PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
100. Mengungkit masa lalu


__ADS_3

Elrich berjalan pelan disamping Theresia yang tampak ragu memasuki kediaman Edgar. Mereka telah tiba dari beberapa menit yang lalu namun sepertinya wanita tua itu ingin menyesuaikan diri terlebih dulu sebelum benar-benar menemui mantan menantunya.


Saat Edgar melihat kedatangan putranya dan Theresia dari kejauhan, perlahan-lahan dia keluar dan menghampiri keduanya.


"Selamat sore, Nyonya." Edgar menyapa Theresia lebih dulu. Suaranya terdengar bergetar. Bagaimanapun, pertemuannya dengan Theresia membuatnya mengingat satu wanita yang dulu dia cintai, Emily.


Theresia menggeleng samar. Susah payah dia menahan rasa yang berkecamuk dihatinya, tapi melihat Edgar didepannya sekarang dan menyapanya dengan ramah--sekelebat ingatan seolah membuatnya ingin memutar kembali pada waktu Emily masih hidup.


Andai dulu dia tidak menentang hubungan Emily dengan Edgar, pastilah putrinya tidak akan hidup dengan rasa sakit di akhir kehidupannya. Bukan hanya sakit fisik tetapi juga sakit hati.


Andai dulu dia bisa mencegah pernikahan Edgar dengan Naina, pasti Emily tak akan merasakan sakitnya cinta yang terbagi.


Sayangnya, waktu itu terjadi Theresia menganggap itu adalah harga yang harus dibayar Emily karena telah memilih pria seperti Edgar. Ya, saat itu dia begitu egois tapi diakhir dia merasa menyesal tidak menghalangi semua dengan kekuasaan yang dia miliki.


"Maafkan aku. Maafkan aku." Edgar terbatuk-batuk saat mengucapkannya. Mengatakan kata maaf yang selama ini tidak pernah dia ucapkan secara langsung didepan ibu dari Emily. Jika saja dulu dia tak memaksa menikahi Emily tanpa restu dari kedua belah pihak keluarga, mungkin dia tak akan menyakiti Emily dengan begitu dalam sampai menyisakan luka dihati wanita tersebut.


Theresia dan Edgar sama-sama larut dalam kesedihan, juga merasa bersalah atas kesalahan dimasa lalu yang sama-sama mereka lakukan hingga mengorbankan Emily.


Edgar terlalu menginginkan Emily hingga berbuat nekat dengan menikahinya.


Sementara Theresia terlalu egois untuk tidak merestui hubungan mereka sampai kapanpun.


Elrich yang menyaksikan adegan didepannya. Hanya bisa menahan kesedihan. Dia sendiri tidak pernah mengenal sosok ibu kandung yang telah melahirkannya. Tetapi disini, dia tahu bahwa ibunya, Emily lah yang telah menjadi korban dari keegoisan dua orang yang menjadi ayah dan neneknya.


Mereka semua pun masuk kedalam villa setelah Elrich berdehem-dehem melihat raut kesedihan yang terpancar jelas diwajah keduanya.


"Bibi Sera? Apa kabarmu?" Elrich mencoba mencairkan suasana. Dia menyapa kepala pelayan yang bertugas dikediaman ayahnya.


Sera tersenyum ramah pada El. "Bibi baik, El. Bagaimana denganmu? Ah, kenapa istrimu tidak diajak ikut?"


"Abrine sedang tidak fit, dia sedang mengandung. Lagipula dia tidak bisa jika cuaca terlalu dingin seperti di villa ini. Aku takut hipotermianya kambuh."


Bibi Sera mengangguk. Wanita itu tahu El tengah mengalihkan perhatian kedua orangtua yang ada dibelakangnya.


"Mari makan, kau dan Nyonya Theresia pasti sudah sangat lapar."


"Tentu saja, Bi. Coba kita lihat apa yang bibi masak untuk kedatangan kami...." sahut El antusias. Dia mengulas senyum sembari menggosokkan kedua tangannya dan menatap menu masakan di meja.


"Oh, nenek, ayah... ada baiknya kita makan bersama sekarang. Aku sudah lapar sekali."


El mencoba mencairkan suasana agar tidak semakin canggung. Setelah ini, dia akan membiarkan ayahnya bicara empat mata dengan sang nenek. Mungkin mereka akan mengungkit masa lalu kembali. Tapi, El sangat berharap mereka saling introspeksi diri tanpa saling menyalahkan satu sama lain.


****


Elrich masuk ke dalam kamar setelah membersihkan diri. Dia benar-benar membiarkan Theresia dan Edgar untuk bicara berdua saja tanpanya.


Dikamar yang ada di villa itu, El justru merasa kesepian. Entah kenapa belum sehari meninggalkan istrinya dia sudah dilanda penyakit rindu.


El menghubungi ponsel Abrine, selang beberapa detik panggilan itu langsung tersambung.


"Sayang, kau lagi dimana? Sedang apa? Bersama siapa, hmmm?"

__ADS_1


"Aku harus jawab yang mana dulu, El?"


Elrich terkekeh mendengar gerutuan istrinya.


"Jawab saja kau mencintaiku."


"Ya, ya... aku mencintaimu. Sudah?" Abrine ikut terkikik geli karena ucapan El tak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan awal pria itu sebelumnya.


"Belum."


"Jadi, apa lagi?" Abrine mulai sewot.


"Berikan aku ciuman."


"Eh, bagaimana caranya?"


"Kau tidak tahu?"


"Tidak," jawab Abrine polos.


"Dekatkan ponselmu ke bibir lalu berikan aku ciuman jarak jauh." Elrich tersenyum miring di posisinya.


"Ah, El.... aku tidak mau."


"Kenapa?"


"Itu namanya aku bukan menciummu tapi mencium ponsel."


"Ya, anggap saja itu aku."


"Haisss... lakukan saja, Brine." El mulai kesal dan itulah tujuan Abrine sebenarnya.


"Aku tidak mau. Ponselku tidak seperti bibirmu." Masih saja Abrine terkekeh kencang membuat El gemas sendiri mendengarnya.


"Cepatlah, berikan aku vitamin K."


"Vitamin K?"


"Vitamin K itu Vitamin Kiss.... Cium!"


Semakin meledak tawa Abrine di seberang sana. "Kau ini ada-ada saja. Kalau mau vitamin K. Lusa saja ya, saat kau ada didepanku."


"Ya Tuhan... istriku memang sukar ditebak. Minta ciuman jarak jauh pun susahnya minta ampun."


"Aku maunya yang asli bukan mencium ponsel."


"Kau ini memang selalu menolak jika aku masih memintanya secara baik-baik. Lihat saja nanti, jika aku sudah ada didepanmu aku tidak akan melepaskanmu!" kata El setengah mengancam.


Mereka membahas masalah konyol sampai larut malam. Panggilan itu juga berubah menjadi panggilan video yang membuat El senyum-senyum sendiri melihat wajah bantal milik istrinya. Mereka juga membahas tentang pertemuan Theresia dan Edgar. El mengatakan bahwa dia berharap Nenek dan sang ayah dapat berdamai dengan keadaan dan bisa mendoakan mendiang ibunya di doa mereka masing-masing.


"Aku ngantuk, Sayang... hoammmm." Abrine menguap.

__ADS_1


"Tidurlah..." El memegangi layar ponselnya seolah tengah mengelus rambut panjang sang istri.


"Matikan teleponnya ya."


Elrich menggeleng, "Aku mau melihatmu tidur. Ingin memastikan kau benar-benar terlelap."


"Aku tidak bohong, aku benar mau tidur."


"Hei... yang mengatakan kau berbohong, siapa, sayang? Aku juga benar mau melihatmu tertidur."


"Baiklah, terserahmu saja."


"Letakkan ponselnya di bantal yang harusnya ku tiduri. Arahkan kameranya tetap ke wajahmu."


"Iya, Mr. Bawel...." kata Abrine mencebik.


"I love you, wifey...."


"Love you too hubby...."


Mereka saling berpandangan lewat layar ponsel yang mereka pegang. Abrine segera memposisikan ponsel seperti saran suaminya. Dia juga merindukan El meski baru berpisah beberapa saat. Sampai akhirnya Abrine benar-benar tertidur namun El belum mau memutus panggilan video tersebut.


"Good night my little angel. Good night my special one."


El berucap lirih sambil menatap Abrine yang sudah terlelap. Tak lama, diapun jatuh tertidur karena mengantuk dan lelah dalam perjalanan menuju ke villa.


****


Hai guys...


Mau info nih. Even GA yang aku adain bakal berakhir di akhir bulan ini ya...


Jadi, nanti di akhir bulan aku bakal umumin pemenangnya.


Juara 1 hadiahnya 75K


Juara 2 hadiahnya 50K


Juara 3 hadiahnya 25K


Pemenang bakal aku nilai dari kata dan kalimat yang mempromosikan novel aku di story' IG yah.


Follow IG ku @cintiarizky


Nah, ntar kalau udah aku umumin siapa pemenangnya, boleh DM atau inbox aku ya. Hadiahnya mau dikirim berupa saldo uang ke rekening kamu atau berupa pulsa.


Oh iya, masih ada hadiah tambahan ya. Untuk 3 orang teratas yang duduk di kursi rangking umum pendukung Novel ini.... masing-masing dapat pulsa sebesar 10K.


Nah, yang menang hadiah tambahan juga nanti inbox atau DM aku nomor hp nya yah... makasih🥰🙏


Pengumuman pemenang di tanggal 30 September 2022.

__ADS_1


*Keputusan pemilihan pemenang, mutlak atas pilihan Author dan tidak dapat diganggu gugat.


Semoga dengan adanya GA kecil-kecilan ini .... kita semua jadi makin semangat yaaa. othor semakin semangat nulis, kalian semakin semangat bacaa....💚💚💚💚💚💚


__ADS_2