Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
50. Penggrebekan


__ADS_3

"Halo sayang,kamu sehat-sehat saja di sana?"


"Halo ma,aku sehat-sehat aja,alhamdulillah.Mama bagaimana?"


"Mama sehat,alhamdillah.Oya,kamu ada rencana pulang ke Indonesia kapan?"


"Minggu depan ma.Oya,kak Edward bagaimana?Apa masalahnya sudah selesai?"


"Belum sayang,kenapa?"


"Kak Edrick menanyakan kak Edward kapan kembali ke Inggris? Kak Edward sudah lama meninggalkan perushaannya."


"Iya,nanti mama tanya sama kakakmu.Oya sayang,ada kabar mengejutkan.Ternyata papa masih hidup,tapi kakakmu Nicko hilang lagi.Hik hik hik."


"Lho kok bisa hilang lagi?"


"Kamu ngga kaget atau senang papamu masih hidup?"


"Aku sudah tahu,ma."


"Jadi kalian semua menyembunyikan kebenaran dari mama?"


"Kebenaran apa ma?"


"Papamu,kalian tahu kalau papamu masih hidup."


"Iya ma."


"Kalian tega banget sama mama!"teriak nyonya Karina dengan kesal.


"Sudah dong ma,yang penting papa masih ada."


"Tapi kalian tega sembunyikan keberadaan papa dari mama.Kalian tahu mama sangat sedih dan terpukul."


"Iya ma,maafkan Sania.Lagi pula dulu mama di suruh ke Inggris ngga mau.Coba kalau kesini,Sania kasih tahu semuanya."


"Kamu tahu apa?"tanya nyonya Karina menyelidik.


"Ya tahu bahwa papa masih hidup.Kak Edward aja ngga tahu."


"Ck,kalian itu benar-benar membohongi mama."


"Ma,udah dulu ya.Ini ada kak Edrick nyamper ke apartemen."


Lalu sambungan telepon terputus.Pak Robert menghampiri istrinya yang sedang kesal mendapat kebenaran dari anaknya.


"Mama kenapa cemberut begitu mukanya?"tanya pak Robert duduk di sebelah istrinya.


"Mama lagi kesal pada kalian semua!"


"Kesal kenapa?"


"Semua membohongi mama,kalian membohongi mama kalau papa masih hidup."


"Lalu?"


"Lalu? Lalu papa pura-pura meninggal,kenapa papa lakukan itu?"


"Kalau papa jawab apa tujuan papa seperti itu,mama akan percaya dengan jawaban papa?"


Nyonya Karina diam,dia menatap suaminya dalam.


"Apa tujuan papa?"tanya nyonya Karina masih penasaran.


"Sudahlah,nanti papa akan tunjukkan apa sebenarnya tujuan papa."

__ADS_1


Lalu pak Robert bangkit dari duduknya,dia masuk ke dalam kamarnya.Memberitahu kepada Edward bahwa malam ini mereka bisa mengunjungi Nicko,yang artinya mereka akan ada drama perkelahian dengan orang-orang yang menjaga Nicko.


Sedangkan pak Hendro sudah mengubungi beberapa pengacara yang akan membantunya nanti jika memang dia harus di laporkan pada pihak berwajib atas tindakannya itu.Lagi pula senjata andalannya sekarang sedang di jaga ketat oleh suaminya,ya nyonya Karina sekarang di jaga ketat oleh pak Robert agar pak Hendro tidak mendekatinya,juga Septa istrinya pun tidak berani.


Tapi dia akan menyiapkan berbagai macam alasan agar kakaknya itu percaya padanya.


_


"Pa,apa malam ini sudah bisa menjemput kak Nicko?"tanya Edward.


"Ya,malam ini kita akan menjemput Nicko.Dan siapkanlah semuanya.Pengawal juga keahlian kalian nanti.Papa akan bawa mama juga kesana."ucap pak Robert.


"Apa?Mama akan ikut?"tanya Edward tidak percaya dengan tindakan berbahaya papanya itu.


"Ya,karena tujuan papa yaitu mama harus percaya jika adik kesayangannya itu telah menyekap anaknya."


"Apa tidak berbahaya? karena om Hendro itu sangat licik."


"Ya makanya,siapkan semua segala kemungkinannya."


"Baiklah,aku akan menjaga mama."


"Kamu siaga saja untuk menjemput kakakmu,papa yakin di sana penjagaannya ketat sekali.Dan papa juga yakin Hendro sudah meminta bantuan hukum sebelumnya untuk meloloskan dia dari jerat hukum."


"Aku aneh dengan mama,kenapa mama selalu percaya sama kelicikan om Hendro."


"Karena mamamu berpikir dia merasa bersalah dengan ketidak adilan ayahnya dalam memperlakukan mereka.Kamu tahu,ayahnya mama itu meninggal karena apa?"


"Mama bilang karena jatuh dari tangga."


"Iya itu benar,tapi ayah jatuh dari tangga malam itu karena menghampiri Hendro yang dalam keadaan mabuk,karena tidak terima di perlakukan tidak adil.Padahal sesungguhnya tidak begitu.


Dan malam itu ayah tergeletak di tinggalkan begitu saja oleh Hendro.Dia kabur,tidak pulang ke rumahnya sampai ayah masuk rumah sakit.Dan sampai di bawa ke rumah sakit,dia tidak datang,baru setelah meninggal dia baru datang mengunjungi ayahnya dan mamamu."ujar pak Robert panjang lebar.


"Kok papa tahu banyak tentang kejadian itu?"tanya Edward penasaran.


"Sekarang teman om Hendro itu kemana?"


"Dia sudah meninggal karena kecelakaan."


"Jadi saksi hidup kejahatan om Hendro sudah meninggal?"


"Ya,begitu juga dulu rekan-rekan bisnis yang pernah bekerja dengannya di kantor papa.Mereka semua sudah tidak ada."


"Benar-benar licik dan jahat."geram Edward.


"Makanya papa susah cari bukti untuk memberitahu pada mama kamu,dia itu tipe orang yang susah di beritahu tanpa ada bukti di matanya.Makanya papa nanti akan bawa mama,walau resikonya sangat berbahaya,biar mama kamu tahu sejahat apa adiknya itu."


"Kamu bersiaplah,malam ini kamu jemput kakakmu."


"Baik pa."


Edward bangkit dari duduknya,dia kemudian masuk ke dalam kamarnya.Berganti pakaian juga membawa senjata api untuk berjaga terjadi sesuatu.


Telepon Edward berbunyi,dia mengambil ponselnya.Emil.


"Halo,kamu sudah siap?"


"Saya ada di depan rumah tuan muda."


"Baiklah,sebentar lagi aku turun."


Setelah berganti pakaian,Edward langsung keluar menemui Emil.Sedangkan pak Robert masuk ke dalam kamar untuk mengajak istrinya menemui anak sulungnya


_

__ADS_1


Jam menunjukkan pukul sebelas malam,di markas pak Hendro sudah berjaga-jaga pengawalnya.Mengantisipasi sejak kehadiran kakak iparnya muncul lagi di kantor.


Penjagaan di tambahkan agar orang-orang Edward tidak mudah masuk ke dalam.Sedangkan pak Imron yang dulu di sekap kini di lepas dan di ancam akan di bunuh jika dia masih menghubungi Emil.


Setelah mendapatkan uang setengah dari permintaannya terdahulu lima ratus juta,yang hanya dia bawa dua ratus lima puluh juta saja.Itu pun sangat alot dalam perdebatan dan pak Imron berjanji untuk pergi jauh dari kota itu.


Dia tidak tahu akan menemui istrinya atau akan pergi jauh keluar kota lagi.Sedangkan istrinya itu ada bersama anak buah Emil untuk bertugas menjaganya.


Dan pak Imron berpikir,lebih baik dia menghindar lebih dulu.


Sementara itu,Edward sudah berangkat bersama Emil di mana mereka akan menjemput Nicko yang di sandera oleh pamannya sendiri.


Dan tengah malam nanti papanya akan menyusul dengan membawa mamanya,untuk menyaksikan kejahatan adiknya.


Satu jam perjalanan,Emil akhirnya memarkirkan mobilnya agak jauh dari tempat yang tersembunyi itu.Di susul oleh tiga mobil pengawalnya berhenti di samping mobil Emil.


Emil dan Edward langsung mengendap menuju tempat yang tampak sudah di jaga ketat sejak seminggu yang lalu.


Mereka mengintai,mencari celah untuk bisa masuk ke dalam tanpa menimbulkan keributan.Seperti penggerebekannya dulu di hutan jati,Edward kini lebih tenang dan lebih hati-hati.


Sedangkan Emil dengan setia dan waspada agar tuan mudanya tidak kenapa-kenapa.


"Emil,kamu di belakangku,bersuaga agar tidak menimbulkan curiga."ucap Edward berbisik.


Emil hanya mengangguk,dia kemudian berdiri di belakang Edward sambil memperhatikan keadaan sekitar.Setelah mendekati tempat itu,Edward melangkah lebih dalam.Dia mencoba bersikap tenang,sedangkan di belakang Emil para pengawal bersiaga jika suatu waktu majikannya itu di serang mendadak.


Semakin dekat Edward di depan penjaga yang terlihat curiga,Edward semakin tenang.Otaknya berpikir lebih baik dia berbicara sopan dan masuk dengan caranya sendiri.


Dia mendekati penjaga yang menatapnya tajam.


"Siapa kamu?"tanya penjaga itu penuh selidik.


"Saya keponakan pak Hendro.Bisa kamu antar saya masuk ke dalam?"tanya Edward.


Emil diam,alisnya saling bertautan.Apa yang akan di lakukan tuan muda?pikir Emil.


"Hah,jangan bohong kamu!"bentak penjaga itu.


"Baiklah,mungkin saya akan menelepon pamanku kalau penjaga di depan tidak membolehkanku untuk masuk ke dalam."ucap Edward.


Dia memgambil ponselnya,lalu mengetik sesuatu.Tapi baru saja dia menempelkan ponselnua di telinganya,penjaga itu mencegahnya.


"Jangan hubungi tuan Hendro,nanti saya bisa di pecat.Silakan masuk."ucap penjaga itu dengan wajah sedikit panik.


Edward tersenyum,dia memasukkan kembali ponselnya dan melangkah dengan tenang masuk ke dalam.Emil yang hendak mengikuti Edward di cegah,dia menatap Edward yang diam lalu mengangguk agar mengikuti perintah penjaga itu.


Lalu Edward melangkah lebih kedalam,masuk dengan du tatapi curiga dari beberapa penjaga yang di lewatinya.Dia berusaha tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Edward melewati beberapa penjaga di depan pintu,dengan ketenangannya itu dia bisa masuk dengan mudah.


Sampai di ruang terluas,dia berhenti matanya mengedarkan mencari sosok kakaknya.Edward mengambil ponselnya,menyalakan rekaman suara agar percakapannya nanti terekam dengan jelas.Lalu dia masukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


Baru beberapa langkah ke dalam ruangan yang tertutup,ada penjaga yang mendekatinya dengan tatapan curiga.


Edward berhenti,dia balik menatap penjaga itu.Menengok ke arah kanan dan kiri,mencari temannya.Namun tidak ada lagi,dan dengan cepat Edward menarik lengan penjaga itu dan membekuknya dengan memukul bagian tengkuknya.


Penjaga itu terjatuh dan tidak sadarkan diri.Edward tanpa membuang waktu masuk ke dalam ruangan yang tertutup.


Pelan dia buka pintu itu,dan ternyata di dalam ada suara laki-laki yang sedang berbicara pada seseorang.Edward menajamkan pendengarannya,ternyata itu suara Reynald yang sedang berbicara dengan Nicko.


Dia mendengarkan apa yang di bicarakan oleh sepupunya tadi.


_


_

__ADS_1


_


☆☆☆☆☆


__ADS_2