Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
80.Berkenalan


__ADS_3

Edward masih berbincang-bincang dengan teman-temannya.Edrick juga bergabung dengan teman-teman Edward.Tapi dia selalu menengok ke arah Mentari yang sedang berbincang dengan Aya dan Salma.


Matanya tidak lepas dari gadis itu.Ada perasaan aneh di hatinya.


Edward yang melihat tingkah Edrick jadi penasaran,siapa yang di lirik oleh sahabatnya itu.Edward melihat arah pandang Edrick yang tidak lepas dari Mentari.


"Ehm,sepertinya ada yang menarik pandangan mata dari pada kita berbicara lainnya."ucap Edward yang sedang menyindir Edrick.


Edrick masih belum mengerti dengan sindiran itu,dia masih terus melihat tingkah Mentari yang tertawa lebar di tutupi tangannya.Edrick ikut tersenyum,entah apa yang membuatnya ikut tertawa.


Bahasa mereka saja berbeda,tapi kenapa Edrick ikut tertawa apa yang di tertawakan Mentari.


Edward menepuk pundak sahabatnya hingga dia terperanjat dan menatapnya kesal.Mengganggu kesenangan saja,pikir Edrick.


Edward yang tahu akan pikiran sahabatnya jadi tersenyum dan bersedekap menatap Edrick yang tiba-tiba jadi salah tingkah.


"Kamu suka gadis itu?"tanya Edward menunjuk Mentari dengan isyarat matanya.


Edrick tersenyum dan tertunduk,lalu memandang Edward.


"Apa bisa aku mendapatkannya?"tanya Edrick meyakinkan diri.


"Tergantung padamu,dia gadis yang seperti istriku.Polos dan lugu.Namun aku pikir terlalu berat untukmu mendapatkannya."kata Edward.


Dia tahu akan ucapan Edrick,dan berat memang baginya jika di paksakan.Karena dia yakin Mentari tidak akan mau menerima Edrick jika masih dengan perbedaannya sekarang.


"Jika berkenalan dengannya,apakah bisa?"tanya Edrick seolah dia hilang kepercayaan dirinya sebagai laki-laki penakluk perempuan.


"Hahaha,kemana Edrick yang playboy itu?Tapi jika hanya berkenalan kurasa bisa saja,asal jangan sampai hatimu tertinggal pada gadis itu."ucap Edward tersenyum penuh arti.


Lalu Edward berpamitan pada teman-temannya untuk bertemu dengan istrinya.Edrick juga ikut dengan Edward yang mendekat ke Aya.


Edward mendekap pinggang Aya dan ikut duduk di samping istrinya dan mencium pelipis Aya.Membuat Aya merona karena malu,sebab di situ masih ada Salma dan Mentari.


"Sayang,Edrick ingin berkenalan dengan temanmu ini."bisik Edward pada Aya.


Aya tersenyum,kemudian Salma beranjak pergi dan di susul oleh Mentari.


"Mentari tunggu."cegah Aya.


"Ada apa?"tanya Mentari heran,dia juga tidak mau mengganggu kemesraan Aya dan Edward.


"Ayo duduk lagi.Ada yang mau kenalan denganmu."kata Aya sambil menunjukkan duduknya.


Akhirnya Mentari duduk lagi,dia heran siapa yang ingin berkenalan dengannya.Dia juga tidak sadar sejak tadi Edrick yang tadi dia tabrak ada di belakangnya yang sedang menatapnya.


"Tari,kenalkan dia Edrick teman suamiku ingin berkenalan denganmu."kata Aya menunjuk Edrick.


Mentari menoleh ke arah Edrick,dan betapa terkejutnya dia kalau laki-laki tadi yang dia tabrak dan menumpahkan jusnya ada di hadapannya.


Dia malu,lalu berbisik pada Aya.


"Ay,dia tadi yang aku tabrak dan menumpahkan jus di bajunya."bisik Mentari pada Aya.


"Memang kenapa?"tanya Aya.


"Aku takut dia marah dan di suruh mengganti bajunya yang mahal itu."kata Mentari lagi.


"Dia ingin berkenalan denganmu.Tapi dia tidak bisa bahasa kita."ucap Aya lagi.


Mentari menatap Edrick yang sedang menatapnya juga,lalu dia melambaikan tangan ketika Mentari menatapnya.

__ADS_1


"Hai,aku Edrick."sapa Edrick mengenalkan diri pada Mentari dengan bahasa Indonesia.


"Ya,aku Mentari."ucap Mentari gugup.


Dia berbisik lagi pada Aya.


"Dia bisa bahasa kita?"tanya Mentari.


"Paling cuma kalimat itu saja mungkin."jawab Aya,dia juga tidak menyangka Edrick bisa bahasanya.


"Mentari?"


"Ya."


"Aku suka nama kamu."


"Ah ya,terima kasih."kata Mentari tersipu malu.


Edrick masih menatap Mentari,senyumnya masih mengembang membuat Mentari jadi salah tingkah.


"Sayang,ayo kita masuk ke kamar.Aku lelah sekali ingin istirahat."ucap Edward.


"Tapi mereka berdua nanti bagaimana?"tanya Aya.


"Bagaimana apanya?Biarkan dia berkenalan lebih jauh."jawab Edward.


"Tapi Mentari tidak bisa bahasa Inggris."


"Edrick bisa bahasa Indonesia walau sedikit-sedikit.Sudah tinggalkan mereka berdua,semua sudah pada masuk ke kamar masing-masing.Memang kamu tidak lelah?"


"Ya,aku lelah.Tapi aku masih takut pada Mentari.Kamu bilang Edrick itu palyboy,takutnya Mentari jadi di permainkan olehnya."


"Edrick tidak begitu sayang,dia kalau sudah suka tidak akan bermain-main.Sudahlah tinggalkan mereka."


_


Mentari jadi gugup,sejak tadi dia di tatap oleh Edrick.Entah apa yang akan dia lakukan,kakaknya sudah masuk ke kamar hotel duluan.Jika dia masuk ke kamar hotel,lalu mister bule ini bagaimana?pikir Mentari.


"Emm maaf mister,saya mau ke kamar dulu.Mau istirahat."ucap Mentari bingung,dia tidak tahu apakah Edrick tahu apa yang dia katakan.


"Ya silakan,tapi boleh saya tahu nama kamu?"tanya Edrick,mengulang perkenalannya tadi.


Dia tidak tahu harus berkata apa,karena bahasanya masih sedikit sekali kosakatanya.


"Yah,tadi kita sudah berkenalan mister."ucap Mentari heran.


"Oh ya,maaf saya salah bicara."kata Edrick sedikit salah tingkah.


"Bisa saya tinggal masuk ke kamar mister?Saya lelah pengen tidur."kata Mentari memperagakan posisi tidur dengan tangan mengapit di pipinya.


Edrick malah melihat Mentari seperti itu tambah lucu dan gemas.Dia tersenyum,membayangkan setiap hari bertemu dan berbicara dua arah namun beda bahasa yang kadang membingungkan mengartikannya.Perlu ada penerjemahnya.


Kemudian Mentari melangkah hendak berbalik karena dia pikir Edrick tertawa tadi mengiyakan dia untuk pergi dari hadapannya.


Tapi rupanya Edrick tidak begitu,dia ingin Mentari masih di situ menemaninya.Tapi dia lupa,hari sudah sangat malam.Mentari tidak biasa ngobrol dengan laki-laki sampai malam larut.


"Tunggu Mentari."


Mentari berbalik,dia menatap Edrick heran.


"Ada apa mister?"

__ADS_1


"Ah tidak,selamat malam."ucap Edrick lagi.


"Selamat malam juga mister."sahut Mentari.


Lalu Mentari benar-benar pergi dari hadapan Edrick,dan Edrick pun tidak mencegah Mentari masuk ke dalam hotelnya.


Sejak tadi,Edrick menahan detak jantungnya di depan Mentari.Entah kenapa dia jadi salah tingkah di depan Mentari.Dia menggaruk leher bagian belakang,bingung mau apa yang dia lakukan.


Akhirnya dia menuju bar yang ada di hotel itu,mencari minuman yang biasa dia minum di kala hatinya gundah.


_


Siang menjelang,semua sudah sibuk untuk menyiapkan diri untuk makan siang bersama.Rencananya makan siang bersama dengan ini akan di hadiri oleh keluarga inti Edward saja dan keluarga kyai Sobri dari pihak Aya.Mereka akan beramah tamah di waktu makan siang.


Serta saling mengenal satu sama lain.Nyonya Karina belum sempat bertemu Mentari,dia ingin mengucapkan terima kasih pada Mentari karena waktu penculikan Nicko Mentari yang membantunya.


Ketika nyonya Karina melihat Mentari yang di tunjuk oleh Aya,dia langsung menghampiri.


"Halo Mentari?"tanya nyonya Karina tersenyum ramah.


"Halo juga nyonya,selamat siang."jawab Mentari hormat,menyalami tangan nyonya Karina sebagai bentuk takzim pada orang tua.


"Saya hanya mau mengucapkan terima kasih pada nak Mentari karena telah membantu anak saya Nicko waktu di culik dulu."kata nyonya Karina.


"Tidak masalah nyonya,kebetulan saja kami bertemu di sana dan memang saya di culik itu untuk memenuhi kebutuhan makan tuan Nicko."kata Mentari.


"Ya,tapi tetap saja kalau tidak ada nak Mentari mungkin Nicko tidak bisa apa-apa."ucap nyonya Karina lagi.


"Ma,di panggil papa itu."kata Edward yang menghampiri mamanya.


"Oh ya mama kesana sayang.Mentari,saya sekali lagi mengucapkan terima kasih."


"Iya nyonya,sama-sama."


Lalu nyonya Karina pergi meninggalkan Mentari,Mentari pun hendak pergi tapi di tahan oleh Edward yang menunjuk untuk duduk di tempat keluarga.Di sana ada Aya dan Edrick serta Bayu dan Salma sedang bersenda gurau.


Mentari pun mengikuti apa yang di tunjuk Edward.Dia berjalan di belakang Edward sambil menunduk malu.


Perbincangan hangat terjadi antara kedua belah pihak.Bayu yang merasa adiknya selalu di pandang oleh Edrick jadi heran.Apa ada sesuatu di antara mereka?pikir Bayu.


"Mentari,kamu kenal laki-laki itu?"tanya Bayu sambil berbisik.


Mentari menatap Edrick sekilas,namun dia tertunduk lagi.


"Iya mas,tadi malam aku kenalnya.Namanya Edrick,dia teman tuan Edward."kata Mentari menjelaskan ikut berbisik pula.


"Kamu kenal jauh ya ternyata."kata Bayu,dia menatap Edrick penuh selidik.


"Tidak juga mas,tadinya aku tidak sengaja menumpahkan jus di bajunya.Jadi tidak sengaja juga berkenalan dengannya."bisik Mentari lagi.


"Kamu harus hati-hati,dia belum tentu baik seperti yang terlihat."ucap Bayu lagi mengingatkan.


Mentari hanya mengangguk saja,dia kembali menatap Edrick sekilas lalu tertunduk lagi.Padahal Edrick sudah sejak tadi hatinya senang di lirik beberapa kali oleh Mentari.


Makan siangpun akhirnya datang,mereka semua menuju meja masing-masing dan bercengkarama satu sama lain,melanjutkan obrolan tadi yang terputus.


_


_


_

__ADS_1


☆☆☆☆☆


__ADS_2