Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
31.Menunggu


__ADS_3

Edward kembali ke kamarnya,dia benar-benar gelisah.Menunggu penculik itu memberi kabar pertemuan untuk bernegosiasi penukaran uang yang mereka minta dengan Aya.


Dia akan memberikan uang berapapun untuk bisa Aya kembali dengan selamat.Dia terduduk kembali,melangkah menuju jendela kamar.Memandang jauh kedepan,matanya menerawang entah kemana.


Tak lama dia berjalan lagi ke ranjangnya,berdiri lalu duduk kembali.Menghela nafas panjang,dan tiba-tiba dia memukul kasur dengan kencang sehingga ranjang yang terbuat dari besi itu berbunyi kreot.


Wajahnya berubah merah karena menahan marah,dia marah tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.Dia benar-benar mengkhawatirkan Aya.Bagaimana dia,apa penculik itu menyiksanya,atau melecehkannya.


"Aaaaaah!!"


Edward berteriak keras,membuat Emil yang di luar kamar jadi terkejut dan buru-buru masuk ke dalam kamar.


"Tuan muda,ada apa?"tanya Emil heran.


Dia melihat majikannya yang begitu frustasi jadi heran.Ini di luar kebiasaannya,pkir Emil.


Dia mendekat dan duduk di samping Edward yang menunduk.


"Ada apa tuan muda?"tanya Emil sekali lagi.


"Aku seperti tidak berguna,hanya bisa diam sedangkan Aya di sana mungkin sedang berjuang untuk bisa lepas dari kelompok mereka."ucap Edward dengan dengan wajah menyesal.


Emil menarik nafas panjang,lalu beranjak kembali dan berdiri dekat jendela.


"Tuan muda jangan khawatir,anak buahku sedang mencari keberadaan mereka.Walau sedikit susah karena tidak bisa melacak dengan alat pelacak,karena semua serba terbatas.Namun tuan muda harus tetap tenang.Saya yakin nona Aya baik-baik saja.


"Bagaimana kamu tahu,sedangkan kamu juga tidak tahu keberadaan mereka."jawab Edward kesal.


Dia diam,kembali menenangkan pikirannya dan berpikir jernih.Lalu menghela nafas panjang,mengucapkan istigfar berulang kali.


Emil melihat Edward jadi merasa kasihan,lalu dia beranjak pergi dari kamar itu.


"Kamu sudah menyiapkan uangnya?"tanya Edward sebelum Emil keluar dari kamar itu.


"Sedang di kumpulkan tuan muda."jawab Emil,dia tahu Edward pasti marah jika uang yang dia siapkan belum terkumpul semua.


Memang sangat sulit untuk mengumpulkan uang satu miliar dalam satu hari,tapi dia akan coba mencairkan cek di bank terdekat di daerah itu.


"Apa? kamu belum mengumpulkan semuanya?!"


"Sangat susah untuk mengumpulkan uang satu miliar dalam sehari tuan muda,apa lagi di daerah terpencil begini.Mencairkan cek itu sangat susah."


"Pokoknya aku tidak mau tahu,besok harus ada uang itu dengan utuh!"


Emil menarik nafas panjang,dia jadi pusing dengan semuanya.Belum lagi perekrjaan proyek pembangunan saluran telekomunikasi harus secepatnya rampung dalam tiga minggu ke depan.


"Kamu keberatan dengan perintahku,Emil?"ucap Edward yang tahu Emil begitu berat dengan banyaknya tugas.


"Tidak tuan muda."


"Bagus,besok harus semua ada uangnya.Satu miliar."


" Baik tuan muda."


Lalu Emil keluar,dia memerintahkan pengawal untuk mengantarkannya pergi ke atas bukit.Ada yang harus dia selesaikan juga harus menghubungi seseorang.Hanya di sana dia bisa mendapatkan sinyal bagus,sungguh merepotkan!


_

__ADS_1


Dua hari Edward menunggu orang yang menculik Aya mengiriminya atensi seperti dulu,tapi sampai dua hari ini dia menunggu belum juga ada atensi yang di layangkan ke kontrakan pengawalnya itu.


"Sial! kenapa mereka belum juga mengirimi atensi ke rumah?!"ucap Edward kesal,dia memukul kursi yang kini di dudukinya.


Rasa sakit karena memukul kursi kayu tidak dia hiraukan.


Pengawal memberi tahu bahwa ada Bayu yang datang untuk bertemu dengannya.


"Tuan muda,ada teman anda dari pondok ingin bertemu."kata pengawal itu membungkuk.


"Suruh dia masuk."kata Edward.


Pengawal itu kembali dan menyuruh Bayu masuk ke dalam.


Bayu masuk ke dalam setelah dia mendapat instruksi dari Edward,walau dia dekat dengan Edward tapi kali ini Bayu lebih menghormatinya.Dia takut mengganggu karena bagaimanapun Edward adalah seorang yang punya perusahaan besar yang harus di tangani sehingga jika mencuri waktu untuk mengobrol dengannya harus izin dulu.


Edward melihat Bayu membawa kotak makan,entah apa isinya.Dan yang jelas dia sudah menduga kalau kotak makan itu untuk dirinya.


"Duduklah Bay,aku akan ke kamar sebentar."kata Edward.


Dia baru merasakan tangannya sakit ketika Bayu masuk,dia akan mengolesi tangannya dengan salep.Setelah selesai dia kembali lagi ke kursi ruang tamu di mana Bayu duduk.


"Ada apa kemari?"tanya Edward yang meniupkan tangannya karena perih.


"Tanganmu kenapa?"tanya Bayu tidak mengindahkan pertanyaan Edward.


"Ngga apa-apa."


"Bagaimana,apa ada kabar tentang Aya?"tanya Bayu.


Edward menghela nafas panjang,dia menggeleng.Raut wajah gelisah dan cemas tampak terlihat di mata Bayu.


Dia merasakan hal yang sama ketika adiknya hilang entah kemana.


"Aku tahu kamu sangat khawatir,apa anak buahmu sudah kamu sebar?"


"Sudah,tapi belum ada kabar.Karena di sini sangat terbatas untuk berkomunikasi,untuk melacak pun susah karena tidak ada sambungan internet."


"Apa mungkin Aya di bawa lagi ke rumah tengah hutan itu?"


"Tidak ada,semua pengawalku sudah menggeledah kesana."


Bayu ikut menarik nafas panjang,dia juga ikut bingung.


"Pak kyai Sobri menyuruhku untuk bertanya padamu tentang keberadaan Aya.Beliau bertanya mungkin kamu tahu Aya di mana."kata Bayu lagi.


"Aku minta maaf belum menemukan Aya,makanya aku tidak berani pergi ke pondok pesantren.Ini semua gara-gara aku,Aya yang jadi kena imbasnya."


"Sudahlah,kamu jangan menyalahkan diri sendiri.Kita berdoa saja semoga Aya baik-baik saja.Aku juga akan memberi tahu kyai Sobri kalau belum ada kabar dari Aya."


Setelah lama berbincang,Bayu akhirnya pamit pulang.Dia menyerahkan bekal kotak makan untuk Edward.


"Ini aku buat udang sambal pedas kesukaanmu,makanlah.Berpikir juga butuh tenaga,jangan tidak makan ya.Aku akan marah jika tidak di makan."ucap Bayu penuh ancaman,namun dia tersenyum.


Karena dia tahu Edward adalah orang yang selalu menghargai orang lain.Edward mengangguk saja kemudian tersenyum tipis.


"Aku pulang dulu,lain kali aku kemari lagi menayakan kabar perkembangan Aya."

__ADS_1


"Ya,terima kasih makanannya."


Lalu Bayu pergi dari rumah kontrakan itu meninggalkan Edward yang masih dengan kegelisahannya.


_


Empat hari berlalu,Edward sungguh di buat pusing.Dia kini uring-uringan saja,mencari di kota juga belum terlacak apa lagi di sekitar desa ini.


Dia sudah mengunjingi rumah pak Imron,siapa tahu ada orang yang di temui dan di paksa memberi informasi,tapi mengintai berhari-hari di sana tetap rumah dalam keadaan sepi dan kosong tak berpenghuni.


Dia juga heran,selama penculikan Aya pak Imron tidak pernah muncul di pondok pesantren ataupun di rumahnya.


Edward duduk di kursi kayu di luar,dia menatap ke depan sambil melamun.Hingga ada orang yang datang dengan gerak gerik yang mencurigakan dia tidak tahu.


Orang yang gerak-geriknya mencurigakan itu berjongkok agar tidak teihat oleh Edward yang duduk menatap ke depan.


Orang itu kemudian meletakkan sebuah carik kertas yang di ganjal dengan batu.Dia lempar ke depan pintu rumah itu,lalu dia kemudian mengendap pelan untuk pergi dari sana.


Setelah orang itu pergi,tak berapa lama mobil Emil masuk halaman depan.Dia parkirkan mobil tepat di samping Edward,sehingga menghalangi pandangan Edward yang sedang melamun.


Emil keluar dari mobilnya,dia melihat sebuah carik kertas di depan pintu.Kemudian dia memungutnya dan membukanya.Belum sempat dia membaca carik kertas itu di ambil oleh Edward.


Emil hanya diam,dia memandang Edward dengan datar.Memperhatikan tuannya membaca isinya.


*Besok anda bisa datang seperti petunjuk nanti.Besok juga akan ada orangku menjemput anda,dan anda harus ikuti orangku.


Jangan coba-coba membawa senjata dan bawa orang lain,jika melanggar gadis yang bersamaku akan tinggal nama saja.


Uang yang kami minta jangan lupa di bawa,saya tidak mau kamu menipuku*!.


Begitu isi surat tersebut,hingga Edward meremas kuat kertas itu lalu melemparnya.Rahangnya mengeras,dia kembali meninju tembok di dekatnya sambil mengumpat.


"Kurang ajar!Brengsek!!"


Emil yang melihat sikap Edward dia mengambil carik kertad yang tadi di lemparnya.Emil membaca isinya,kemudian di bawa ke dalam saku celananya.


"Apa tuan muda percaya dengan atensi ini?"tanya Emil,dia penasaran itu hanya perbuatan orang iseng.


"Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Saya hanya heran,tuan muda.Kenapa mereka tidak langsung meminta tebusan malah datang sesudah hampir seminggu ini."


"Jangan biscara konyol Emil! Aku takut Aya dalam bahaya."


"Bukankah gadis itu belum jadi apa-apa tuang muda?"


"Kamu jangan memancing kemarahanku,Emil!"kembali Edward berteriak


Emil menghela nafas berat,jika harus mengeluarkan lima ratu juta pun tidak masalah.Asalkan mausk akal,juga demikian memyangkut seorang gadiya.


"Tuan muda,saya permisi dulu."kata Emil yang membungkuk badannya dengam sopan.


Edward.menatap kembali Emil yang berlalu dengam tatapam sendu.


_


_

__ADS_1


_


☆☆☆☆☆


__ADS_2