Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
18.Mengintai


__ADS_3

Hampir setiap hari Edward ke rumah Aya,entah mengantarkan pulang sesudah mengajar atau karena ikut panen sayur di sawah serta menjual hasil panennya.


Sekarang Aya tidak lagi menentang para preman di pasar,karena preman-preman itu sudah tidak lagi beroperasi di pasar.


Edward juga setiap pagi ke pasar tidak pernah menjumpai preman-preman yang dulu mengganggu Aya.


Entah kemana perginya,yang jelas para pedagang merasa lebih aman dari gangguan preman-preman tersebut.


"Kemana ya preman-preman yang sering malakin pedagang itu?"kata Aya pada Edward yang kebetulan ketemu di pasar.


"Kenapa mencari?"tanya Edward heran.


"Ya heran aja,kok ngga pernah kelihatan."


"Ya enak berarti pedagangnya,ngga ada yang malakin lagi."


"Iya sih."


"Apa kamu perlu bantuanku?"


"Tidak usah,saya bisa sendiri.Memang biasanya kak Salma yang jualan,tapi kak Salma lagi sakit."


"Perlu ku kasih tahu Bayu?"


"Ngga usah,mas Bayu kan lagi sibuk di pondok kalau pagi."


"Bukan suruh bantuin kamu,tapi ngasih tahu aja kalau kakakmu lagi sakit."


"Ngga usah,lagi pula buat apa?Mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa."


"Tapi hati mereka masih saling mencintai."


"Sudahlah jangan ikut campur urusan kakakku,dia tidak suka."


Edward diam,dia kasihan sama Bayu juga Salma.Saling mencintai tapi tidak bisa bersatu.


"Tuh,mas Bayu datang.Awas jangan bilang-bilang sama mas Bayu kalau kak Salma sakit."ancam Aya.


Edward hanya mengangkat bahunya saja,lalu dia menghampiri Bayu yang berjalan ke arahnya.Aya menatap Edward kesal pergi begitu saja.


_


Malam ini sengaja Edward pergi dari pondok untuk pergi ke rumah dua pengawalnya itu,untuk membicarakan rencana selanjutnya.Di sana juga masih ada Emil.


"Bayu,aku mau ke sahabatku dulu ya.Malam ini dia menginap sama temannya juga,jadi aku akan kesana.Karena besok dia akan pulang,jadi aku harus kesana."kata Edward memberi alasan yang masuk akal.


Edward tidak pernah pergi menginap sebelumnya,jadi Bayu harus di kasih alasan yang masuk akal.


"Oya ya,kata orang-orang sahabatmu itu punya mobil mewah.Sepertinya dia suskse."kata Bayu.


"Iya sukses."


"Kerja di mana?"


"Mm..,kerja di perusahaan telekomunikasi.Makanya dia ke sini kebetulan ada aku.Dia kesini mau membuat proyek sambungan telekonumikasi di daerah sini."


"Wah,hebat juga ya sahabatmu itu.Kenapa kamu tidak ikut kerja dengannya?"


"Aku tidak suka kerja di bawah pengawasan orang lain."


"Kapan kamu pulang,maksudnya jam berapa kamu pulang?"


"Mungkin tengah malam atau pagi-pagi aku pulang.Biasanya kalau sudah ketemu sahabat lama akan lupa pulang kalau sudah ketemu."

__ADS_1


"Ya ya,benar.Baiklah aku tidak akan menunggumu,akan langsung ku kunci pintu kamarnya."


Setelah Edward pergi,Bayu langsung berbaring.Dia lelah sekali hari ini.


Sementara itu,Edward baru saja sampai di rumah pengawalnya.Dia di sambut dengan hormat dari ketiga bawahannya itu.


Tanpa menunggu lama,Edward langsung membicarakan rencananya semula.Bahwa malam ini mereka akan mengintai rumah pak Imron.


"Kita harus bergerak cepat sebelum penghuni rumah itu pergi.Karena aku yakin di rumah pak Imron ada seseorang selain pak Imron."kata Edward dengan antusias.


"Maaf tuan muda,pak Imron itu siapa?"tanya Emil penasaran.


"Yang kemarin kamu ajak ngobrol di jalan.Aku melihat orang di rumahnya dan tanpa sengaja di balik jendela rumah pak Imron ada seseorang yang sedang memgawasiku dengan Aya."kata Edward.


Dia tidak mau rencananya semula akan gagal.


"Baiklah tuan muda,sekarang juga kita kesana."kata Emil.


Lalu ke empat orang tersebut mengendarai mobil menuju rumah lak Imron untuk menyelidiki apa benar kecurigaan Edward bahwa di dalam rumah pak Imron ada orang yang mencurigakan.


Sampai di sana,mobil Emil berhenti di tempat yang sedikit tersembunyi,di bawah pohon-pohon rindang.


"Kamu yakin mobil ini aman tak terlihat?"tanya Edward pada Emil.


"Saya yakin tuan muda.Karena di sini jarang sekali di lalui orang."


"Baiklah ayo kita turun."kata Edward tidak sabar.


"Tunggu dulu,kalian bawa ponsel masing-masing?"tanya Edward pada kedua pengawal itu.


"Iya tuan muda."jawab kedua pengawal itu kompak.


"Kamu tunggu di ujung jalan itu,tapi jangan sampai terlihat.Di sini dekat bukit,jika ada snyal langsung hubungi Emil jika ada sesuatu yang mencurigakan."kata Edward.


Edward berjalan mengendap,begitupun Emil mengendap sambil tengok kanan kiri memastikan tidak ada orang yang tahu dengan keberadaan mereka.


Edward berjalan ke arah gerbang,dia memperhatikan di dalam rumah terlihat lampu yang menyala dan ada beberapa orang yang sedang berbicara.


Edward semakin mendekat,dia membuka gerbang dengan hati-hati di ikuti oleh Emil di belakang.


Edward memberi kode dengan isyarat tangan,bahwa mereka harus menyebar.Emil pun mengerti,dia mengambil arah ke kiri yang di sebelah kiri ada jendela tertutup rapat.


sedangkan Edward sebelah kanan di mana tadi dia melihat sua orang berbicara.Edward mengintai,dan mendengarkan apa yang di bicarakan kedua orang tersebut


"Bang,kita harus apa?"kata satu orang pada temannya.


"Kita tunggu pak Imron datang,katanya sebentar lagi datang."kata teman satunya.


"Saya sebenarnya ngga tega sama laki-laki itu,tapi bagaimana lagi.Si bos malah ngancam kalau saya tidak menuruti maka keluargaku yang terancam."


"Sudah kamu turuti saja,salah siapa kamu ikut bang Parman juga pak Imron."


"Ya aku pikir dapat pekerjaan apa,tak kira kita cuma ngawasi tawanan yang tak berdaya.Belum lagi itu gadis yang di suruh untuk masak tiap hari,kalau keluar cuma buat makanan saja.Terus di masukin lagi ke tempatnya."


"Di sini sementara kita aman,tidak usah memikirkan yang di sana.Lagi pula tawanan itu tidak bisa bicara,entah karena dia bisu atau sering di tampar dan di injak."


"Tapi bos kita kok ngga pernahenunjukkan wajahnya ya,selalu pakai topeng dan ngga mau bicara.Kalau bicara cuma sama bang Parman dan yang siapa itu ya.Kok lupa ya."


"Sudah sudah,kamu dan saya itu cuma bawahan,jangan macam-macam kalau keluarga kita ingin aman."


Edward yang mendengar percakalan kedua orang itu jadi kaget.Dia menebak-nebak apakah kakaknya yang di tawan oleh kelompoknya.'pikir Edward.


Percakapan itu makin dia penasaran,sampai dia hampir lupa kalau ada orang yang ingin masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Edward terlonjak,lalu dia menyingkir dari tempat semula.Dia bersembunyi di balik kursi panjang yang telah usang.


Melihat siapa yang datang,dan ternyata adalah pak Imron.


Edward keluar dari persembunyiannya dan kembali mengintai apa yang akan di bicarakan pak Imron pada kedua orang tersebut.


"Pak Imron sudah datang?"tanya satu orang yang berwajah tirus itu.


"Ya kalian harus kesana malam ini.Bos sudah pulang ke kota."kata pak Imron.


"Ya pak Imron."


"Tapi tunggu sampai jam dua belas,karena mobil baru sampai di sini jam dual belas.Bersiaplah."


"Baik pak Imron."


Lalu pak Imron masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat,sementara Edward kembali memcerna pembicaraan ketiga orang tersebut.


Dia melihat jam di tangannya,baru jam sebelas,artinya dia akan menunggu satu jam lagi.


Emil memdekati Edward yang sedang berpikir,lalu dia menoleh ke arah Emil dan segera menyeretnya menjauh dari tempat itu.


"Jam dua belas malam nanti kedua orang itu mau pergi entah kemana,kita ikuti mereka dari belakang."kata Edward sambil berbisik pada Emil.


Emil mengangguk,lalu dia mencoba menghubungi jedua oengawal untuk siap-siap jika waktunya sudah siap.


Emil dan Edward menunggu di luar rumah,setengah jam mobil untuk menjemput dua orang di dalam sudah tiba di depan gerbang rumah pak Imron.


Satu orang turun dari mobil dan menuju rumah pak Imron.Dia mengetuk pintu dua kali,muncul satu orang berwajah tirus membuka pintu dan berbicara sebentar,kemudian orang itu kembali ke dalam mobilnya.Menunggu kedua orang dalam rumah kekuar.


Edward bersiap untuk keluar dari persenbunyiannya,dia menyuruh Emil untuk segera menuju mobil dan menyiapkan mengikuti kemana mobil itu pergi.


"Emil,cepat kamu ke mobil,siapkan mobil untuk mengikuti mereka."kata Edward.


"Tapi tuan muda bagaimana,saya khawatir tuan muda akan ketahuan oleh mereka.Lebih baik tuan muda ikut sama saya."kata Emil mencemaaskan majikannya itu.


"Kamu saja yang ke sana,nanti kalau orang itu masuk mobil,kamu jemput aku di ujung jalan.Mereka tidak akan jauh,makanya aku harus memastikan berapa orang yang ikut dalan mobil."kata Edward.


Emil dia saja,dia ragu dengan perintah tuan mudanya.


"Emil,cepat!"teriak Edward sambil berbisik.


"Saya akan menunggu tuan muda di sini,kalau mobil itu sudah jalan kita akan sama-sama kesana tuan muda."


"Kalau dua orang mengendap akan ketahuan,cepat kamu ke mobil!"


"Tidak tuan muda! saya akan tetap bersama tuan muda."Emil kekeh dengan pendiriannya.


"Ck,keras kepala sekali kamu.Aku tidak akan kenapa-kenapa.Cepatlah kesana."


Belum selesai Edward berucap,dua orang itu keluar dari dalam rumah bersama pak Imron.Berbicara sebentar lalu keduanya menuju mobil yang akan mengantar mereka entah kemana.


Edward dan Emil memperhatikan mereka dari jauh,lalu siap-siap berlari mengendap menuju ke mobil untuk mengikuti kemana mereka pergi.


_


_


_


☆☆☆☆☆


\=> 😉😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2