Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
47.Jebakan


__ADS_3

Pak Hendro menemui orang yang tadi meneleponnya,dia kini harus waspada siapa saja yang ingin menemuinya.


Setelah sampai di tempat yang di tentukan,pak Hendro menghampiri laki-laki itu,dia penasaran siapa yang mau menemuinya.


"Mana laki-laki tua yang mau menemuiku?"tanya pak Hendro sambil menengok ke kanan dan ke kiri .


"Dia ada di pos bos,tidak saya suruh kesini."jawab anak buah pak Hendro itu.


"Bagus,kamu jangan sampai gegabah.Ingat yang mencari tempat persembunyianku itu bukan cuma Robert,tapi juga anaknya dan supirnya itu juga."kata pak Hendro.


"Siap bos.Saya selalu waspada dengan keadaan.Laki-laki itu juga sudah saya periksa,dan dia tidak bawa apa-apa."


"Kamu tidak memeriksa di bagian dalam celananya?"


"Tidak bos,tapi apa mungkin dia menyembunyikan senjata di ****** ********?"


"Ck,bukan senjata.Tapi mungkin alat penyadap di bagian tubuh lain."


"Sudah saya periksa semua,dari pakaiannya sudah saya lucuti juga topi dan sepatunya sudah saya periksa semua."


"Baguslah,mudah-mudahan dia memang benar tidak membawa apa-apa.Suruh dia masuk,aku ingin mengintrogasinya."perintah pak Hendro.


Lalu dia pergi masuk ke dalam gedung yang sangat gelap terlihat dari luar,namun di dalam ada pencahayaan yang minim.Untuk berjalan masih bisa terlihat dengan jelas.


Sedangkan anak buah pak Hendro tadi menghampiri laki-laki tua yang tak lain adalah pak Imron.Dia memang datang untuk menemui bosnya itu,selain di suruh oleh Emil juga ingin meminta bayaran yang dulu belum lunas di berikan.


"Hey pak tua,tuan bos memyuruhmu untuk segera ke dalam markas.Tapi ingat kamu jangan macam-macam."ancam anak buah pak Hendro itu.


"Siapa yang mau macam-macam,saya hanya ingin menemui pak Hendro.Kamu itu masih balita di banding saya yang sudah berkecimpung di dunia seperti ini.Memanggil orang tua hanya hey saja,tidak sopan!"ucap pak Imron yang berlalu meninggalkan anak buah pak Hendro itu dengan diam terpaku.


Pak Hendro yang ada di dalam menemui keponakannya yang masih tidak sadarkan diri,dia menatapnya dengan kesal.


"Selalu saja pingsan,apa dia punya penyakit."gumam pak Hendro.


Pak Imron menghampiri pak Hendro yang sedang menatap keponakannya.Dia sebenarnya ingin sekali berterus terang,namun istrinya jadi taruhannya jika dia buka suara


Flashback :


Emil menghampiri pak Imron yang masih terlihat angkuh dan percaya diri jika dia akan mendapatkan uang sepuluh miliar dari Edward.Senyum tipisnya mengembang tatkala Emil menghadapnya.


Di tatapnya dengan tenang wajah tampan sang asisten Edward itu,harus di akui jika pilihan Edward mengambil asisten Emil cukup jeli,karena dari perawakannya yang tinggi dan sikap tenangnya membuat lawan malah takut.Begitu juga pak Imron agak ngeri juga,jika bukan karena kepercayaan dirinya akan mendapatkan uang dia sudah meringkuk bagai sampah yang di campakkan begitu saja.


"Apa tuan Emil sudah siapkan uangnya?"tanya pak Imron tenang.


"Uang apa?"tanya Emil pura-pura tidak tahu.


Wajah pak Imron berubah,dia diam tanpa ekspresi.


"Uang jaminan jika saya buka suara mengenai rahasia pak Hendro."ujar pak Imron lagi.


"Oya,apa tuan muda tidak memberi tahu lagi jika uang itu tidak jadi di berikan padamu."


"Hahaha..,kalau begitu jangan harap aku akan buka suara."senyum sinis di berikan pada Emil.


"Tentu saja anda akan memberitahu saya tentang rahasia pak Hendro,bahkan kamu akan ke tempat persembunyiannya itu."ucap Emil penuh keyakinan.


"Kamu terlalu percaya diri sekali anak muda."


"Tentu,saya selalu optimis dengan segala rencanaku."


"Ck,jangan harap itu terjadi.Silakan saja kamu menyiksaku,tapi tetap aku tidak akan memberitahukan sebelum uang itu aku dapatkan."

__ADS_1


Lalu Emil mengambil ponselnya,dia menghubungi seseorang di sana.


"Halo tuan Emil,apa yang harus saya lakukan?"tanya seseorang dengan keras.


Emil sengaja mengeraskan speaker ponselnya agar pak Imron mendengarkan.Dia masih menatap laki-laki tua itu tajam.


"Kamu berikan ponselmu pada perempuan itu."ucap Emil.


"Baik tuan Emil."


Emil masih menatap pak Imron yang kelihatan gelisah.Senyum tipisnya mengembang segaris,hanya segaris.Namun itu menandakan bahwa sesuatu akan dia lihat di depan matanya setelah dia mendengar perempuan itu berbicara di telepon.


"Halo,apa benar anda ingin bicara dengan saya?"suara perempuan bertanya pada Emil yang sejak tadi menunggunya.


"Ya,benar ibu.Apa suami ibu sudah pulang?"tanya Emil memancing pak Imron yang sejak tadi sudah tegang dan gelisah.


"Belum,dia bilang minggu kemarin harus pulang ke kampungnya.Apakah anda bertemu dengan suami saya?"


"Iya,dia ada bersama saya.Sedang...."belum selesai bicara,pak Imron berteriak.


"Hentikan!"


Emil mematikan sambungan ponselnya.Dia menatap pak Imron yang kelihatan marah.Tangan yang tersandera terkepal keras,raut wajahnya berubah memerah menahan amarah.


"Bagaimana,apa anda mau membantu saya?"tanya Emil tenang.


"Apa maumu?"kini pak Imron tidak bisa berkutik.


Perempuan yang amat di cintainya sudah susah payah dia rebut juga mengorbankan banyak uang untuk mendapatkannya.Menutupi identitas istrinya,namun di ketahui dengan mudah oleh Emil.Dia tidak mau identitas istrinya di ketahui oleh banyak orang.


"Sudah saya katakan di awal,bawa saya ke markas bosmu itu.Akan saya lepaskan istri yang sangat anda cintai itu."ucap Emil tegas.


"Tentu saja saya akan lepaskan,tapi setelah kamu bawa kami ke markas bosmu.Dia telah menyekap tuan muda Nicko kembali.Jadi mungkin saja tuan muda Nicko ada di sana."


"Heh! Tuan mudamu itu sangat bodoh,seharusnya dia lebih waspada dengan paman brengseknya itu.Kenapa terlalu naif di culik dua kali."ujar oak Imron meremehkan.


"Ya memang adakalanya orang harus berpura-pura bodoh untuk mengetahui seberapa brengseknya keluarga yang di anggapnya baik."timpal Emil tajam.


Pak Imron hanya mendengus kesal,dia marah namun tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kapan saya di lepaskan untuk menemui pak Hendro?"


"Besok malam,dan besok pagi kamu akan saya bawa ke kota.Lalu malam hari kamu menemuinya."


"Apa yang harus saya lakukan?"


"Tidak ada,hanya menemui tuan Hendro saja.Cukup ringan kan tugasmu itu?"


"Ck,orang licik tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan."


"Ya,memang.Seperti dirimu pak tua.Kamu mendapatkan perempuan dengan cara kotor."


"Hentikan! Apapun akan di lakukan untuk urusan cinta!"


"Ya baiklah,saat ini perdebatan selesai.Aku tidak mau memancingmu lagi.Aku sudah lelah,biarkan waktu yang bicara.Huaaam."ucap Emil sambil menguap di depan pak Imron.


Lalu Emil keluar dari kamar tempat di mana pak Imron di sekap.Sedangkan pak Imron rahangnya mengeras,dia takut identitas istrinya di ketahui lebih jauh.Dia sudah bersusah payah menyembunyikannya namun masih saja ketahuan.


Rasa gundah dan gelisah dia rasakan malam ini.Sejak dia mendengar pembicaraan istrinya dengan Emil,pikiran pak Imron semakin menjalar kemana-mana.Sesuatu itu sangat mengganggu dan membuatnya takut.


Akhirnya karena dia kelelahan,kini pak Imron tertidur dengan posisi duduk seperti biasanya,walaupun lelah karena berhari-hari duduk diam tanpa melakukan apa-apa,jika hanya duduk di kursi hampir sepuluh hari tentu saja membuat tubuhnya pegal-pegal apa lagi tubuh rentanya itu semakin kurus saja.

__ADS_1


_


Kini pak Imron menemui pak Hendro yang masih mencurigai dirinya.Dia kini bebas dari tawanan Edward,tentu saja pak Hendro tahu itu adalah jebakan.


Tapi pak Hendro tetap waspada,sebelum pak Imron menemuinya di dalam gedung yang terlihat remang-remang karena memang lampunya di buat seperti itu,dia memerintahkan anak buahnya yang di luar untuk berjaga dan waspada.


Bisa saja serangan mendadak terjadi.Dia tidak mau itu terjadi dan dia tertangkap dengan mudah dan harus di jebloskan ke penjara.


Tapi walaupun di penjara dia masih bisa di selamatkan.


Pak Imron masih diam berdiri,menatap pak Hendro yang juga menatapnya tajam.


"Apa kamu sengaja di bebaskan oleh Emil?"tanya pak Hendro penuh selidik.


"Ya."jawab pak Imron singkat.


"Kamu di suruh kemari dan menjebakku?"tanya pak Hendro masih curiga.


"Tidak,mereka sengaja membebaskanku karena aku sudah tidak berguna.Toh sekarang tuan Nicko sudah berada di tangan tuan Hendro."ucap pak Imron lagi.


"Heh,kamu kira aku akan percaya?"


"Terserah anda tuan.Tapi saya kesini hanya minta bayaran yang belum selesai,masih setengahnya."


"Siapa suruh kamu lengah menjaga keponakanku yang bodoh itu."teriak pak Hendro.


"Tapi perjanjian tetaplah perjanjian tuan Hendro,anda tidak bisa mengingkarinya."


"Hahaha....,orang brengsek menipu orang brengsek.Hahaha...!"


"Setidaknya saya tidak sebrengsek anda tuan Hendro.Menganiaya keponakan sendiri juga ingin merampas hartanya."


"Cukup! Kamu terlalu jauh ikut campur,itu urusanku.Kamu butuh uang kan?Berapa yang kau inginkan?"tatapan tajam pak Hendro menusuk tembus ke retina pak Imron.


"Cukup sisanya yang harus anda bayar tuan.Aku tidak meminta lebih,cukup sisa perjanjian saja."


"Berapa sisa yang belum di bayar?"


"Lima ratus juta."


"Kenapa sebanyak itu?"


"Itu sedikit di bandingkan anda akan mendapatkan perusahaan keponakan anda tuan Hendro."


"Kurang ajar!"


"Penjaga,seret dia keluar dari ruangan ini!"ucap pak Hendro berteriak keras memanggil penjaga di luar.


Pak Imron yang tahu akan situasi seperti ini terjadi,dia bersiap mengambil tongkat yang sejak tadi dia siapkan di samping pintu masuk.


Tapi aksinya gagal karena dia berlari ke arah pintu,penjaga itu sudah membekuknya terlebih dahulu.Dan beberapa detik,pak Imron pingsan karena tengkuknya di pukul dari belakang.


_


_


_


☆☆☆☆☆


\=> mohon tinggalkan jejak like & komennya,othor berasa di hargai kalau readers memberi like & komennya.kalau cuma baca aja,rasanya sia-sia othor nulis,terasa hampa hati ini....🤔🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2