Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
26.Siapa Kamu Sebenarnya?


__ADS_3

"Apa yang harus kita lakukan,tuan muda?"tanya Emil.


Setelah mendengar penuturan pengawalnya itu,Edward diam sambil berpikir.Emil tahu majikannya itu sedang menyusun rencana selanjutnya.


"Kita tunggu dua malam,dan kamu suruh pasukanmu untuk menambah pengawalan ketat di sekitar hutan jati.Jika ada yang mencurigakan,laporkan dan kita harus bergerak kesana.Tapi dengan hati-hati.Aku tidak mau mereka mengetahui tentang pengepungan hutan itu."kata Edward.


Emil mendengarkan dengan seksama ucapan majikannya itu,memang harus bergerak cepat.Jika bisa,malam ini juga harus di kepung,tapi tidak mungkin karena jarak desa ini ke kota itu cukup jauh.


"Apa tidak nanti malam saja tuan muda?Saya takut mereka tahu dan langsung kabur dari hutan."kata Emil mengusulkan.


"Apa kekuatan pengawal kita bisa langsung kesini hari ini?"tanya Edward lagi.


Emil tampak berpikir,apa sebaiknya dia membawa pengawal-pengawal itu dengan helikopter ya?Tapi akan mengundang banyak pertanyaan dari warga sekitar,juga akan menimbulkan kecurigaan pada mereka di hutan.


"Kamu akan berpikir membawa mereka naik helikopter?"tanya Edward yang langsung membaca pikiran Emil.


"Ya tuan,saya pikir lebih baik membawa mereka dengan helikopter.Tapi sepertinya akan sulit dan banyak mengundang curiga bagi mereka."jawab Emil.


Keduanya berpikir bagaimana caranya tempat itu di kepung dengan cepat,agar orang-orang yang ada di sana tidak bisa kabur.


"Aku ke pondok dulu,kamu siapkan nanti malam.Aku ingin tahu keberadaan kak Nicko,apa benar ada di sana."kata Edward pada Emil.


"Oya,proyek itu lanjutkan terus.Aku mau di desa ini ada sambungan telekomunikasi dengan baik.Secepatnya kamu rampungkan proyeknya."kata Edward lagi.


Emil mengangguk dan membungkuk ketika tuannya melangkah pergi.


Mungkin saatnya dia membuka identitasnya pada Aya.Atau biarkan saja dia menebak dan bertanya sendiri,dan dia akan menjawabnya seperlunya.


_


Kini Edward sudah ada di kamarnya,berbaring dengan kedua tangannya menjadikannya bantal.Menatap langit-langit kamar,entah apa yang dia pikirkan.


Bayu masuk ke dalam kamar,melihat Edward sedang menatap langit-langit kamar seraya melamun.


"Kamu memikirkan apa?"tanya Bayu yang sedang membuka lemarinya dan mengambil sesuatu.


"Ngga memikirkan apa-apa."jawab Edward masih menatap ke atas.


"Kamu sering keluar pondok,apa ada masalah serius?"tanya Bayu lagi.


"Tidak,aku hanya bertamu di rumah sahabatku.Dia mengontrak di belakang pondok pesantren ini.Dia sedang punya pekerjaan di sini,jadi kupikir menemaninya lebih baik."


"Oh.Oya,kemarin Aya mencarimu.Apa kamu tahu?"tanya Bayu.


Edward terlonjak duduk,dia menatap Bayu dengan lekat.Mencari kebenaran di matanya.


"Benarkah?"


"Iya,sepertinya ada yang penting."


Edward menunduk,lalu dia menghela nafas berat.Apa harus sekarang memberi tahunya?


"Ada apa?"tanya Bayu heran.


"Ngga apa-apa.Nanti sore aku ke rumah Aya."


Lalu dia memejamkan mata,mencoba untuk tidur siang karena siang ini tidak ada kegiatan apapun di pondok.


Tapi pikiran Edward masih pada cerita pengawalnya,mengenai tawanan di rumah di hutan jati itu.


Benarkah dia kakaknya?Dan pengawal itu menyebut ada perempuan yang sakit,mungkinkah Mentari,adik dari Bayu?


Dia benar-benar penasaran dengan semuanya.Tapi apakah orang-orang itu bersenjata api?Ya,mungkin saja mereka bersenjata api.

__ADS_1


Edward membuka matanya kembali,dia berpaling ke arah Bayu yang sedang membaca buku.


"Baca buku apa?"tanya Edward.


"Buku terjemahan kitab."jawab Bayu.


"Kitab apa?"tanya Edward lagi.


Bayu menatap Edward lalu tersenyum,dia berikan bukunya pada Edward.


Edward mengambil bukunya lalu membaca sampul depan,terjemah Qurrotul 'uyyun.Dia mengernyitkan dahi,lalu mengembalikan bukunya pada Bayu.


"Tentang apa isinya?"tanya Edward lagi.


"Kamu ngga mau baca? buku ini menarik untuk kaum laki-laki."kata Bayu.


"Coba jelaskan secara singkat isinya,jika menarik aku coba baca."ujar Edward dengan malas,sebenarnya dia hanya sekedar bertanya pada Bayu agar tidak sunyi padahal ada orang di dalam kamarnya.


"Ini tentang pergaulan suami istri di ranjang menurut islam.Apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan oleh pasangan suami istri ketika bersenggama."jelas Bayu.


Edward bangkit dari tidurnya,dia mendengarkan keterangan Bayu tentang buku yang dia baca.


"Apa harus ada aturannya? Biasanya suami istri kalau sudah punya hajat langsung saja tancap gas.Memang tidak memakai aturan?"


"Aku tidak tahu,soalnya aku belum menikah.Apa kamu...?"Bayu tidak meneruskan kalimatnya.


"Aku masih suci,ngga pernah berpikir ke arah sana,lagi pula bagiku berhubungan dengan pasangan yang sah itu lebih nikmat,tidak memikirkan beban apapun."kata Edward.


Dia tahu Bayu mengira bahwa dirinya pernah melakukan hal yang di larang.


"Maaf,aku tidak bermaksud seperti itu."kata Bayu,dia senang Edward yang terlihat seperti orang kota kebanyakan,tapi tidak di sangka malah menjaga kehormatan dan harga dirinya.


"Ya ,aku tahu.Kamu berpikir sepeti itu juga karena aku datang dari kota.Ya memang banyak sekali yang suka padaku,tapi aku tidak pernah menanggapinya.Kamu percaya kalau aku itu tidak pernah pacaran dan tidak punya pacar?"


"Hahaha,sejujurnya dulu aku tidak percaya kalau kamu itu tidak punya pacar,tapi kamu mengatakannya sendiri.Aku percaya."kata Bayu sambil tersenyum.


Dia hanya ingat bahwa perempuan itu adalah mamanya juga adiknya,jika dia berbuat merusak harga diri seorang perempuan satu-satunya yang di miliki,berarti dia telah menyakiti mamanya dan adiknya juga.


"Sudah masuk waktu asar,ayo kita sholat berjamaah."ucap Bayu.


Lalu Edward pun beranjak dari tempat tidurnya menyiapkan peralatan sholatnya.


_


Sesudah sholat asar berjamaah,Edward bersiap untuk ke rumah Aya.Karena hari ini Aya juga tidak mengajar,maka dia akan ke rumahnya.


Dia ke rumah kontrakan pengawal di mana Emil juga menginap di sana.Dia akan meminjam motor untuk pergi kesana.


"Mana kunci motor?"tanya Edward pada pengawal yang sedang membuat kopi.


"Ada tuan muda,sebentar saya ambil."


Lalu pengawal itu mengambil kunci motor yang dia simpan di laci lemari.


"Ini tuan muda."


Edward menerima kunci motor itu,kemudian dia berbalik lagi.


"Emil belum pulang?"


"Belum tuan muda,tuan Emil masih mengurus proyek yang sebentar lagi di kerjakan."


"Baguslah.Jangan lupa,kalian mengintai dan berjaga kembali di hutan jati itu.Jangan bergerak,tapi perhatikan gerak-gerik semua orang-orang di sana."

__ADS_1


"Baik tuan muda."


Kemudian Edward menuju motor yang terparkir di depan rumah,menyalakan mesinnya dan langsung melaju menuju rumah Aya.


_


Sampai di depan rumah Aya,terlihat sepi.Edward memarkirkan motornya seperti biasa di bawah pohon mangga.


Dia melangkah ke rumah Aya dan berhenti tepat di depan pintu,lalu mengetuknya.


Tok tok tok


Edward mengetuk pintu pelan.Tak lama pintu terbuka dan muncullah Aya yang masih menggunakan mukenah.


"Halo Ay,apa kabar?"tanya Edward basa basi.


Aya mendesah panjang lalu dia menyuruh Edward masuk,karena dia tidak enak dengan tetangga yang membicarakannya tentang Edward.


"Kamu baik?"tanya Edward lagi karena Aya tidak menjawab pertanyaannya.


"Ya,kenapa?"jawab Aya singkat.


"Ngga apa-apa,aku pengen tahu kabar kamu saja."masih berbasa basi.


"Duduklah,aku melepas mukenah dulu."


Kemudian Aya meninggalkan Edward yang duduk di kursi panjang di mana pengawalnya dulu tertidur di kursi itu.


Tak lama Aya kembali lagi sambil membawa minuman wedang jahe yang dia buat untuknya karena merasa dia kurang enak badan.


"Minuman apa itu?"tanya Edward merasa aneh dengan penampilan air dalam gelas itu.


"Ini wedang jahe,baik untuk tubuh yang kurang sehat.Kamu pernah mencicipi ini?"tanya Aya.


"Aku baru dengar namanya,yang ku tahu hanya jamu saja."


"Ini tidak pahit.Minumlah."kata Aya.


Edward menatap Aya,Aya mengangguk.Lalu dia mencoba menyeruput pelan wedang jahe tersebut.Dia meresapi rasanya,dan ternyata dia suka.Dia lalu menyeruput kembali wedang jahe itu hingga tersisa setengah.


"Enak Ay,kamu pandai membuat ramuan jamu."kata Edward.


"Hahaha,itu bukan ramuan jamu.Hanya jahe yang di masak dengan gula merah di tambah batang serai,kalau mau lebih pedas bisa di tambah merica bubuk.Lebih hangat rasanya,di tubuh juga hangat dan segar."jelas Aya.


Edward memandang Aya yang tertawa renyah,entah mengapa dia suka Aya tertawa.Kemudian dia ikut tertawa kecil.


"Tapi beneran ini enak sekali.Bisa kamu buatkan aku seperti ini jika kamu berangkat mengajar di pondok?"pinta Edward.


Aya tersenyum,lalu dia mengangguk.


"Insya Allah,kalau tidak terburu-buru."


"Aku akan jemput kamu pakai motor,biar kamu tidak terburu-buru."


Aya diam,dia menatap Edward.Dia teringat kemarin ketika Edward ke rumahnya menjelang petang.Dia bertemu laki-laki yang dia obati dan laki-laki itu memanggilnya tuan muda.Aya ingat betul laki-laki itu memanggil Edward tuan muda.Siapakah dia?pikir Aya.


"Ed,siapa kamu sebenarnya?"


_


_


_

__ADS_1


☆☆☆☆


\=> 😉😊🙏🙏


__ADS_2