PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER
18. Pulang ke tanah air


__ADS_3

INDONESIA, 2022


Sebenarnya Raya dan Nev sangat terkejut mendengar kabar kepulangan putrinya--Abrine, yang mendadak. Apalagi kali ini bukan sekedar pulang, Abrine mengatakan akan mengenalkan seorang pria pada keluarga besarnya. Nev dan yang lainnya menebak jika pria itu adalah Raymond, mengingat Abrine hanya dekat dengan lelaki itu selama ini.


Raya juga meyakini jika Abrine memiliki perasaan lebih dari sekedar sahabat pada pemuda itu.


Nev, Raya, Aarav berserta istrinya--Rahelsa, ikut pergi menjemput kepulangan Abrine di pintu kedatangan yang ada di Bandara.


Dari jauh, mereka sudah bisa melihat sosok familiar yang dapat mereka kenali dengan baik. Disana, Abrine melenggang pelan dengan sebuah koper yang cukup besar dia tarik disisinya. Bersamaan dengan itu, seorang pria tinggi dengan tampang 'bule' berjalan tak jauh dibelakang Abrine. Mereka semua mengira itu Raymond, tapi semakin dekat posisi Abrine dan pria itu pada mereka, semakin jelas pula bahwa sang pria bukanlah sosok yang sedang mereka perkirakan.


Nev mengernyit, begitu pula dengan yang lainnya. Hanya saja, mereka semua tak mau langsung memberondong Abrine dengan segudang pertanyaan mengenai pria ini. Nanti, ada saatnya mereka bisa menanyakan hal yang ingin mereka ketahui pada Abrine.


"Mana Gala?" Itu adalah pertanyaan pertama yang Abrine lontarkan didepan Aarav--sang kakak. Dia menanyakan keponakannya--anak Aarav dan Rahelsa yang berusia 6 bulan.


"Sama Airish dan Zio, dirumah Mama. Airish udah gak bisa ikut kesini, kakinya mulai pembengkakan karena efek hamil tua," jelas Aarav sambil sesekali melirik pada pria yang diam disisi Abrine.


Abrine mengangguki ujaran sang kakak. Kemudian dia tahu jika mereka semua sedang menatap ingin tahu pada pria yang dia ajak ikut pulang hari ini.


"Ma, Pa, Kak... ini Elrich," kata Abrine memperkenalkan El kepada keluarganya.


Elrich menyunggingkan senyum ramah, dia mengulurkan tangan pada Nev dan menyalaminya dengan takzim, berlanjut melakukan hal serupa pada Raya, kemudian menjabat tangan Aarav sejenak. Elrich menatap Rahelsa yang dia yakini sebagai istri Aarav, dia pun mengangguk ramah pada wanita itu.


"Saya Elrich, Pak," ujarnya pada Nev lebih dulu.


"Saya Nevan, Papanya Abrine," kata Nev dengan keheranan, pasalnya pria yang bersama sang putri menyapanya dengan bahasa Indonesia yang terdengar fasih.


Nev dan Raya ingin bertanya lebih lanjut mengenai El, namun mereka urungkan karena mengira bicara dirumah akan lebih baik daripada posisi mereka sekarang yang masih di wilayah Bandara.


"Ayo, kita pulang ke rumah."


Sesampainya dirumah, Elrich dan Abrine langsung dipersilahkan untuk makan sebab waktu memang menunjukkan saatnya makan siang tiba.


Keluarga besar itu mulai berkenalan dengan Elrich, dan pria itu mengatakan mengenai pekerjaannya di Jerman.

__ADS_1


"Jadi kamu seorang Dokter spesialis bedah?" tanya Raya pada El.


"Benar, Bu." Elrich menyahut sopan.


"Jangan panggil Bapak atau Ibu pada kami. Kalau disini kamu bisa panggil Om dan Tante, bukankah itu terdengar lebih akrab?" Raya mengajukan sebuah saran dan El tersenyum sungkan sambil mengangguk.


"Kau warga negara Jerman?" celetuk Nev yang juga ingin tahu mengenai pria ini.


"Iya, Om." Elrich sudah diwanti-wanti Abrine mengenai hal ini, dia pun sudah yakin jika akan mendapat banyak pertanyaan dari keluarga Abrine, apalagi mereka memang belum mengenal terlalu jauh satu sama lain.


"Kenapa kau bisa bahasa Indonesia, El? Kursus? Atau pernah tinggal di Indonesia?"


Elrich tersenyum tipis. "Bukan, Om. Kebetulan Ibu Saya orang Indonesia."


Jawaban Elrich membuat Abrine cukup terkejut, pasalnya hal ini juga baru dia ketahui. Selama ini, El selalu tertutup mengenai ibunya dan Abrine tak mau memaksanya berbicara. Didepan Nev, Elrich berusaha terbuka karena latar belakangnya mungkin akan dipertimbangkan oleh Ayah kandung Abrine itu.


"Benarkah?" tanya Nev. "Apa sekarang Ibumu jadi warga negara Jerman juga?"


Nev dan Raya saling berpandangan mendengar ucapan Elrich. Ada pertimbangan tersendiri bagi mereka berdua mengenai kehidupan keluarga Elrich yang demikian.


"Tapi, Om dan Tante tidak usah khawatir. Dari perpisahan kedua orangtua saya, saya belajar banyak hal, termasuk tidak ingin menjadi seperti mereka."


Kini giliran Abrine yang menunduk dalam. Bagaimana mungkin El mengatakan hal ini, jelas-jelas mereka sudah sepakat akan berpisah nanti jika sudah menemukan cinta sejati masing-masing. Kenapa El berkata seolah hubungan mereka tak akan pernah berakhir dengan perceraian?


Usai makan siang, Nev ingin mengenal El lebih jauh. Dia mengajak pria itu ke ruang kerjanya. Tanpa dijelaskan oleh Abrine, dia sudah mengerti maksud kedatangan El ke Indonesia sampai ingin mengenal keluarga besarnya. Dia tahu bahwa pemuda ini ingin menjalin hubungan serius dengan putrinya.


"Jadi, sudah sejauh mana hubungan kalian?" Nev bicara empat mata dengan Elrich. Bicara santai antara dua lelaki dewasa tanpa melibatkan Abrine, dia ingin menilai kepribadian pria ini.


"Sejujurnya saya dan Abrine baru mengenal, Om."


Nev mengangguk, dia bisa menebak hal ini.


"Dimana kalian mengenal?"

__ADS_1


"Di Rumah Sakit."


"Saat Abrine membuat masalah?" tebak Nev.


Elrich hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Jadi kau serius dengannya?"


"Ya, saya ingin menikahinya jika Om merestui." El menjawab mantap tanpa keraguan dan itu memancing Nev untuk menarik sudut bibirnya sebab menilai sikap El yang berani.


"Kau tahu, Abrine putriku sedikit berbeda. Dia adalah gadis yang tidak biasa. Dia tangguh dan sulit diluluhkan. Sejujurnya, aku sebagai Ayahnya ragu dia bisa setuju untuk kau nikahi begitu saja, jika kalian memang baru mengenal." Nev tentu sangat tahu kepribadian dari masing-masing anaknya--termasuk Abrine, itulah sebabnya dia heran dengan kedatangan Elrich yang tiba-tiba.


Elrich diam tak menyahut, terang saja Abrine menerimanya dengan mudah, sebab gadis itu hanya ingin menjadikannya pelampiasan dari rasa sakit hati dan memanfaatkannya sebagaimana diapun memanfaatkan Abrine dengan status mereka nanti. Status yang sangat diinginkan Edgar, ayahnya.


"Apa kau juga tahu jika Abrine sering membuat masalah? Dia hobi berkelahi, kau pun bisa dihajarnya nanti jika tidak menjadi seperti yang dia bayangkan."


Elrich malah tertawa pelan mendengar Nev yang seolah tengah mendoktinnya mengenai sikap Abrine yang tak biasa itu.


"Saya tidak mengetahui jika Abrine suka berkelahi, tapi saya tahu jika dia suka membuat masalah." Elrich mengulumm senyum.


Nev ikut terkekeh. "Jadi, kau tetap pada keputusanmu untuk menikahinya?"


Elrich mengangguk cepat.


"Baiklah, jika memang seperti itu. Kau berniat baik pada putriku, aku akan merestui kalian."


"Benarkah?" El tidak menyangka jika dia mendapat restu orangtua Abrine semudah ini.


"Ya, tapi jagalah kepercayaan orangtua. Setelah menikah, Abrine akan menjadi tanggung jawabmu sebagai suaminya." Nev menepuk-nepuk pundak El dengan akrab. Dia merestui El karena dia bisa menilai jika Elrich adalah pria yang dewasa untuk menyikapi segala tingkah laku Abrine yang sering menjengkelkan.


"Om harap kau bisa sabar menghadapi Abrine. Berilah dia ketulusan dan dia akan melunak padamu." Nev menatap Elrich dengan tatapan serius, seolah tengah memberi pria itu petuah penting.


*******

__ADS_1


__ADS_2