
Kehamilan Aya sudah memasuki bulan sembilan,perut Aya juga sudah begitu besar,geraknya juga terbatas. Dia hanya bisa duduk dan bersandar di sofa.
Memang baiknya dia harus banyak berjalan-jalan,namun karena di apartemen jadi dia hanya jalan-jalan di lorong unit saja. Banyak yang menyapanya untuk sekedar berbincang-bincang mengenai kelahiran bayi.
Edward sendiri jika tidak penting sekali di kantornya dia serahkan pada Melky. Urusan bertemu klien di usahakan jadwalnya di atas jam sepuluh pagi. Dia hanya ingin jadi suami siaga bagi Aya.
"Bie,kamu tidak kerja?"tanya Aya melihat auaminya masih santai setelah sarapan.
"Tidak aayang,aku sudah bilang sama Melky hari ini aku tidak masuk kantor."jawab Edward.
Tapi dia sedang melihat perkembangan indeks saham di Inggris dan global. Berita lokal saham Edward naik bulan ini harga sahamnya,dia tersenyum membaca berita itu.
"Kamu tersenyum sendiri lihat berita apa bie"tanya Aya duduk di sampingnya dengan hati-hati.
Edward memegang tangan Aya untuk membantunya duduk.
"Hati-hati sayang,perut kamu tambah besar. Capek ya?"tanya Edward mengabaikan pertanyaan istrinya. Dia mengelap peluh di pelipis istrinya sehabis olah raga balon dan berjongkok sesuai arahan dokter kandungan.
"Iya bie,tadi olah raga sebentar saja kok nafas putus-putus dan cepat lelah."ucap Aya memgang perutnya yang terlihat sudah ke bawah.
Edward pun membelai perut istrinya,dan sudah pasti tendangan di perut Aya yang dia dapat. Dia senang jika memegang perut Aya Ada reaksi di dalam perutnya.
"Aktif banget ya,pengen ketemu sama abie ya."kata Edward.
Aya yang mendengar Edward menyebut dirinya abie jadi merasa aneh sendiri.
"Bie,kok aku dengarnya aneh ya kamu di panggil abie."kata Aya.
"Lalu,pantasnya di panggil apa?"
"Dady kayaknya lebih pas deh bie."ucap Aya,dia menatap Edward.
Memang pantas di panggil dady dari pada abie.
"Tapi aku suka di panggil abie,sayang. Kamu sendiri mau di panggil apa?"
"Aku pengen di panggil bunda,kayaknya enak di dengernya."
"Dady sama bunda begitu panggilnya?"
"Ya tidak apa-apa kan? Yang penting anak kita selalu menghormati kedua orangtuanya . Aku kadang sangat miris lho bie,kalau di sini. Anak-anak renaja pergaulannya suka tidak karuan."
"Ya,kita harus jaga mereka sayang,aku percaya sama kamu bisa mendidik mereka dengan baik nantinya. Walau kita hidup di negeri orang jangan sampai terbawa pergaulan seperti mereka."
"Iya bie,aku pengennya seperti di pesantren begitu."
"Lalu,apakah harus buka pesatren di Inggris?"
"Ih,bie ya tidak bisa lah. Kamu tuh ada-ada saja deh."
"Hahaha,ya ngga apa-apa,kan bagus di Inggris ada pesantren. Yang mengelola ustadzah Aya.Hahaha..."
"Kamu meledek aku bie?"tanya Aya kesal sama suaminya.
"Tidak sayang. Tapi memang di sini itu susah untuk mendirikan sebuah lembaga,apa lagi itu lembaga keagamaan yang minoritas di sini. Kita hidup tenang dengan status kita saja itu sudah menguntungkan ya meski tidak semua di sabotase kegiatannya."
__ADS_1
"Iya bie,emm tidak bisa ya bie membuka perusahaan di Indonesia. Ya selain mengembangkan usaha bisa kan kita punya pegangan di sana,aku pikir apakah kita akan di sini selamanya."ucap Aya.
Edward diam,benar juga apakah dia akan selamanya tinggal di Inggris. Sedangkan keluarganya banyak di Indonesia.
"Nanti aku pikirkan sayang,banyak proyek juga sih di sini. Aku juga sedang mengembangkan usaha di Irlandia. Pendapatmu boleh juga,kenapa tidak di negara sendiri. Lagi pula pajak masuk ke negara sendiri ya."
"Ya,seperti itu. Kalau begitu aku bisa pulang ke kampung halaman,dan mencari ibu. Oh ya,kamu sudah dapat kabar ibu bagaimana bie?"tanya Aya.
"Belum sayang. Tapi Emil pernah cerita kalau dia pernah melihat perempuan tua yang wajahnya mirip denganmu. Tapi dia ragu untuk menanyakan pada perempuan itu. Dia bilang menikah sudah dua tahu lebih waktu itu dengan pak Imron."
"Pak Imron?"
"Iya,ini ceritanya panjang lho sayang."
"Ceritakan bie,aku pengen dengar."pinta Aya seolah tidak sabar.
Edward tersenyum,dia jadi pengen mengecup bibir istrinya itu melihat mimik wajah Aya yang lucu.
"Sebentar,aku ingin melakukan sesuatu dulu."
"Mau aph.."
Mulut Aya sudah di bungkam oleh suaminya. Edward mencumbu bibir Aya dengan rakus,dia gemas dengan bibir istrinya yang menggoda ingin di cium olehnya. Setelah di rasa cukup,Edwars melepas pagutan bibirnya lalu membelai bibir istrinya itu.
"Ih,kamu tuh kebiasaan deh bie."gerutu Aya menepuk lengan suaminya.
"Haha,aku gemas sayang sama bibir kamu."
"Ya sudah cepat ceritakan mengenai pak Imron itu."
"Waktu itu ketika aku mencari pak Imron mencari tahu siapa dalang penculikan kak Nicko,anak buah papa yang di bawah Emil itu menyelidiki di mana keberadaan pak Imron,dia sering judi dan pergi ke klub malam di kota itu.
Ya kebetulan Emil menemukan rumah persembunyianya,dan tahu tidak di sana ada istrinya. Anak buah Emil tanya-tanya pada istrinya itu,dia menikah sudah dua tahun lebih katanya."
"Tunggu bie,satahuku pak Imron itu istrinya meninggal. Kenapa dia bilang itu istrinya?"
"Jadi dia itu menikah lagi,istri sirinya sayang. Tapi yang membuat heran itu istrinya seperti kebingungan."
"Lho,jadi pak Imron menikah lagi."
"Nanti aku minta foto istri pak Imron waktu itu. Emil curiga saat itu kalau istrinya pak Imron adalah..."
Edward menatap Aya dengan ragu,dia tidak tega untuk mengatakan kebenaran itu. Namun dia juga harus tahu.
"Bie,katakan siapa istri pak Imron itu?"
"Sayang,aku juga tidak tahu. Ini hanya dugaan Emil,tapi ketika dia menyuruh anak buahnya mencari lagi,pak Imron sudah tidak tinggal di sana lagi. Di cari identitasnya tidak ada. Ada kemungkinan pak Imron dan istrinya itu pergi ke Malaysia."
"Kok kamu diam saja sih bie mengenai ini."
"Maaf sayang,ketika kamu meminta untuk mencari di mana ibu,Emil menyuruh anak buahnya mencari ibu sayang,tapi tidak ketemu. Dan Emil teringat dengan istri pak Imron,kalau istrinya pak Imron itu mirip denganmu. Dia mencari lagi saat itu,namun sialnya keberadaan pak Imron tidak ada lagi di kota itu."
Aya melengos,dia membelakangi Edward. Edward bingung,dia menarik lengan istrinya yang sedang marah padanya.
"Sayang,maafkan aku. Aku belaum sempat bilang sama kamu waktu itu."
__ADS_1
"Jadi kejadiannya waktu itu sebelum kita menikah bie?"
"Iya sayang."
"Kenapa setelah menikah kamu tidak bilang sama aku bie,hik hik hik."
"Sayang,kita menikah itu dadakan. Dan kamu meminta mencari ibu setelah mereka sudah tidak di kota itu lagi."
"Kamu kan tahu dari uwak waktu itu aku dan kak Salma serta mas Bayu mencari ibu di kota. Tapi kamu tidak bilang sama aku bie."
"Sayang,aku minta maaf. Sungguh aku tidak tahu wajah ibu kamu. Ketika Emil bilang dia pernah melihat perempuan yang mirip denganmu itu waktu dia mendatangi rumah pak Imron. Dan itu bukan aku yang menemuinya. Aku pikir memang pak Imron suka sekali menikah makanya aku tidak terlalu peduli dengannya bahkan istrinya. Oke nanti kita akan cari ibu di Malaysia,tapi nanti setelah kamu lahiran ya."kata Edward membujuk istrinya agar tidak marah padanya.
Aya diam,tiba-tiba perutnya serasa mulas dan sakit. Dia gigit bibirnya untuk menahan sakit di perutnya.
"Sayang,kamu masih marah sama aku?"tanya Edward yang tidak tahu istrinya sedang kesakitan karena kontraksi.
"Bie,sakit bie."ucap Aya.
"Iyq sayang,aku minta maaf menyembunyikan kebenaran itu.Maaf sayang,maaf."ucap Edward memeluk Aya dari belakang.
"Bie,perut aku sakit. Aaaaah,dia seperti mau keluar bie."jerit Aya.
Edward melepas pelukannya,dia panik melihat wajah Aya meringis tangannya memegangi perutnya.
"Sayang,kamu mau melahirkan?"tanya Edward di tengah kepanikannya.
"Iya bie,sepertinya dia mau keluar. Cepat bie kita pergi ke rumah sakit.Uh uh uh,aah...!"
"Iya sayang,aku panggil ambulans dulu."
Tanpa pikir panjang Edward menelepon layanan darurat untuk di kirim mobil ambulas membawa istrinya yang sudah meringis kesakitan.
"Bie,jangan lupa bawa perlengkapan mau melahirkan. Aku sudah siapkan di kamar."
"Iya sayang sebentar."
Sedang panik seperti itu,pintu apartemen di ketuk dari luar. Edward kesal karena sedang panik ada saja yang datang ingin menemuinya.
"Tuan muda maaf mengganggu,ini saya bawa berkas untuk di tanda tangani."kata Melky yang berdiri membungkuk pada Edward.
"Melkyi,cepat kamu bawa perlengkapan istriku. Istriku mau melahirkan,antar kami ke rumah sakit."
Tanpa pikir panjang Edward membopong Aya,dia memakaikan kerudung terlebih dahulu lalu membawanya keluar menuju mobil Melky. Sedangkan Melky mengambil tas perlengkapan bayi untuk di bawa ke rumah sakit.
Suasana tegang di dalam lift dan panik,kedua laki-laki itu dan Aya semakin mencengkeram lengan Edward. Terasa lama di dalam lift,Edward menggerutu kesal.
Dan tak lama lift terbuka,mereka langsung keluar dan masuk ke dalam mobil Melky. Melky melajukan mobilnya dengan kecepata tinggi agar cepat sampai di rumah sakit.
_
_
_
☆☆☆☆☆
__ADS_1