Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
95. Tak Bisa Menahan


__ADS_3

Emil kini sudah kembali lagi ke Inggris untuk menyelesaikan pekerjaannya bersama Edward serta membawa asisten baru yang akan menggantikannya nanti.


Namun Sania tidak di perbolehkan ikut oleh pak Robert pergi ke Inggris dengannya.


"Tuan muda,saya membawa pengganti saya di sini. Anda bisa memberinya perintah padanya saat ini juga."kata Emil ketika Edward sudah sampai di kantor.


"Oh,benarkah? Mana dia suruh dia masuk."pinta Edward.


Lalu Emil memanggil Melky untuk masuk ke dalam ruangan Edward.


Melky memberi hormat pada Edward dengan membungkukkan setengah badannya.


"Selamat pagi tuan muda."sapa Melky sopan.


"Ya,selamat pagi. Oh ya siapa namanya?"


"Melky tuan muda."jawab Emil.


"Ah ya,Melky kamu sekarang bisa ikut apapun dan mengerjakan apapun mulai sekarang sesuai pengarahan dari Emil. Karena dia yang akan membantumu saat ini sampai waktunya Emil pulang ke Indonesia."kata Edward.


"Baik tuan muda."jawab Melky.


"Kamu harus bekerja keras untuk saat ini,karena banyak sekali yang harus di kerjaan."kata Edward lagi.


"Siap tuan muda. Saya akan bekerja lebih baik."


Lalu ketiganya mulai bekerja,tapi Melky bekerja sesuai arahan dari Emil.


"Oh ya Emil,klien dari Jerman apa sudah menghubungimu setelah dapat feedback dari kita?"tanya Edward pada Emil.


"Belum tuan muda. Tapi mungkin mereka mengirim melalui email,saya belum memeriksa email hari ini. Saya akan segera memeriksanya"kata Emil.


Lalu Emil membuka laptopnya untuk melihat email yang masuk di emailnya. Sejenak Emil memperhatikan karena banyak sekali email yang masuk.


"Belum masuk tuan muda. Mungkinkah mereka membatalkannya?"


"Ya sudah biarkan saja,mereka tidak serius untuk bekerja sama dengan kita. Kita cari yang benar-benar mau bekerja sama dengan kita."kata edward.


Sementara Melky memeriksa berkas-berkas yang masuk pagi ini.


"Oh ya,nanti setelah makan siang kamu ajak Melky untuk mengenalkan pada karyawan di sini."


"Sebagian sudah saya perkenalkan pada karyawan,hanya bagian staf belum saya perkenalkan pada mereka tuan muda."


"Emm."


Telepon masuk dari line sekretaris.


"Ya Emilia,ada apa?"tanya Edward.


"Perusahaan dari Jerman ingin bicara dengan anda tuan di telepon."


"Sambungkan ke sini."


"Baik tuan Edward."


Emil menatap Edward yang sedang berbicara dengan kien yang di Jerman,beberapa saat lalu Edward menanyakan pada Emil.


Cukup lama Edward berbicara,lalu dia mengakhiri dengan kesepakatan bersama.

__ADS_1


"Emil,mereka tadi menelepon untuk melanjutkan kerjasama dengan kita. Dua hari lagi kita akan ke Jerman,karena mereka ingin kita yang datang kesana. Siapkan berkas kerjasama kita dengan mereka."kata Edward.


"Baik tuan muda."jawab Emil.


Lalu Edward mengambil ponselnya untuk menghubungi istrinya.


_


Dua minggu Emil sudah di Inggris,dia mempersiapkan segalanya untuk Melky kerjakan. Untungnya Melky cukup tanggap dan cerdas menanggapi apa yang di katakan dan di perintahkan Emil dan Edward padanya. Sehingga Emil maupun Edward tidak perlu lama lagi memberitahu Melky apa tugas dan pekerjaannya.


Emil pernah dua hari melepas Melky untuk bekerja sendiri dengan Edward,dan memang dia bisa di andalkan.


Malam ini Edward pulang terlambat karena dia harus menyelesaikan pekerjaannya di kantornya.


Aya sedang menyiapkan makan malam untuk suaminya. Lalu beberapa menit kemudian pintu terbuka,dan terlihat Edward masuk dengan wajah lesu. Aya heran kenapa suaminya itu datang wajah lesu dan terlihat kusut.


Dia kemudian menghampiri suaminya dan memcium tangannya,membelai wajah suaminya yang terlihat lelah.


"Kenapa bie,kok lemas banget kelihatannya."tanya Aya.


Dia menarik suaminya untuk duduk di sofa terlebih dahulu.


"Tidak tahu sayang,padahal di kantor pekerjaan tidak banyak. Tapi kok rasanya lemas ya."kata Edwrd,kepalanya dia sandarkan di pundak istrinya.


Entah kenapa Edward sedikit manja hari ini. Sejak tadi pagi dia juga enggan untuk pergi kerja kalau tidak di telepon Emil.


"Lho kok aneh sih."kata Aya.


"Sayang,kita ke kamar yuk."


"Ish,jadi karena itu kamu uring-uringan?"


Edward tersenyum lebar,menampakkan giginya. Dan tanpa pikir panjang dia menyambar bibir istrinya dengan lembut,mungkin benar dia belum dapat jatah tadi malam karena dia sudah tidur terlebih dahulu.


Edward menggendong Aya dengan ala bridal tanpa melepas ciumannya pada Aya,sedangkan tangan Aya sudah melingkar di leher suaminya.


Sampai di kamar,Edward langsung membaringkan Aya. Mereka masih bercumbu sampai gairah semakin memuncak.


"I love you,sayang."ucap Edward menatap Aya dengan lembut.


"I love you too,bie."jawab Aya,senyumnya merekah.


Kembali Edward meraup bibir istrinya dengan penuh perasaan. Menjelajah rongga mulut dan membelitkan lidahnya pada lidah istrinya,selanjutnya tangannya meraba dada bagian yang menantang untuk di belai.


Satu lenguhan keluar dari mulut istrinya menambah semangat gairahnya meningkat. Setelah bermian-main di sana kini tangannya turun ke bawah,mengelus perut yang sudah membuncit. Satu gerakan dalam perut Aya,seperti menendang kuat.


Hingga Edward terkejut dan tertawa senang.


"Dia aktif banget ya sayang."


"Iya,setiap hari selalu menendang. Kalau di usap perutnya pasti menendang."


Acara meminta jatah pun akhirnya tertunda dan bahkan batal karena Edward begitu senang memgang perut Aya yang membesar dan mulai aktif yang di dalamnya.


Hingga suara kruyuk-kruyuk dari perut Aya berbunyi,dan mereka pun tertawa senang.


"Ternyata anak abie minta makan ini."kata Edward masih mengelus lenbut perut istrinya itu.


"Lapar abie,belum makan dari sore,hahaha."ucap Aya menirukan suara anak kecil.

__ADS_1


"Duh kasihan banget ya anak abie. Ya sudah ayo makan dulu,nanti setelah makan abie tengok baby ya. Cup."kata Edward yang kembali mengecup bibir istrinya.


Lalu Aya merapikan bajunya yang tadi sempat lepas karena di singkap oleh suaminya. Sedangkan Edward berganti pakaian kaos dan celana pendek.


Mereka keluar dari kamar dan langsung menuju meja makan.


"Sayang,nanti setalah anak kita lahir kita pindah rumah. Aku sudah beli rumah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor,biar nanti kalau jam istirahat bisa pulang ke rumah."kata Edward yang sedang menyuapkan buah apel ke mulut Aya.


Aya mengambilkan makanan untuk suaminya serta lauk pauknya.


"Iya bie,aku pikir lebih baik pindah rumah setelah aku melahirkan nanti. Karena kan di sini lingkungannya kurang baik buat anak-anak."


Mereka makan dengan bercerita banyak hal,terutama Edward belum bercerita pada istrinya jika Sania akan menikah dengan Emil.


Ya,Aku minta sama Emil dan juga nanti papa pernikahan Sania nanti saja menunggu kamu lahiran. Jadi kalau pulang nanti kita sudah bertiga."kata Edward menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Sania mau menikah,dengan siapa bie?"tanya Aya terkejut.


Edward diam,dia lupa kalau Aya belum dia kasih tahu dengan kabar Emil akan pindah ke Indonesia dan menikahi Sania.


"Aku belum cerita banyak sama kamu ya. Jadi,papa itu meminta Emil untuk menikahi Sania dan nantinya Emil akan di tarik ke perusahaan papa. Suatu saat Emil akan memimpin perusahaan papa."


"Oh,Emil mau jadi adik iparmu? Tapi memang cocok sih bie Sania dengan Emil itu. Sepertinya Sania suka sama Emil."


"Iya makanya,tapi sebenarnya bukan itu awalnya mereka dekat."


"Apa bie?"


"Kamu ingat Nathalie?"


"Iya,dia hampir membuatku kehilangan bayiku."


"Nah,dia itu terobsesi denganku. Dia kecewa aku menikah denganmu. Akhirnya dia cari cara agar kamu dia bikin celaka dan membuatmu jauh dariku,tapi dia gagal. Kebetulan waktu itu Sania datang kesini,kita pulangkan untuk pesta pernikahan. Sania tidak pulang karena dia mungkin malu."


"Malu kenapa,bie?"


"Ya karena jebakan Nathalie Sania jadi perempuan agresif pada laki-laki,dia di beri obat perangsang ketika ke klub malam. Untung ada Emil,tapi aku salut sama Emil,dia tidak merusak Sania dan tidak menuruti gejolak yang di rasakan Sania waktu itu Kamu tahu sendirikan kalau aku pengen makan kamu tidak tahan."


"Ya,dan Emil?"


"Emil bisa menahan itu,tapi dia kasihan sekali pasti rasanya sakit jika di tahan begitu. Duh,aku sih akan cari kamu ke ujung dunia kalau seperti itu."


"Ish,kamu harus bisa tahan. Godaan laki-laki itu ya nafsu birahi,kalau kamu tidak bisa menahan mending di kebiri aja deh."ucap Aya sedikit kesal kalau suami sampai seperti itu.


"Astagfirullah sayang,ya makanya aku lebih baik pulang cari kamu. Ngapain di tahan-tahan."


"Bie!"


Edward kini mulai bergairah lagi,melihat ekspresi istrinya yang lucu. Dia kemudian menarik tangan Aya dan di tempelkannya tubuh istrinya padanya kemudian meraup bibirnya.


"Aku bisa menahan jika jauh dari kamu,tapi kalau sudah dekat seperti ini aku pengennya langusng makan kamu."


Lalu tanpa menunggu rengekan istrinya,Edward kini mulai mencumbu Aya.Libido perempuan hamil naik dua kali lipat jika sudah di rangsang,Edward tahu itu. Makanya tangannya mulai menjalar kemana-mana. Tidak peduli mereka habis makan,karena sejak tadi Edward sudah menahannya lama.


******* istrinya membuat Edward senang,dia lalu membimbing Aya untuk duduk di sofa. Mereka akan bermain di sana.


_


_

__ADS_1


_


☆☆☆☆☆☆☆


__ADS_2