Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
32.Tanda Jejak


__ADS_3

Setelah Edward mendapat atensi dari penculik Aya,dia selalu siap perintah apa yang akan dia lakukan.Apapun akan dia laukakan asal Aya selamat dari para penculik itu.


Emil mendekati Edward yang sedang menyiapkan segala keperluan nanti.Dia memperhatikan apa yang di lakukan tuannya,walau sebenarnya dia tidak perlu menyiapkan itu.


"Tuan muda tidak perlu menyiapkan apapun,begitu kan yang di minta dari penculik itu?"kata Emil mengingatkan.


"Aku tahu,aku hanya berjaga-jaga saja.Jika terjadi di luar kendaliku.Mereka memang bukan orang pintar,tapi tetap saja aku harus berjaga.Bukan untuk nyawaku,tapi Aya yang aku khawatirkan."ucap Edward.


Emil tertegun dengan ucapan tuan mudanya itu.Dia tidak menyangka akan kesiapan untuk gadis itu,bahkan nyawanya sendiri dia tidak peduli.


"Aku yang salah,terlalu dekat dengannya.Kalau aku tidak mendekatinya,mungkin penculik itu tidak memanfaatkan keadaan ini hingga menculik Aya.Bisa kamu bayangkan jika terjadi apapun pada gadis itu,kakaknya juga uwanya kyai Sobri yang jadi tanggung jawabku.Jika Aya sampai mereka bunuhpun ingin ku habisi semua yang berhubungan dengan kematian Aya."ucap Edward dengan nada tegasnya.


Wajahnya mulai kelam,seakan dia sudah tidak sabar ingin menghabisi siapapun yang berhadapan dengannya nanti.


Emil menghela nafas panjang,tidak bisa dia membantah tuannya dalam keadaan yang memang tidak baik-baik saja.


Sudah satu minggu Edward menunggu kejelasan dari penculik itu,namun sekarang dia akan menemuinya besok.Tentu saja kesiapan segala-galanya.


"Saya akan berjaga dari jauh tuan muda bersama pengawal nanti.Saya tidak mau terjadi apa-apa dengan tuan muda."kata Emil.


Wajar saja Emil mengkhawatirkan tuannya itu,karena selama ini dia yang menjaga dan mendampinginya.Jika terjadi pada tuannya kali ini,dia pun sama akan membabat habis siapa pun yang melukai dan mencelakai tuannya itu.


Baginya,nyawa tuan mudanya sangat berharga,seperti halnya gadis itu.Dia akan melindungi keduanya.Mungkin karena rasa bersalah Edward pada Aya ingin menyelamatkannya,namun Emil tidak tahu.


Jauh di lubuk hatinya terdalam,Edward tidak mau kehilangan Aya.Setelah ini semua selesai dia akan mempersunting Aya apapun keadaannya.Dia tidak bisa lagi menjauh dari Aya,dan wajah gelisahnya pun menampakkan sejuta rindu dan resah mencampur jadi satu.


Sehingga orang yang melihatnya hanya lebih pada rasa bersalah Edward pada gadis itu.


"Kalau begitu,tuan muda harus tidur.Persiapkan energi anda tuan muda,kemungkinan nanti anda akan menghadapi beberapa orang dari kelompok mereka yang mungkin juga punya ilmu bela diri yang tangguh."Emil mengingatkan Edward.


"Kamu tenang saja,energiku sangat kuat untuk menghadapi mereka semua."


Tanpa berdebat lagi,Emil keluar dari kamar Edward.Sebelum benar-benar keluar,dia masih memperhatikan tuannya mengelap senjata api itu.Dia tahu hati Edward gelisah bukan main,hanya dia yang bisa menerjemahkan ekspresi dari Edward sekarang.


Dan ketika Emil benar-benar pergi,Edward menghentikan kegiatannya mengelap senjata api itu,dia letakkan di meja dan melangkah ke ranjangnya.


Mencoba merebahkan tubuhnya yang tiba-tiba lelah,kemudian mencoba memejamkan mata.Namun yang terbayang di pelupuk matanya hanya wajah Aya yang terlihat gelisah.


Edward membuka matanya,menatap langit-langit kamar.Menarik nafas panjang,terasa berat hatinya menahan rindu dan kegelisahan menjadi satu.Dan yang membuatnya kesal adalah dia tidak bisa berbuat apa-apa selama satu minggu ini.


Mendengus kembali dengan kasar,lalu bangkit dari tidurnya.Duduk di tepi ranjang,menunduk kemudian dia melangkah lagi ke arah jendela.


Membukanya dan angin malam menyeruak masuk menerpa wajahnya yang terlihat tegang.

__ADS_1


'Ay,di mana kamu? Apa kamu baik-baik saja?'gumam Edward.


Dadanya tiba-tiba sesak menahan semua gejolak di hatinya.Sejenak dia menyelami hatinya yang rapuh,kemudian dia buru-buru keluar untuk masuk ke kamar mandi,mengambil air wudhu lalu dia akan sholat sunah malam.


Menenangkan hatinya yang gelisah juga mengadu pada Sang Pencipta,memohon untuk menjaga gadis yang kini telah memenuhi seluruh relung hatinya.


Meminta menenangkan hatinya agar besok dia lebih tenang dan siap menghadapi segala kemungkinan yang akan dia hadapi nanti.


Setelah selesai mengadu pada Sang Pemilik seluruh bumi dan langit,Edward kini lebih tenang hatinya.Kemudian dia baringkan tubuhnya di ranjang,mencoba untuk memejamkan mata.Lima menit dia pun tertidur dengan lelap.


Emil yang melihat segala gerak gerik Edward akhirnya ikut beristirahat.Dia sejak tadi hanya memperhatikan dari ruang tengah segala tindak tanduk tuan mudanya itu.


Setelah sepuluh menit di kamar Edward tidak ada bayangan yang berjalan mondar-mandir,akhirnya dia tidur.Setelah sebelumnya memerintahkan pengawal untuk berjaga-jaga dan menyiapkan untuk besok.


_


Pagi hari sudah tiba,Edward sudah bangun sejak subuh tiba.Dia memang sudah terbiasa bangun subuh.Dan kini dia lebih tenang menghadapi siang hari tiba.


Emil yang juga sudah bangun ikut duduk di sebelah tuannya,menyiapkan air teh hangat serta singkong rebus yang nikmat.


Edward mengambil cangkir berisi air teh hangat dan menyeruputnya pelan,lalu mengambil singkong rebus dan memakannya.


Dia butuh tenaga,maka dari itu dia makan lebih dari cukup.Hanya minum saja yang dia rasa menikmati hangatnya teh di pagi buta begini.


"Apa kamu sudah menyiapkan semuanya?"tanya Edward sambil mengunyah singkong rebus itu.


"Baguslah,setidaknya ada persiapan.Kamu harus perintahkan,yang pertama mereka selamatkan adalah Aya.Baru kemudian aku."Edward mengunyah kembali singkongnya.


Emil diam saja,dia tidak menjawab.


"Emil,apa kamu dengar ucapanku?"


"Ya tuan muda."


"Kamu perintahkan pengawal untuk menyelamatkan Aya terlebih dulu,baru aku."kata Edward mengulang perintahnya pada Emil


"Baik tuan muda."jawab Emil singkat,tak mau memperpanjang urusan.


"Aku bisa jaga diri,aku juga bisa melawan mereka.Sedangkan Aya perempuan walaupun dia juga bisa bela diri."


Obrolan mereka terhenti ketika pengawal memberikan secarik kertas seperti yang kemarin.Dia kemudian membacanya dan memberikan pada Emil.


"Kamu siapkan uangnya,aku akan menunggu orang suruhan mereka datang di luar."kata Edward.

__ADS_1


Dia kemudian duduk di kursi yang biasa dia gunakan untuk bersantai dan melamun tentunya.


_


Dan siang hari,benar saja ada kendaraan motor yang berhenti di depan halaman rumah kontrakan di mana Edward tinggal,satu orang turun dan menyapa pengawal yang sejak tadi sudah menunggu mereka,memberi tahukan bahwa Edward sudah siap dengan uangnya.


Tapi orang itu minta Edward yang menemuinya,mau tidak mau pengawal masuk untuk menyampaikan permintaan orang tersebut.


Edward sedang sholat di kamar ketika pengawalnya memberi tahu,sedangkan Emil saat itu sedang tidak ada di rumah.


"Tuan muda,orang yang anda tunggu sudah ada di depan."kata pengawal itu.


Edward bergegas menghampiri orang yang di maksud,dia berjalan cepat keluar kamar dan langsung menuju halaman rumah di mana dia sudah di tunggu.


"Cepat katakan di mana saya harus bertemu dengan bosmu?!"tanya Edward langsung menarik kerah baju orang suruhan itu.


"Hei,tuan.Tenang dulu,anda siapkan uangnya dulu setelah itu mari ikut saya.Dan ingat,jangan coba-coba bawa senjata serta anak buah anda.Saat ini bos kami sedang memegang pisau di leher gadismu itu!"kata orang suruhan itu sambil menyeringai.


"Brengsek! Bawa saya padanya,akan ku buat perhitungan dengannya."teriak Edward.


Mobil Emil memasuki area halaman,dan menghentikannya.Dia cepat-cepat turun dari mobilnya langsung menuju Edward yang sedang marah pada orang tersebut.


"Tuan muda,jangan gegabah."ucap Emil mencegah Edward hendak memukul.


Edward melepas cengkraman tangannya di kerah baju orang itu.Matanya masih melotot,membuat mereka yang melihat jadi ngeri.


"Apa yang di katakan bos kalian?"tanya Emil.


"Bos kami bilang cepat ikut kami tuanmu itu,membawa uang satu miliar juga tidak boleh membawa anak buah.Saat ini bos kami sedang memegang pisau yang di tempelkan pada gadis itu."kembali seringai di wajahnya muncul,yang sempat tadi merasa takut akan hilang nyawanya di tangan Edward yang sedang marah.


Emil mengepal,begitupun Edward.Tapi Emil kembali tenang,dia mengajak tuan mudanya menjauh.


"Tuan muda jangan gegabah,ikutlah dengan mereka.Saya akan memerintahkan langsung pengawal untuk mengikuti anda dari jauh.Saya sudah siapkan uangnya di mobil."kata Emil.


Edwar menurut,lalu dia membonceng pada orang yang sudah di siapkan,kemudian Emil mengambil tas besar berisi uang satu miliar dan di serahkan pada Edward.


Orang yang membonceng Edward dan temannya langusng melaju dengan kencang.Edward mengeluarkan biji kacang ijo yang sudah dia siapkan di dalam kantong celananya sejak semalam,lalu di sebarkan selama motor melaju dengan cepat.


Semalam dia dan Emil menyiapkan tanda jejak itu agar bisa di ketahui oleh pengawal Edward yang mengikutinya dari jauh.


_


_

__ADS_1


_


☆☆☆☆☆


__ADS_2