngeledekin aku."kata Aya lagi.
"Bukan meledek,tapi kenyataan bahwa aku senang melihat kamu merona seperti itu."
"Sudahlah,jangan bikin aku kesal lagi."kata Aya yang tidak tahu harus bagaimana.
Dia pura-pura kesal,lalu wajahnya berubah cemberut.Tapi malah bikin Edward tertawa kencang.
"Kamu ngga pantas marah,wajah kamu malah tambah lucu,Ay."kata Edward dengan tawanya.
Aya langsung berjalan cepat,dia tidak mau Edward terus menggodanya.
Edward menyusul,menaiki sepeda Aya.Dan berhenti ketika sampai pada Aya yang berjalan cepat meninggalkannya.
"Ayo naik."ajak Edward.
"Ngga mau!"jawab Aya masih dengan muka cemberutnya.
"Jangan merajuk begitu dong,jadi pengen cubit pipi kamu kalau cemberut gitu."
"Ish!"
Aya berjalan lebih cepat,karena rumahnya sudah dekat.Dia tidak peduli ajakan Edward.Dan Edward tersenyum simpul,kemudian dia turun dari sepedanya.
Sampai di depan halaman rumah Aya,dia menatap Aya dengan lembut.Lalu mendesah pelan dan menundukkan wajah.
Aya yang melihat sikap Edward seperti itu jadi heran.Mau tidak mau dia bertanya juga karena penasaran.
"Ada apa?"tanya Aya.
"Apa kamu percaya denganku?"tanya Edward penuh misteri.
Aya mngerutkan keningnya,tidak mengerti apa maksud Edward.
"Maksudmu apa?"
"Ah,jangan di pikirkan.Kalau begitu aku pulang.Hari sudah senja,matahari sudah jauh di ujung barat."
Mau tidak mau Aya hanya mengangguk,walau dia penasaran dengan kata-kata Edward yang tiba-tiba jadi serius.
__ADS_1
"Aku pulang ya."
"Iya,hati-hati."
Lalu Edward pergi meninggalkan Aya yang masih di liputi rasa penasaran di hatinya.
_
Sesuai rencana yang kemarin malam,Emil menambah tiga pengawal yang bertugas untuk mengintai tempat bangunan di tengah hutan jati di dekat bukit desa sebelah.
Malam ini,setelah izin sama Bayu untuk menginap di tempat kedua pengawal yang dia sebut tempat sahabatnya mengontrak selama menjalankan proyek,Edward kembali ke rumah itu.Dia menunggu untuk informasi yang di dapat pengawal yang di utus Emil.
Sedangkan Emil sedang membuat laporan berkas perusahaan yang sedang dia tangani.Dia tidak bisa mengerjakan secara cepat karena terbatasnya alat komunikasi.
Semua laporan dia kumpulkan kemudian dia serahkan pada Edward untuk di periksa.
Untuk mencari sambungan telepon untuk menghubungi perusahaan dan menanyakan kabar apapun pada skeretaris Edward,dia harus pergi lebih jauh ke arah desa yang bisa menyambungkan telepon.
Biar seperti itu,dia lakukan agar bisa mengontrol perusahaan dari jauh.
"Ini berkas yang sudah saya susun untuk di periksa,tuan muda."kata Emil sambil menyerahkan berkas pada Edward.
Edward menerima berkas itu lalu memeriksanya secara seksama.
"Apa Widya tidak kerepotan kamu tinggalkan begitu lama?"tanya Edward sembari menanda tangani berkas.
"Saya setiap dua hari sekali mengecek dan menanyakam keadaan kantor tuan muda."kata Emil.
"Oh,bagaimana perkembangan di sana? Apa tidak ada kendala?"
"Tidak tuan muda.Semua aman terkendali,anda tidak usah meragukan Widya untuk menghandle urusan kantor,dia sangat pintar mengaturnya."kata Emil.
"Bagus,jika misi kita selesai berikan dia bonus yang besar."kata Edward lagi.
"Baik tuan muda."
"Apa belum ada kabar tentang pengintaian di hutan jati itu?"
"Bagaimana kamu bisa menghubungi mereka,sedang di sini tidak ada sinyal telepon sama sekali."
"Saya memberi waktu pengintaian selama tiga jam.Dari jam sembilan sampai jam dua belas.Sekarang baru jam sebelas,tuan muda.Jadi kita menunggu lagi sekitar satu jam.Memang ini agak sulit,namun saya yakin semua sesuai rencana akan menemukan informasi penting."kata Emil panjang lebar.
Edward mengangguk,dia mengakui kecerdasan berpikir Emil.Walau memang sangat susah,tapi sementara memang harus seperti itu.Seperti pada zaman sejarah sebuah kerajaan yang mengirimkan teliksandi kepada musuhnya.
"Baiklah.Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Anda bisa tiduran di kamar yang sengaja pengawal khususkan buat anda tuan muda."kata Emil lagi.
"Ya,boleh.Saat ini aku sangat mengantuk."lalu Edward masuk kamar yang telah di tunjuk Emil untuk kamarnya.
"Oya,nanti jika pengawal yang kamu utus itu kembali,bangunkan aku.Karena aku ingin mendengar secara langsung darinya."
"Baik tuan muda."
"Satu lagi,apa menurutmu Aya itu berbeda dari perempuam yang suka sekali mendekatiku?"tanya Edward penuh keraguan.
"Iya tuan,dia sangat berbeda dengan perempuan-perempuan yang suka sekali mendekati anda.Saya sangat setuju jika nona Aya di jadikan istri untuk anda,tuan muda."kata Emil meyakinkan majikannya itu.
Tentu saja Edward jadi salah tingkah,namun dia tahu jika Emil adalah seorang yang sangat selektif dalam menilai kepribadian perempuan.
"Baiklah,terima kasih atas penilaianmu.Aku tidur dulu,jangan lupa bangunkan aku jika pengawal itu datang."
Emil hanya mengangguk pelan,kemudian Edward masuk ke kamarnya.Sedangkan Emil membereskan sisa pekerjaannya yang sempat tertunda.
Sengaja pekerjaannya dia bawa kemari untuk memudahkan semuanya,termasuk dengan proyek yang dia tangani di desa ini.
_
Sementara itu di hutan jati,di mana ketiga pengawal Edward sedang mengintai kegiatan di sebuah rumah di hutan sersebut.
__ADS_1
Mereka kemudian lebih mendekat ketika dua orang yang di duga penjaga rumah itu masuk setelah kegiatan bermain catur.
"Sudah yuk masuk,aku ngantuk."kata penjaga satu.
"Halah,baru juga jam sepuluh lebih,sudah ngantuk saja."penjaga satu menimpali.
"Kamu ngga tahu,saya menjaga dari pagi tuh orang.Dia tidak mau makan,sampai aku paksa tetap tidak mau makan."
"Kenapa?Biasanya dia mau makan.Kenapa kamu tidak paksa dia makan,di pukul mulutnya biar dia mau makan."kata satunya lagi.
"Aku sudah pukul berkali-kali.Kata bos kalau tetap tidak mau makan,biarkan saja."
"Huh!begitu saja tidak bisa.Ya sudah kita masuk saja,di sini udaranya memang dingin sekali."
Lalu kedua orang penjaga itu masuk.Pengawal Edward yang di tugaskan untuk mengintai bangunan di hutan jati itu pun melangkah lebih maju ke rumah yang terlihat sepi dan gelap.
Di sana dia seperti mendengar erangan seseorang yang kesakitan.
"Ssaakit..ssaakiiit."suara itu sayup-sayup terdengar dari ujung rumah yang tadi penjaga bermain catur.
"Seperti suara orang yang kesakitan."ucap satu pengawal sambil berbisik.
"Iya,tapi suaranya kecil sekali.Dari ruangan mana suara itu?"tanya pengawal satunya.
"Ayo kita maju lebih dekat,di mana suara itu berasal."
Kemudian keduanya merayap melangkah lebih dekat dengan suara tadi.Mereka mengarah pada bagian belakang,dan di sana dia memdengar lebih jelas lagi suara itu.Tapi suara itu kalah dengan suara seringai dari seseorang di dalam.
"Hahaha,kamu sebenarnya tampan.Tapi sayang,ketampananmu tidak berlaku untuk kami segan padamu.Kamu memang kaya,bos besar,tapi kalau di sini kamu adalah tawanan kami dan tidak berdaya.Hahaha..."suara keras tawa seseorang dari dalam.
Kedua pengawal itu saling pandang,mereka menduga bahwa itu adalah tuan muda Nicko yang di sekap.
Lalu keduanya menjauh untuk segera pergi dari tempat itu.Waktu yang di tetapkan oleh Emil sudah batas limit.Jadi apapun yang mereka dapatkan informasinya,mereka harus pulang menemui majikannya.
Baru melangkah seratus meter dari tempat mereka mengintai,keduanya berhenti ketika ada beberapa orang yang terlihat orang penting dan berpakaian lebih rapi dari penjaga masuk ke dalam rumah bangunan tersebut.Mungkin itu bos mereka.
"Ayo kita mundur lagi,itu ada orang-orang masuk ke dalam rumah.Kita kembali ke tempat semula."bisik pengawal satunya.
"Kita harus pulang,tuan Emil sudah menunggu kita terlalu lama."bisik temannya.
"Tapi ini sangat penting untuk kita dapatkan informasinya."
"Kamu takut akan ketahuan"
"Bukan begitu,tuan Emil bilang apapun yang kita dapatkan harus pulang.Besok tuan Emil yang mengurusnya."
"Tapi aku penasaran dengan orang-orang tersebut."
"Sudah,nanti lagi.Kita harus pulang.Di sini penjaganya lumaya banyak,lihatlah mereka."
Mau tidak mau pengawal satunya menurut dengan ucapan temannya.Mereka pun melangkah pelan dan hati-hati agar tidak ketahuan penjaga di sana.
Dalam hati pengawal satunya,dia berpikir bagaimana dia tetap di sana dan tidak pulang lebih dulu.
Tangan satu temannya dia pegang kuat,lalu katanya.
"Kamu pulang duluan,saya akan mendengarkan apa yang mereka bicarakan.Kamu dan yang menunggu di motor cepatlah pulang."kata temannya tadi.
Mau tidak mau dia menyetujui ide itu.Lalu dia mengangguk dan meninggalkan temannya.
Baru beberapa langkah,ada orang yang mendengar bisik-bisik dan berucap.
"Siapa di sana!"
_
_
_
__ADS_1
☆☆☆☆☆