Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
24.Mencurigai


__ADS_3

Aya masih menunggu laki-laki itu sadar dari pingsannya,dia menunggu sambil memasak di dapur untuk persiapan makan siang juga untuk memberi makan laki-laki yang sedang pingsan itu.


Aya mendesah,dia memikirkan siapa Edward yang di maksud laki-laki itu? Apa mungkin Ed yang dia maksud?


Memang penampilan Ed itu bukan tampang orang biasa,tapi lebih pada seorang yang punya pengaruh dan berwibawa.


Sejak dia kenal dulu di pasar,saat di kejar preman-preman pasar.Dia belum bisa mengenal lebih jauh,namun aura seorang pemimpin sudah terlihat ketika pertemuan kedua dia di kepung oleh preman yang menuntut balas padanya.


Tapi tiba-tiba mobil mas Bayu dan Ed datang,dia membantu mengusir preman itu,walau akhirnya harus berkelahi dengan prema-preman itu.


Selanjutnya,banyak sekali pertemuan-pertemuan dan akhirnya dia sering mengantar pulang setelah aku mengajar.


Tunggu,apa aku sedang memikirkannya?gumam Aya.


Haish,aku kenapa tiba-tiba memikirkannya.


Tidak terasa bau gosong tercium oleh hidungnya masakan yang dia masak.


"Astaghfirullah,kenapa aku melamun?sampai masakanku jadi gosong.Oh ya ampun,virus cinta mulai menjangkitiku."ucapnya bermonolog sendiri.


"Virus apa"tanya Salma yang tiba-tiba sudah ada di belakang Aya.


Aya terlonjak kaget,dia memegang dadanya dan menatap kakaknya kesal.


"Kak Salma bikin kaget saja."ucap Aya kesal.


"Ya kamu melamun,sampai masakannya gosong begitu.Kamu mikirin apa?"tanya Salma yang baru pulanh dari pasar.


Dia letakkan bakul di pojok dapur,kemudian dia menghitung jumlah uang yang dia dapatkan dari hasil berjualan di pasar.


Rupanya Salma belum mengetahui ada orang yang sedang tidak sadarkan diri di rumahnya.


Hingga dia melangkah ke ruang tamu,menjadi heran.Ada penampakan kaki yang memakai sepatu terbaring di kursi panjang.


Dia mendekat,melangkah penuh hati-hati.Dia penasaran lalu di pandanginya laki-laki yang sedang tertidur.Lalu dia sedikit berlari ke belakang menemui adiknya.


"Itu yang di kursi tamu,siapa Ay?"tanya Salma penasaran.


"Aku ngga tahu kak,dia datang waktu subuh dan berdarah di lengannya.Dia minta tolong,ya Aya tolong.Tapi sebelum dia mengatakan apapun eh,keburu pingsan."jelas Aya,dia masih menggoreng tempe tepung.


"Kamu terima dia begitu saja?Mana tahu dia penjahat."


"Ngga kak,dia mengetuk pintu minta tolong untuk bersembunyi dari kejaran entah siapa.Dan dia bilang minta tolong mau bertemu tuan muda Edward.Lalu dia pingsan."


"Terus bagaimana?"


"Ya kita tunggu dia siuman dari pingsannya.Kita tanyakan apa maksudnya dan kenapa dia bisa berdarah,tapi dia kayaknya habis di tembak di lengannya kak."


Salma menghela nafas panjang.Dia tidak mau terjadi pada keluarganya seperti adik Bayu.


"Kakak takut kamu kenapa-kenapa Ay,sudah cukup Mentari yang hilang dan sampai saat ini mas Bayu tidak mau memberi kejelasan pasti.Karena dia harus menemukan adiknya.Kakak tidak mau itu terjadi sama kamu."kata Salma lirih,Aya mendekat.


"Kakak tenang saja,nanti Aya cari tahu sama laki-laki itu.Baru setelah ketahuan identitasnya Aya akan antarkan dia atau kasih tahu keluarganya."ucap Aya.


"Ingat hati-hati ya Ay.Kakak ngga bisa harus kehilangan orang-orang yang kakak sayangi."


"Iya kak."

__ADS_1


Lalu Aya melanjutkan memasaknya,sedangkan Salma ke belakang dapur untuk mencuci pakaian yang sudah dia rendam semalam.Setelah itu dia akan ke ladang lagi untuk panen sayuran buat jualan besok di pasar.


_


Siang hari Aya sudah bersiap untuk berangkat mengajar di pondok,tapi dia ragu karena di dalam rumah laki-laki itu belum sadar.


Tapi akhirnya dia menuliskan secarik kertas untuk pesan bahwa dia akan berangkat mengajar di pondok.Dia simpan kertas itu di meja dengan makan siang untuk tamu misteriusnya itu.


Jika dia tersadar dan Aya tidak ada,maka dia bisa langsung makan makanan yang sudah tersedia di meja.


Tapi Aya ragu lagi,jika tamunya ini sadar dan dia pergi tanpa sepengetahuannya bagaimana?Sedangkan dia masih penasaran dengan laki-laki ini dan dengan ucapannya itu.


Aya mendesah pelan,merasa dilema sendiri.Lalu dia memutuskan untuk tidak pergi mengajar.Dia akan menunggu sampai laki-laki tersebut tersadar.


Aya kini kembali ke kamarnya,mengganti baju yang biasa dia pakai untuk pergi mengajar.Lalu dia keluar lagi hendak mencuci piring dan selanjutnya mengantar makanan pada kakaknya di ladang.


Baru saja dia ingin pergi ke dapur,tiba-tiba dia mendengar suara yang meminta air.


"Air...air.."


Aya bergegas ke ruang tamu,dia melihat laki-laki itu terbangun dan berusaha untuk duduk.Aya membantunya memegang tangannya,lalu dia terduduk sambil menunduk.


"Tterima kasih mba telah menolong saya."kata laki-laki itu sambil menenggak air yang di sodorkan Aya.


"Tidak apa bang,biar di sini dulu untuk istirahat.Biar keadaan abang lebih baik baru boleh keluar."


"Ini sudah jam berapa?"tanyanya.


"Jam dua bang.Apa yang abang butuhkan?"


Laki-laki itu diam,dia menatap Aya sebentar lalu tertunduk lagi.Dia berpikir,apa mungkin perempuan di hadapannya bisa menyampaikan pesannya tuan muda?Tapi dia sedang menyamar.Dan apakah dia tahu kalau tuan muda Edward ada di pondok pesantren?Lagi pula siapa perempuan ini?


"Abang makan saja dulu,jika ada perlu abang bisa panggil saya."kata Aya.


"Mm..apa boleh saya tunggu di sini sebentar?Sampai malam hari,nanti saya pergi dari tempat ini."kata laki-laki itu.


"Ya,silakan bang.Lebih baik abang istirahat dan makan saja dulu.Tangan abang juga belum kering."


"Terima kasih bantuannya nona,saya merepotkan nona."


"Tidak masalah,abang butuh bantuan jadi saya bantu."


"Oya,boleh saya tanya lagi?"


"Apa?"


"Nona ini tahu pesantren di desa sebelah?"


"Ya,saya mengajar di sana.Siang tadi harusnya saya mengajar,tapi saya tidak tega ninggalin abang sendirian di sini."


'Ah,kebetulan sekali.'pikir laki-laki itu.


"Apa nona kenal laki-laki yang baru mondok di pesantren itu,maksud saya laki-laki yang berperawakan tinggi dan wajah seperti orang luar negeri."tanya laki-laki itu.


Aya diam,dia heran dengan pertanyaan laki-laki tersebut.Lalu dia ingat kata-kata tuan muda Edward yang dia ucapkan sebelum pingsan.


"Iya,saya kenal dia .Memangnya ada apa?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa,hanya bertanya saja."jawab laki-laku itu yang ternyata adalah pengawal Edward yang tertinggal di hutan jati itu.


"Apa saya boleh tanya?"tanya Aya ragu.


"Ada apa nona?"


"Tadi pagi abang sebelum pingsan menyebut tuan muda Edward,siapa dia?"


Laki-laki itu diam,dia tidak berani menjelaskan siapa tuan mudanya pada orang lain.


"Tidak apa-apa,saya mungkin salah ucap."kata pengawal itu bohong.


"Oh.Abang makan dulu,saya tinggal kebelakang."


Lalu Aya pergi meninggalkan pengawal yang sedang makan siang.Dia kembali memandang laki-laki tersebut,lalu meneruskan niatnya untuk mencuci piring.


_


Sementara itu,Edward,Emil dan ke empat pengawal sedang gelisah menunggu satu pengawal yang tertinggal di hutan jati.Bagaimana nasibnya,apakah dia tertangkap lalu ikut di sekap atau dia lari kemana?


"Emil,apa sebaiknya kita cari dia di hutan?"tanya Edward yang mulai tidak sabar menunggu kabar dari satu pengawalnya itu.


"Kita tunggu sampai malam tuan muda,saya yakin dia selamat.Saya kira dia sedang bersembunyi entah di mana,tapi saya yakin dia selamat."kata Emil menenangkan tuan mudanya.


Dia memang yakin akan hal itu,karena pengawal satu itu di didiknya untuk bisa lolos dan mengelabui musuh kapanpun situasinya membutuhkan.Dan saat ini mungkin dia sedang melakukan itu.


Wajah resah Edward tampak jelas,namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.Emil mendekati majikannya itu yang berdiri di pintu belakang rumah,menatap tanaman perdu yang rindang.


"Tuan muda,apa anda tidak ke pondok pesantren?"tanya Emil.


"Kenapa?"


"Maaf,biasanya anda mengantar nona Aya pulang dari mengajar."ucap Emil.


Edward menatap asistennya itu tajam.Emil yang mendapat tatapan seperti itu jadi tidak enak.


"Maaf tuan muda kalau saya salah bicara."kata Emil sambil membungkuk hormat.


Edward mendesah,lalu dia melangkah duduk di kursi panjang.Dia masih gelisah,tak tahu harus bagaimana.


"Aku pulang ke pondok,kalau ada apa-apa beri tahu aku."kata Edward.


Dia pergi dari kontrakan pengawalnya itu,lalu menuju pondok pesantren dengan berjalan kaki.


Emil hanya memandang tuan mudanya dari jauh,dia mengerti kenapa tuan mudanya begitu gelisah.Karena info penting yang dia harapkan belum dia dapatkan.


"Nanti malam kalian cari lagi teman kalian,dan menyebarlah.Kalian harus dapatkan informasi lebih banyak mengenai rumah di hutan jati itu.Kita harus bergerak cepat sebelum mereka kembali menghilang."perintah Emil kepada empat pengawal itu.


"Baik tuan Emil."jawab semuanya.


_


_


_


☆☆☆☆☆

__ADS_1


\=> 😉😊😀🙏🙏🙏


__ADS_2