Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
56.Meminta Restu


__ADS_3

Karena Edrick pulang terlalu malam,akhirnya rencana Edward memberitahu kedua orang tuanya untuk melamar Aya jadi tertunda.Semua sudah kembali ke kamarnya masing-masing.


Edward pun juga begitu,dia sudah berbaring di ranjangnya.Menatap langit-langit kamar yang terasa di bayangan matanya adalah wajah tersenyum Aya yang manis.


Setengah jam kemudian dia sudah menguap beberapa kali,dan akhirnya tertidur setelah membaca doa mau tidur.


Suara adzan subuh di ujung jalan sebuah masjid raya berkumandang,Edward bangun dari tidurnya lalu dia beranjak ke kamar mandi untuk sholat subuh.


Rencananya setelah sholat subuh dia mau meneruskan pemeriksaan laporan yang tadi malam sempat tertunda.


Setelah selesai berwudhu,Edward langsung mengambil sarung dan bersiap sholat subuh.


Lima menit sholat subuh di kerjakan,Edward merapikan kembali sarung dan sajadahnya yang tadi dia gelar di pinggir ranjangnya.


Dia kemudian menuju balkon,membuka pintunya untuk keluar.Semiilir angin di pagi hari seperti ini sangat segar,rasa adem menyentuh kulitnya yang akhir-akhir ini berwarna cokelat.


Edward berdiri tepat di pembatas balkon,dia berdiri dengan kedua tangan bertumpu di pinggiran pagar pembatas.Menghirup udara segar di pagi hari,membuat rongga dadanya terasa segar.


Sepuluh menit,dia berdiri dan menikmati udara segar pagi hari.Lalu dia masuk kembali dan menjalankan rencana semula di pikirannya.Menyelesaikan pemeriksaan laporan.


Sebelum kembali ke pesantren menemui Aya,dia harus menyelesaikannya,agar tidak ada ganjalan nantinya.


Dan rencana kedepan setelah meminta pada kyai Sobri,Edward akan ke Inggris selama satu bulan untuk kembali memimpin perusahaannya yang selama empat bulan lebih dia tinggalkan.


Waktu sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh,Edward melihat jam di ponselnya.Kemudian segera menyelesaikan kegiatannya lalu pergi ke ruang makan untuk sarapan pagi.


Tok tok tok


Suara pintu kamar Edward di ketuk dari luar.


"Kak Edward,cepat bangun.Sudah siang,kata mama mau sarapan bareng ngga?"teriak Sania dia balik pintu yang terkunci belum sempat di buka.


"Ya,kakak keluar sebentar lagi."jawab Edward.


Lalu dia merapikan berkas-berkas tadi yang berantakan.Menumpuknya menjadi satu dan di letakkannya di meja.


Setelah selesai,dia kemudian keluar dari kamarnya untuk sarapan pagi bersama.


_


Suara denting piring dan sendok beradu di atas meja,masih belum ada yang bersuara karena sarapan di pagi hari biasanya di awali dengan percakapan santai.


"Pa,ma aku mau bicara sama kalian."ucap Edward ketika dia sudah menyelesaikan sarapannya.


"Bicara apa sayang,sepertinya serius banget."tanya mamanya merapikan piring dan sendok di depannya dan suaminya.


"Begini pa,ma.Rencananya setelah peresmian tower komunikasi di kampung G,aku mau melamar perempuan yang sudah lama aku suka."ucap Edward.


Baik Nicko,Sania,nyonya Karina dan pak Robert mendengarkan dengan seksama ucapan Edward.


"Lalu?"tanya pak Robert pada Edward.


"Ya mau menikahinya pa."ucap Edward.


"Gadis itu siapa?"


"Dia sebenarnya gadis yang sederhana pa.Tapi dia keponakannya seorang kyai di kampung.Maka dari itu aku minta restu dari papa dan mama untuk melamarnya dan menikahinya."ucap Edward.


Pak Robert diam sejenak,dia melirik ke arah anak sulungnya yang terlihat sangat santai mendengar pembicaraan Edward mengenai melamar seorang gadis.

__ADS_1


"Mama setuju aja sayang,asal dia baik dan menurut pada suaminya nanti."ucap nyonya Karina menyela sebelum suaminya menanggapi ucapan Edward.


"Papa setuju aja.Papa juga menunggu kakakmu memberitahu hal yang sama sepertimu."ucap pak Robert menatap Nicko.


"Nicko masih belum memikirkan pernikahan pa,aku mau mengurus perusahaan dulu.Selama ini semuanya papa yang selalu menyelesaikan masalah di perusahaan,jadi aku mau belajar dulu.Mungkin satu tahun untuk bisa menguasai perusahaan."ucap Nicko.


Dia tidak mau menghalangi niat baik adiknya.Lagi pula dia belum mempunyai calon yang akan di tunjukkan pada kedua orangtuanya.


"Tapi gadis itu bukan anak orang kaya pa,ma.Hanya aku tertarik karena dia begitu sederhana dan sangat baik agamanya.Aku sangat suka gadis seperti itu."


"Ya,mama kan tadi bilang mama setuju aja dengan pilihan kamu.Asal dia sopan pada orang tua dan patuh pada suaminya,kenapa harus di permasalahkan status sosialnya."


"Benar kata mama,dulu papa juga bukan dari orang kaya.Tapi papa bertekad untuk lebih baik lagi untuk bisa memperistri mamamu."


"Wuih,papa so sweet dengan mama."ucap Sania yang sejak tadi diam saja mendengarkan kakaknya berbicara.


"Iya dong,mama itu cinta pertama dan terakhir papa."ucap pak Robert seperti menggombal.


"Ah yang benar pa?"tanya Sania tidak percaya.


"Tanya aja sama mama kamu,mama kamu tahu perjuangan papa mendapatkan mama dulu."


"Beneran ma?Wah,cerita dong."


"Sudah ah,sudah siang.Sana pada kerja."ucap nyonya Karina yang merasa malu di goda oleh anak dan suaminya.


Baik Edward dan Nicko hanya tersenyum saja.


"Terus,kamu sekarang mau kemana?"tanya Nicko pada Edward.


"Ngga kemana-mama,mungkin tiduran di kamar."


"Iya sayang,kamu bisa bantu kakakmu sementara belum berangkat lagi ke Inggris."ujar nyonya Karina menimpali.


"Baiklah,tapi aku berangkat sendiri saja.Karena nanti waktu makan siang harus ke hotel bertemu Edrick."


"Aku ikut."


"Ck,apa sih kamu."


"Pa,kak Edward kalau aku mau ketemu Edrick pasti marah.Masa aku ngga kemana-mana sih?"


"Kamu pergi sama mama tuh berbelanja di mall."ucap Edward.


"Sini dong kartu debitnya,kak Edward yang bayarin."


"Ish,kamu punya sendiri juga."


"Kakak yang nyuruh aku ke mall sama mama,jadi harus bertanggung jawab dong."


"Udah dong sayang,kamu tuh setiap hari kalau ada kakakmu selalu ribut."


"Biarin ma."


"Ma,aku berangkat dulu ya."ucap Nicko menyalami tangan mamanya.


"Iya sayang,hati-hati di jalan."


"Papa juga berangkat dulu ya ma."ucap suaminya kali ini.

__ADS_1


"Pak Dori ngga masuk pa?"


"Istrinya sedang sakit,jadi papa beri dia libur selama empat hari."ucap pak Robert mencium pipi istrinya.


"Kok papa baru bilang sekarang sih,kan mama bisa jenguk istrinya."


"Ya sekarang aja jenguknya sama Sania,dari pada ke mall buang-buang duit."ucap Edward.


"Ngga bisa,pokoknya harus ke mall.Dan sini kartu debitnya.Pulang dari jenguk istrinya paman Dori pergi ke mall."ucap Sania keras.


Edward hanya menatap adiknya yang sekarang lebih galak ketika urusan belanja di mall.Dia mengambil dompetnya dan meloloskan kartu debitnya.Kartu itu langsung di sambar Sania.


"Awas jangan banyak-banyak belanjanya."


"Tenang aja,paling habis sepuluh juta."


"Hei,sini kalau gitu.Enak aja,ngumpulin duit tuh susah,malah buang seenaknya aja."


"Hadeeh,mama jadi pusing sama kalian berdua."ucap nyonya Karina pada kedua anaknya yang sejak tadi berdebat.


Sania langsung berlari masuk ke kamarnya,sedangkan Edward mendengus kesal.Dia juga masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap pergi ke kantor kakaknya.


_


Satu minggu sudah berlalu,peresmian pendirian tower sudah bisa di laksanakan.Emil sedang mengurus segala sesuatunya untuk acara peresmian itu.Tidak lupa dia menyiapkan rumah kontrakan yang dulu pernah di tinggalinya dan Edward ketika masa pencarian Nicko.


Sambungan telekomunikasi sudah bisa di gunakan dua hari yang lalu,tinggal meresmikannya saja.


Tidak banyak yang di undang,hanya kepala desa kepala camat juga bupati di saja.Serta kyai Sobri sebagai tetua kampung dan pemuka agama di sana.


Emil menghubungi Edward yang juga sudah bersiap pergi ke tempat itu.Memang rencananya dia akan menginap di sana selama tujuh hari,bertemu Bayu dan tentu saja bertemu Aya.


"Halo tuan muda,saya sudah mempersiapkan semuanya di sini.Anda bisa datang dan langsung ke tempat kontrakan dulu."ucap Emil ketika dia menghubungi Edward.


"Ya,besok aku kesana.Tidak ada yang kurangkan?"


"Ya tuan muda,semua sudah beres.Tinggal anda saja yang meresmikan tower itu."


"Baiklah,aku datang agak sorean.Karena kebetulan papa sedang pergi ke Malaysia sama mama."


"Dalam rangka apa tuan besar ke Malaysia?"


"Ada koleganya yang meminta papa datang ke sana,jadi terpaksa papa datang kesana sama mama.Paman Dori juga ikut kesana,jadi sekarang aku yang menjaga kantor papa sementara.Katanya besok papa pulang,biar besok aku bisa menghadiri peresmiannya."ucap Edward.


"Baiklah tuan muda,saya tutup dulu teleponnya."


"Ya."


Emil kemudian memutus sambungan teleponnya,dia meletakkna ponselnya di atas meja.Hari sudah menjelang sore,kini Emil sudah bisa beristirahat.


_


_


_


☆☆☆☆☆


\=> tetep dukung othor ya,tanpamu apalah artinya..😉😊

__ADS_1


__ADS_2