Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
63.Malam Syahdu


__ADS_3

Masih dalam perdebatan kedua pasang suami istri itu,Edward masih bertahan ingin melihat Aya membuka mukenanya.Sedangkan Aya merasa malu,belum terbiasa membuka penutup kepalanya di depan laki-laki.Sekali pun Bayu kakak iparnya,dia selalu menggunakan kerudung jika Bayu ada di rumahnya.


Edward menarik-narik ujung mukena sambil tersenyum menggoda.Sebenarnya wajar saja membuka penutup kepala di depan suami sendiri,tapi Aya belum berani.


"Cepat buka,memangnya ngga panas pakai mukenah terus?Lagi pula itu mukena tidak bagus di buat tidur."ucap Edward masih menarik ujung mukenah Aya.


Aya semakin kesal dengan kelakuan Edward,dia memukul tangan suaminya karena masih saja menarik mukenahnya sampai tubuhnya membungkuk.


"Apa sih,aku malu."ucap Aya kesal.


Kini Edward tidak sabar dengan tingkah Aya yang masih bertahan menggunakan mukenah.Edward menarik tangan Aya,menguncinya ke belakang lalu tangan kanannya menarik ujung mukenah di depan sampai terlepas.


Dan kini Edward bisa melihat wajah istrinya tanpa penutup kepala.Aya menunduk dan membuang mukanya ke samping.Tentu saja Edward tidak membiarkan pemandangan yang sangat menarik itu,dia tarik dagu Aya untuk menghadap ke arahnya.


Terlihat rona merah di pipi Aya,Edward tersenyum.Dia menatap wajah itu dengan takjub.Rambut hitam panjang tergerai begitu saja sampai ke pinggul,setelah Edward melepas ikat rambutnya.


Di usapnya ujung kepala Aya sampai ke bawah,lalu di ciumnya lama.


"Cantik."ucap Edward tersenyum.


Aya kembali merona,dia ikut tersenyum lalu menatap mata Edward yang selama ini dia hindari sebelum menjadi istrinya.


Tangannya mencoba meraba rahang suaminya yang kokoh dengan pelan.Ibu jarinya bergerak memgelus pipi yang sedikit cekung karena senyum Edward tak pernah berhenti.Keduanya saling menatap dalam.Menyalurkan energi cinta yang terpendam dalam hati masing-masing.


Satu tangan Aya memegang hidung Edward yang mancung,menarik ke bawah dan berhenti sampai di bibirnya.Edward mencium telapak tangan Aya lembut.


Tiba-tiba Aya kembali memeluk Edward,perasaan bahagia dan terharu jadi satu sampai dia tidak sadar degup jantungnya berdetak sangat keras.Hingga Edward merasakan dadanya bergetar karena degup jantung Aya.


Edward membalas pelukan istrinya semakin erat.Dia berucap berkali-kali dengan kata 'aku rindu kamu.'


"Aku cinta kamu,aku rindu kamu,aku sayang kamu.Segalanya adalah tentang kamu.Istriku Tsuraya Khulasoh,bidadari surgaku."ucap Edward sambil membelai rambut panjang dan lurus istrinya.


"Aku juga suamiku,imamku dan pemimpin hidupku setelah Tuhanku."ucap Aya yang semakin mengeratkan pelukannya.


Kini atas nama cinta keduanya memgungkapkan apa yang ada di hatinya dengan bebas,yang dahulu sangat mereka jaga karena memang takdir belum berpihak padanya.


Kemudian Edward melepas pelukannya,dia membaringkan istrinya di ranjang.Menatapnya dengan lembut dan penuh cinta.Tatapan keduanya saling terpaut,meneliti mata masing-masing yang mengantarkan kerinduan yang dalam dan syahdu.


Kini mata Edward beralih ke bibir Aya yang tersenyum merekah,di dekatkan wajahnya dan tanpa menunggu lama lagi dia meraup bibir mungil itu dengan bibirnya lalu mel*matnya dengan rakus.


Aya pun menerimanya,dia mengikuti gerak bibir suaminya.Meng*cap dan meng*lum.Awalnya lembut namun lama-lama semakin menuntut dan semakin cepat.


Tangan Edward meraba kedua as*t kembar milik Aya dan merem*snya pelan.Aya kaget,dia ingin melepas ciuman suaminya itu namun Edward semakin memperdalam ciumannya hingga kembali Aya terhanyut.


Kembali Edward merem*s kedua as*t itu pelan dan berulang,karena istrinya diam dan lebih banyak tergolak pelan karena geli Edward semakin mengencangkan remas*nnya.


"Euuh."


Tak sadar Aya mendesah,Edward tersenyum.Dia lalu melepas ciumannya dan menatap Aya yang sedang malu karena perbuatannya tadi.


"Aku bolehkan minta hakku sekarang?"tanya Edward mengusap pelipis istrinya.


Aya terdiam,menatap Edward dengan menyeluruh.Mencari kepastian dirinya akan siap menyerahkan segalanya pada Edward suaminya.Dia kalungkan tangannya ke leher suaminya lalu mengangguk pelan.


Dia tahu,tidak baik menunda keinginan suami meminta jatahnya pada istrinya.Apa lagi sudah satu minggu pernikahan.


Kembali Edward mencium bibir istrinya setelah dia mendapat persetujuan darinya.Tangannya sudah bergerilya kemana-mana.Dari mengelus punggung serta bagian depan,bibirnya tak lepas dari decapan di bibir istrinya.


Kembali Edward menatap wajah istrinya yang terpejam,menikmati sentuhan tangannya yang lembut.Kini matanya menatap kedua as*t yang masih tertutup baju yang di kenakannya.


Perlahan Edward membuka kancing baju Aya,matanya masih menatap istrinya dengan sendu dan penuh gairah.

__ADS_1


Aya mencegah tangan suaminya yang sudah mendekati kancing bagian bawah.Edward pun menatap heran.Dia tahu Aya malu padanya,karena ini pertama kalinya mereka melakukannya.


"Kenapa?"


"Malu."


"Lalu,kita tunda dulu ritual ibadah kita?"


"Mm,ngga tahu."


"Kenapa jawabnya ngga tahu?"


"Aku malu jika harus terlihat seluruh tubuhku di hadapanmu."


"Jadi?"


"Ish,kok gitu terus sih pertanyaannya."


"Ya kan aku memastikan kamu menyerahkan segalanya padaku tanpa paksaan.Jika masih belum sanggup aku lihat seluruh tubuhmu ya aku sudahi ritualnya."


"Jangan,aku nanti berdosa menolak keinginan suami."


"Terus,di lanjutkan?"


Aya memgangguk pelan,rona merah masih mewarnai wajahnya.Edward tersenyum gemas dengan tingkah istrinya itu.


Lalu dia kembali mencium bibir istrinya pelan,lama dia bermain di sana.Kemudian turun ke lehernya,membuat satu tanda merah di sana.Terus turun di tulang belikatnya,menyapu semua kulit mulus yang selalu tertutup rapat.


Sampai pada dua as*t menonjol yang masih tertutup rapat br* berwarna hitam.Edward kembali merem*snya dan tangannya ke belakang untuk membuka pengaitnya.Dan tampak menyembul ketika br* itu di tarik untuk di lepas dari tempatnya.


Tangan Aya menutupi kedua as*t miliknya,dia malu sekali di tatap oleh Edward.Tapi Edward malah menarik tangan yang menutupi keduanya.Dia kembali menc*mbu Aya dengan lembut agar istrinya itu terbuai dengan perlakuannya.


Dan benar saja,mulut Edward bermain-main di sana.******* dari mulut Aya keluar tanpa terasa.Gairah Edward semakin meningkat mendengar ******* istrinya,dia terus menc*mbu semua tubuh istrinya.Dia melepas celana dan bajunya lalu kembali menc*mbu istrinya,hingga terakhir di bagian bawah dia menatap sebentar lalu beralih menatap wajah istrinya yang masih terengah dan terpejam.


Kemudian dia bermain-main di sana dan menanc**pkan p*saka miliknya,awal usaha sedikit susah.Baru ketiga kalinya berhasil bersarang dengan tepat walau suara jeritan kesakitan dari mulut istrinya.Dia membungkam mulut Aya agar tidak berteriak dengan keras dan kembali menc*mbunya.


Setelah merasa tenang,baru dia menggerakkan sesuai instingnya.******* demi ******* saling bersahutan antara keduanya.


Malam panjang bagi keduanya tak terasa sampai pada waktu menunjukkan pukul satu dini hari.Hingga keduanya kelelahan dan mengeluarkan banyak keringat.


Aya terkulai lemas di bawah kungkungan Edward,matanya terpejam keringat bercucuran.Satu kecupan mendarat di kening Aya lalu turun ke bibirnya.


"Terima kasih sayang,cukup untuk malam ini.Kita lanjutkan nanti lagi."ucap Edward.


Dia kini berbaring di samping istrinya yang masih terkulai lemas.Edward memeluk dengan erat dan menutupi seluruh tubuh istrinya yang masih polos itu dengan selimut agar tidak kedinginan.


Senyum bahagia merekah di bibir Edward,hatinya sangat bahagia.Kembali dia mengecup pelipis Aya dengan lembut.Dalam hati dia berjanji akan menjaga dan melindunginya seumur hidup dan segenap jiwanya.


Aya yang merasa sesak karena pelukan erat dari Edward kini bergerak pelan.Dia ingin melepaskan pelukan suaminya itu,namun Edward malah mengeratkan pelukanya.


"Jangan bergerak,nanti dia bangun."ucap Edward.


"Aku gerah dan sesak,tolong lepas pelukannya."ucap Aya pelan.


"Aku nyaman begini,memelukmu sambil tiduran."ucap Edward lagi tidak menghiraukan perkataan istrinya.


"Ed."


"Hemm."


"Lepas,aku sesak."

__ADS_1


"Aku bilang jangan gerak-gerak terus.Nanti dia bangun lagi."


"Siapa yang bangun?"


"Pus**kaku bangun,minta jatah lagi nanti."


Aya diam,mencerna ucapan Edward.Lalu dia kembali diam pasrah.Jika dia memaksa,dia tahu akan terjadi apa nanti selanjutnya.Pipinya merona membayangkan pergulatan panas tadi.


Kepalanya dia miringkan,menatap wajah suaminya yang terpejam matanya.Suara nafas teratur berhembus dengan damai.


Tangan Aya membelai rahang Edward yang kokoh,mengusapnya pelan.Dia merasa tak percaya jika Edward adalah suaminya.Dia sempat putus asa ketika peresmian waktu itu Edward tidak bisa datang.


Mungkin Edward melupakannya,sehingga dia tidak lagi bisa berharap banyak.Tak terasa airmata Aya menetes,dia benar-benar bahagia dan terharu dengan apa yang dia alami malam ini.


Edward membuka matanya dan menatap Aya yang masih menyisakan isak tertahan.


"Kenapa menangis?"tanya Edward mengusap airmata istrinya itu.


"Aku tidak percaya jika ini memang benar kamu.Aku pikir kamu melupakan aku,hik hik hik."


"Mana mungkin aku melupakanmu,setiap waktu aku memikirkanmu dengan rasa rindu yang menggebu di dada ini.Tekadku sudah bulat,jika selesai masalah di keluargaku aku langsung melamarmu."


"Kamu tidak pernah memberiku kabar,sejak kejadian penembakan waktu itu.Aku pikir kamu sudah lupa."


"Tidak,aku kan kirim surat untukmu lewat Emil.Apa kamu menerimanya?"


"Ya.Aku ngga baca surat itu,tapi masih aku simpan di lemari.Memang apa isinya?"


"Sudah kadaluarsa,sekarang juga sudah jadi suami istri."


"Tapi aku pengen tahu isinya apa?"


"Tinggal di ambil terus di baca,pasti tahu isinya."


"Aku pengen dengar langsung dari mulut kamu,lagi pula seperti jaman dulu saja pakai surat."


"Hei,sayang.Kamu lupa di kampung ini belum ada sambungan telepon.Jadi aku pakai surat,lagi pula itu buat kenangan nanti kalau kita sudah tua nanti."


"Sweet banget sih."


"Iya dong sayang,suamimu ini sangat sweet dan romantis juga agr*sif.Mau aku coba lagi?"


"Aah,ngga mau.Di bawah sana masih sakit."ucap Aya dengan manjanya.


"Hahaha,aku suka kamu yang manja begini.Sangat memggemaskan."


"Ya udah,kita tidur yuk.Aku sudah ngantuk."


"Tidak mau nambah?"


"Tidak!"


"Hahaha..."


Lalu keduanya kembali berpelukan erat mengusir rasa dingin angin yang menyeruak dari kisi-kisi jendela kamar.


_


_


_

__ADS_1


☆☆☆☆☆


\=> nanti lagi ya..😉😊✌✌


__ADS_2