Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
65.Ke Kota


__ADS_3

Malam ini Edward dan istrinya bersiap untuk pergi ke kota.Mobil yang sejak kedatangannya tidak pernah di gunakan sedang di panasi.


Aya memasukkan oleh-oleh yang dia beli di pasar tadi siang ke dalam bagasi.Semuanya tanpa terlewatkan.


Salma dan Bayu datang membantu memasukkan barang yang di perlukan saja dari rumahnya.Ada rasa sedih di hati Salma ketika adiknya itu akan pergi jauh.


Sejak kecil Salma dan Aya tidak pernah berpisah,tapi sekarang adiknya itu mau ke rumah mertuanya dan akan menetap ke negeri orang.Jauh pula,untuk menghubunginya akan sangat susah.


Aya menghampiri kakaknya yang kelihatan berat berpisah dengannya.Dia memeluk kakaknya dengan erat sambil terisak.Salma pun ikut terisak.


"Sudah kak,nanti aku akan pulang kok.Walau aku jauh di negeri orang,Edward akan mengantarkan aku pulang untuk ketemu kak Salma."ucap Aya,dia juga sangat berat berpisah dengan kakaknya.


Edward yang memperhatikan kedua kakak beradik yang sedang sedih karena perpisahan itu hanya diam saja.Dia juga mengerti,namun begitu tak mau mengganggu kedua kakak beradik itu menangis.


"Uwak Sobri tidak bisa mengantar kalian,mungkin nanti setelah resepsi pernikahan bisa mengantar kalian."ucap Salma yang sudah melepas pelukannya pada Aya.


"Mengenai ibu,nanti Aya minta Edward untuk mencarinya.Dia punya banyak koneksi dengan orang lain."ucap Aya.


Salma memgangguk,dia kemudian mendekati Edward yang sejak tadi memperhatikan keduanya bercengkrama.


"Tolong jaga adikku ya,Ed.Walaupun dia mandiri,tapi tetap saja butuh pengawalan dari kamu."ucap Salma.


"Tenang saja kak,aku akan selalu menjaga Aya sampai kapanpun.Kakak jangan khawatir,percayakan semua padaku."ucap Edward.


Setelah acara perpisahan antara adik kakak,Aya dan Edward masuk ke dalam mobil.Lalu mereka melambaikan tangannya untuk berpisah.


Mobil Edward melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalanan kampung yang remang-remang karena penerangan hanya ada pada rumah-rumah di pinggir jalan.


"Jauh ya tempatnya?"tanya Aya membetulakn tempat duduknya.


"Lumayan,butuh waktu lima jam untuk sampai di rumah mama."jawab Esward.


Dia mengendarai mobil sendiri,karena dia tidak mau ada yang mengganggu keberadaan mereka di mobil.Dia sangat senang sekali,mengendarai mobil di temani istri tercinta.


"Kalau mengantuk,tidur saja."ucap Edward pelan.


"Nanti kamu,eh mm bie sendirian."ucap Aya ragu dan malu-malu.


"Bie?"


"Iya,aku panggil kamu bie saja ya.Singkatan dari abi yaitu ayah.Atau hubby yaitu suami."jawab Aya,dia tersenyum pada Edward.


Edward senang sekali mendengar nama panggilan untuknya dari Aya.Dia pelankan laju mobilnya dan memiringkan kepalanya ke arah pipi Aya,kemudian menciumnya.


"Terima kasih sayang,aku suka panggilan itu.Aku panggil kamu sayang aja atau honey.Biar romantis."ucap Edward lagi kembali mencium pipi Aya.


Dan tangannya menarik kepala istrinya untuk menghadap padanya lalu mencium bibir istrinya.


Aya hanya tersenyum saja,kini sudah terbiasa dengan perlakuan Edward padanya.


"Emm,mama sama papa bagaimana?"


"Ya,menerima dengan senang hati.Mama malah pengen cepat bawa kamu ke rumah dan bertemu kamu."


"Benarkah?"


"Ya."


"Berapa usia adikmu,bie?"


"Emm,seumuran denganmu sayang.Tapi dia lebih ganjen dan ya suka seenaknya saja kalau bicara."


"Gitu ya,pasti menyenangkan berteman akrab dengannya."

__ADS_1


"Ya,tentu saja.Dia akan menjadi partnermu nanti dalam sesuatu hal.Dia orangnya mudah akrab dengan siapa saja."


"Owh,siapa namanya bie?"


"Sania.Kalau kakakku namanya Nicko,dia belum menikah."


"Berarti kamu mendahuluinya?"


"Ya,aku takut kamu di ambil orang sayang."


"Hahaha,mana ada yang mau sama aku?"


"Ada,Saudara dari uwakmu minta kamu untuk jadi istrinya.Makanya uwak Sobri mempercepat pernikahan kita karena kamu ada yang meminta.Jika saja aku telat memintamu pada uwak Sobri,kamu bukan istriku sekarang.Akan banyak yang terlukan nantinya jika aku tidak menikah denganmu."


"Oh ya?Tapi aku biasa saja."


"Yakin biasa saja?Kamu bahkan selalu menungguku datang padamu sayang."


"Hahaha,iya iya.Aku selalu menunggumu datang.Terima kasih ya sudah datang untukku dan menikahiku bie."ucap Aya tulus


Dia memegang tangan suaminya dan menciumnya.


"Kok ciumnya di tangan aja sih?"


"Terus di mana?"


"Di sini dong."ucap Edward sambil menunjuk ke pipi dan bibirnya.


"Susah,kamu jauh bie.Nanti tidak fokus lagi nyetirnya."


Edward kini menepikan mobilnya dan berhenti di tepi jalan.Lalu dia memiringkan wajahnya dan menyodorkan pipinya pada Aya.


Aya yang melihat tingkah suaminya jadi tersenyum,lalu dia mencium pipi Edward dan duduk kembali.


"Kebiasaan deh kamu bie,selalu saja menyerobot begitu."


"Aku tidak tahan sayang,pengennya cium kamu terus."mengelus bibir Aya lembut,lalu mencium lagi sekilas.


Setelah drama ciuman itu,Edward melajukan mobilnya dengan kecepatan hampir penuh karena sudah memasuki jalan tol.


_


Sampai di rumah orangtuanya,Edward langsung membangunkan Aya yang tertidur dengan pulas.Dia sebenarnya kasihan,ingin dia gendong namun ini adalah kunjungan pertama Aya di rumahnya,kalau dia sampai menggendong istrinya pasti Aya malu.


"Sayang bangun,sudah sampai di rumah mama."ucap Edward menepuk pipi istrinya lembut.


Aya membuka matanya pelan,lalu menguceknya.Dia menatap suaminya yang tersenyum padanya.


"Aku lama ya tidurnya? Maaf ya ngga bisa menemanimu di jalan."ucap Aya.


"Tidak apa-apa,kamu juga ngantuk berat.Ayo kita keluar."


Aya mengangguk,lalu dia membuka pintu mobilnya dan menatap sejenak rumah megah di hadapannya.Dia takjub bukan main,ternyata rumah mertuanya itu sebesar lapangan sepak bola di kampungnya.


"Apa ini benar rumahnya?"tanya Aya tak percaya.


"Iya,ini rumah mama."jawab Edward,dia menggapit pinggang istrinya lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Suasana sepi malam ini karena mereka sampai pukul dua dini hari.


Edward memencet belnya beberapa kali,dan keluarlah mbok Darmi yang terlihat masih mengantuk.


"Selamat malam mbok Darmi.Maaf mengganggu tidur mbok Darmi."ucap Edward.

__ADS_1


"Oh,ngga apa-apa tuan muda.Memang sejak tadi sore semua menunggu tuan muda pulang.Nyatanya sampai malam hari begini."ucap mbok Darmi melihat Aya dengan seksama.


Aya yang di pandangi mbok Darmi hanya tersenyum saja,merasa tidak enak.Mbok Darmi pun menunduk sopan pada istri majikannya itu.


"Oh ya mbok,di bagasi ada oleh-oleh dari kampung.Nanti di ambil ya,tapi besok pagi saja.Mbok Darmi tidur lagi saja sana."ucap Edward.


"Baik tuan muda."


Edward membawa istrinya masuk lebih ke dalam.Dia menggandeng Aya untuk menaiki tangga,karena kamarnya ada di lantai dua berjejeran dengan Sania.


Mata Aya mengelilingi seluruh bangunan dan interior yang sangat mewah.Sebuah arsitektur klasik dengan di dominasi warna putih tulang temboknya dan ornamen perabot berwarna cokelat dan emas.


Mengesankan mewah bak rumah istana.Walau lampu samar tidak menyala,namun pantulan dari lampu temaram tampak jelas sekali.


Edward berhenti di depan kamarnya dan membuka kunci pintu dengan menekan tombol yang ada di tengahnya.


Dia membuat kode sandi kamarnya agar tidak di masuki sembarangan orang,sekalipun dia jarang pulang waktu tinggal di Inggris.


"Ayo masuk sayang,ini kamarku."ucap Edward menggiring istrinya masuk lebih ke dalam.


Sekali lagi,Aya takjub dengan kamar Edward.Benarkah kamarnya sebesar itu?Kamar yang sebesar rumah serta halamannya di kampung.


"Kamarnya luas banget,apa tidak capek berjalan?"


"Ngga sayang,ini memang kamar paling luas di banding kamar kak Nicko dan Sania.Ayo sekarang kita tidur,aku sangat lelah sekali."ucap Edward.


Dia langsung berbaring di ranjangnya yang empuk.Aya hanya menatapnya lucu,dia kemudian duduk di tepi ranjang di samping suaminya yang sudah terlelap.


Aya bangkit dari dudujnya dan berkeliling kamar Edward,dia belum mengantuk karena di perjalanan dia tertidur lama.Dia berkeliling sampai pada sebuah ruangan khusus pakaian,kemudian mendekati lemari pakaian Edward yang panjang dan rapi.Karena sudah tetsusun sesuai kegunaannya.


Aya membuka lemari sampingnya,lalu melihat apakah benar suaminya itu menyiapkan baju untuknya,karena dia ingin ganti baju.


Dan benar saja,deretan baju mislim serta baju untuk tidur ada di sana berjejer rapi.Aya mengambil baju piama berlengan pendek dan celana panjang yang berwarna abu putih.


Lalu tanpa membuang waktu,dia melepas bajunya dan di letakkannya di keranjang yang ada di samping lemari.


Setelah selesai ganti baju,Aya kembali ke ranjang untuk tidur sebelum waktu subuh berkumandang.Dia melepas sepatu Edward dan membetulkan posisi tidur suaminya agar lebih nyaman.


Aya berbaring di samping Edward yang sudah tertidur pulas.Mata Aya belum terpenjam,dia masih takjub dengan rumah mertuanya.


Dan dia berpikir,apakah nanti kedua mertuanya itu akan menerimanya sebagai menantu?Karena dia merasa minder dan malu,dia berasal dari kampung dan sederhana.Aya menatap suaminya lalu wajahnya mendekat ke pipi Edward dan menciumnya pelan,kemudian dia pun bersiap tidur.


_


Esok harinya,Edward bangun pukul setengah enam setelah Aya membangunkannya untuk segera sholat subuh.Mungkin karena lelah menyetir sendiri jadi Edward bangun kesiangan walaupun Aya sudah berkali-kali membangunkannya.


Setelah mengambil air wudhu dan sholat subuh,Edward kembali berbaring di ranjangnya hendak tidur lagi.Namun di cegah oleh istrinya.


"Eh,jangan tidur lagi.Tidak bagus sehabis sholat subuh tidur lagi.Ayo bangun kita turun ke bawah menyapa papa mama."ucap Aya.


Namum Edward malah menarik istrinya untuk berbaring dan menindihnya kemudian mencium rakus.Dia terus mencumbu istrinya tanpa ampun.


Lalu pagi ini,kedua suami istri itu melakukan kegiatan panas untuk kesekian kalinya sebelum turun ke bawah menemui dan menyapa keluarganya.


_


_


_


☆☆☆☆☆


\=> 😉😊✌✌

__ADS_1


__ADS_2