
Edward kini di rawat di rumah sakit untuk di operasi pengambilan peluru yang bersarang di pinggangnya karena menyelamatkan Aya dari tembakan.
Kini Edward sudah bisa duduk,dan sudah satu minggu dia di rumah sakit.Besok rencananya keluar dari rumah sakit.
Sekarang Nicko kembali ke perusahaan propertinya,sedangkan perusahaan di bidang tekekomunikasi masih di pegang oleh pak Dori juga Emil.
Edward tinggal pemulihan saja,namun dia tetap ingin keluar dari rumah sakit.
"Tuan muda,apa anda ingin kembali ke Inggris?"tanya Emil.
Karena perusahaan sudah kembali pada Nicko,dia bisa kembali mengurus perusahaannya di Inggris.
"Aku belum tahu,tapi kita harus menuntaskan masalah keluargaku dulu.Bagaimana kamu sudah mencari tahu dalang penculikan kak Nicko?"tanya Edward pada Emil.
"Masih di selidiki tuan muda."
"Apa rencana kita selanjutnya?"
"Apa anda setuju jika tawanan kita waktu itu kita lepas?"
"Maksudmu?"
"Saya hanya mencari bukti akurat tuan muda,jika hanya prasangka saja.Kita akan kewalahan menghadapi saudara anda.Karena rekan bisnisnya banyak yang pengacara.Kemungkinan jika saudara anda di tuntut,rekan-rekannya akan bergerak menjatuhkan anda tuan muda."
Edward menarik nafas panjang.Memang rumit masalahnya,penyelamatan kakaknya ternyata tidak membuahkan informsai yang akurat.
"Berarti kita harus lebih cerdik lagi."ucap Edward.
Dia tampak berpikir,kemudian dia ingat ketika penculikan Aya.Dalangnya adalah pak Imron,dia bilang saudaranya yang ingkar janji.Berarti pak Imron tahu banyak tentang Reynald juga om Hendro.
"Emil,aku ingat dulu pak Imron.Dia bilang saudaraku ingkar janji.Mingkinkah itu Reynald?"
"Bisa jadi tuan muda.Kita bisa cari informasi pada pak Imron,tapi kita harus ekstra mencarinya."
"Kamu benar,kita harus mencarinya sampai ketemu."
"Bagaimana dengan kabar papa?Apa beliau sehat-sehat saja?"
"Anda bicara apa tuan muda?"tanya Emil berusaha mengelak.
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu lagi,Emil.Telingaku sangat normal ketika kamu berbicara di telepon tadi malam dengan papaku."ucap Edward tajam.
Emil diam,dia hanya tidak mau kalau benar tuan besar masih hidup,Edward maupun Nicko akan melibatkan tuan besar lagi.Seperti janjinya pada tuan besar,dia akan menjaga Edward agar tidak lepas emosinya.
"Anda jangan khawatir,makam tuan besat sudah saya bersihkan dari rumput liar."
"Heh,baiklah kalau kamu tidak mau berterus terang.Kamu jangan khawatir,aku tidak akan berbuat di luar kuasaku.Lagi pula aku ingin secepatnya ini selesai.Aku akan ke pondok pesantren lagi untuk menemui Aya."nada Edward lirih.
Sejak dia di operasi dan sampai saat ini,dia belum memberi kabar pada Aya.Apa kabarnya dia?tanya Edward dalam hati.
"Kita harus cari pak Imron,sebelum mereka mendapatkan pak Imron atau menghabisinya untuk menghilangkan jejak."
"Benar.Apa perlu aku ke pondok pesantren lagi?"tanya Edward.
"Untuk apa tuan muda?"
"Aku ingin bertemu Aya.Aku rindu padanya."kali ini Edward tidak lagi menyembunyikan perasaannya pada Aya di depan Emil.
"Kalau menurut saya tuan muda,sebaiknya jangan.Saya takut nona Aya akan di incar kembali setelah kejadian anda kemarin.Saya yakin tuan Reynald tahu tentang kedekatan anda dengan nona Aya."
Edward kembali menarik nafas panjang,dia tidak tahu harus bagaimana.Dia diam memejamkan mata,menahan rasa rindunya yang mendalam.Sejak bertemu dengannya di tempat penyekapan Aya,Edward benar-benar sangat senang,namun kini harus berpisah lagi.
"Aku aka tulis surat buatnya,bisa kamu sampaikan padanya?Setelah itu aku akan selesaikan semuanya."kata Edward pada Emil.
__ADS_1
"Ya tuan muda.Nanti pengawal kita akan menyampaikannya,atau bisa melalui pos saja."kata Emil memberi pilihan.
"Ya biarlah,aku akan coba dengan kirim melalui pos.Ku pikir mencoba cara berkomunikasi lewat surat akan terasa seperti jaman mama remaja dulu."kata Edward,dia tersenyum sendiri.
Sangat lucu,di jaman canggih begini untuk menyampaikan informasi masih harus pakai cara kirim surat.Tapi tidak masalah,kenangan akan selalu tersimpan di hati dengan berwujud surat.
"Anda sudah siap melawan saudara anda sekarang tuan muda?"tanya Emil meyakinkan Edward.
Edward hanya tersenyum miring,dia kira dirinya terlalu pengecut akan menghadapi semua masalah keluarga.
"Kamu seperti paman Dori yang baru tahu tentang diriku,Emil."cibir Edward.
Emil hanya tersenyum saja,sejujurnya bukan dirinya yang seperti ini.Tidak memahami tuan mudanya.
"Anda terlalu memahami saya tuan muda.Kita terlalu lama untuk tidak mengenal satu sama lain."
"Kupikir otakmu sudah jauh meninggalkanku,termyata hanya terpaku karena keadaan.Baiklah ayo kita tuntaskan semuanya."
Emil hanya tersenyum saja,memberi isyarat mata tanpa menganggukkan kepala.
_
Setelah keluar dari rumah sakit,Edward dan Emil berusaha terus mencari bukti dan satu bukti yang sangat akurat adalah pak Imron.Kini Edward sedang mengejar pak Imron.
Kabar terakhir dari pengawalnya yang mencari informasi ada di kota yang agak jauh dari kota tempat Edward tinggal.
Sehingga akan sulit lagi untuk mencarinya.Emil kembali melaporkan hasil pencariannya pada Edward.
"Tuan muda,pak Imron yang di maksud berada jauh dari kota ini.Apa kita akan mencari terus sampai dapat?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?Tentu saja harus dapat pak Imron dan menangkapnya.Dia adalah satu-satunya kunci dari kejahatan om Hendro dan Reynald."
"Baik tuan muda.Tapi kita butuh banyak pengawal untuk mencarinya,karena kota itu besar.Setiap sudut kota kita harus mencarinya."kata Emil.
"Masih dalam proses tuan muda.Mungkin sedikit melambat karena saya harus menyelesaikan urusan dulu di sini."jawab Emil.
"Tolong kamu selesaikan secepatnya,untuk urusan di sini biar aku yang tangani.Besok kamu berangkat saja kesana,sekalian aku titip surat buat Aya."kata Edward lagi.
Emil diam,dia memandang majikannya yang biasa saja.Bukankah tuan muda sedang gundah?kenapa wajah itu terlihat biasa saja.'pikir Emil.
Namun demikian,dia tidak mau mencampuri urusan hati tuan mudanya.Biar dia selesaikan sendiri.
"Emil,apa kamu dengar?"
"Baik tuan muda,saya akan kesana besok."
"Bagus,besok pagi aku kasih suratnya ke kamu.Jangan katakan apapun pada Aya tentang kesehatannku,beri informasi yang akurat tentang Aya setelah kamu nanti kembali kesini."kata Edward lagi.
"Baik tuan muda.Kalau begitu saya permisi dulu."
Emil keluar dari kamar Edward,dan nyonya Karina masuk kedalam.Dia memandangi putra keduanya yang sedang berdiri di balkon.
"Ed sayang,apa lukamu masih sakit?"tanya nyonya Karina.
Edward menoleh,dia menghampiri mamanya itu.Lalu memeluk pundaknya.
"Ngga ma,sudah lebih baik kok.Mama jangan khawatir."kata Edward.
"Mama senang Nicko kembali,tapi mama jadi sedih melihat kamu seperti ini."kata nyonya Karina memegang pinggang yang di balut perban itu.
"Auw"jerit Edward,dia agak meringis.
"Sayang,maafkan mama.Mama tidak tahu kalau lukamu sangat parah."ucap nyonya Karina cemas,menatap anaknya yang sudah kembali semula.
__ADS_1
"Ngga apa-apa ma,hanya sedikit saja.Mungkin tadi yang mama pegang itu pusat sakitnya."kata Edward menenangkan mamanya.
"Kamu kenapa bisa tertembak begini?Sebenarnya apa yang sedang kamu alami,Ed?"tanya nyonya Karina.
Dia tidak habis pikir dengan anaknya,dulu kakaknya pulang ke rumah kenapa tidak ikut pulang juga.Pada akhirnya seperti itu lagi.Kini nyonya Karina terisak,menatap anaknya yang masih berusaha tenang.
"Mama kenapa menangis?Aku sudah tidak apa-apa."tanya Edward heran.
Dia menghapus air mata yang mengalir di pipi mamanya dengan lembut.
"Mama hanya khawatir,setelah papamu tidak ada,kakakmu juga di culik.Lalu kamu,pulang dalam keadaan hampir kritis dan harus di operasi pengambilan peluru.Orang tua mana yang tidak sedih melihat kedua anaknya selalu dalam bahaya.Hik hik hik."ucap nyonya Karina,dia memeluk anaknya erat walau di bagian pinggang Edward dia longgarkan.
"Jangan sedih ma,semua akan baik-baik saja.Kak Nicko sudah mulai bekerja lagi,sekarang aku pulang.Pada saatnya kita nanti akan berkumpul kembali ma."kata Edward mengusap punggung mamanya.
"Kalau kamu sudah sembuh,apa kamu akan kembali ke Inggris?"tanya nyonya Karina.
"Aku belum tahu ma,ada yang harus aku selesaikan di sini juga ada seseorang yang sedang menungguku."ucap Edward
Nyonya Karina menatap anaknya lekat.Merasa ada yang aneh dengan ucapan anaknya itu.
"Apa kamu menyukai seorang perempuan?"tanya mamanya curiga.
"Kalau iya,apa mama akan merestuiku untuk meminangnya?"
"Apa kamu mencintainya?"
"Aku sangat mencintainya.Tapi..."
"Tapi apa?"
"Dia bukan orang seperti kebanyakan.Dia miskin juga bukan perempuan gaul atau sosialita.Dia mempunyai agama bagus juga taat pada Tuhannya ma."
Nyonya Karina terdiam,dia menatap anaknya kembali lekat.Dia melihat di mata anaknya ada binar kebahagiaan membicarakan perempuan itu.
"Jika dia baik untukmu kenapa tidak.Mama hanya ingin kamu bahagia.Dan jika perempuan itu membuatmu bahagia,suntinglah dia dan bawa kemari."
"Nanti mah,belum saatnya aku membawanya kemari.Lagi pula aku belum berkomitmen dengannya.Tapi sesegera mungkin aku akan melamarnya setelah masalah yang kita hadapi selesai."
"Kamu mau mencari siapa lagi?"
"Aku masih penasaran dengan orang yang menculik kak Nicko ma,sampai kapanpun akan aku temukan.Karena aku yakin dia adalah orang yang sangat dekat dengan keluarga kita."
"Kamu mencurigai om Hendro?"
"Salah satunya,tapi mama jangan pernah membuat mereka tahu.Biar Edward dan Emil yang mengurus semuanya."
"Tapi om Hendro tidak seburuk yang kamu kira sayang.Dan tidak mungkin dia berbuat jahat pada keluarga kakak kandungnya."ucap nyonya Karina masih tidak percaya adiknya akan berbuat jahat pada keluarganya.
"Semoga dugaan mama benar.Sudah ya ma,jangan ikut memikirkan itu.Mama bersenang-senanglah dengan tante Septa."
Nyonya Karina mendengus kesal,kembali dia menatap anaknya itu.Kemudian menghela nafas panjang.
"Ya sudah kamu jaga baik-baik ya.Mama ngga mau kamu berpikiran buruk dengan keluarga om Hendro."
"Iya ma."kata Edward mengakhiri perdebatan dengan mamanya masalah om Hendro.
_
_
_
☆☆☆☆☆
__ADS_1