Penyamaran Sang CEO

Penyamaran Sang CEO
64.Mengulangi


__ADS_3

Subuh menjelang,Aya bangun dari tidurnya.Dia melepas tangan Edward yang masih menempel di dadanya yang polos.Lalu perlahan beranjak dari ranjangnya agar suaminya itu tidak terganggu dengan gerakannya.


Namun baru beberapa gerakan,tubuh Aya di tahan oleh suaminya hingga Aya terjerembab ke belakang menindih tubuhnya.


"Sudah subuh,aku harus sholat subuh dulu."kata Aya menarik lengan suaminya itu untuk menyingkir dari perutnya.


"Tunggu sebentar lagi,aku belum puas peluk kamu."ucap Edward,matanya masih terpejam.


Aya terdiam,tapi kemudian dia menarik lagi lengan Edward.


"Ini sudah subuh,belum mandi besarnya.Nanti keburu siang."


"Panggil aku yang mesra dong."kata Edward dengan lirih.


"Bukan saatnya seperti itu,waktunya sudah mepet.Keburu siang,aku harus buat sarapan juga buat kamu."ucap Aya lagi.


Mata Edward terbuka,dia menatap istrinya dengan penuh cinta.Di dekapnya tubuh Aya semakin erat dan tangannya mer*mas dua aset milik istrinya itu hingga Aya terkejut.


"Apa sih,kok tangannya nakal banget."ucap Aya kesal.


Edward tersenyum,lalu dia mencium bibir istrinya kemudian berbaring lagi dan melepaskan pelukannya.


Aya akhirnya bangkit dari duduknya,sejenak dia merasa sakit di bagian pangkal pahanya,dia berjalan pelan mengambil handuk dan baju daster panjangnya.Kemudian keluar kamar untuk mandi besar.


Karena kamar mandi ada di belakang dapur,Aya dengan langkah cepat masuk kamar mandi.Dia takut Salma mengetahuinya dan menggodanya.


_


Setelah sarapan bersama,Edward duduk di ruang tamu.Rencananya dia dan Aya akan ke pondok pesantren menemui kyai Sobri,sekalian meminta izin untuk membawanya ke kota bertemu kedua orang tuanya.


"Emm,kita nanti ketemu kedua orangtuamu?"tanya Aya ragu.


"Iya,kan sudah aku bilang sama kamu tadi Kenapa memangnya?"tanya Edward membelai pipi Aya lalu mencium bibirnya sekilas.


"Ish,jangan begitu.Nanti di lihat kak Salma,malu."ucap Aya,pipinya memerah.


"Memang kenapa?Kan sudah halal."


"Ya malu,di tempat terbuka begini."


"Kalau begitu ayo ke kamar,sekalian bikin Edward junior."


"Aaah,tidak mau.Katanya mau ke pondok."cegah Aya manja masih dengan pipinya yang merah.


"Hahaha,iya iya.Ya sudah ayo kita ke pondok pesantren."


Lalu Aya bangkit dari duduknya,di susul Edward yang menggapit pinggang istrinya itu erat.Aya tersenyum dengan perlakuan Edward.


"Sebentar,aku bilang dulu sama kak Salma kalau kita pergi ke pondok."ucap Aya.


Edward mengangguk,kemudian dia menstarter motornya dan menunggu Aya keluar dari dalam rumah.


Tak berapa lama,Aya keluar dengan membawa rantang berisi makanan untuk kyai Sobri.


"Kok bawa rantang?"tanya Edward.


"Iya,uwa sobri suka masakan sambel goreng ati buatan kak Salma.Jadi sekalian di bawakan."jawab Aya.


Lalu Aya naik membonceng di belakang Edward.Edward diam,belum mau melajukan motornya.


"Kok diam?Ayo berangkat."ucap Aya.


"Belum ada yang pegangan."ucap Edward santai.


Aya tersenyum,lalu tangan kanannya memeluk perut Edward dengan erat.


"Sudahkan?Ayo berangkat."


"Nah,gitu dong sayang.Lets go honey."


Lalu motor Edward melaju dengan kecepatan sedang.Sengaja dia tidak menambah kecepatannya agar bisa lebih romantis di rasa olehnya.Di peluk oleh Aya dengan erat.


Tapi karena jaraknya tidak terlalu jauh,perjalanan itu serasa singkat dan mereka sampai di depan gerbang pondok pesantren.Edward melambatkan motornya ketika memasuki area pondok.


Sampai di depan rumah kyai Sobri,mereka menghentikan motornya.Aya turun dari motor dan di susul suaminya.Edward menggenggam tangan Aya ketika mereka melangkah masuk ke dalam rumah kyai Sobri yang memang terbuka.


Di depan pintu kedua sepasang suami istri itu mengucapkan salam bersamaan.Dan dari dalam terdengar sahutan.

__ADS_1


Aya dan Edward masuk ke dalam setelah di persilakan masuk dan duduk.Kemudian keduanya duduk setelah menyalami kyai Sobri.


"Sudah?"tanya kyai Sobri dengan menggoda keponakannya itu.


Aya bingung dengan pertanyaan uwaknya itu,lalu Edward menjawab santai.


"Sudah pak kyai,tadi malam."ucap Edward tersenyum.


Kyai Sobri tertawa lepas,sedangkan Aya baru sadar pertanyaan dari kyai Sobri dan langsung menunduk dalam.


"Hahaha,dia malu."ucap kyai Sobri menunjuk keponakannya.


"Jangan meledek,wak.Uwak sendiri tidak memberitahu kalau aku sudah menikah."ucap Aya merajuk pada uwaknya.


"Biar kejutan buat kamu.Kamu selalu mengharapkan Edward jadi suamimu kan?"


Wajah Aya semakin memerah dengan godaan uwaknya kyai Sobri.Sedangkan Edward tersenyum senang,dia menatap istrinya yang menunduk karena malu.


"Oya,ini ada bekal dari kak Salma,wak.Sambel goreng ati kesukaan uwak."Aya menyerahkan rantang berisi makanan itu.


Kyai Sobri menerimanya dengan senang hati.


"Ada keperluan apa kalian datang kemari?"tanya kyai Sobri.


"Saya mau minta izin pak kyai,mau membawa Aya ketemu dengan orangtuaku.Nanti setelah ketemu,kedua orangtuaku kesini membicarakan acara resepsi.Dan nanti Aya akan saya ajak ke Inggris pak kyai,karena usaha saya ada di sana."ujar Edward panjang lebar.


"Lho,bukannya di kota usahanya,yang membuat tower telekomunikasi itu?"


"Itu punya papa saya pak kyai,dan kemungkinan nanti Aya akan tinggal di Inggris setelah resepsi nanti.Saya minta izin membawa Aya bersama saya pak kyai."ucap Edward lagi.


"Mm,ya silakan.Karena dia sudah jadi istrimu,jadi kamu berhak membawanya pergi kemanapun kamu bawa.Tugasku sudah selesai menjaga keponakanku,jaga dia baik-baik.Walaupun Aya itu anaknya tegar,namun yang namanya perempuan tetap saja hatinya suka rapuh.


Seperti kayu yang semakin lama terkena hujan dan sinar matahari,maka akan membusuk juga.Begitu juga hati perempuan,akan terluka jika sering di sakiti.Lama-lama dia akan patah dan terperosok jatuh.Mengerti maksud saya?"


"Iya pak kyai.Saya berjanji akan menjaga Aya dan melindunginya."


"Satu lagi,panggilah saya samakan dengan keponakanku memanggil.Karena kita sudah satu keluarga."


"Baik pak,eh uwak."


"Hahaha."


"Kita ke pasar dulu sebentar ya."ucap Aya.


"Mau beli apa?"tanya Edward.


"Kamu mau di masakin apa?"


"Ayam kecap."


"Ya sudah,kita ke pasar dulu.Beli ayamnya dan beras untuk makan."


"Oke honey."


Motor Edward melaju ke arah pasar.Dia lajukan motornya agar cepat sampai di pasar.


Dan lima menit mereka sampai di pasar,Edward berpesan pada istrinya jangan banyak belanja dan tidak perlu lama-lama.


Setengah jam sudah Edward menunggu,dia kemudian mencari Aya masuk ke dalam pasar karena dia tidak sabar ingin cepat pulang.


Tak lama dia bertemu Aya di toko penjual makanan khas kampungnya untuk di bawa ke kota dan di berikan pada mertuanya nanti.


"Untuk apa beli makanan sebanyak itu?"tanya Edward.


"Ini untuk keluargamu,juga mertuaku."ucap Aya.


"Mm,buat aku mana?"


"Ada,nanti aku belikan.Mau apa?"tanya Aya pada Edward.


"Aku mau makan kamu sekarang."ucap Edward berbisik di telinga istrinya.


Terang saja Aya makin kikuk,merah padam wajahnya.Dan perubahan wajahnya membuat Edward senang.


"Ayo kita pulang."ajak Aya yang merasa malu dengan ucapan suaminya itu.


_

__ADS_1


Sampai di rumah,Edward langsung membawa belanjaan Aya di dapur,lalu dia langsung menggendong Aya dengan tiba-tiba.Membuat istrinya itu terkejut dan menepuk lengannya.


"Kok di gendong sih,aku mau masak buat makan siang."


"Aku sudah bilang,aku mau makan kamu sekarang.Sudah jangan protes,ayo kita masuk ke kamar."


Dan sampai di kamar,Edward membaringkan Aya di ranjangnya,dia menindih istrinya itu dan langsung menyambar bibirnya dengan rakus.


Aya yang mendapat serangan mendadak seperti itu jadi kelabakan,dia mendorong dada suaminya agar bersabar dulu.Tapi Edward tidak peduli,dia terus memperdalam ciumannya dan langsung meraba bagian depan yang menonjol di dada Aya lalu meremasnya.


Gairahnya sudah mencapai puncak,tidak bisa di tahan lagi.Mau tak mau,Aya pasrah dan mengimbangi permainan suaminya.


Keduanya kini sudah tak berpakaian,setelah Edward membaca doa bersenggama langsung sejata pamungkasnya dia tancapkan ke dalam inti istrinya.


Euuh..


Satu lenguhan panjang ketika keduanya menikmati rasa yang mengguncang hati keduanya.


Irama degup jantung dan riakan tetesan keringat membuat keduanya semakin menikmati indahnya surga dunia.Pengantin baru yang baru merasakan nikmat dunia semakin menggebu dan memberikan kebahagiaam satu sama lain.


Satu setengah jam mereka melakukan ritual ibadah sebagai suami istri yang sangat di ridhoi Ilahi.Ibadah yang sangat menyenangkan dan membahagiakan.


Akhirnya mereka terkulai lemas setelah melepaskan hormon endorfin keduanya.Senyum kebahagiaan terpancar dari kedua suami istri itu.


Edward kembali mencium bibir Aya lembut secara berulang,dia semakin tidak mau melepas istrinya itu.Rasa bahagianya dalam hati seolah enggan melepaskan Aya dari sisinya.


"Aku ngga bawa baju."ucap Aya yang membelai dada suaminya itu.


"Tidak apa-apa,sampai malam tidak pakai baju.Begini saja di kamar,saling memeluk."


"Ish,memangnya tidak lapar?"


"Aku selalu kenyang jika sudah makan kamu.Tidak perlu makan nasi lagi."jawab Edward menyibakkan anakan rambut Aya yang berantakan.


Badannya masih menempel pada Aya,dia memang engga sekali lepas.


"Tapi aku lapar,tadi datang-datang langsung serobot aja."


"Tapi kamu suka kan?"


"Apa sih pertanyaannya."


"Hahaha...,nanti malam kita langsung berangkat ke kota.Kamu pakai baju yang tadi aja ngga apa-apa.Aku sudah siapkan beberapa baju di sana,kalau kurang nanti kita belanja di mall."ucap Edward mengecup lagi bibir istrinya.


"Memang kita mau ke Inggris?"


"Iya,karena perusahaanku ada di Inggris.Aku sudah lama meninggalkan perusahaanku.Jadi sudah waktunya aku kembali ke sana.Kenapa memangnya?"


"Aku tidak bisa bahasa Inggris."


"Nanti pelan-pelan belajar.Dan ke Inggris sekalian kita bulan madu.Kita akan keliling kota-kota indah di sana.Kamu akan takjub melihatnya."


"Benarkah?"


"Iya,di sana sangat indah."


"Aku lebih suka suasana perkampungan yang adem,seperti kampungku."


"Di sana juga ada pedesaan.Tapi jika di sana musim dingin selalu sedia jaket tebal.Tapi aku sudah punya pemghangat alami."


"Memang ada penghangat alami di sana?"


"Aku akan bawa dari Indonesia,bahkan dari kampung."


"Mau bawa apa,di sini paling penghangat adalah kayu bakar."


"Bukan kayu bakar,tapi kamu penghangatku.Aku akan selalu kehangatan karena ada kamu yang bisa aku peluk setiap saat."ucap Edward mengeratkan pelukannya.


Aya membalas pelukannya,dia juga sudah sangat nyaman dalam pelukan suaminya itu.


_


_


_


☆☆☆☆☆

__ADS_1


\=> 😉😊✌✌


__ADS_2