Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
76.Sania Bertemu Nathalie


__ADS_3

Waktu keberangkatan Edward dan Aya di bandara sudah dekat.Pukul tiga sore keduanya harus berada di bandara,karena jam empat sore pesawat sudah terbang ke Indonesia.


"Bie,kata dokter aku tidak boleh capek.Terus bagaimana nanti di pesta resepsi?"tanya Aya pada suaminya yang masih merapikan berkas yang harus di tanda tangani.


Dia harus menyelesaikan penanda tanganan dokumen untuk satu bulan ke depan,karena dia dan Aya akan tinggal satu bulan setelah pesta.


"Ya kalau sudah sampai di rumah,kamu tidak boleh sibuk harus diam di kamar saja."ucap Edward.


Dia menarik pinggang istrinya untuk duduk di pangkuannya,lalu mendekapnya.


"Berat bie,kamu kan lagi repot."kata Aya yang mencoba bangkit dari duduk di pangkuan suaminya.


Tapi tangan Edward justru semakin erat memegang pinggang istrinya.


"Diam aja sih,jangan gerak-gerak terus."ucap Edward mengendus leher istrinya itu.


Aya malah bergerak-gerak karena geli dengan ciuman suaminya itu.


"Geli bie,aku mau beres-beres dulu."


"Mau kemana?Kan sudah di bereskan semua."


"Ada yang belum,sudah ah."


Aya memaksa bangun,terpaksa Edward melepas pelukannya.


"Oya,Sania tidak ikut pulang bie?"


"Nanti lima hari lagi sama Emil."


"Lho kok Emil ikut pulang? Nanti siapa yang mengurusi perusahaanmu di sini?"


"Dia pulang cuma dua hari setelah pesta.Lalu berangkat lagi,jadi tidak bisa lama-lama di sananya."


"Oh."


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa.Hanya bertanya saja."


Edward melihat jam di tangannya,sudah pukul dua siang.


"Sayang,cepat siap-siap ya.Kita harus berangkat jam dua lebih.Pesawat kita berangkat jam empat sore."


"Ya sudah aku mandi dulu deh bie."


"Eh tunggu,kita mandi bareng."


"Tidak mau! Nanti kamu bikin lama lagi."


"Ngga sayang,cuma sebentar kok."


"Tapi kita mau naik pesawat bie,kan kata dokter aku ngga boleh capek."


"Kamu tahu,sejak tadi aku sudah menahannya.Jadi hanya sebentar,ngga lama mandinya."ucap Edward senyum seringai.


Aya hanya cemberut saja.Dia takut janin yang ada di rahimnya kenapa-kenapa.Tapi sejauh ini Edward bermain dengannya belum pernah mengalami sakit atau kram akibat percintaan mereka.


_


"Kak Edward nanti bilang sama mama,aku pulangnya sama kak Emil."ucap Sania ketika mereka di bandara.


"Tapi kamu jangan macam-macam di sini.Aku tidak akan segan memblokir semua akses kartumu selama di sini kalau kamu macam-macam."ancam Edward pada adiknya itu.


"Bie,sabar kenapa sih."ucap Aya menenangkan suaminya yang kelihatan kesal.

__ADS_1


"Siapa yang mau macam-macam sih kak,orang aku mau bersenang-senang aja kok."sanggah Sania.


"Ayo bie,pesawat sudah mau berangkat sepuluh menit lagi.Kalau kamu berdebat tidak penting nanti ketinggalan pesawat."ucap Aya menengahi.


"Benar apa yang di katakan nona Aya tuan muda,sebaiknya anda cepat ke pesawat."Emil menimpali.


"Kamu jaga adikku baik-baik,Emil.Jangan sampai dia bertingkah aneh."pesan Edward pada Emil.


Entah kenapa sejak Aya hamil,Edward menjadi sensitif pada adiknya.Sania sendiri merasa aneh dengan tingkah kakaknya.Walaupun dia sering terlibat perdebatan kecil dengan kakaknya itu,tapi kali ini sepertinya di sertai dengan rasa kesal juga.


Setelah kedua pasangan suami istri itu sudah memasuki metal detektor dan menyerahkan tiket dan paspor pada petugas,mereka masuk ke dalam pesawat.


Sania dan Emil kembali ke mobil,mereka langsung ke apartemen masing-masing.


"Kak Edward kenapa ya kelihatannya marah-marah terus."kata Sania yang sejak kedatangannya dia merasa kakaknya itu sering marah-marah.


"Harap maklum nona Sania,kakak ipar anda sedang hamil.Jadi mungkin yang lebih sensitif tuan muda."ucap Emil menjelaskan.


"Hah?Jadi kak Aya sedang hamil?Kok aku tidak tahu ya."ucap Sania kaget.


"Anda tinggal satu atap apa tidak bertanya pada kakak anda nona?"tanya Emil heran.


"Tidak,kak Edward tidak bilang padaku.Kak Aya juga tidak menunjukkan bahwa dia sedang hamil.Jadi aku pikir tidak ada yang aneh,kak Edward seperti biasanya selalu marah dan jangan begini jangan begitu kalau di rumah.Ternyata rasa sensitifnya itu karena kak Aya sedang hamil.Ehmm,cerewetnya naik seratus delapan puluh derajat.Duh,aku pusing jadinya."kata Sania.


"Apa yang akan anda lakukan di sini,nona?"tanya Emil.


"Aku pengen bersenang-senang,di rumah saja bosen."jawab Sania.


"Tapi kakak anda bilang harus jaga diri."


"Ya,aku bisa jaga diri.Jangan khawatirkan aku.Aku mau ketemu sama Edrick."ucap Sania,wajahnya senang ketika menyebut nama Edrick.


Semenjak dia datang ke Inggris,Sania belum pernah ketemu Edrick.Dia takut dengan kakaknya itu,sekarang kakaknya pulang ke Indonesia.Jadi dia bebas bertemu dengan Edrick.


"Tuan Edrick sibuk nona,tidak mudah untuk menemuinya."ucap Emil memberitahu.


_


Sudah sampai nona,silakan anda masuk ke apartemen.Jangan keluyuran kemana-mana di malam hari."ucap Emil seperti mengingatkan anak kecil.


"Hei,aku sudah dewasa kak.Jangan mengawasiku seperti anak kecil."ucap Sania kesal.


Dia masuk ke dalam dengan menghentakkan kakinya beberapa kali,kalau dia tidak suka seperti itu.


Emil hanya diam lalu bibirnya di tarik ke samping,menandakan dia seperti melihat anak kecil yang sedang ngambek pada ibunya.Kemudian dia menggelengkan kepala.


Malam ini Sania sangat bosan,dia ingin keluar dari apartemen.Mungkin hanya ingin ke minimarket terdekat untuk membeli cemilan.Dia tidak perlu memberitahu Emil,karena mungkin dia sedang istirahat.


Dia kemudian pergi dari apartemen Edward menuju minimarket terdekat.Dengan berjalan kaki dia ke minimarket,hanya beberapa ratus meter saja jarak apartemen Edward dan minimarket.


Sania berjalan dengan santai,karena ini malam minggu jadi banyak sekali orang lalu lalang menikmati malam minggu dengan pasangan atau teman mereka.


Sejak dulu dia di Inggris,tidak banyak yang dia kunjungi.Hanya sekitar kota London saja,karena Edrick benar-benar mengawasi dia bekerja di perusahaan kakaknya.


Ya mungkin hanya Edrick yang bekerja,Sania hanya menemaninya saja.Tapi dia merasa beruntung karena bisa lebih dekat mengenal Edrick.


Entah pesona apa yang di miliki Edrick hingga Sania sangat suka padanya.Namun Edrick sendiri tidak berpikir demikian.Edmntahlah,mungkin selera laki-laki itu sama dengan sahabatnya mengenai perempuan.


Sania masuk ke dalam minimarket,dia melihat-lihat beberapa snack dan camilan yang pengen dia beli.


Tak sengaja dia menabrak seorang perempuan dengan rambut pirangnya dan menoleh ke arah Sania dengan kesal.


"Kalau jalan lihat-lihat dong."kata perempuan itu dengan kesal.


"Nathalie?"sapa Sania pada perempuan yang marah padanya.

__ADS_1


Nathalie pun menatap Sania,dia juga kaget.Lalu kemudian bersorak.


"Sania! Kamu ada di Inggris?"tanya Nathalie tidak percaya.


"Ya,aku kesini minggu lalu.Kenapa kamu ada di minimarket ini?"


"Oh,itu aku lagi cari beberapa makanan kecil di sini."jawab Nathalie agak gugup.


Tidak mungkin dia bicara jujur kalau selama ini dia sering mengawasi apartemen Edward,berharap penjaga di sana tidak mengenalnya agar dia bisa masuk ke gedung apartemen milik Edward.


Tapi sekarang dia bertemu Sania,seperti pucuk di cinta ulam tiba.


"Oh,padahal kan apartemenmu jauh.Oya bagaimana kabar Edrick?"


"Mm,kamu masih suka sama Edrick?"


"Mm ya,kurang lebih begitu."jawab Sania malu-malu.


"Hahaha,baiklah.Akan aku beritahu,tapi kita keluar yuk malam ini."ajak Nathalie.


"Untuk malam ini sepertinya tidak bisa,maaf."


"Kenapa?"


"Aku belum izin sama kak Emil."


"Ck,laki-laki itu lagi?Mengawasimu?"


"Dia di beri tanggung jawab mngawasiku selama di sini.Karena tiga hari lagi aku juga akan kembali ke Indonesia."


"Kok cepat sekali pulang ke negerimu?"


"Ya,karena kak Edward akan mengadakan pesta pernikahan di sana.Aku tidak mau melewatkan itu."


Nathalie diam,dia kini mulai tidak suka dengan ucapan Sania.


"Bagaimana kalau besok malam.Aku yakin laki-laki itu memberimu izin."ucap Nathalie.


Dia berpikir rencana lain untuk Sania,senyum miringnya mengembang.


"Boleh juga,tapi tetap aku harus izin sama kak Emil."ucap Sania lagi.


"Terserah kamu.Kalau begitu aku duluan pulang ya,sampai besok malam Sania."


Natahlie pun berjalan menjauh dari Sania berada.Sania hanya menatapnya saja,dia lalu melanjutkan pencarian cemilan yang dia suka.


Ponsel Sania pun berbunyi,Emil.


"Halo,kak."


"Anda ada di mana nona?"


"Aku di minimarket terdekat.Kenapa memangnya kak?"


"Anda segera pulang kalau sudah selesai membeli makanan."


"Iya,aku akan langsung pulang Tenang saja kak "


Lalu sambungan telepon terputus,Sania berdecak kesal.Tapi dia tetap mengambil beberapa camilan dan langsung membayarnya kemudian dia pulang menuju apartemennya.


_


_


_

__ADS_1


☆☆☆☆☆


__ADS_2