
Pukul dua dini hari Edward sampai di rumah kontrakan pengawalnya,suara mobil dan motor yang berhenti di halaman depan rumah.Suara motor dan mobil yang menderu menimbulkan kegaduhan,sehingga ada beberapa warga yang terbangun dengan suara-suara itu.
Kali ini Edward tidak peduli dengan jati dirinya di ketahui oleh warga sekitar dan penghuni pondok pesantren,karena kakaknya sudah di temukan dalam keadaan sehat walau ada beberapa luka.
Tidak lupa juga adik Bayu yang sudah di temukan juga.Edward mengutus pengawalnya untuk memberitahukan pada Bayu kalau adiknya Mentari ada bersamanya di rumah belakang pondok.
"Kak Nicko,apa yang terjadi waktu itu?Kenapa kakak di culik?"tanya Edward penasaran pada kakaknya,karena kejadian itu dia tidak tahu.
Walaupun pak Dori memberitahu kejadiannya,namun dia juga penasaran cerita dari kakaknya.
Nicko menghela nafas panjang,dia lalu menceritakan kejadian dari awal sampai akhir,sampai dia di culik dan selalu berpindah-pindah tempat untuk bersembunyi karena anak buah papanya selalu mencari keberadaannya.
Dia juga sudah bertemu dengan bos yang membawanya,namun dia belum tahu dalang dari penyerangan dan penculikan dirinya.
"Apa kakak tahu,aku berpikir ini pasti ulah om Hendro dan Reynald."kata Edward.
"Kenapa kamu berpikir itu adalah perbuatan om Hendro?"tanya Nicko heran.
Edward hanya tersenyum miring,dia memandang kakaknya itu.Kamu sungguh naif kak,pikir Edward dalam hati.
"Aku akan menyelidikinya,aku yakin ini perbuatan om Hendro."ucap Edward lagi.
"Ya,memang harus di selidiki.Oya,bagaimana kabar papa?Apa papa baik-baik saja?"tanya Nicko.
Yang dia tahu waktu dia di culik,papanya tertembak dan selanjutnya dia tidak tahu lagi sampai sekarang.
Edward mendesah,dia teringat papanya di rumah sakit yang tadinya baik-baik saja,hari berikutnya mendengar dari rumah sakit bahwa papanya meninggal.
"Ed,jawab kakak.Apa papa baik-baik saja?"tanya Nicko lagi.
"Papa sudah ngga ada kak."jawab Edward pelan,dia sedih kejadian itu sangat tidak masuk akal.
"Apa?!"
"Iya kak."
"Kamu jangan bercanda Edward!"teriak Nicko,sehingga membuat para pengawal terkejut dengan teriakan tuan mudanya.
"Kak Nicko jangan berteriak,nanti warga pada kaget."
"Bagaimana bisa papa meninggal,aku pikir papa kuat.Beliau selalu di dampingi paman Dori,dia pasti mengatasi semuanya.Kenapa papa begitu cepat meninggalkan kita"kata Nicko mulai melemah suaranya,dia terisak dan menyesali karena dia tidak tahu keadaan papanya.
"Sudahlah kak,nanti kakak akan tahu dari drama semua ini.Aku pikir ini semua di atur oleh papa sebelum beliau meninggal.Tapi aku yakin papa masih ada,sedang mengawasi kita di sini."kata Edward meyakinkan kakaknya.
Nicko menatapa adiknya,dia tidak mengerti dengan ucapan adiknya.
"Maksud kamu apa papa sedang mengawasi kita?"tanya Nicko penasaran,tapi Edward hanya mengedikkan bahunya saja.
"Nanti kakak akan tahu setelah masalah ini selesai."
__ADS_1
Tak berapa lama,utusan pengawal yang memberitahu Bayu untuk datang ke rumah biasa Edward kunjungi pun datang,walau malam begini Edward tahu pasti Bayu sedang ada di dalam masjid untui sholat tahajud.
Dan benar saja,setelah beberapa menit Bayu datang.Walau sebenarnya dia heran dan bingung kenapa Edward memanggilnya ke rumah temannya itu.
Sampai di depan halaman,Bayu heran dengan adanya mobil dan motor yang terparkir.Ada tiga mobil dan empat motor di sana,dia ragu untuk masuk ke dalam.
Tapi pengawal Edward mengetahuinya dan Bayu di suruh masuk ke dalam.Dalam keadaan bingung,Bayu akhirnya masuk juga ke dalam rumah itu.
Dia melihat Edward sedang berbicara dengan seseorang yang dia tidak kenal.Bayu melangkah ragu mendekati Edward.
Edward menoleh ke arah Bayu,lalu dia bangkit dan menghampiri Bayu yang tampak kebingungan.
"Bayu kemarilah,ada yang mau bertemu denganmu."kata Edward.
Bayu memandang Edward penasaran,apa lagi ini?tanya Bayu dalam hati.
Dia keheranan dengan banyaknya orang yang terlihat bukan sembarangan.Ada laki-laki di ujung kursi panjang duduk sambil memandang ke arah Bayu.
Edward mengajak Bayu ke dalam kamar di belakang.Dia mengetuk pintu itu pelan,tak lama pintu terbuka dan muncul perempuan yang selama ini Bayu cari.Ya,dia Mentari adiknya telah di temukan.
"Mas Bayu!"kata Mentari berteriak histeris lalu memeluk Bayu erat.
Bayu kaget bukan main,dia tidak menyangka adiknya ada di hadapannya sekarang.Dia pun membalas pelukan adiknya.
"Kamu baik-baik saja Mentari?"tanya Bayu pada adiknya itu.
"Kamu kurus sekali Mentari.Kamu di sekap di mana?Mengapa bisa sama Edward?"tanya Bayu pada adiknya.
"Panjang ceritanya mas,aku di culik oleh orang tak di kenal.Dan salah satu orang itu adalah pak Imron,tetangga mba Salma mas."ucap Mentari sambil terisak,dia senang bisa bertemu lagi dengan kakaknya.
"Ayo kita pulang,ibu selalu menunggumu pulang Mentari."kata Bayu.
Bayu hendak membawa adiknya pergi,tapi di cegah oleh Edward.Dia menatap Bayu lalu menggeleng.
"Jangan sekarang,masih malam.Aku takut bukan hanya Mentari yang di cari tapi kamu juga Bay,bisa jadi ibumu juga.Tetap di sini bersama pengawalku,juga ada kakakku.Adikmu telah membantu kakakku,dia merawatnya.Jadi tetap di sini dulu."kata Edward.
Bayu yang di ajak bicara menjadi lebih bingung lagi dengan Edward.Matanya berkeliling,melihat semua orang-orang di dalam rumah ini kecuali Edward.
"Ed,sebenarnya apa yang terjadi.Dan mereka semua siapa?Dan kamu punya kakak yang di culik juga?"tanya Bayu yang masih dengan kebingungannya.
"Ya,Bay.Aku ke pesantren sebenarnya mencari kakakku itu yang sudah tiga bulan lebih di culik sama seperti adikmu.Kakakmu dan adikmu dalam satu rumah di tengah hutan jati dekat bukit desa sebelah."
"Apa?"teriak Bayu kaget.
"Iya,mereka di sekap di rumah di tengah hutan jati."
"Bagaimana bisa aku tidak tahu kalau di hutan itu ada sebuah rumah.Tapi yang aku lihat di sana hanya sebuah kandang ayam."
"Ya,mereka mengelabui semua penduduk sekitarnya.Mengelabui kepala desa di sana,itu di ketahui pertama kali oleh asistenku."
__ADS_1
"Lalu,siapa kamu sebenarnya Ed?Kamu seperti bukan orang sembarangan,pandai berkelahi dan seperti orang yang berkedudukan.Mengapa kamu tidak membuka identitas aslimu?"tanya Bayu agak kecewa pada Edward,tapi dia juga berterima kasih karena Mentari juga selamat.
"Sudah aku bilang tadi,aku kesini karena mencari kakakku.Aku sengaja menyembunyikan identitasku karena tidak ingin orang tahu dan yang menculik kakakku mengetahuinya.Jika mereka tahu aku di sini mencari kakakku,kakakku akan mereka pindah-pindahkan atau juga akan hilang nyawanya.Maafkan aku Bay,bukan maksudku membobongimu.Tapi sungguh aku senang bisa berteman denganmu."kata Edward panjang lebar.
Bayu menghela nafas panjang,dia kini mengerti maksud dari ucapan dan alasan Edward.
"Ya aku mengerti.Terima kasih kamu telah menyelamatkan adikku."kata Bayu,Edward hanya mengangguk saja.
Waktu sudah menunjuk pukul tiga lebih dini hari.Mereka semua sangat kelelahan setelah perkelahian dan saling kejar dengan mobil penjqga rumah hutan jati itu.
_
Edward bangun lebih dulu dari kakaknya,dia bangun jam lima pagi.Walau dia tidur jam tiga dini hari,tapi kebiasaan dia berubah setelah dia di pondok.Jam berapa pun dia tidur,bangun pasti lebih pagi.Hanya hari ini dia bangun jam lima,biasanya jam empat dia sudah bangun.
Cukup lumayan dua jam dia tidur.Dia bangun dan langsung ke kamar mandi.Edward keluar dari kamarnya dan menuju kamar mandi yang terletak di belakang.
Matanya menangkap sosok yang tadi malam tidak ada di rumah ini,Edward mengabaikan laki-laki itu yang tak lain adalah Emil.Dia harus segera menunaikan kewajibannya terlebih dulu sebelum dia menemui Emil dan menanyakan keberadaan penjaga di rumah hutan jati.
Setelah berwudhu dan sholat subuh,Edward langsung menemui Emil yang masih memeriksa berkas tentang laporan pekerjaan sekeretaris di kantor Nicko.
Edward duduk di samping Emil,memperhatikan apa yang di lakukan asistennya itu.
"Orang-orang itu bagaimana?Apa mereka mau buka suara tentang siapa dalang penculikan itu?"tanya Edward penasaran dengan orang-orang itu.
"Belum tuan muda.Kami masih mengamankan mereka terlebih dahulu agar mereka tidak di kejar oleh kelompoknya,mereka sangat cerdik.Tapi saya pastikan mereka akan buka suara."kata Emil.
"Tapi bagiku kak Nicko selamat,kita tinggal cari dalangnya siapa.Terus saja desak mereka agar mau mengaku siapa bos besarnya."kata Edward.
"Baik tuan muda."sahut Emil.
Edward lalu melangkah ke depan,dia berdiri di depan jendela kayu.Menatap pagi yang masih gelap,matahari mulai mengintip dari sela-sela awan di ufuk timur.
Perlahan,sinar matahari mulai menyibak kabut yang merata di desa itu.
Tiba-tiba Edward ingat Aya,sedang apa dia?Ah,pasti sedang sibuk di dapur.pikir Edward.Dia kemudian tersenyum sendiri,lalu dia beranjak dari berdirinya tadi menuju pintu.
Dia keluar rumah menuju bale-bale bambu yang terletak di samping rumah di bawah pohon rindang.Dia duduk di bale-bale bambu,dan menatap ke depan.
Pikirannya masih pada Aya,mungkin ini saatnya dia akan beritahu semua tentang dirinya pada Aya.Dia benar-benar menyukai Aya.Penampilan tomboy namun ketika memasuki pondok pesantren langsung berubah.Bukan itu saja yang di sukai Edward pada Aya,senyum manisnya dan kepribadiannya.
Edward mendesah,tiba-tiba dia rindu pada gadis itu.Dia ingin bertemu Aya.Siang nanti aku akan menemui gadis itu,pikir Edward.
_
_
_
☆☆☆☆☆
__ADS_1