
Elrich mengabari Ayahnya bahwa dia akan mengunjungi kediaman pria itu besok. Edgar--Ayah El, tentu merasa sangat senang mendengar hal itu. Sudah cukup lama El tidak mengunjunginya. Terakhir kali, sekitar sebulan yang lalu. Putranya itu memang semakin sibuk saja akhir-akhir ini dan lagi Elrich memang tinggal sendiri di Apartmennya yang letaknya lebih dekat dari Rumah Sakit.
Gips yang menyangga tangan El sudah dibuka, dia merasa tangannya kaku karena beberapa hari tidak digerakkan. Kendati demikian, dia mencoba membiasakan lagi alat geraknya itu agar memudahkannya untuk melakukan banyak hal seperti sebelumnya.
Hari ini Elrich memutuskan untuk pulang ke Apartmen dulu, sebelum besok akan mengunjungi kediaman Edgar.
"Kau sudah siap-siap untuk pulang?" Xander mendatangi bangsal El masih dengan almamater putihnya, pertanda pria itu belum selesai bertugas.
"Hmm," sahut El singkat. Dia menatap sekilas pantulan diri di depan cermin yang ada diruangan itu. Memantau sisi wajahnya yang ternyata sudah ditumbuhi banyak titik-titik hitam yang sebentar lagi akan me manjang menjadi bulu kasar. "Sepertinya aku harus bercukur," katanya kemudian.
Xander mengangguk. "Kau tampak tidak terurus," akuinya mengulumm senyum.
"Ya, tapi pesonaku tidak pernah luntur, bukan?" Elrich menaik-naikkan alisnya dihadapan Xander, membuat pria itu berdecih jijik.
"Bagaimana kabar Abrine?" Xander beralih pada hal lain.
"Aku tidak tahu," jawab Elrich datar.
"Halah, jangan berlagak tidak tahu! Kau punya kesepakatan dengannya, kan?"
Elrich terkesiap. Darimana Xander tahu hal ini. Apa Abrine memberitahu Yemima dan Yemima malah menyampaikannya pada Xander? Jika iya, habislah dia akan jadi bahan olokan Xander terus menerus nantinya.
"Jangan mengarang! Pemikiran macam apa itu? Mana mungkin aku membuat kesepakatan dengannya," sanggah Elrich. Dia berusaha tergelak, tapi Xander hanya memasang wajah datar.
"Jangan membohongiku. Kau pikir aku baru mengenalmu kemarin sore, ha?"
"Apa Yemima yang memberitahumu hal ini?"
Sekarang barulah Xander yang terkekeh.
"El, El.... sudah ku bilang, aku tahu bagaimana kau ini. Kau tidak mungkin melepaskannya begitu saja setelah insiden kecelakaan yang menyebabkan tanganmu patah. Aku sangat yakin kau mau memanfaatkannya!" pungkas Xander.
Elrich hanya tersenyum miring mendengar ujaran Xander yang benar adanya.
"Jadi, apa kau sudah memikirkan saranku?" tanya Xander kemudian.
"Saran? Saran yang mana?"
"Mencoba mendekati dan berpacaran dengan Abrine."
Elrich terkekeh sampai memegangi perutnya sendiri. "Kalau mau jadi pelawak, jangan pakai ini!" katanya sembari memegang sekilas almamater kedokteran yang dikenakan Xander. "Pakai jas Mr. Bean saja!" sambungnya lagi.
"Aku serius, El ...."
"Aku tidak tertarik dengannya. Kau tahu seperti apa aku ini."
__ADS_1
"Benarkah?" Xander menatap Elrich dengan tatapan meremehkan. "Aku tidak yakin ucapanmu itu jujur."
Elrich berdecak. "Aku cuma tertarik memanfaatkannya. Paling tidak, dia bisa membuat Ayahku bungkam mengenai hal pernikahan. Paling jauh juga karena aku senang mengerjainya, itu saja."
"El...."
"Sudahlah, jangan membahas ini. Kau tahu aku tidak akan bisa memiliki rasa semacam itu. Mencoba berpacaran dengannya, justru akan melukainya nanti." Elrich menepuk-nepuk sekilas pada pundak Xander dan berlalu ke ambang pintu.
******
Sesuai janjinya, Abrine menemui Elrich disebuah Cafe hari ini. Dari sana, mereka akan langsung ke kediaman Edgar.
"Ayo, aku tidak punya banyak waktu." Abrine menghampiri El yang baru akan menyeruput kopinya.
"Sebentar, aku juga baru tiba. Tidak bisakah kau menunggu sebentar sampai aku menghabiskan kopiku?"
"Tidak bisa."
Elrich berdecak, dia meletakkan cangkir kopinya kembali ke atas meja kendati isi didalamnya baru dia minum sekali tegukan.
"Ayo!"
Menggunakan taksi, mereka menuju kediaman Edgar yang letaknya lumayan jauh dari pusat kota. Mobil Abrine memang sudah diperbaiki sejak insiden kecelakaan tempo hari, tapi El bersikeras tak mau menaiki mobil itu tanpa memberikan alasannya pada Abrine.
El hanya mengatakan tangannya belum bisa handal lagi untuk digunakan mengemudi, padahal Abrine sudah menawarkan bahwa dialah yang akan menyetir, tapi Elrich tetap tak mau.
"Apa masih jauh?" Sekian lama diam, akhirnya Abrine menyuarakan pertanyaannya.
"Sekitar setengah jam lagi."
Abrine mengangguk, tak berselang lama dia menguap panjang dengan cueknya. El hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis ini. Tidak ada istilah jaga image sama sekali. Abrine tak pernah bersikap malu-malu seperti gadis lainnya. Sudah El katakan bukan, bahwa Abrine memiliki sisi berbeda.
"Aku ngantuk," celetuk Abrine sambil menyandarkan kepala di sandaran mobil. Dia tampak memejamkan matanya.
"Tidurlah dulu," ujar El datar. Kediaman ayahnya memang berada di luar kota, itulah yang memaksanya untuk menetap di Apartmen. Edgar juga tak mau pindah meski El telah memintanya.
Perlahan-lahan, perjalanan mereka mulai memasuki daerah perbukitan. Udara sejuk mulai terasa. Lambat laun Abrine semakin merasa mengantuk dan tanpa sadar malah tertidur dalam posisinya.
Elrich yang memandang ke arah luar kaca mobil, langsung menoleh ketika kepala Abrine terantuk dan langsung tersadar di pundaknya tanpa disengaja. Dia melihat gadis itu terlelap dengan mata terpejam. Ingin menyingkirkan namun rasa tak tega juga melingkupi dirinya. Akhirnya El membiarkan saja mereka dalam posisi ini.
Harus El akui dalam dirinya bahwa berada sedekat ini dengan Abrine membuat dia serba salah. Tapi membangunkan Abrine yang baru tertidur pun bukanlah sikap yang baik.
Perjalanan kembali berlanjut, pemandangan yang tampak diluar tampak semakin indah dan menyejukkan karena begitu banyak pohon Pinus yang berjejer dikiri-kanan jalanan.
Elrich melirik sekilas saat Abrine melingkarkan tangan ke lengannya. Memeluk itu layaknya guling.
__ADS_1
"Kau semakin nyaman saja, ya!" gumamnya pelan. El pun tersenyum tipis, memandangi wajah teduh Abrine yang terpejam sambil mencari-cari posisi ternyaman dalam ketidaksadarannya itu.
Selang beberapa saat, taksi yang membawa mereka mulai melambat, berhenti tepat didepan sebuah villa yang ada disana. Ya, kediaman Edgar adalah Villa dekat pegunungan. Dulu mereka tak tinggal disini, tapi sepuluh tahun belakangan Edgar memilih untuk menetap di Villa miliknya itu karena tak ingin menempati rumah lama mereka yang ada di pusat kota.
"Kita sudah sampai," kata Elrich pelan. Berharap Abrine bisa terbangun dan sadar sekarang. Nyatanya gadis itu tidak terbangun. Justru semakin lelap, ujung bibirnya bahkan mengeluarkan air liur yang membuat El harus menahan suara ingin tertawa saat melihatnya.
Cuaca disini memang mendukung sekali untuk cepat terlelap dan enggan untuk terbangun.
"Hei .... kita sudah tiba. Apa kau tidak mau bangun? Kau terlalu nyaman memelukku, ya?" goda El sambil menggoyang pelan tubuh Abrine.
Abrine tersentak, antara tidur dan sadarnya tadi dia sedikit mendengar ucapan El, dia langsung terbelalak kaget saat melihat posisinya sekarang yang mendekap erat lengan berotot milik pria itu.
"Eh?" Abrine segera melepas tautan tangannya dan beringsut menjauh dari tubuh El. "Udah sampai, ya?" tanya Abrine. Dia sekarang memilih berbahasa Indonesia saja.
"Hmm, ayo turun!" El menjawab dengan bahasa yang sama.
Abrine mengangguk, hendak membuka pintu taksi dengan segera tapi El kembali memanggilnya.
"Hei!"
"Apa lagi?"
"Itu, bersihkan dulu air liurmu, aku tidak mau ayahku melihatnya nanti!"
Abrine melotot, tapi segera mengelap mulutnya seketika secara serampangan. "Udah, aku mau cepat kelar urusan ini!" ujarnya.
Elrich menggelengkan kepalanya samar. Dasar gadis ini, bisa-bisanya bersikap tanpa malu seperti itu padahal El sudah membahas mengenai air liurnya yang memalukan.
"Apa?" kata Abrine tampak nyolot melihat El yang memandanginya dengan raut aneh.
"Bukan apa-apa." Elrich membuka pintu taksi lebih dulu karena melihat kepala pelayan sudah keluar dari dalam villa demi menyambutnya.
"Pantas saja cintanya bertepuk sebelah tangan. Sikapnya saja seperti itu," gumam Elrich pelan, tapi Abrine tak sengaja mendengarnya.
"Apa katamu?"
"Tidak ada!"
"Kau bilang cintaku bertepuk sebelah tangan? Jangan sok tau, ya!" Abrine kesal sendiri melihat Elrich.
"Sudah ku bilang tidak ada. Aku tidak bilang apa-apa."
"Aku belum tuli, Dokter!" tekan Abrine.
"Sudahlah, ayahku pasti sudah menunggu. Jaga sikapmu itu!"
__ADS_1
Abrine memutar bola matanya malas. Dia jadi memiliki ide untuk mengerjai Elrich didepan Ayah pria ini nanti. Lihat saja.
*******