Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
81.Emil dan Sania


__ADS_3

Flash back :


Nyonya Karina marah-marah ketika tahu Sania tidak mau pulang di acara pesta pernikahan Edward.


Apa sebabnya dia tidak mau pulang di acara penting itu.Dia terus menghubungi Sania teru,sampai Edward pun memghubungi Emil kenapa Sania tidak mau pulang di acara pernikahannya.


"Emil,apa yang terjadi dengan Sania? Kenapa dia tidak mau pulang?"tanya Edward penasaran.


Barangkali Emil tahu sebabnya Sania tidak mau pulang.


"Maaf tuan muda,saya juga kurang tahu kenapa nona Sania tidak mau pulang.Padahal tiket sudah di pesan jauh hari."jawab Emil.


Dia sebenarnya mengerti dengan keputusan Sania,tapi itu sudah jadi rahasianya berdua.Emil malah melupakan semuanya.


"Ck,anak itu masih saja bikin orang kerepotan.Mama jadi uring-uringan karena Sania tidak mau pulang."kata Edward lagi dengan kesal.


Emil diam saja di sana,dia juga tidak bisa berbuat apa-apa dengan kekeras kepalanya Sania.Dia juga sudah bilang jangan di pikirkan tentang malam itu,tapi Sania tetap tidak mau pulang.


Lambat laun akan ketahuan dengan sikapnya itu,membuat orang semakin curiga.Apa lagi Edward akan berangkat lagi dalam satu bulan kedepan.


Dia pasti akan mengintrogasi tanpa henti,tidak akan berhenti bertanya dengan jawaban yang tidak memuaskan baginya.


Untuk saat ini sih aman,tapi entah apa yang akan terjadi nanti jika Edward tahu.


Emil juga tidak luput dari kemarahan Edward nantinya,maka dari itu dia berpikir lebih baik bercerita dengannya.Toh dia tidak melakukan di luar batas pada adik bosnya itu,hanya semata membantunya saja.


Tap bagaimana dengan janjinya pada Sania?Dia juga tidak tega akan kemarahan Edward pada Sania.


"Emil,benar kamu tidak tahu apa-apa?"tanya Edward mencari kepastian apa yang terjadi pada adiknya.


Emil diam,lalu dia langsung menjawab iya.Karena diamnya akan menandakan ada sesuatu yang di tutupi Emil.Karena Edward bukanlah laki-laki bodoh,dia sudah lama hidup dan berdampingan dengan Emil.


Dia tahu apa yang di sembunyikan oleh Emil.


"Tidak ada tuan muda,nona Sania merasa dia kurang berlibur di Inggris."kata Emil beralasan.


"Tapi bukan berarti dia melewatkan hari pentingku,Emil."kata Edward lagi.


Dia sudah menduga ada sesuatu yang di sembunyikan Sania dan Emil tahu rahasia Sania.


"Saya tidak tahu tuan muda."


"Ck,jawabanmu semakin meyakinkanku kalau Sania menyembunyikan sesuatu dan kamu mengetahuinya.Baiklah,mendesakmu mengaku di telepon akan sia-sia saja.Perlu aku hajar kamu agar mengaku."ucap Edward yang kesal pada asistennya itu.


Di seberang sana Emil semakin diam.Dia jadi dilema,bukam maksud dia merahasiakan sesuatu pada Edward.Namun itu juga menyangkut dirinya juga.


Jadi dia pikir lebih baik diam sekarang,nanti dia bisa jelaskan tanpa merugikan Sania.Karena memang dia juga bersalah tidak mengawasi Sania dengan ketat.


Flash back off


_


Sania masih di apartemen Edward,dia tidak berani keluar,apa lagi bertemu sering bertemu Emil.Rasanya mau sekali ketika dia mengingat malam itu.

__ADS_1


Dia memberitahu keluarganya kalau dia tidak pulang di acara pesta pernikahan kakaknya,Edward.Tentu saja mamanya nyonya Karina marah dan juga kakaknya.


Bisakah dia bersembunyi dari semua rasa malu itu? Dia selalu merutuki kecerobohannya berteman dengan Nathalie.


Dia tidak tahu jika nanti Edward kembali ke Inggris,sesuatu akan meledak.Seharusnya dia menerima usulan dari Emil,melupakan kejadian itu dan jangan di ingat lagi.Bersikap normal seperti biasa,toh tidak ada perubahan dalam dirinya.


Tapi Sania keras kepala,dia tetap tidak pulang walaupun mamanya marah apalagi Edward.


Satu deringan telepon berbunyi di ponselnya.Nama Emil muncul di sana,Sania mendesah.Dia tidak ingin berbicara dengan Emil apa lagi bertemu dengannya.


Tapi Emil malah berkali-kali meneleponnya dan ingin bertemu dengannya.Bukan karena ada apa-apa,namun memang tugas Emil menjaga dirinya.Memastikan keadaannya baik-baik saja agar laporan ke tuan besar tidak membuat janggal.


Sania mendesah,berkali-kali berbunyi ponselnya dari nomor yang sama.Dengan terpaksa dia mengangkat telepon itu.


"Halo kak,ada apa?"tanya Sania dengan malas.


"Nona keluarlah,saya bawakan sesuatu untuk nona."kata Emil di telepon.


Sania masih diam,dia enggan keluar.Dia masih malu bertemu Emil.


"Nona,keluarlah."perintah Emil lagi.


"Iya,aku keluar."sahut Sania.


Lalu sambungan telepon terputus.Sania beranjak dari ranjangnya untuk keluar dari apartemen Edward menemui Emil.Dia merapikan rambut yang sedikit berantakan,lalu bergegas menuju depan pintu apartemen.


Sania membuakanya,dan terlihat Emil sedang membawakan satu kantong kertas.Dia masuk ke dalam apartemen tanpa menunggu Sania mengizinkannya.


Emil duduk di sofa,menunggu Sania mengikutinya dan ikut duduk juga.


Mata Sania berbinar,dia lalu menatap Emil.


"Itu untuk aku kak?"tanya Sania dengan senyum cerianya.


"Iya,makanlah nona."kata Emil.


Dia menyerahkan kantong kertas itu pada Sania.Sania menerimanya dengan senang dan langsung membukanya.


Dia ambil satu burger yang berisi daging tebal serta sayur-sayuran.Dia memakannya dengan lahap,roti isi daging itu di lahap Sania dengan cepat.Hingga dia tersedak karena makan terburu-buru.


Emil memberikan minuman bersoda yang tadi tergeletak di meja.Sania langsung meminumnya untuk memgurangi sesak di mulutnya.


"Hati-hati kalau makan nona,keselek jadinya."ucap Emil memperingatkan Sania yang makan seperti anak kecil.


"Aku lapar kak,dan burger ini sangat enak.Jadi tidak sabar untuk menghabisinya."ucap Sania yang langsung makan kembali setelah minum.


Emil hanya geleng-geleng kepala,dia bersandar di sofa dan mengambil ponselnya.Mengecek apakah ada beberapa yang masuk ke gadgetnya itu.


Sania memperhatikan Emil yang duduk santai sambil bermain ponsel.Dia terus memperhatikan lebih dalam,hingga bayangan malam itu berseliweran di otaknya.


Dia menoleh ke samping,menahan malu karena memgingat malam itu ketika orangnya ada di depannya.


Dia kemudian mengambil minumannya,menutupi rasa malu dan wajah meronanya.Di liriknya lagi Emil,ah sepertinya dia ganteng jika di lihat lebih dalam.Pikir Sania tidak sadar.

__ADS_1


"Nona,apa yang anda lihat?"tanya Emil membuyarkan lamunan Sania.


Sania berpaling,dia kembali menggigit burgernya dan mengunyahnya lagi.Tidak memperhatikan pertanyaan Emil.


Emil yang melihat Sania aneh jadi geleng-geleng kepala saja.Dia lalu melanjutkan kembali bermain ponsel.


Satu jam lebih Emil di apartemen Edward bersama Sania,tidak ada perbibcangan serius.Emil pun hanya sekedar mengantarkan makanan dan memastikan adik majikannya itu memakan makanan yang tadi dia bawa.


Lalu dia berpamitan setelah Sania makan dan menghabiskan dua burger serta satu gelas minuman bersoda.


"Saya pulang nona,besok jika mau jalan-jalan sekitar sini silakan saja.Pesan saya jangan nona abaikan."kata Emil.


"Iya kak,aku akan mengingatnya."jawab Sania.


Lalu Emil membungkuk setelah itu dia berbalik dan berjalan meninggalkan Sania yang masih berdiri di depan pintu dengan menatap Emil dari belakang.


_


Sania pergi ke minimarket terdekat,dia masih trauma dengan pertemuannya dengan Nathalie.Kalau bisa jika pun bertemu dia akan menghindar dari Nathalie.


Tapi sayangnya semua pikiran Sania tidak terelakkan.Dia benar-benar bertemu Nathalie di minimarket itu,dia sedang tersenyum sinis pada Sania yang masih belum menyadari akan Nathalie.


"Sania."panggil Nathalie.


Sania menoleh,dia terpaku sejenak melihat Nathalie yang tersenyum itu.Wajahnya merah padam,dia ingin menghindar,tapi dia juga ingin melabrak perempuan itu.


Sania mendekat,lalu dia menarik Nathalie dan menamparnya keras.Orang-orang di sekeliling melihat kejadian itu merasa heran.


"Kamu sengaja kan membuatku seperti itu?"tanya Sania langsung pada intinya,dia begitu marah pada Nathalie.


"Seperti itu apa,Sania?"tanya Nathalie pura-pura tidak mengerti.


"Jangan mengelak,Nathalie!"


"Sania! Kamu bertemu denganku langsung menamparku,apa itu kamu perempuan anggun dan terhirmat? Kamu mungkin bahkan sudah tidak berguna lagi.Pasti asisten kakakmu yang sialan itu telah mengambil milik paling berhargamu.Kamu tidak lebih dari perempuan murahan,Sania."ucap Nathalie tajam.


Sania ingin bicara lagi,namun sebuah tangan menariknya dan berdiri di belakang orang itu.


Baik Sania dan Nathalie terkejut siapa laki-laki itu.Ya,dia Emil yang menarik tangan Sania.


Wajah Emil yang berubah jadi kelam menatap Nathalie dengan tajam.Dia bersikap tenang namun membuat Nathalie jadi ketakutan sendiri.


"Nona Nathalie,siapkan diri anda untuk pergi dari negara ini.Karena sebentar lagi saya akan membuat anda hidup sengsara.Cam kan itu baik-baik nona Nathalie."ucap Emil mengancam Nathalie.


Lalu Emil membawa Sania pergi dari hadapan Nathalie yang masih terpaku dengan ucapan Emil tadi.


_


_


_


☆☆☆☆☆

__ADS_1


\=> 😉😊✌✌


__ADS_2