Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
62.Aku Istrimu?


__ADS_3

Ternyata jam sembilan pagi,nyonya Karina tersadar dari pingsannya.Baik Edward,Sania dan pak Robert merasa senang dengan sadarnya nyonya Karina.


"Alhamdulillah mama sudah sadar,papa takut mama sampai koma."ucap pak Robert.


"Mama ada di mana pa?"tanya nyonya Karina bingung,semua anaknya ada di depannya mengelilinginya.


"Mama di rumah sakit,pulang dari Malaysia mama pingsan.Makanya papa bawa ke rumah sakit."ucap pak Robert lagi.


Dia sudah memberitahu ketiga anaknya agar tidak boleh memberitahu tentang dirinya di racun oleh iparnya.Biar nanti urusannya di selesaikan secara diam-diam saja.


Ketiga anaknya pun mengerti,lalu mereka satu persatu memeluk nyonya Karina.Sehingga perempuan itu tambah bingung.


"Mama cepat sembuh ya."ucap Sania yang terakhir memeluk mamanya.


"Iya,mama baik-baik saja sayang.Oya,Edward kamu sudah menikah kenapa istrimu tidak kamu bawa kemari?"tanya mamanya heran.


"Aku keburu pergi ma,takut mama ada apa-apa jadinya ngga bisa bawa Aya kemari."ucap Edward.


Pak Robert yang tahu cerita Edward hanya mengangguk saja.


"Ya sudah,kamu besok bawa istrimu kemari menemui papa dan mama."


"Berarti Edward harus ke pondok pesantren dulu ma.Mungkin bisa bertemu papa dan mama tiga hari atau seminggu kemudian."ucap Edward.


"Kapanpun itu,pokoknya kamu bawa dia ke hadapan mama.Mama pengen tahu istrimu secantik apa dan sebaik apa dia."ucap nyonya seperti menyindir anaknya itu.


"Kak Nicko ngga iri nih,kak Edward sudah nikah?"ucap Sania melirik pada kakak pertamanya itu.


"Nanti juga ketemu jodohnya sendiri,kakak sih masih santai saja."ucap Nicko dengan ledekan adik bungsunya itu


"Berarti aku nikah duluan ngga apa-apa kan?"tanya Sania lagi.


"Kamu masih kecil!"sergah Edward.


"Anak kecil juga sudah bisa bikin anak kecil."Sania balik membantah sambil bersungut-sungut.


"Hadeeh,mama pusing sama kalian.Ngga di rumah ngga di mana-mana kalian selalu saja bertengkar."ucap nyonya Karina yang melihat kedua anaknya selalu saja ribut jika bertemu.


_


Tiga hari di rawat di rumah sakit untuk memulihkan tenaga,akhirnya nyonya Karina di izinkan pulang juga.


Sementara Edward dia sudah kembali ke kampung istrinya.Ya,Edward akan menemui iatrinya.Menurut Emil Aya sudah pulang dari pencarian ibunya,namun hasilnya nihil.


Malam hari Edward baru sampai di kampung,dia tidak langsung menemui Aya di rumahnya,namun ke rumah kontrakan terlebih dahulu untuk menyiapkan kamar yang sudah empat hari dia tinggal,serta merapikan ranjangnya.


Setelah dari rumah Aya,rencananya dia akan bawa istrinya itu ke rumah kontrakan.


Kini dia melajukan motornya ke rumah Aya setelah sholat isya.Hatinya sangat gugup,entah bagaimana nanti setelah tiga bulan ini pertemuan pertamanya.


Motor berhenti di depan rumah itu,tampak cahaya remang terlihat.Berarti di dalam ada orang.Dia kemudian melangkah pelan dan berdiri di depan pintu hendak mengetuk pintu.


Namun pintu terbuka,terlihat sosok laki-laki berdiri dengan terkejut.Lalu dia tersenyum dan menyalami Edward.


Begitupun Edward tersenyum,dia sangat senang bertemu Bayu lagi.


"Apa kabar tuan muda?"ucap Bayu berseloroh.


"Hahaha...,kamu bisa saja.Jangan seperti itu,aku tidak enak mendengarnya.Lagi pula sekarang ini..."ucap Edward terpotong oleh ucapan Bayu.


"Ya ya,aku tahu.Kamu kesini mau ketemu Aya kan?"tanya Bayu.


Edward tersenyum lalu menunduk malu.


"Dia ada di dalam,mungkin sedang sholat isya."kata Bayu.


"Ya,terima kasih."


Kemudian Edward di persilakan masuk dan di arahkan pada satu kamar yang tertutup pintunya.Ragu dia melangkah,berdiri di depan pintu kamar lama.Lalu mengetuk pintunya pelan.


Tok tok tok


Masih belum ada jawaban,mungkin sedang sholat pikir Edward.Sekali lagi dia mengetuk pintu,namun tetap tidak ada jawaban.

__ADS_1


Dengan hati-hati dia menarik handel pintu kamar,dan terbuka.Perlahan Edward membuka pintu itu lebar.Dia melihat sekeliling,tampak di atas ranjang Aya sedang berbaring dengan mengenakan mukena.


Dengan pelan Edward melangkah mendekati ranjang di mana istrinya itu berbaring.Setelah dekat dia berhenti dan menatap wajah Aya yang terlihat sayu dan kelelahan.


Hati Edward berdetak kencang,ingin dia mendekap istrinya itu namun mungkin Aya akan terkejut dengan tingkahnya.Akhirnya dia hanya menatap penuh kerinduan dan sangat dalam.


Dia berjongkok tepat di depan wajah Aya,tersenyum menatap mata yang tertutup.Pelan dia usap pipi dengan lembut lalu mengusap bibirnya.


Aya bergerak pelan,tangan Edward di tarik dengan cepat takut Aya bangun.Tapi dia berharap istrinya itu bangun.


Setengah jam Edward masih berjongkok menatap Aya yang masih setia dengan mimpinya.Dia hendak berdiri,namun tiba-tiba mata Aya terbuka.


Dan dengan cepat Aya bangkit dari tidurnya,dia beringsut lebih ke dalam.Menempel di tembok dengan wajah tegang.Dia belum menyadari siapa laki-laki yang sejak tadi berjongkok dan kini berdiri.


"Siapa kamu?Masuk kamarku tanpa permisi?!"teriak Aya,menatap Edward dengan tajam.


Masih belum menyadari siapa laki-laki di depannya.Edward tersenyum,dia kemudian duduk di tepi ranjang dan menatap Aya dengan lembut.


Dan tentu saja Aya terkejut,dia mengusap matanya berkali-kali.Memastikan bahwa di depannya adalah orang yang selama ini di rindukannya.


"Kkamu?"ucap Aya masih dengan wajah tegangnya.


"Hei,tenang.Ini aku."ucap Edward pelan.


"Bagaimana bisa kamu masuk ke kamarku?"tanya Aya masih dengan keterkejutannya.


Edward tertegun,dia menatap Aya heran.Apa dia tidak tahu?tanya Edward dalam hati.


Edward menarik nafas panjang,rupanya dia harus menjelaskan pada istrinya itu.Ternyata Aya tidak di beritahu kalau dia sudah bersuamikan dirinya.


Edward kemudian mengambil ponselnya dari dalam jaketnya,kemudian membuka galeri foto untuk menunjukkan sebuah video pada Aya.


"Sini aku kasih tahu,biar kamu paham."ucap Edward menarik tangan Aya.


Tapi Aya masih ragu,kenapa Edward seenaknya saja masuk ke kamarnya.Tapi Edward menarik paksa tangan Aya untuk mendekat padanya.


Aya menatap Edward kesal,lalu dia akhirnya maju.Edward menunjukkan video dirinya yang sedang mengucapkan ijab kabul di depan kyai Sobri.


Setelah video itu selesai,kini Aya menatap Edward.Memastikan bahwa yang ada di video itu benar adanya.


"Jadi,sekarang aku adalah istrimu?"tanya Aya ragu.


"Ya,kamu sekarang adalah istriku sejak satu minggu yang lalu.Kalau kamu tidak percaya,tanyakan saja sama kyai Sobri."kata Edward untuk meyakinkan istrinya itu.


Aya diam sesaat,dia bukannya tidak percaya namun dia masih syok dan terkejut dengan kenyataan bahwa dia kini adalah istrinya Edward.Laki-laki yang sangat di rindukannya selama ini.


"Apa kamu tidak mau menyalami suamimu ini?"tanya Edward.


Lama Aya meyakinkan dirinya bahwa itu adalah nyata.Kemudian dia mengangkat tangannya dan menyalami Edward dengan takzim.


Edward pun menyambut tangan Aya untuk di kecup.Tangan kirinya dia usapkan ke kepala Aya dan mulutnya bergerak mengucapkan doa untuk istrinya itu.Lalu mengecup kepalanya lama,lalu dia mengangkat dagu Aya untuk melihat lebih dekat wajahnya.


Rona merah tampak terlihat di wajah Aya,ketika wajahnya dan wajah Edward begitu dekat.Karena sebelumnya dia tidak pernah sedekat itu,di miringkannya kepalanya menahan malu.


Tapi Edward kembali menegakkannya lagi.


"Kenapa membuang muka?"tanya Edward,dia tahu sebenarnya Aya malu.


Di belainya pipi Aya dengan lembut yang masih berwarna merah.Lalu tanpa di duga Edward menyambar bibir Aya dengan cepat.


Tentu saja Aya terkejut,dia mundur ke belakang.Menghindari Edward yang semakin gemas dengan tingkahnya.


Tapi Edward malah menggoda istrinya,dia naik ke ranjang dan maju mendekat ke arah Aya yang masih tegang karena ciuman tadi.


"Kenapa mundur hemm?"


"Kamu seperti itu,aku kaget."


"Mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan perlakuan seperti itu dariku."


"Kenapa begitu?"


"Karena aku suamimu,ingat aku suamimu dan kamu istriku.Paham?"ucap Edward menekankan sambil tersenyum gemas.

__ADS_1


Aya diam,dia menatap Edward masih tidak percaya.Kini Edward kembali menarik tangan Aya,dia letakkan di atas pahanya lalu dia merogoh jaketnya mengambil sebuah kotak cincin.


Dia ambil cincin itu lalu di sematkan ke jari manis Aya,kemudian tangan itu di ciumnya.Kemudian dia merogoh saku celananya untuk mengambil amplop berisi uang.


"Ini mahar kamu dan juga cincin ini juga.Terserah kamu mau di gunakan atau mau di simpan."ucap Edward kembali mencium tangan Aya.


Aya hanya diam,dia kini mulai menerima perlakuan Edward padanya.Kemudian Edward menarik istrinya untuk lebih dekat padanya dan memeluknya erat.


Jika dulu dia ingin memeluk Aya,namun terhalang mahrom.Tapi kini dia dengan leluasa dan sepuasnya memeluk Aya ,bahkan lebih dari itu halal baginya.


"Kemarilah,aku ingin memelukmu."ucap Edward.


Dengan ragu Aya beringsut mendekat pada Edward.Dengan cepat Edward memeluknya erat sekali,dan Aya dengan pelan membalas pelukan suaminya itu.


"Aku rindu kamu,sangat merindukanmu istriku."ucap Edward penuh dengan perasaan.


Aya yang mendengar ucapan Edward yang merindukannya semakin mengeratkan pelukannya,dia juga merasakan rindu yang teramat dalam selama ini.


"Aku juga."ucap Aya lirih nyaris tak terdengar.


Namun Edward mendengarnya walau sangat kecil,ternyata memang benar Aya sangat merindukannya dan mengharapkannya dia datang untuknya.


Lama mereka berpelukan,lalu Edward melepasnya dan menatap Aya dalam.Membelai pipinya kemudian beralih ke bibirnya di usap.


Perlahan wajah Edward mendekat,Aya diam namun masih dengan wajah tegang.Bibir Edward menempel ke bibir istrinya pelan,menunggu apakah ada penolakan dari Aya.Namun Aya masih diam dan memejamkan mata.


Edward pun tak membuang kesempatan,dia langung mengecap dan mengulumnya pelan.Belum ada balasan,tapi kemudian dengan instingnya Aya membalas ciuman Edward.


Pelan namun pasti,kini Aya bisa mengimbanginya.Edward semakin cepat dan terus mengulumnya hingga lidahnya dia masukkan ke mulut istrinya.


Aya mendorong dada Edward,dia kehabisan nafas.


"Emm,sudah."ucap Aya sedikit manja.


Edward pun menarik tubuhnya,tangannya masih menempel di pipinya.


"Kenapa?"lembut Edward bertanya.


"Aku kehabisan nafas."


"Hahaha,maaf.Kamu membuatku lupa segalanya."


"Aku mau lepas mukenaku dulu,sebaiknya kamu tutup mata."


"Hah?"


Wajah Aya kembali merona,dia lupa sekarang Edward adalah suaminya,lalu dia tersenyum canggung.


"Kamu bahkan sudah aku cium,kenapa aku harus tutup mata melihat seluruh wajahmu tanpa penutup."


"Aku malu."


"Duh gemas banget sih aku jadinya."


"Cepetan."


"Tidak mau!"


"Ish,ya sudah aku mau pakai ini terus."


"Silakan saja kalau tidak gerah.Lagi pula aku mau tidur di sini."


Edward menantang istrinya,tangannya bersedekap menatap Aya dengan intens .Aya yang di tatap seperti itupun kini pasrah.Memang benar,tadi dia sudah di cium.Lalu kenapa dia harus malu untuk membuka mukena yang sejak tadi menutupinya.


_


_


_


☆☆☆☆☆


\=> lanjut ya..?? 😉😊

__ADS_1


__ADS_2