Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
55.Makan Malam Bersama


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Edrick selesai,kini Edward akan pergi ke toko perhiasan mencari cincin dan kalung untuk Aya.Hanya sebagai hadiah lebih dahulu,nanti setelah kesepakatan dengan keluarga selesai,dan lamarannya pada Aya sama kyai Sobri sudah di setujui dia akan membeli lagi yang lebih bagus.


Waktu telah menjelang sore,dia kini sudah mendapatkan apa yang di cari.Saatnya pulang karena nanti malam Edrick akan datang berkunjung untuk memenuhi undangannya makan malam.


Sampai rumah,dia langsung di sambut oleh adiknya Sania dengan wajah ceria.Edward malas meladeni adiknya,dia bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan beristirahat.


Sania mengejar kakaknya itu,namun pintu sudah tertutup dan di kunci dari dalam.


"Ish,kak Edward kenapa sih.Aku kan cuma ingin tahu apa benar Edrick akan datang malam ini?"teriak Sania.


Yang di dalam kamar tanpa menggubris teriakan adiknya.


Sania lalu pergi ke ruang tamu,dia duduk dengan wajah di tekuk.Nyonya Karina menghampiri anaknya yang kembali menekuk wajahnya seperti tadi pagi.


"Kamu kenapa lagi?"tanya nyonya Karina mendapati anaknya seperti itu.


"Kak Edward ngga seneng banget kalau aku tanya tentang Edrick."jawab Sania bersungut-sungut.


"Nanti malam dia kan mau kesini,makan malam sama kita.Kamu tinggal tunggu saja orangnya."ucap nyonya Karina menasehati anak bungsunya yang kadang manjanya kelewatan.


"Ya kan mau memastikan saja,ma."


"Dia sudah pasti datang,tunggu tiga jam dari sekarang.Mama juga lama-lama kesal sama kamu."ucap nyonya Karina sambil berlalu menuju dapur untuk mengecek persiapan makan malam nanti.


_


Jam enam sore,pak Robert dan anak sulungnya Nicko pulang lebih awal.Mereka masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh istrinya.


Pak Robert memeluk istrinya dan mencium keningnya.


"Apa Edward sudah pulang sayang?"tanya pak Robert melangkah masuk ke dalam rumah di iringi istrinya.


"Sudah dari tadi,dia mungkin sedang sholat maghrib."jawab nyonya Karina.


"Ya sudah,papa juga mau mandi."ucap pak Robert melepas pelukannya pada istrinya.


Kemudian dia masuk ke dalam kamarnya sedangkan nyonya Karina menghampiri Nicko yang sedang duduk bersandar di sofa ruang tamu.


"Kamu ngga cape sayang?Bagaimana keadaan di kantor?"tanya mamanya ikut duduk di sebelah Nicko.


"Alhamdulillah sudah stabil ma,jika bukan karena papa mungkin perusahaan lama stabilnya.Aku memang harus banyak belajar dari papa."ucap Nicko.


"Ya,papamu memang hebat dalam segala hal.Mama saja mungkin yang kurang peka pada papa.Mama terlalu menutup mata dengan rangkaian kejadian di keluarga kita.Mama minta maaf sama kamu sayang,kamu banyak sekali berkorban."ucap nyonya Karina menatap anaknya sendu.


Dia menyesal dengan semua kejadian yang di alami Nicko,hingga dua kali di culik oleh adiknya sendiri.


"Sudah ma,jangan di ingat lagi.Aku sudah ikhlas kok,yang penting mama selamat dan pikirannya terbuka dan berbaikan sama papa."


"Terima kasih sayang,mama bangga punya anak-anak yang sangat menyayangi mama dan mengerti mama."ucap nyonya Karina.


Dia memeluk anaknya erat,karena Nicko yang paling di rugikan.


_


Waktu beranjak dengan cepat,sekarang sudah pukul tujuh malam.Makan malam bersama sahabat Edward dengan keluarga Edward sudah di siapkan sejak tadi.


Edward masih betah di dalam kamar,dia belum beranjak dari tempat duduknya di kursi untuk memeriksa semua laporan dari Edrick.


Tak berapa lama,pintu di ketuk dari luar.

__ADS_1


Tok tok tok


"Ya masuk."ucap Edward masih setia dengan laporan berkas perusahaannya.


Pintu terbuka,muncul perempuan paruh baya dengan masih kelihatan cantik dan berwibawa.Dia mendekati anaknya yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Kamu belum selesai?"tanya nyonya Karina pada Edward.


"Sebentar lagi ma,ada apa? Apa Edrick sudah datang?"tanya Edward.


"Belum,memang rencananya jam berapa dia datang?"


"Aku mengundang dia makan malam,jadi mungkin sebentar lagi datang."ucap Edward.


Sania masuk ke kamar Edward,dia terlihat lebih siap untuk bertemu dengan seorang pacar yang akan berkunjung.Baik Edward dan nyonya Karina memandang Sania yang terlihat berbeda.


Sania yang di perhatikan oleh ibu dan kakaknya itu terlihat santai,malah lebih terlihat percaya diri.


"Bagaimana ma,penampilanku malam ini?"tanya Sania pada mamanya.


"Kamu terlihat aneh,hanya makan malam di rumah kok dandannya berlebihan."ucap Edward sebelum mamanya menjawab pertanyaan Sania.


"Biarin,kak Edward usil aja sih."ucap Sania menimpali ucapan kakaknya.


Tok tok tok


Pintu di ketuk,walau terbuka.Ketiga orang yang sedang berdebat kecil itu menoleh ke arah pintu secara bersamaan.


"Maaf nyonya,tamunya sudah datang ada di ruang tamu bersama tuan besar."ucap mbok Darmi memberitahu majikannya.


"Ya nanti aku kesana,mbok."ucap Edward.


Dan yang lebih bersemangat adalah Sania,dia langsung keluar kamar Edward untuk menemui Edrick.Nyonya Karina hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah anak gadisnya itu.


"Sepertinya begitu."


"Kalau sekedar untuk bersenang-senang dan berteman mama tidak keberatan.Tapi jika untuk lebih serius,mama kurang setuju Ed."ucap nyonya Karina.


"Aku setuju dengan pemikiran mama,dia beda keyakinan dengan kita.Nanti aku pelan-pelan kasih tahu Sania,untuk saat ini biarkan menikmati perasaannya dulu."ucap Edward bijak.


Dia juga tidak mau akan terjadi perbedaan seperti itu.Bukan berarti dia tidak suka Edrick,tapi dia tidak akan memaksa keyakinan seseorang karena itu adalah prinsip.


Jalan satu-satunya adalah memberi pengertian adiknya agar mau mengerti,banyak sekali perbedaan budaya dan keyakinan walau itu ada pada beberapa orang tidak jadi masalah.Tapi sekali lagi,keyakinan itu adalah primsip maka tidak bisa di ubah oleh pengaruh orang lain atau di paksakan.


Dan akhirnya Edward keluar dari kamarnya untuk menemui sang sahabat.Di sana sudah berkumpul kedua orang tuanya,Sania juga Nicko.Mereka berbicara santai dan kadang sedikit bercanda.


Ternyata,Edrick sangat menyenangkan dan sopan.Dia pandai beradaptasi dan menghormati orang yang lebih tua.


Edward menyapa mereka dan bergabung bersama untuk sekedar bercanda dan bercerita.Setelah semua merasa lapar,akhirnya mereka menuju ruang makan yang sudah tersaji berbagai macam makanan.


"Apa kamu suka makanan Indonseia?"tanya Nicko pada Edrick.


"Ya sedikit suka,walau kadang masakan Indonesia itu pedas tapi saya suka."jawab Edrick.


Nicko mengangguk-anggukkan kepala.Nicko duduk di samping Edward sedangkan Sania duduk di samping nyonya Karina di sebelah kiri dan sebelah kanan Edrick.Pak Robert duduk di tengah.


Mereka semua siap menyantap hidangan yang tersaji sebelum pak Robert memimpin doa,sedangkan Edrick di persilakan berdoa sesuai keyakinannya.


Setelah selesai,seperti sepasang kekasih Sania mengambilkan makanan untuk Edrick yang tentu saja makanan yang di sukainya.Karena di Inggris juga Edrick pernah makan di restoran orang Indonesia yang tentu isinya masakan khas Indonesia.

__ADS_1


Dia suka masakan rendang khas padang juga suka gado-gado.Mungkin jika orang luar negeri bilang itu salad sayur dengan saus kacang.Tapi di meja makan di hadapannya ada yang berbeda,yaitu sate dan tongseng.


Mbok Darmi pandai sekali membuat tongseng daging kambing,hampir semua penghuni rumah menyukai tongseng buatan mbok Darmi.


Edrick rupanya penasaran dengan daging berkuah kuning kemerahan itu,karena di kasih sedikit cabai merah.


Dia menyenggol lengan Sania,Sania pun menengok ke arahnya.


"Apa ada yang kau inginkan?"tanya Sania.


"Ya,aku penasaran dengan masakan daging berkuah itu."ucap Edrick.


Baik Edward dan Nicko melihat interaksi Sania dan Edrick begitu dekat.Nyonya Karina juga melirik ke arah kedua orang tersebut.


"Apa yang kamu inginkan,Edrick?"tanya Edward sedikit terganggu dengan kedekatan mereka yang makan.


"Aku penasaran dengan daging berkuah itu.Apa boleh aku mencicipinya?"tanya Edrick seolah tahu jika Edward merasa terusik.


"Kenapa tanya nak Edrick,tinggal ambil saja.Edward itu kadang begitu jika sedang makan bersama keluarga."ucap nyonya Karina melirik anaknya.


"Ah ya,ngga apa tante.Saya yang kurang sopan."


"Sania,tolong ambilkan tongseng buat Edrick."


"Iya ma."


Lalu Sania mengambil tongseng beberapa sendok di piring Edrick.Niatnya tadi juga dia mau mengambilkan tongseng buat Edrick,tapi rupanya kakaknya menatap Sania tajam.


Entahlah,Edward kenapa jadi sensitif jika berhubungan dengan Sania.Mungkin dia khawatir Sania benar-benar jatuh cinta dengan sahabatnya itu.


Lama mereka makan malam dengan serius,tidak banyak yang di bicarakan di acara makan malam itu.Namun ketika semua selesai makan,mereka kembali ke ruang tamu.


Edward mengajak Edrick ke teras depan untuk mengobrol,dia merasa tidak enak dengan sikapnya tadi di meja makan pada Edrick.


Edward dan Edrick duduk bersebelahan di kursi teras,memandang gelapnya malam hari yang terasa sunyi.


"Maaf atas sikapku tadi."ucap Edward tulus.


"I'ts oke,aku paham.Mungkin kamu masih tidak percaya padaku tentang adikmu."kata Edrick yang memahami akan pembicaraan Edward tadi.


Jika dia tadi tidak meminta pada Sania,mungkin Edward tidak seperti itu.Dia laki-laki yang hangat,namun akan berubah tegas dan protektif dengan adiknya.


"Bukan aku menghalangi hubungan kalian yang mulai pendekatan,tapi antara kamu dan adikku banyak perbedaan.Aku harap kamu mengerti itu."ujar Edward.


Padahal tadi di hotel dia memberi salam atas nama adiknya,tapi kenapa sekarang dia lebih protektif.Dan Edrick paham akan hal itu,mungkin bagi Edrick tidak masalah jika dia di batasi sekarang,karena belum terlalu dekat dan jauh.


Tapi Sania,dia akan lebih agresif jika orang yang dia sukai menanggapinya.Sania adalah tipe orang yang jika di beri harapan,maka dia akan mengejarnya sampai dapat.Tapi jika di tanggapi biasa saja,dia akan mundur teratur.


Obrolan demi obrolan terus bergulir sampai larut,hingga Edrick maupun Edward tidak sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


Tentu saja Sania sangat kesal dengan kakak keduanya itu,dia tidak di beri kesempatan ngobrol berdua dengan Edrick.Hingga Edrick berpamitan untuk kembali ke hotelnya menginap.


Edward dan Sania mengantar sampai halaman depan,Sania sebenarnya kecewa namum hari sudah sangat larut sehingga Edrick harus kembali ke hotelnya.


_


_


_

__ADS_1


☆☆☆☆☆


\=> tetap dukung othor ya..😉😊✌🙏🙏


__ADS_2