Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
67.Obrolan Malam


__ADS_3

Waktu tinggal di rumah mertua dan mengenal keluarga Edward tak terasa sudah satu minggu terlewati.Aya begitu bahagia,walau keluarga mertuanya orang berada namun tidak membedakan dan menyinggung tentang asal usulnya.Walau Aya dari kampung terpencil,namun keluarga mertuanya sangat senang dan menyukainya.


Aya tidak merasa dia di pojokkan karena anak orang miskin dan dari kampung.Dia baru tahu jika keluarga Edward adalah ramah dan menerima siapapun yang jadi bagian keluarganya.Justru mereka kurang suka pada kegiatan orang kaya yang kebanyakan hanya memamerkan kekayaan dan membeli barang-barang mewah yang tidak banyak manfaatnya.


Bukan tidak menikmati hasil dari jerih payah,tapi lebih menghargai yang di dapat dari kerja keras.


Tidak semua orang kaya seperti kebanyakan,namun demikian sebagai orang kaya juga mengimbangi orang-orang di sekelilingnya.


Bisa membeli barang mewah karena kebutuhan bisa juga hobi,namun tetap ada pada batasnya.


Sejak berada di rumahnya,Edward sudah mengurus segala paspor milik istrinya untuk menetap di Inggris.


"Sayang,lusa kita berangkat ke Inggris.Kamu sudah siapkan?"tanya Edward ketika mereka sudah berada di atas tempat tidur dengan saling berpelukan.


"Aku siap aja,asal ada kamu.Tapi apa di sana tidak terlalu jauh ya?"tanya Aya,dia sebenarnya berat.


Meninggalkan kampung halamannya saja dia berat,tapi ini harus meninggalkan negaranya dan menetap di sana.Bisa dia bayangkan sendiri,suasana beda tiga ratus enam puluh derajat beda suasana dari kampingnya.


Mulai dari makanannya,suasana kotanya,kehidupannya juga pasti akan bagaimana jika dia di tinggal sendirian di rumah sedangkan Edward bekerja.


Lonjakan kehidupan yang sangat jauh bagi Aya,tapi dia tidak bisa menolak.Saat ini suaminya seperti itu adanya,dia harus menerimanya dan beradaptasi dengan cepat.


Semuanya yang dia rasakan adalah hal yang tiba-tiba.Mulai dari dia sudah menikah dengan Edward yang baru bertemu lagi,kemudian bertemu keluarga suaminya yang secara materi jauh sekali dengan keadaan dirinya di kampung.Lalu dia harus ikut suaminya di negeri orang dan tinggal di sana.Semua serba mendadak.


"Kenapa memangnya?"tanya Edward,dia melihat ada keraguan di matanya.


"Aku terlalu kaget dengan semuanya.Harus ke kota mendadak,dan sekarang harus pergi ke negara lain.Aku orang kampung,bisakah aku beradaptasi nantinya?"tanya Aya,menatap suaminya dengan raguan di matanya.


"Ada aku,aku akan selalu menemanimu,membantumu dan selalu membimbingmu.Jangan takut,semua sudah aku perkirakan sebelum kamu jadi istriku.Aku tahu kamu berat sayang,harus berpisah dengan orang-orang terdekatmu terutama kakakmu."


"Iya,aku sangat berat berpisah dengan kak Salma.Apa lagi sampai sekarang ibu entah di mana,waktu itu mencari ibu di tempat kerjanya.Tapi tidak ada,entah mau cari kemana.Apa kamu bisa mencarinya bie?"tanya Aya.


"Jangan khawatir,aku akan cari ibu.Kamu tenang saja.Nanti setelah kita berangkat ke Inggris,pulang kembali ibu sudah di temukan.Bersabarlah sayang."ucap Edward memeluk istrinya erat.


"Terima kasih bie.Oya,apa asisten kamu sudah berangkat duluan ke Inggris?"


"Hem,ya.Kenapa kamu menanyakan Emil?"


"Tidak apa-apa,hanya tanya saja."


Aya mengeratkan pelukannya,rasa berat untuk meninggalkan tanah kelahiran membuatnya sedih dan hanya bisa dia salurkan dengan memeluk suaminya dengan erat.


Edward tahu,istrinya itu sedih jika harus berpisah dengan keluarganya satu-satunya.Tapi dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama di sini.Dia tidak mungkin harus berpisah jarak dan waktu dengan istrinya.


Jadi dia sekarang harus memahami perasaan Aya saat ini.


Edward kemudian membelai rambut panjang Aya yang tergerai tanpa di ikat atau di gulung.Dia suka perempuan berambut panjang,apa lagi rambut istrinya berwarna hitam kelam.


Mungkin Aya selalu merawatnya dengan baik,Edward mencium kepala istrinya berkali-kali.Rambut Aya selalu wangi,dia suka.


"Rambut kamu bagus sayang,aku suka.Jangan pernah di potong ya."ucap Edward lagi terus mencium dan mengendus kepala istrinya.


"Bie,aku pengen menghubungi kak Salma tapi dia tidak punya ponsel."ucap Aya tangannya bermain-main di dada Edward dan menggambar abstrak di sana.

__ADS_1


"Besok aku kirim ponsel buat kak Salma dan Bayu.Uwak Sobri juga,biar kamu bebas menghubungi mereka setelah di sana.Tapi tidak menghubungi Bayu ya."ucap Edward.


"Ya nggalah bie,masa aku teleponan sama mas Bayu."


"Ya kali saja iseng."


"Ya kalau nomor kak Salma ngga aktif baru menghubungi mas Bayu kalau mendesak.Kenapa memangnya bie kalau aku menghubungi mas Bayu?"


"Nanti aku cemburu."


"Hah?Masa sama mas Bayu cemburu,yang benar saja."


"Benar sayang,aku itu tidak suka kamu dekat dengan laki-laki lain.Awas saja nanti di sana."


"Ish,belum apa-apa sudah di ultimatum.Memangnya aku mau dekat dengan siapa?Di sana juga aku ngga kenal orang-orangnya.Kamu ini ada-ada saja deh.Lagi pula aku ini sudah bersuami,mana boleh dekat dengan laki-laki lain.Sama kak Nicko juga tidak boleh dekat.Salaman tangan saja kalau bisa ya jangan.Bukan mahrom."terang Aya lagi.


Edward mengeratkan pelukannya,dia semakin sayang dan cinta pada istrinya itu.Dia yakin Aya tahu batasan seorang istri terhadap lawan jenis.Jika tidak terpaksa sebaiknya menghindar,namun harus tetap sopan.


"Terima kasih sayang,aku lega mendengarnya.Dan aku yakin kamu istri yang baik dan bermartabat.Aku jadi semakin cinta sama kamu."ucap Edward.


"Aku hanya tidak mau suamiku tidak ridho dengan pergaulanku.Salah satu cemburu itu bisa di katakan ketidak ridhoan suami pada istrinya.Namun demikian kalau cemburunya menjurus pada posesif yang berlebihan pada istri juga tidak bagus,karena nantinya seorang istri jadi tertekan dan frustasi.Semua serba di larang,jadinya yang ada pertengkaran di antara keduanya."


"Kamu umurnya berapa sih?"


"Kenapa memangnya?"


"Kamu begitu dewasa,tahu semua tentang kehidupan rumah tangga."


"Hanya teori bie,aku baru menjalani kehidupan berumah tangga.Entah nanti kedepannya seperti apa rumah tangga kita,tapi aku selalu berdoa yang terbaik buat rumah tangga kita,selalu di jauhkan dari segala musibah.Selalu mendekat pada Allah dan meminta pertolonganNya."


"Tidak lagi menggombal kan bie?"


"Tidak,sayang.Tanyakan saja nanti sama Emil,kalau aku tidak pernah jatuh cinta pada siapapun."


"Tapi pastinya yang suka sama kamu banyak kan bie?"


"Ya banyak,ada salah satu teman sahabatku dan juga temanku juga.Dia selalu mengejar aku,walaupun aku tidak suka dia.Tapi masih saja mengejar dan berharap aku menyukainya."


"Siapa bie?"


"Namanya Nathalie,nanti kamu jangan kaget ya kalau di Inggris ketemu dia.Kamu harus percaya sama aku,kamu yang pertama dan terakhir."


Aya diam,dia juga merasa penasaran yang mengejar suaminya itu.Namun demikian,dia bertanya pada diri sendiri apakah dia nanti akan cemburu?


"Cantik tidak orangnya bie?"


"Menurutku biasa saja,tapi dia suka berpakaian terbuka yang berlebihan.Aku tidak suka perempuan seperti itu."


"Maksudnya berpakaian seksi?"


"Ya,semacam itu."


"Rejeki lho bie,hehe.."

__ADS_1


"Tidak semua laki-laki menyukai perempuan seksi dan berpakaian terbuka sayang.Contohnya aku,tidak suka yang seksi."


"Yakin bie?Buktinya sama aku,kamu langsung sambar aja."


"Beda sayang,kalau sama kamu itu aku cinta dari hati paling dalam.Pengennya langsung terkam kamu terus,apa lagi kalau tidak pakai baju.Rasanya pengen makan kamu terus sampai sepuasnya,tapi sayangnya aku tidak pernah puas.Selalu dan selalu pengen terus."


"Mesumnya keluar."


"Yang penting mesum sama istri sendiri,tidak saka perempuan lain."


Kini obrolan itu menjurus ke hal yang lebih sensitif.Tangan Edward mulai bergerilya kemana-mana,mulai dari mengusap leher.Membelai kuping,lalu tangan satunya meraba ke depan dada Aya,membuka kancing baju piamanya dan menelusup tangannya di atas bukit kembar istrinya dan meremasnya pelan.


Bibirnya langsung menyambar bibir istrinya,hingga Aya ikut terbuai.


Aya sedikit bergerak karena geli.Dia menahan tangan Edward yang masih setia di dadanya.


"Bie,sudah.Euuh.."keluh Aya dengan lenguhannya.


Dia sudah tak bisa menahan desahannya karena Edward meremasnya kuat.


"Bie,jangan di teruskan,lepas tangannya."ucap Aya menarik paksa tangan suaminya itu.


"Kenapa?"melepas ciumannya.


"Aku lagi datang bulan."ucap Aya.


"Hah?Apa kamu bilang?"tanya Edward tidak percaya.


"Aku lagi datang bulan bie."ucap Aya sambil tersenyum simpul.


"Jadi malam ini aku harus puasa?"tanya Edward kecewa.


"Maaf bie,tadi selepas sholat isya keluar darahnya."kata Aya merasa menyesal.


"Sayang,kenapa tidak bilang dari tadi?"


"Ya kan aku tidak tahu.Baru tadi selepas buang air kecil,keluar darahnya.Maaf."menatap Edward yang kecewa,lalu dia menangkup pipi suaminya dan menciumnya.


"Terus?"


"Di tahan sampai satu minggu kedepan.Hehe.."


"Sayaang,tega banget sih kamu."


"Hehehe,maaf bie."


Akhirnya Edward tidak mendapatkan jatah malam ini,muka masamnya tidak juga hilang sampai malam larut.Aya mendekap suaminya itu agar tidak kesal dan kecewa.


_


_


_

__ADS_1


☆☆☆☆☆


\=> 😉😊✌✌


__ADS_2