Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
77.Liciknya Nathalie


__ADS_3

Pagi-pagi Emil mengunjungi apartemen Edward,dia memencet tombol terus menerus agar Sania bangun dari tidurnya.Dia sudah menduga kalau Sania masih tidur.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit,Emil harus ada di kantor pukul tujuh tepat karena ada pertemuan dengan beberapa klien sampai malam ini.


Emil melirik jam di tangannya,dia sudah tidak bisa lagi menunggu Sania bangun.Dia berdecak kesal,lalu dia mengambil ponselnya dan menghubungi Sania.


Tapi sialnya ponsel Sania tidak bisa di hubungi.Lalu Emil mengambil secarik kertas di saku jasnya dan menulis memo lalu di masukkan ke dalam kolom pintu kemudian dia pergi dari apartemen Edward.


"Lebih baik di beri tugas menyelesaikan dokumen bertumpuk-tumpuk dari pada menjaga adik tuan muda."gumam Emil.


Emil menghampiri penjaga,dia memberikan paperbag pada penjaga dan berpesan untuk di berikan pada apartemen lantai dua jika penghuninya belum juga mengambilnya.


Setelah dia berpesan seperti itu,Emil langsung pergi dan naik mobilnya kemudian langsung melajukan mobilnya dengan kencang.


_


Sania baru bangun jam sembilan pagi,tadi malam dia menonton film drama korea sampai jam dua pagi di laptopnya.


Sania keluar dari kamarnya,dia menuju dapur yang hanya terletak beberapa langkah saja dari kamarnya.Perutnya sudah keroncongan,dia akan membuat sarapan roti panggang saja yang simpel.


Makan siang dia akan keluar,sembari jalan-jalan.Karena jadwalnya hanya jalan-jalan,dia mencoba menghubungi Nathalie untuk di ajak jalan siang ini,siapa tahu dia tidak sibuk.


Rencananya dia akan berkeliling sekitar jam dinding terkenal di London,Big Ben lalu terus musium dan mall di sana.


Selesai membuat roti panggang,dia lalu duduk di kursi makan dan memainkan ponselnya yang sejak tadi dia diamkan mode silent.


Ada beberapa panggilan masuk,yaitu dari Emil.Tapi dia skrol,dia tahu Emil pagi tadi datang ke apartemen kakaknya itu.


Bel berbunyi beberapa kali,Sania berlari siapa yang datang.Dia buka pintunya dan ternyata adalah penjaga yang datang memberikan pesanan dari Emil.


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Lalu Sania menutup kembali pintunya,dia membuka isi dari paperbag tersebut.Ternyata beberapa makanan dan minuman kopi serta jus.Sania melihat ada memo yang tergeletak di lantai,lalu dia ambil dan di baca yang tertulis di sana.


'Makanlah nona,ini sarapan anda.Ingat jangan terlalu lama di luar apartemen.Nanti malam saya akan memastikan anda sudah di apartemen kembali.'


Begitu catatan Emil tulis di kertas memo.Sania hanya tersenyum sinis.


"Apa-apaan ini,seperti anak kecil saja.Kak Edward benar-benar menyuruh asisitennya mengawasi dua puluh empat jam.Bodo amatlah,hari ini sampai nanti malam aku akan bersenang-senang.Hahahah.."ucap Sania bermonolog,lalu tertawa senang.


Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Nathalie yang sempat tadi malam dia minta nomornya.


Rencananya nanti malam dia dan Nathalie akan pergi ke klub malam,menemui Edrick.


Tuuut


Belum tersambung,dia kemudian mengulang lagi.Dan tersambung.


"Halo?"


Suara serak baru bangun tidur Nathalie.


"Halo Nathalie,kamu masih tidur?"tanya Sania.


"Oh yeah.Kamu siapa?""


"Hei,ini aku Sania."

__ADS_1


"Wah,maaf aku baru bangun tidur.Bagaimana,ada apa kamu menghubungiku?"


"Kamu hari ini sibuk?"


"Jam berapa ini?"


"Jam sepuluh pagi,apa kamu punya acara,bisakah kamu menemaniku jalan-jalan siang ini?"


"Yah,jam sebelas aku punya acara.Maaf aku tidak bisa menemanimu untuk jalan-jalan."


"Wah sayang sekali,tapi nanti malam kita jadi kan pergi?"


"Tentu,nanti aku jemput depan apartemenmu."


"Oke,kalau begitu aku tutup teleponnya."


"Yah."


Kemudian Sania menutup sambungan teleponnya,dia menghela nafas panjang.Sangat membosankan,dia ingin jalan-jalan tapi tidak ada teman.


Baiklah enjoy saja,Sania tersenyum lalu dia pergi ke kamar mandi untuk mandi dan bersiap pergi jalan-jalan.


_


Malam hari,Nathalie sudah menunggu di bawah.Sania sudah bersiap dengan penampilan sedikit berbeda.Dia memakai baju rok mini dan baju street warna putih krem dengan di padu jaket pink pastel.


Rambut dia buat bergelombang dengan dandanan natural saja,warna lipstik peach.Sangat manis dan gerly dan cantik.


Setelah penampilannya di kira cukup,Sania pun keluar apartemen menemui Nathalie untuk pergi bersenang-senang di klub dan diskotik.


Nathalie menyambut Sania yang memang sudah mempersiapkan dandan lebih cantik dari biasanya.


"Waah,kamu cantik sekali malam ini."puji Nathalie.


"Terima kasih."ucap Sania tersenyum senang di puji Nathalie.


"Ayo kita berangkat,mumpung masih sore."


"Ayo."


"Apa kamu tidak memberitahu Emil?"tanya Nathalie takut.


"Tidak,dia juga tidak meneleponku sehari ini.Mungkin dia sibuk dengan pekerjaan kak Esward."


"Baguslah,kita bisa bersenang-senang sampai puas.Kalau bisa ponselmu di silent saja,biar kita tidak terganggu."kata Nathalie.


"Wah,kamu benar.Baiklah aku silent ponselku."


Sania mengambil ponselnya dan membuat mode silent ponselnya,kemudian dia masukkan lagi ke dalam tasnya.


"Sudah."


Nathalie tersenyum,dia menjalankan mobilnya menuju klub yang dia tuju.Sengaja dia akan pergi ke klub yang jauh jaraknya dari apartemen.


Butuh satu jam perjalanan dengan kecepatan sedang.Akhirnya mobil Nathalie sampai di sebuah klub malam yang terlihat sepi dari luar,sedang di dalam riuh rendah suara dentuman musik disko dari disk jocki yang sudah di sediakan di sana untuk menghibur pengunjung yang datang.


Malam mulai merangkak naik,para pengunjung klub semakin ramai.Sania dan Nathalie turun ke lantai untuk berjoget.Mereka menikmati musik dengan asyik dan tertawa bahagia.


Sania begitu senang dengan malam ini,lebih bebas berekspresi.Satu jam dia berjoget,sedangkan Nathalie menyudahinya,dia duduk di sofa melihat Sania yang asyik berjoget.Dia tersenyum miring,kemudian dia memanggil seorang pelayan untuk memesan dua jus.

__ADS_1


Setelah selesai dia masih terus menatap Sania,yang memgingatkan pada kakaknya yang sering sekali menolaknya.Dia semakin kesal dan timbul di hatinya untuk mengerjai adiknya.


Mungkin pikirnya,jika kakaknya tidak dia dapatkan.Maka dia akan memberikan pelajaran bagi kakaknya yang sombong dengan mengerjai adik kesayangannya yang selalu di jaganya itu.


Lihatlah,Natahlie tertawa lepas ketika tahu Sania tidak di awasi oleh asisten Edward.Rencananya kali ini akan berhasil,dia tidak peduli akan seperti apa hidupnya selanjutnya.


Pesanan minumannya datang,di letakkannya gelas berisi jus itu,dia tahu Sania tidak akan minum minuman beralkohol.


Nathalie memgambi sesuatu dari dalam tasnya,dia melihat ke arah Sania.Tapi Sania masih asyik dengan berjoget.Tanpa membuang waktu Natahlie memasukkan serbuk ke dalam jus yang di sediakan untuk Sania.


Lalu Nathalie duduk santai kembali,dia menunggu Sania kelelahan berjoget di lantai dansa.


_


Emil tidak mengawasi Sania hari ini karena dia sibuk dengan beberapa pekerjaan dan harus menemui klien yang terakhir malam ini.Sialnya pertemuan klien ini meminta di tempat klub malam,dan tempat klub itu jauh dari kantor perusahaan.


Dia semakin susah mengawasi adik dari majikannya itu.Mau tidak mau dia harus memenuhi pertemuan dengan klien yang terakhir ini karena memang sangat penting.


Dia sudah menunggu di dalam klub malam,sengaja dia mengambil kursi yang sepi pengunjung di lantai dua agar lebih fokus membahas pekerjaan.


Klien yang dia tunggu pun datang,mereka berbincang dengan serius setelah berbicara basa basi.


Emil sendiri tidak suka berbasa basi dalam pekerjaan,begitu pembicaraan berlangsung dan mencapai kesepakatan.Maka dia harus mengakhirinya setelah kesepakatan di buat.Kemudian langsung pamit pulang.


"Apa tuan Emil tidak bersenang-senang dulu?Di bawah sana banyak sekali perempuan menarik,bukan hanya perempuan penjaja di sini."kata laki-laki yang tadi meeting dengan Emil.


"Tidak terima kasih,saya masih ada tugas lain lagi."ucap Emil sopan.


"Wah,sayang sekali.Tapi mari kita turun ke bawah sama-sama.Anda pulang,saya masih ingin menikmati suasana di bawah,kalau ada yang menarik,saya bawa ke hotel."kata laki-laki itu tersenyum lebar.


Emil hanya tersenyum tipis,memang semua pebisnis seperti laki-laki di depannya hiburannya hanya perempuan.Beruntung sekali Edward adalah laki-laki berpendirian kuat,sekali pun dia di hadapkan pada perempuan penggoda tidak akan tertarik sama sekali.


Emil dan kliennya itu turun ke bawah,sambil berjalan sambil berbincang-bincang ringan.Sampai di bawah dia melihat seorang perempuan yang sangat familiar sekali.


Matanya tak lepas dari perempuan itu yang sedang menenggak jus di tangannya.Dia sendirian,Emil menatapnya tajam.


Hari ini dia begitu sibuk,sampai lupa akan Sania.Tapi,dengan siapa dia di klub ini?pikir Emil.


"Tuan Emil,apa anda tertarik dengan salah satu perempuan di sini?"tanya kliennya itu,karena mata Emil tidak lepas dari Sania.


"Ah tidak,saya sedang melihat seseorang yang saya kenal.Kalau anda mau pergi silakan tuan."kata Emil,dia kemudian melirik Sania lagi.


"Hahaha,anda jangan malu-malu.Tapi baiklah,saya akan mencari sendiri.Silakan anda mencari perempuan incaran anda tuan Emil."ucap klien Emik itu dengan seringai.


Emil tidak peduli dengan ucapan kliennya itu,dia terus menatap Sania yang kini mulai gelisah.Dia melepas jaket pinknya dan mengibaskan rambutnya.


Dia merasa kepanasan dan ada gairah yang entah tiba-tiba dia ingin melepas bajunya karena panas.


Melihat gelagat seperti itu,seorang laki-laki menghampiri Sania.Dia mengajak Sania pergi,namun di tolak oleh Sania.


Dengan mengapit pinggang Sania,laki-laki itu memaksa Sania pergi.Sania pun tidak bisa menolak,rasanya dia menginginkan sesuatu dari laki-laki itu.


Emil yang melihat adegan itu tidak membuang waktu,dia memukul laki-laki itu dan menarik Sania dari pelukannya kemudian dia bawa keluar dari klub dan di bawa pulang.


_


_


_

__ADS_1


☆☆☆☆☆


__ADS_2