
Setelah makan selesai,mereka bebincang-bincang santai di gubuk itu.Banyak cerita yang di ceritakan oleh keduanya,tapi Edward belum berani mengungkap jati dirinya yang sebenarnya.
Biar semua berjalan apa adanya,sebelum dia mengetahui titik terang keberadaan kakaknya.Ada kegelisahan di wajah Edward,entah sampai kapan dia ada di sini.
Dia sudah bertekad akan menemukan kakaknya dalam keadaan hidup atau mati.
Dari pembicaraan kedua anak buah pak Imron dulu mengintai.Edward bisa menyimpulkan kalau kakaknya masih hidup.
Tapi entah di mana adanya,dia belum menemukan tanda yang benar-benar menunjukkan keberadaan kakaknya.
"Kamu sedang melamun?"tanya Aya yang melihat Edward diam sambil menatap ke depan.
"Ya,."
"Apa yang kamu lamunkan,jika aku boleh tahu?"tanya Aya,dia menatap Edward dalam.
Edward mendesah lalu menunduk,dia tidak tahu apa harus jujur atau terus menyembunyikan semua tentang dirinya.
"Sebenarnya aku memikirkan seorang perempuan."jawab Edward sekenanya,kadang bersikap biasa saja itu perlu untuk menutupi kegelisahan yang ada.
Wajah Aya berubah sendu,dia mengalihkan pandangan ke samping.Ada rasa kurang suka Edward berkata seperti itu.
Edward tersenyum simpul,kini menggoda Aya adalah hal baru yang dia sukai.
"Apa kamu ingin tahu juga siapa perempuan yang aku pikirkan?"masih mencoba menggoda Aya.
"Buat apa aku ingin tahu,mungkin kamu memikirkan pacarmu."jawab Aya sedikit ketus.
Baiklah,ini sangat menyenangkan.Menggoda Aya membuatku senang,pikir Edward.
"Oh ya,benar.Ya sudah,aku tidak akan menceritakan siapa perempuan itu."kata Edward,dia melirik Aya.
Ada guratan kecewa di raut wajah Aya,dia menunduk lalu beranjak dari duduknya,berdiri di samping pohon petai cina memandang hamparan sawah yang mulai menguning.Bulan depan sepertinya panen raya bagi petani padi di sini.
"Kamu melamun?"tanya Edward balik mempertanyakan pertanyaan Aya tadi.
"Tidak."jawab Aya.
Edward bersandar pada tiang bambu gubukan sambil menatap Aya yang kelihatan ada raut sedih di wajahnya.
"Oke,ngga perlu bertanya lagi."
"Bertanya apa?"
"Tidak."
"Ish! Kenapa kamu selalu membuat teka teki ngga jelas."sungut Aya.
"Kalau jelas bukan teka teki namanya,tapi keterangan."sanggah Edward.
"Kamu mulai bikin aku kesal ya."masih mode kesal.
"Hahaha,kamu kesal sama aku?"
"Sudahlah,jangan di bahas lagi.Ini sudah mulai sore.Kamu ngga pulang ke pondok?"
"Ya,aku akan pulang ke pondok sebentar lagi."
"Tapi aku mau pulang,sebentar lagi juga aku mau ngajar di pesantren."
"Aku pulang sama kamu,sekalian nganterin kamu berangkat."
__ADS_1
"Terserah kamulah,aku pulang dulu."kata Aya.
Dia membereskan bakul nasi dan rantang yang tadi di bawanya.Edward mengambil ketel ,lalu mereka pulang bersama.
Sepanjang jalan hanya cerita-cerita tentang di pondok dan gurauan kecil saja.
_
Sementara Emil sedang mengecek lokasi untuk di jadikan tempat tower telekomunikasi,dia terus saja mencari tempat yang pas.
Dia kemudian menuju bukit yang memang jika ada telepon langsung terhubung.Memang di tempat itu bisa masuk sinyal.
Emil lalu menelusuri bukit bersama beberapa pemborong dan kepala desa.Menaiki mobil menelusuri bukit yang semakin jauh semakin naik.
Dan di tengah rimbun hutan jati,terdapat sebuah bangunan panjang dan sebuah rumah terlihat dari jauh.Bangunan rumah itu cuma satu yang merangkap,tidak ada yang lainnya.
Rupanya rumah itu tersembunyi di tengah hutan jati dan terpencil.Orang tidak akan tahu jika tidak melewati jalan menuju bukit tinggi itu.
Emil mengikuti mobil di depan rombongan kepala desa dan pemborong,dia terus memperhatikan rumah tersebut sepanjang jalan.
Apa ada orang yang tinggal di saja?tanya Emil dalam hati.
Rombongan itu pun berhenti tepat di puncak bukit.Mereka keluar dari dalam mobilnya dan memandang sekeliling bukit.Tak terkecuali Emil pun turun juga dari mobilnya.
Dia berkeliling bukit,memastikan bahwa tempat itu tepat di jadikan towernya.Dia masih penasaran dengan rumah di tengah hutan jati tersebut.
Lalu dia mendekati kepala desa setempat,karena dia yang paling tahu wilayahnya.
"Pak Deri,apa perbukitan ini masuk dalam wilayah anda?"tanya Emil memulai interogasinya.
"Iya pak Emil,semua masuk wilayah desa kami."jawab kepala desa itu dengan yakin.
"Termasuk hutan jati di sana itu?"tanya Emil sambil menunjuk hutan jati.
"Mm,bapak tahu tadi di tengah hutan ada rumah,mungkin seperti sebuah bangunan panjang."kata Emil lagi.
"Oh ya,itu sebuah peternakan ayam.Tiga bulan yang lalu ada tiga orang mendatangi ke kantor desa untuk izin mendirikan tempat peternakan ayam katanya.Saya hanya setuju saja,karena mereka juga suka berjualan di pasar desa sebelah."jelas pak Deri dengan antusias.
"Mereka pendatang atau penduduk daerah bapak?"
"Saya kurang tahu,tapi yang jelas bukan warga kami.Mereka pendatang dari kota sepertinya sih,saya pernah bertanya asal usulnya.Mereka jawab dari kota."
"Oya pak Deri,untuk lebih lanjutnya nanti kita teken kontrak sewa tempat selama sepuluh tahun itu di kantor desa saja.Karena saya harus meminta tanda tangan dari bos saya dulu."kata Emil memotong pembicaraan mereka tentang bangunan panjang di tengah hutan itu.
"Oh ya ngga apa-apa pak Emil.Saya selalu siap untuk kedatangan anda di kantor desa."
Lalu Emil mendekati pemborong yang sedang memeriksa keadaan tempat yang akan di jadikan bangunan tower.
Setelah berbincang mencari kesepakatan di mana harus di bangun,lalu ketiga orang itu masuk ke dalam mobilnya masing-masing.
Emil masih curiga dengan bangunan di tengah hutan jati itu.Dia memandangi perbukitan sebelum dia masuk ke dalam mobilnya.
Jika mereka itu adalah segerombolan orang-orang yang menyekap tuan muda Nicko,mereka sangat pintar.Membuat persembunyian di tengah hutan,dekat dengan perbukitan agar bisa menghubungi apapun informasi yang di dapat.Aku harus menyelidiki tempat itu,pikir Emil.
Lalu dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang,karena dia memperhatikan bangunan di tengah hutan tersebut.Siapa tahu ada kegiatan yang mencurigakan.
_
Setelah memberi tahu Edward di waktu jamaah magrib,pengawal itu langsung pulang ke rumah kontrakannya.Memberi tahu bahwa Edward akan datang ke rumah kontrakan untuk membicarakan temuan Emil tadi di perbukitan.
Jam sepuluh tepat,Edward datang.Dia tidak sabar dengan kabar yang akan di sampaikan oleh Emil.
__ADS_1
Tok tok tok
Suara pintu terdengar di ketuk dari luar.Pengawal membuka pintunya,terlihat Edward berdiri dan langsung masuk ke dalam setelah pintu terbuka.Pengawal itu belum sempat memberi hormat,Edward sudah mengacungkan tangannya.
Emil yang sejak tadi merapikan berkas yang akan di tanda tangani oleh Edward,karena perwakilan dari perusahaan telekomunikasi di serahkan pada Edward.
Edward duduk di kursi bambu yang hampir patah bagian kakinya.Edward terlonjak ketika kursi itu miring sebelah.
"Kenapa kursi rusak masih ada di sini?"tanya Edward kesal.
Pengawal itu mengambil kursi yang rusak itu lalu di ganti kursi kayu yang ada di bagian dapur.
"Bagaimana temuan kamu tadi siang?" tanya Edward tidak sabar.
"Saya melihat di hutan jati sebelah bukit terdapat sebuah bangunan seperti kandang ayam,dan di sebelahnya ada bangunan rumah tuan muda."kata Emil.
"Kamu mencurigai bangunan itu?"tanya Edward penuh antusias.
"Sepertinya bangunan itu tempat persembunyian.Saya bertanya pada kepala desa tempat itu di sewa oleh tiga orang,ya dia bilang untuk membuka peternakan ayam potong.Katanya salah satu orangnya juga jualan ayam potong di pasar."
"Lalu?"
"Dan mereka menyewa sejak tiga bulan lalu.Kemungkinan tempat peternakan itu hanya kamuflase saja,tuan muda."kata Emil lagi.
"Selidiki secepatnya,aku yakin itu tempat yang mencurigakan."ucap Edward penuh semangat.
Dia benar-benar sudah lelah harus kemana mencari keberadaan kakaknya Nicko.Edward mendesah,lalu ucapnya.
"Berhati-hatilah,karena kita belum tahu siapa yang jadi musuh dalam selimut di daerah ini.Karena aku belum bisa menebak pak Imron itu terlibat menyembunyikan kak Nicko.
Dari pembicaraan kedua anak buah pak Imron,kemungkinan pak Imron tahu di mana kak Nicko berada.Benar-benar pintar pak Imron itu,dia begitu lihai menyembunyikan jati dirinya."
"Iya tuan muda,dan sepertinya pak Imron sekarang jarang ikut jamaah sholat lagi di pesantren."
"Apa kita bagi tugas saja?"tanya Edward?"
"Tidak tuan muda,saya akan datangkan lagi orang kita yang akan menyilidiki tempat itu.Saya tidak mau tuan muda terlalu mencolok untuk pengintaian.Jika tuan Nicko benar ada di sana,dan tuan muda langsung menyelidiki,saya takut tuan Nicko akan sulit sekali di temukan.Bisa jadi di pindahkan lagi."kata Emil panjang lebar.
"Lalu,selanjutnya bagaimana?Apa aku harus menunggu terus?"
"Tuan muda masih tetap seperti sekarang,mendekati gadis itu lagi."kata Emil seolah menyindir majikannya itu.
Wajah Edward berubah jadi salah tingkah,ternyata Emil tahu jika dia masih belum mau untuk jauh dari Aya.
"Baiklah,aku serahkan pada kalian semua.Tapi ingat,kalian harus melaporkan apapun yang terjadi dan temuan apapun padaku."ucap Edward.
"Baik tuan muda."jawab Emil dan dua pengawal itu secara bersamaan.
"Lalu,proyek yang kamu tangani apa sudah ada perkembangan?"
"Ya tuan muda,sekarang tinggal menanda tangani berkas perjanjian oleh tuan muda.Semua sudah setuju dan sudah siap untuk di garap proyeknya."
"Oke,mana yang harus aku tanda tangani?"
Lalu Emil menyerahkan berkas yang tadi dia masukkan di dalam map.
Setelah semua selesai,Edward pamit pulang ke pondok pesantren lagi.Dia tidak mau Bayu akan bertanya lebih banyak lagi.
_
_
__ADS_1
_
☆☆☆☆☆